[BIRTHDAY FANFIC] このままであなたを愛し続けていたい 2/3

CHINATSU presents,

このままであなたを愛し続けていたい

熊西康 x 櫻井翔

-I only own the story line. Characters included belongs to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

INDONESIAN LANGUAGE AREA

 

[ 2 / 2 ]

 

 

Aku menatap jam tanganku ketika perutku sudah mulai terasa penuh. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Semakin banyak pegawai kantoran yang datang mampir, berkumpul bersama rekan kerja, atasan maupun bawahan mereka. Namun tak sedikit pula yang beranjak dari tempat mereka untuk pulang ke rumah masing-masing. Seperti pasangan, misalnya…

 

 

Sepertinya aku juga sudah harus pulang, pikirku.

 

 

Baru saja aku berpikir demikian, aku teringat akan suatu hal.

 

 

Saat ini aku sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat menjadi tantangan bagiku. Di hadapanku, orang yang semula mengajakku makan malam tengah meletakkan kepalanya diatas kedua tangannya yang melingkar.

 

Ya!

 

Beberapa saat yang lalu Sho berkata padaku bahwa ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum pulang. Sepertinya reaksi sake yang diminumnya sampai beberapa saat yang lalu telah bekerja. Aku rasa ia juga pasti berpikir bahwa sudah saatnya pulang, tapi ia tak ingin berjalan dengan kepala yang terasa penat.

 

Selain itu, nampaknya ia kelelahan sekali. Kalau tidur selelap ini, mana tega aku membangunkannya!

 

Aku terdiam sejenak dan berpikir apa yang sebaiknya kulakukan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan pembayaran. Karena jatah uangku benar-benar sudah habis hari ini, aku menatap Sho ragu dan mengambil nafas berat-berat.

 

“Sho-kun, maafkan aku! Tapi kau sudah janji, kan?!”aku merapatkan kedua tanganku sebelum merogoh kantung mantel Sho dan mengambil dompetnya.

 

Setelah membayar makan malam kami, aku menatap Sho beberapa saat sebelum memutuskan untuk membangunkannya. Apa aku benar-benar harus membangunkannya sekarang?!

 

 

Untuk sesaat pun aku terpesona melihat wajah tidur Sho yang damai.

 

 

“S,-Sho-kun?! Ayo bangun… Kita pulang,”dengan nada ragu, aku menepuk bahu Sho secara perlahan.

 

“Hng…. Aiba-chan…”gumam Sho. “……kau sudah mengantar Narumi?!”

 

 

Aku menatap Sho tak percaya. Ia mengiraku Aiba-chan!?. …….Sudahlah! Yang penting ia bisa diajak bicara!

 

 

“Iya…. Ayo kita pulang! Pakai taksi saja, ya?!”ujarku. Sho yang masih tak membuka matanya hanya mengangguk tak karuan.

 

“….Kou-chan….. mana?!”tanyanya. Aku disampingmu! Sedang berbicaramu sejak tadi!, teriakku dalam hati.

 

“Iya… Kou-chan ada, kok! Ada! Tenang saja! Ayo pulang!”jawabku.

 

“Kau yang bayar taksinya!”Sho mengacungkan jari telunjuknya padaku.

 

“Eeeh?! A,-aku….”sesaat aku langsung panik ketika Sho menyuruhku untuk membayar biaya taksi. Kalau aku harus mengantarnya pulang kemudian baru kembali ke rumahku, bisa-bisa aku puasa satu minggu!

 

 

Tunggu! Aku kan sedang berperan sebagai Aiba-chan!

 

 

“…A,-aku sudah nggak pegang uang tunai hari ini!”elakku, sambil berusaha menirukan gaya bicara Aiba. “Rumahmu itu jauh, tahu! Setidaknya kau bayar dengan uangmu untuk pulang kerumahmu sendiri!”

