[BIRTHDAY FANFIC] このままあなたを愛し続けていたい 1/3

CHINATSU presents,

 

このままであなたを愛し続けていたい

熊西康 x 櫻井翔

-I only own the story line. Characters included belongs to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

 

INDONESIAN LANGUAGE AREA

 

 

[ 1 / 3 ]

 

お楽しみ!

 

Cinta…

 

 

Apa itu cinta?

 

 

Orang-orang sibuk membicarakannya. Orang-orang sibuk mencari-carinya. Memangnya ada apa dengan cinta? Apakah segitu berartinya?

 

 

Kenapa orang bisa berubah karena cinta? Kenapa orang segitu inginnya berkorban karena cinta?

 

 

Aku tidak mengerti.

 

 

Kalau hanya mencari kebahagiaan saja, kenapa harus dengan cinta? Apa tersenyum saja tidak cukup membuat seseorang bahagia?

 

 

Ada apa dengan semua orang?

 

 

Aku tidak mengerti.

 

 

“……itu karena kau tidak punya pacar, Kou!”Narumi, juniorku yang sangat dekat denganku tampak menyeruput jus jeruknya seraya mengetuk meja dengan jari telunjuknya. Kami sedang membicarakan teman sekelasku yang baru saja jadian dengan orang yang disukainya selama ini.

 

 

Bukan, bukan karena aku iri dengannya!

 

Tapi temanku itu jadi berisik sekali soal pacarnya! Aku bahkan hampir menganggapnya kampungan.

 

 

“Memangnya apa hubungannya dengan aku yang nggak punya pacar?!”dengusku. Topik ini selalu menjadi panas ketika aku mulai berkeluh kesah dengan sesuatu yang bertemakan cinta.

 

“Kau ini selalu emosi, ya, kalau berbicara tentang cinta…”Narumi menghela nafas. “…..daripada aku repot-repot menjelaskannya padamu, kenapa kau tidak merasakannya langsung saja?!”

 

“Memangnya cinta bisa dirasakan secepat itu?! Aku nggak tahu, sih…. Tapi bukannya semua hal butuh proses?”

 

 

Ya!

 

 

Kalian bisa memanggilku “nona mengapa”.

 

 

Aku akan terus bertanya “mengapa” hingga aku menemukan jawaban yang bisa diterima oleh akalku. Sedangkan hal bertema cinta ini, aku sama sekali tidak bisa mencernanya!

 

 

“….kalau aku bilang bisa, kau mau berhenti berkilah dan mencobanya?!”Narumi seolah menantangku. Matanya yang selalu terlihat merencanakan sesuatu tak pernah bisa ia sembunyikan.

 

Dengan tak yakin, aku menganggukkan kepalaku.

 

“….kalau begitu, aku pegang ucapanmu!”dengan cepat Narumi mengambil sikap. Sejenak aku terkejut karena gerak reflek Narumi.

 

 

Sepertinya aku mengambil jawaban yang salah dan masuk ke dalam jebakannya. Aku menelan ludah.

 

 

“Ta.-tapi…. siapa yang akan menjadi pasanganku?!”kali ini aku berusaha berkilah agar bisa keluar dari jebakan Narumi. “…..sekarang saja tidak ada yang mendekatiku,”

 

“Kau bicara apa?! Bukannya kau punya Sho-chan?!”

 

 

Aku tersedak ketika mendengar nama Sho keluar dari mulut Narumi.

 

 

“S,-Sho-kun?! Yang benar saja! Uhuk… uhuk…”Aku mengelap mulutku dengan tergesa-gesa. “Kenapa kau tiba-tiba menyebut nama Sho-kun?!”

 

“….yaaah…. Kemungkinan paling dekat sekarang, itu, kan?!”Narumi mengerling jahil.

 

“Mana mungkin!!”Kilahku cepat. “….Lagipula kenapa kau ringan sekali menyebut namanya ‘Sho-chan’?! Memangnya dia adikmu?!”

 

“Lho?! Memangnya kenapa?! Aku kan sudah mengenalnya sejak kecil… Dari dulu aku juga memanggilnya ‘Sho-chan’,kok,”

 

“Nggak! Waktu kau mengenalkannya padaku, kau memanggilnya Sakurai-kun, kok!”

 

“Tidak didepanmu!”balas Narumi cepat. “….Masa aku berkata ‘Kou, ini Sho-chan’ ketika mengenalkannya padamu?! Yang benar saja!”

 

“Ukh….”Aku tak bisa membalas kata-kata Narumi.