 

“Eeeeh?! Hng….. Nggak pulang juga nggak apa-apa… Besok aku libur,”lagi-lagi aku dibuat bingung oleh ucapan Sho yang semakin tak karuan.  Jadi maksudmu pulang kerumah Aiba,–bukan! Ke rumahku nggak apa-apa?!

 

Sepertinya aku termakan omonganku sendiri.

 

 

Tunggu sebentar!

 

Tapi kalau kubawa ke rumahku, itu artinya aku nggak harus bayar taksi dua kali?! Tapi kalau aku membawanya ke rumahku, ini bukan tindakan kejahatan, kan?! Apalagi ia mengiraku Aiba-chan! Seharusnya aku yang merasa dijahati!

 

Tunggu sebentar!

 

Ini serius?!

 

 

“….ah! Aku harus mengantar Kou-chan pulang,”ujar Sho.

 

 

Kau masih memikirkanku disaat kesadaranmu sudah tak karuan begini?!

 

 

Sho berusaha untuk berdiri dengan tegak. Namun belum sempat ia berhasil melakukan satu langkah kaki, keseimbangan tak bisa dicapainya. Untungnya saat itu aku refleks memeluknya sehingga ia tak jadi terjatuh.

 

 

“Nona…. Mau kubantu kupanggilkan  taksi?!”seorang pelayan restoran yang membukakan pintu berbaik hati memberikanku pelayanan tambahan, seolah ia mengerti benar aku sedang mengalami kesulitan. Tanpa berpikir panjang, aku segera mengangguk dan berbisik ‘tolong, ya’ pada pelayan tersebut.

 

“Eh?! Kou-chan…..mau kemana?!”

 

Aku menatap Sho cepat. Sepertinya kata ‘nona’ yang diucapkan pelayan tadi masuk ke dalam ambang kesadaran Sho. Sayangnya, dalam pandangan Sho saat ini, aku adalah Aiba.

 

 

Kalau seperti ini caranya, sampai akhir aku harus berperan sebagai Aiba-chan!

 

Sudahlah! Urusan setelah ia  sadar nanti akan kupikirkan setelah kami sampai dirumahku!

 

Aku harus mempersiapkan diriku bersujud dihadapannya karena sembarangan membawanya ke rumahku!

 

“Ah! Kou-chan bilang hari ini ia pulang duluan…. Kau ikut denganku saja,”ujarku, kembali berpura-pura sebagai Aiba. “……kau nggak mungkin mengantarkan Kou-chan dengan keadaan seperti ini!”

 

“…..Ah….. Aku harus minta maaf padanya besok,”ujar Sho, kemudian tubuhnya melemas.

 

 

Sialan!

 

Baru saja hatiku tergerak ketika ia bilang akan minta maaf padaku!

 

Masuk taksi saja belum! Ia sudah pasrah dan main terlelap saja dalam rangkulanku!

 

Sho-kun!! Kau berat!!!

 

 

 

***

 

 

Cring! Cring!

 

 

Cklek!

 

Aku membuka pintu apartemenku secara tergesa-gesa.

 

 

“Ah… Dudukkan saja ia disana! Terima kasih,”aku membungkuk kepada supir taksi yang secara cuma-cuma menawarkan bantuan untuk menggendong Sho sampai ke dalam apartemenku.

 

 

Setelah supir taksi tersebut membungkuk, aku pun mengunci pintuku rapat-rapat, membuka sepatu dan melepas sepatu yang masih dikenakan oleh Sho.

 

Kalau dilihat dari luar, sepertinya aku sudah mirip pembunuh berdarah dingin yang ada dalam film-film pembunuhan.

 

 

“Sho-kun! Kerahkan sedikit tenagamu! Aku keberatan!”keluhku seraya melingkarkan lengan Sho dibahuku dan membawanya ke ruang tamu.

 

Setelah setengah mati membawanya ke ruang tamu dan mendudukkannya di sofa, aku melepaskan mantel Sho dan bergegas mengambil bantal serta selimut dari kamarku.