 

“…..kurasa memang tidak bisa secepat itu… Tapi kalau kau lebih membuka hatimu, Sho-chan bukan pilihan yang buruk, kok…”lanjut Narumi. “….aku tahu kau masih nggak bisa percaya pada lelaki, tapi kau juga harus tahu kalau nggak semua lelaki seperti para mantanmu itu….”

 

 

Aku terdiam mendengar ucapan Narumi.

 

 

Ya, aku tak tahu apa yang dimaksud dengan cinta.

 

 

Ini semua karena mantanku.

 

 

Ketika aku berusaha untuk mencoba menyayangi orang yang kusayangi, entah kenapa ia malah dengan mudahnya menduakanku dan pergi ke sisi wanita lain. Sedangkan ketika aku berusaha untuk positif dan mencari penggantinya, aku malah kehilangan teman karena temanku menyukai orang yang kusukai.

 

Sejak saat itulah aku tak mengerti apa definisi sebenarnya dari cinta. Kalau memang cinta membuat seseorang bahagia, kenapa yang kurasakan adalah penderitaan?

 

Apa yang kurasakan bukan cinta?

 

Tapi mereka bilang ada saatnya cinta terasa menyesakkan.

 

Kalau hal bernama cinta itu hanya menyakitiku, aku tak ada niat untuk menyentuhnya sama sekali!

 

“Ah! Kou! Hari ini aku duluan, ya?! Masaki memintaku menemaninya belanja… Sebentar lagi ia akan menjemputku,”ujar Narumi sambil melirik ponselnya.

 

“Iya…. Selamat bersenang-senang… Sampaikan salamku pada Aiba-chan, ya!”

 

“Tuh, kan! Kau saja menyebut nama Masaki ringan sekali! Aku saja tak bisa menyebut –chan padanya!”dengus Narumi.

 

“Hah?! Kau meledekku?! Sebaliknya aku nggak bisa memanggil Aiba-chan dengan nama Masaki, tahu! Kau bodoh, ya?!”aku menyentil dahi Narumi. Gadis itu hanya terkekeh kecil seraya mengusap dahinya.

 

 

Tak lama kemudian, ponsel Narumi berdering. Sepertinya itu Aiba Masaki, kekasih Narumi. Seperti yang gadis itu katakan, sepertinya Aiba sudah hampir sampai dan meminta Narumi untuk bersiap-siap. Narumi pun hanya mengiyakan apa yang ia dengar dari ponselnya seraya bergegas. Ia pun kemudian pamit padaku dan berlari kecil menuju pintu kafe.

 

Aku menghela nafas. Kalau boleh jujur, tak jarang aku merasa iri pada Narumi. Kalau melihat gadis itu, rasanya hidupnya selalu mulus. Meski kadang ia bercerita tentang keluh kesahnya, aku tak merasakan adanya hambatan besar dalam hidupnya. Mungkin ia hanya ingin mengeluarkan pikirannya, dan kebetulan keberuntungan selalu memihak padanya.

 

Lihat saja sekarang dirinya!

 

Pelajaran berjalan mulus. Walaupun ia sering berkata malas, atau ada kesalahan teknis yang membuatnya hampir berada dalam bahaya, ia selalu bisa mengatasinya dengan baik. Memiliki kekasih yang baik dan ceria seperti Aiba, dan mudah berkomunikasi dengan orang baru.

 

Sedangkan aku, untuk memiliki teman saja aku sangat pemilih. Terkadang Narumi berkata padaku, bahwa aku orang yang supel dan bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja. Tentu saja mendengar pujian tersebut aku merasa senang, tapi tentu saja aku bukan dewa yang bisa menerima siapa saja di sisiku.

 

…..dan traumaku tentang hal bertema cinta ini…..

 

 

Tok! Tok! Tok!

 

 

Aku berkedik sejenak ketika mendengar suara kaca diketuk.

 

 

“Kou-chan!”Aku membelalakkan mataku ketika mendapati sosok Sho tengah menempelkan kedua telapak tangannya di kaca dan melambaikan tangannya padaku. “Boleh aku kesana?!”

 

 

Aku mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sesaat dadaku berdebar kencang. Padahal baru saja aku membicarakan Sho dengan Narumi! Aku tak menyangka akan bertemu Sho!

 

Perasaan tidak nyaman segera menghampiriku. Rasanya seperti apa yang baru saja kubicarakan dengan Narumi diketahui oleh Sho.

 

 

Sakurai Sho.

 

Ia adalah seorang lelaki yang berusia agak jauh diatasku. Aku mengenalnya dari Narumi. Gadis itu berkata bahwa Sho adalah temannya sejak kecil. Lewat Sho pula Narumi mengenal Aiba.

 

Waktu itu, ketika aku baru dekat dengan Narumi, aku sempat bercerita padanya bahwa aku menyerah soal pelajaran kemasyarakatan Jepang. Rasanya aku seperti tidak peduli dengan politik yang ada di negeri ini berikut dengan struktur masyarakat yang telah tersusun. Aku juga sudah mendapat peringatan dari dosen pembimbingku. Katanya, kalau aku terus bersikap acuh, ia tak dapat membantuku agar aku bisa lulus.

 

Ketika itulah Narumi berkata bahwa ia mengenal seseorang yang pandai dalam bidang kemasyarakatan. Daripada dikatakan pandai, bidang kemasyarakatan adalah pekerjaannya.

 

Ya, Sho adalah seorang pembawa berita. Seorang pembawa berita yang lulus dari Universitas Keio, salah satu universitas unggul di Jepang saat ini. Mendengar riwayat pendidikannya yang terus berada di Keio, tentu saja aku tak pikir panjang untuk menerima tawaran Narumi.

 

Saat itu yang kupikirkan adalah bagaimana aku bisa lulus tanpa mengulang dan bertemu lagi dengan pelajaran yang tak kusukai.

 

Sejak saat itulah aku berkenalan dengan Sho dan mulai menjadi muridnya selama beberapa bulan demi mengejar ketinggalan-ketinggalanku.

 

Aku tak berpikir sama sekali bahwa Sho memiliki penampilan yang menawan, sikap yang lembut, dan yang lebih mengejutkan lagi, orang yang perbandingannya bagai langit dan bumi denganku ini bisa ada didekatku.

 

……bahkan aku tak menyangka ia akan menjadi bahan pembicaraanku dengan Narumi tentang objek bertemakan cinta.

 

 

Tidak! Tidak mungkin orang seperti ini jadi pasanganku!

 

 

Tanpa sadar, aku menggelengkan kepalaku di hadapan Sho.

 

 

“Hm?! Kou-chan?! Ada apa?!”tanya Sho heran.

 

“Ah! Nggak apa-apa…. Mungkin lalat,”aku tahu jawabanku ini terdengar bodoh! Aku pun menyesal mengeluarkan jawaban itu.

 

“Hahaha begitu, ya!”Sho mengangguk paham tanpa bertanya lebih jauh. Aku tahu Sho pasti menganggapku aneh! Aku tahu! Karena dia bukan tipe orang yang lamban seperti Aiba. “….oh ya, Kou-chan, kau sedang apa disini?!”

 

“Ah….tadi aku habis bertemu Narumi…. Lalu Aiba-chan menjemputnya…. Katanya mau pergi belanja,”jawabku seadanya.

 

“Hmmm… Berarti kau sendiri, ya…. Habis ini kau ada acara?!”tanya Sho. Aku menggeleng pelan. “…..kalau begitu, kita pergi makan, yuk?!”

 

“Eh?!”Aku terkejut mendengar perkataan Sho. Aku tak yakin, apakah ada sesuatu yang salah dengan telingaku, atau memang Sho mengajakku pergi.

 

“Kau dengar omonganku tadi, kan?! Ayo pergi makan!”kali ini Sho menegaskan perkataannya. Rupanya telingaku tak salah!

 

“Eh?! Ah…. Anu…. Hari ini jatah uangku sudah habis… Hahaha… Jadi….”Aku berusaha menolak ajakan Sho. Selain memang batas uangku hari ini sudah habis, aku akan semakin gelisah jika berada bersama Sho setelah membicarakan dirinya di belakang.

 

“Kau nggak usah pikirkan hal itu! Aku yang bayar, kok!”Perkataan Sho segera membuatku menoleh padanya. Bukan karena aku ingin ditraktir, yaah, tidak juga, sih, tapi aku merasakan nada tekanan pada gaya bicara Sho seolah ia berkata, “ayo ikut aku!”

 

Dengan perasaan tak yakin, aku pun mengangguk pelan seraya menatap matanya. Mencari-cari tekanan yang membuatku seolah tak bisa melarikan diri hari ini. Namun, belum sempat aku menemukan jawabannya, Sho segera menyuruhku untuk bergegas.

 

 

*****

 

 

“Selamat makan!”

 

 

Sho menepuk kedua tangannya dengan semangat. Tanpa berpikir panjang, ia segera melahap daging yang baru saja matang di hadapannya. Melihat Sho yang asyik melahap dagingnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku jadi menunda suapanku dan berhenti sejenak untuk memperhatikan Sho yang menikmati santapan makan malamnya.