 

 

“Haaahh…. Kalau seperti ini sudah nggak apa-apa, kan?!”ujarku pada diriku sendiri seraya menatap Sho yang masih terlelap.

 

Untuk beberapa saat aku kembali tertegun melihat wajah tidur Sho. Pria rapi dan telaten yang biasanya terlihat serius dan sibuk itu kini sedang tertidur di rumahku. Pria yang memiliki tawa yang mendengarnya saja bisa membuat orang kesal itu kini tengah mendengur kecil.  Pria yang ekspresif itu kini sedang terlelap dengan wajah yang terlihat begitu damai.

 

Padahal ini bukan hari spesial. Padahal ia juga bukan kekasihku. Tapi kenapa hari ini aku merasa begitu spesial? Kenapa aku bisa melihat sisi lain dari Sho yang seharusnya hanya ia tunjukkan pada kekasihnya?

 

 

Entah kenapa dadaku jadi terasa penuh. Pipiku memanas.

 

Sudah berapa tahun, ya, aku tidak merasa debaran dan kepanikan dalam waktu yang sama seperti ini?

 

Kalau aku mengartikan ini cinta, apa tidak terlalu cepat?

 

Atau cikal bakal cinta?

 

 

……Aku tahu, sesungguhnya dalam diriku pun aku sangat ingin mencintai dan dicintai seseorang. Namun karena takut kehilangan mereka, aku selalu menyangkalnya.

 

Aku tahu, kalimat “apa itu cinta” itu adalah omong kosong paling besar yang pernah kukatakan.

 

 

Aku beranjak dari bathtub setelah air panas yang merendam tubuhku mulai terasa dingin. Kukenakan baju tidurku kemudian menyikat gigiku sebelum tidur.

 

 

“…hng…. panas….” Aku berhenti menyikat gigiku sejenak ketika mendengar suara seorang pria diluar sana.

 

“Sho-kun?! Kau sudah sadar?!”dengan cepat aku bergegas berkumur-kumur dan mencuci mulutku sampai bersih kemudian menghampiri Sho. Aku bermaksud untuk meminta maaf padanya karena telah sembarangan membawanya ke rumahku. “…..S,-SHO-KUN????!!!!”

 

 

Aku reflek meneriakkan namanya ketika mendapati pria itu tengah melepas bajunya sendiri dengan keadaan kedua mata yang masih memejam. Awalnya aku masih terdiam membatu melihat aksinya itu, tapi tubuhku reflek menghampirinya ketika ia mulai melepas ikat pinggang dan membuka risleting celana jeans-nya.

 

“Kau ngapain, sih?!”aku menaruh gelas air putih yang kubawa dengan tergesa-gesa hingga isinya berceceran di meja. Tanpa berpikir lagi, aku segera melepaskan tangan Sho dan merapatkan risleting celananya dengan tanganku sendiri.

 

“Hng…. Panas….”rupanya ia mengigau!

 

“I,-iya! Akan kuambilkan es batu dan handuk dingin! Tapi jangan telanjang dirumahku!”ujarku panik.

 

“Celana ini panas…”aku menepuk dahiku mendengar igauannya. Benar juga, sih! Memang nggak baik juga untuk kulit jika tidur dengan celana jeans! Tapi apa yang harus kulakukan?!

 

“A,-aku pinjamkan baju! Pokoknya jangan telanjang!”seruku seraya bergegas pergi ke kamar dan mencari baju yang kira-kira bisa dipakai Sho. Aku juga segera merendam handuk dengan air dingin dan mengisi kompres dengan es batu agar Sho merasa lebih sejuk. “Sho,-Sho-kun! Aku bawakan handuk dingin dan kompres untukmu!”