 

Ah! Malam ini kami pergi makan malam ke restoran Yakiniku!

 

 

“Hm?! Ada apa?!”tanya Sho seraya berusaha menelan makanan yang berada di dalam mulutnya.

 

“Ah…. Nggak…. Aku hanya berpikir sepertinya kau sangat menikmati santapanmu…”Aku tertawa kecil. “….melihat caramu makan membuat nafsu makanku bertambah. Hahaha…”

 

Sho tampak terdiam sejenak. Semburat rona samar-samar terlihat di kedua pipinya. “….ah! Lidah sapi ini enak, lho… Ayo makan!”

 

Aku memperhatikan Sho yang menaruh beberapa potong lidah sapi dalam piringku yang masih setengah kosong.

 

Aku pernah dengar dari Narumi, Sho adalah tipe orang yang akan memberikan makanan yang menurutnya enak supaya orang lain juga dapat menikmatinya. Rupanya hal ini benar. Dengan santai ia merekomendasikanku jenis-jenis daging yang menurutnya enak, memasakkannya apabila menurutnya ada cara memasak yang membuat daging itu menjadi lebih enak, dan menyuruhku untuk tidak ragu-ragu menyantap hidangan yang kuinginkan.

 

Sho benar-benar memperlakukanku dengan baik. Entah saat ini ia menganggapku sebagai anak yang pernah diajari olehnya, sebagai seorang adik, atau seorang perempuan.

 

Perasaanku, sih, mengatakan saat ini Sho memperlakukanku seperti seorang anak kecil. Ini bukan pertama kalinya kami pergi makan, tapi ini pertama kalinya bagi kami pergi makan malam berdua. Biasanya Aiba dan Narumi ikut serta dan berbincang hangat dengan kami. Daripada dikatakan berbincang, lebih tepat dikatakan melakukan hal konyol.

 

Ketika kami pergi makan berempat, biasanya aku akan mencoba kue Narumi dan berteriak kegirangan ketika aku dapat merasakan makanan yang enak. Setelah itu, biasanya kami akan berbagi kue dan mencoba masing-masing makanan yang kami pesan. Tak hanya aku dan Narumi, Aiba dan Sho pun turut bergabung dalam permainan cicip makanan kami. Berbeda dengan aku dan Narumi yang akan menyuruh orang lain mengambil sesedikit mungkin makanan yang kami sukai, Sho malah akan memberikan semua makanannya pada kami supaya kami bisa menikmatinya. Dan dirinya saat itu akan memesan menu yang lain, atau hanya akan menyeruput ice latte kesukaannya hingga habis.

 

 

“Kau suka makanannya?!”Sho memecah keheningan. Aku mengangkat wajahku dan menatap Sho beberapa saat, kemudian mengangguk pelan.

 

“Kenapa?!”tanyaku singkat.

 

“Ah…. Nggak…. Karena sejak awal kau nggak banyak bicara seperti biasanya, aku jadi agak khawatir…”jawab Sho lembut. “….kupikir kau sedang ada masalah atau bertengkar dengan Narumi mungkin?!”

 

“Ah! Nggak… Aku nggak pernah bertengkar dengan anak itu, kok! Hahaha… Aku baik-baik saja,”

 

“Ooh…”Sho mengangguk paham. “…..kalau kau ada masalah, kalau kau nggak keberatan kau bisa cerita padaku, kok, Kou-chan…”

 

“Un, terima kasih,”ujarku seraya tersenyum. “…..tapi aku benar-benar nggak ada masalah, kok… Aku hanya nggak tahu harus berbicara apa… Karena ini pertama kalinya kita pergi makan tanpa ada Narumi dan Aiba-chan, kan?!”

 

Sho terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Ah! Kupikir ada apa! Tenang saja! Memangnya aku benar-benar membuatmu gelisah, ya?! Santai saja! Hahaha…”

 

“Ah, bukan itu maksudku! Kau baik, kok… Aku yang sebaliknya harus minta maaf karena seperti ini…. Aku agak kurang terbiasa….”

 

“Tenang saja… Nggak ada yang perlu dikhawatirkan… Aku nggak menggigit, kok,”canda Sho. “Ah! Kou-chan! Kau mau minum bir?! Aku mau pesan bir!”

 

“Eh?! Tapi besok aku kerja…. Ah! Mungkin satu gelas saja…”

 

“Baiklah!”jawab Sho cepat. “Permisi! Aku pesan bir dua!”

 

Setelah melantangkan suaranya pada seorang pelayan, Sho kembali memfokuskan perhatiannya padaku dan mulai bertanya macam-macam hal agar membuatku menjadi lebih rileks.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s