 

“Hng…. Haaah…”entah sadar atau tidak, Sho segera mengambil handuk dingin yang kubawakan, melemparkannya ke wajahnya sendiri dan menghempaskan dirinya hingga tersandar ke sofa. “…..Aiba-chan…. sepertinya hari ini kau berbicara seperti perempuan,”

 

Aku memang perempuan! Aku juga bukan Aiba-chan!, umpatku dalam hati. “Oh, ya?! ….Mungkin karena hari ini aku terlalu banyak bergurau dengan Narumi,”

 

“…..senang, ya, pergi dengan Narumi…”gumam Sho lagi. “….hari ini aku pergi dengan Kou-chan,”

 

Aku tertegun sejenak mendengar ucapan Sho. Bukannya membuncah, hatiku justru menyusut mendengar Sho yang mengatakan bahwa ia pergi bersamaku dengan nada bicara yang begitu rendah.

 

“Iya, iya… Pokoknya kau pakai baju dulu! Besok saja ceritanya,”takut mendengar lanjutannya, aku memotong pembicaraan Sho dan menyuruhnya untuk mengenakan baju.

 

Sho mengangguk tak karuan dan mulai membuka kaus yang kuberikan padanya. Tentu saja, matanya tetap terpejam. “…..Aiba-chan….kalau dengan Narumi nggak pernah mabuk, ya?!”

 

Hah?! Mana kutahu!, umpatku dalam hati. Tunggu! Tenangkan dirimu, Kou! Ingat, kau sedang berperan sebagai Aiba-chan! Bayangkan Aiba-chan dan munculkan cerita-cerita yang sering Narumi lontarkan padamu tentang Aiba-chan!

 

“….Ah! …Narumi nggak suka aku minum sake ketika kami sedang bersama…”ujarku seraya mengingat salah satu cerita yang pernah dilontarkan Narumi. “….kalau aku mabuk, aku nggak akan ingat apa yang terjadi… Dan Narumi nggak mau itu terjadi… Ia ingin aku mengingat semua yang telah kulakukan padanya,”

 

“Hmmm…. Dasar tsundere akut! Aku penasaran suasana macam apa yang bisa membuatnya berbicara seperti itu,”cela Sho. Aku hampir kelepasan tertawa mendengar ucapan Sho. Narumi memang tsundere akut. Tapi tak bisa kupercaya Sho mengatakan hal itu ketika ia sedang mabuk seperti ini.

 

 

Aku sudah nggak mengerti lagi! Orang ini kenapa, sih?! Ia bisa membuatku kesal sekaligus tertawa dalam waktu yang sama!

 

 

“Yah… begitulah!”balasku seadanya.

 

“Aduh… Nggak mau masuk!”gerutu Sho. Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar pria itu mengatakan sesuatu yang aneh. Dengan ragu, aku memutar tubuhku dan mendapatinya sedang berusaha memasukkan kakinya kedalam celana pendek yang kuberikan padanya. “Mana, sih, lubangnya! Nggak mau masuk!”

 

Aku menutup mulutku. Berusaha menahan tawa ketika mendengar Sho mengatakan hal tersebut. Aku beruntung aku melihat situasi seperti apa yang sedang terjadi. Kalau tidak, kepalaku hanya akan penuh dengan bayangan mesum!

 

“Jelas saja nggak masuk! Matamu saja tertutup! Mana bisa masuk ke celana!”seruku.

 

“Pakaikan!”Sho meregangkan kakinya seperti anak kecil yang menunggu sang ibu datang memakaikannya celana. HAH???!!! APA DIA BILANG???!!

 

“Sho-kun… Kau nggak serius, kan?!”tanyaku dengan suara nyaris berbisik. Sho tetap diam seraya meregangkan kakinya. Seolah tak mau tahu apa yang sedang terjadi dan hanya menerima jawaban patuh.

 

Aku menepuk dahiku keras-keras. Setelah mengambil nafas berat-berat, aku berjalan mendekati Sho dan mulai berjongkok di hadapannya.

 

 

Posisi ini… Posisi ini tidak menguntungkan sekali!, jeritku dalam hati.

 

 

Aku berusaha untuk memfokuskan pandanganku pada celana pendek dan kaki Sho. Aku berusaha untuk menjaga pandanganku agar pikiranku tidak semakin kacau.

 

Niatnya sih begitu, tapi semua pertahananku hancur ketika aku harus melingkarkan tanganku pada Sho supaya celana itu bisa masuk membungkus selangkangannya.

 

Ya, dengan kata lain, tantangan selanjutnya adalah menghadapi selangkangan Sho yang berada persis dihadapanku.

 

Belum lagi, tantangan lebih berat adalah setelah ini!

 

‘Merapatkan risleting celana yang dipakai Sho’.

 

 

“Selesai!”seruku seraya menghembuskan nafas berat-berat. Padahal hanya memakaikan celana!  Tapi aku serasa seperti habis berlari mengelilingi Tokyo Dome dua puluh keliling di musim panas! Aku masih berusaha mengatur nafasku yang masih terengah-engah seraya menyandarkan punggung di kaki sofa.

 

 

Sekali lagi, aku menatap Sho yang telah kubaringkan kembali ke sofa. Dasar! Aku nggak menyangka kalau ia akan jadi menghebohkan begini disaat mabuk!

 

Aku tersenyum kecil. Dalam kepalaku, terbersit reka ulang bagaimana aku bertemu Sho hari ini, makan malam kami, obrolan kami, hingga keadaannya saat mabuk sampai beberapa saat lalu. Rasanya kehebohan barusan seolah terjadi dalam satu kejapan mata! Kini pria heboh itu sudah kembali mendengkur kecil seraya menghadapkan tubuhnya ke arahku.

 

 

Perlahan, aku membaringkan tubuhku di karpet yang mengalasi ruang tamu mungilku dan meregangkan tubuh. Kujadikan kedua tanganku sebagai bantal dan kuarahkan pandanganku pada wajah tidur Sho yang imut.

 

Walaupun dibilang sekejap mata, rasanya energiku cukup terkuras. Terutama episode celana! Mengingatnya saja, aku sudah terkekeh seorang diri.

 

 

“Hng…. Aiba-chan…”Sho kembali mengigau. Sesaat aku membulatkan mataku. Seakrab apa, sih, mereka?! Bahkan dalam mimpinya saja ia memanggil Aiba-chan. Hihihi…

 

 

BRUK!!

 

 

Belum selesai aku membereskan pikiranku akan apa yang terjadi, sebuah tragedikembali terjadi.

 

Untuk beberapa detik aku memejamkan mataku ketika melihat Sho hendak terguling dari sofa. Rasa sakit sesaat dan rasa berat menjalar di seluruh tubuhku. Aku benar-benar tertimpa tubuh Sho! Ditambah kedua tanganku yang tengah menopang kepalaku membuatku benar-benar berada di posisi yang buruk.

 

Perlahan aku berusaha untuk membuka mataku. Gelap. Ini aneh! Aku yakin aku telah membuka mataku, tapi aku tak dapat melihat apapun. Hingga akhirnya aku sadar ada sesuatu yang berhembus dipipiku. Tak hanya itu, sebuah benda empuk yang permukaannya agak kasar juga memenuhi bibirku.

 

 

Eh?! Jangan-jangan……..

 

 

Benda yang memenuhi bibirku sedikit bergeser. Desahan kecil dari seorang pria membuatku segera tersadar akan apa yang tengah terjadi. Saking terkejutnya, aku sampai tak bisa berpikir sama sekali!

 

 

“Terima kasih telah menjadi pasanganku….”Sho angkat bicara seiring dengan berpindahnya benda yang memenuhi bibirku tersebut. Aku segera terbelalak. HAH????!!! PASANGAN???!!! SEBENARNYA APA SIH HUBUNGAN MEREKA???!!

 

 

Pluk!

 

 

Sho melemaskan tubuhnya kembali dan memposisikan kepalanya disampingku. Bibirnya yang sedikit kering kini menempel diantara pipi dan telingaku. Nafasnya yang berhembus teratur membuatku sedikit merasa geli.

 

“………Kou-chan….”kali ini namaku keluar dari mulutnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s