[BIRTHDAY FANFIC] このままであなたを愛し続けていたい

CHINATSU presents,

このままであなたを愛し続けていたい

熊西康 x 櫻井翔

-I only own the story line. Characters included belongs to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

INDONESIAN LANGUAGE AREA

 

[ 3 / 3 ]

 

 

Cip….cip….

 

 

Suara burung kecil samar-samar terdengar ditelingaku.  Sinar matahari yang menembus tirai membuat mataku yang masih tertutup mengerjap kasar. Sudah pagi, rupanya…

 

 

“Hng…”disela-sela kicauan burung yang indah, desahan seorang lelaki terdengar begitu jelas ditelingaku. “Ah! Aiba-chan! Maaf! Semalam aku terjatuh…………”

 

 

Aku membuka mataku perlahan mendengar suara Sho yang sudah membulat. Kali ini sepertinya kesadarannya sudah kembali sepenuhnya.

 

 

“……ya?!”

 

“Ah! Sho-kun… Kau sudah bangun,”karena aku tahu jelas apa yang semalam terjadi, aku tak memberikan reaksi terkejut seperti yang tersirat dalam wajah Sho saat ini.

 

“Kou-chan…….”Sho tampak tak bisa berkata-kata. Ia menunduk perlahan. Gerakannnya sangat kaku dan terpatah-patah seperti robot. Matanya tampak semakin membulat ketika melihat baju yang dipakainya. “….bajuku….”

 

“Ah! Bajumu kulipat diatas meja…”jawabku santai seraya bangkit dari karpet dan berjalan menuju pantry. Sebenarnya aku tidak merasa santai, tapi aku berusaha untuk bersikap tenang. Kalau dibandingkan dengan Sho, seharusnya aku yang lebih panik daripada dirinya.

 

 

Ya! Semalam aku sudah melewati masa-masa itu.

 

 

“….A,-Aiba-chan….?!”Sho tampak melirikkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari-cari sosok Aiba.

 

“Ah! Ini bukan rumah Aiba-chan…”ujarku. “….kepalamu sakit, nggak?! Ini…. air putih,”

 

“Te,-terima kasih…”Sho mengangguk pelan. Wajah terkejutnya itu seperti habis dikejar malaikat kematian. Pucat pasi.

 

 

Perlahan, Sho pun menempelkan bibirnya pada gelas dan meneguk secara perlahan air putih yang kusuguhkan padanya.

 

 

“Sho-kun, mau pakai toilet duluan?!”tawarku.

 

“Ah! Anu….”bukannya menjawab pertanyaanku, Sho tampak membuka lembar pembicaraan baru. “…..kalau nggak salah semalam ada Aiba-kun, kan?! Apa ia langsung pulang setelah mengantarku……kesini?!”

 

 

Nada bicara Sho mendadak menjadi sangat sopan. Entah kepanikan macam apa yang ada di dalam kepalanya.

 

Aku mengerti itu! Aku mengerti itu!

 

 

“Nggak ada… Sejak awal memang sudah nggak ada Aiba-chan…”jawabku. “….yang ada sejak semalam kau seenaknya memanggilku Aiba-chan….”

 

“Eh?! Yang benar?!…Ah, bukan! Ma,-maaf,”Sho yang sejenak berbicara kasual segera mengembalikan nada bicaranya. Ia memperbaiki cara duduknya menjadi bersimpuh menghadapku. Aku jadi merasa tidak enak hati dibuatnya. “A,-anu…. Maaf…. Mungkin kau akan berpikir aku nggak sopan padamu…. Tapi…. boleh aku tahu apa yang terjadi semalam?!”

 

Aku mengernyitkan dahiku seraya menatap Sho.  Sudah kuduga ia tak akan ingat apa yang terjadi semalam!

 

Untungnya semalam nggak terjadi apa-apa!, seruku dalam hati.

 

 

“Nggak ada apa-apa, kok…”jawabku. Maksudku, sih, agar Sho tidak terlalu memikiran apa yang semalam terjadi.

 

“Nggak mungkin!”sanggah Sho cepat. Aku sampai terkejut dibuatnya. “…..bajuku……..”

 

“Ah! ……Semalam kau kepanasan… Saat aku baru selesai mandi, aku mendengar kau menggumam… Dan ketika aku menghampirimu, kau sudah melepas bajumu… Jadi aku mengambilkanmu baju yang kira-kira bisa kau pakai…”jawabku. “…..Maaf, cuma selembar kaus polos dan celana putih,”

 

“Ah! Bukan! Kalau itu aku merasa berterimakasih!”Sho membungkuk dalam simpuhannya. “….tapi….. baju, kan?! Baju?!”

 

Sho menatapku dengan tatapan serius. Aku hanya mengangguk beberapa kali seraya menatapnya bingung. Aku tak begitu mengerti apa maksudnya, tapi aku merasa anggukanlah yang harus kulakukan saat ini.

 

“Syukurlah,”Sho tampak menghembuskan nafas lega. “Ah! Satu lagi…. Anu…… Apa aku memakai baju ini sendiri?!”

 

 

Hah?!

 

Sho-kun, kau benar-benar sudah sadar, kan?!

 

Kenapa pertanyaannya aneh-aneh begini, sih?!

 

 

“Kenapa pertanyaanmu begitu?!”tanyaku heran.

 

“Hng…. Yaaahh…. Karena…..kalau aku mabuk, aku pasti nggak akan ingat apa yang terjadi… Lalu…..ketika aku mulai kepanasan, aku akan mulai melepas bajuku….. Dan saat aku bisa berpikir dan sadar harus memakai baju…..ketika kesadaranku kembali seperti semula aku tetap berakhir tanpa busana dengan kaus yang hanya masuk ke leherku……”jelas Sho.

 

“…Hmm…. Kalau kau tahu benar dirimu seperti itu, seharusnya kau sudah tahu apa yang terjadi berikut dengan jawabannya,”ujarku tanpa memberikan jawaban yang blak-blakan. Mendengarnya, Sho langsung menepuk kepalanya sekencang mungkin.

 

“Maafkan aku…”Sho memejamkan matanya seraya mengerutkan dahi. “…..aku rendah, ya…”

 

“Nggak masalah….”ujarku. Sebenarnya nggak juga, sih!!

 

“A,-anu…. kalau boleh…… Boleh aku dengar ceritanya lebih lanjut?!”tanya Sho takut-takut.

 

Aku mengangguk. “…..tapi lebih baik kau bersihkan dulu dirimu… Kita ngobrol sambil sarapan,”

 

“Iya… terima kasih…”

 

 

Sho mengangguk pelan. Ia kemudian beranjak dari posisinya dan berjalan menuju kamar mandi setelah kuberitahu dimana letaknya.

 

Sementara Sho berada di toilet, aku sibuk melepaskan apa yang kurasakan sejak tadi dengan jeritan dalam bisu. Aku sudah berjuang keras! Aku sudah sangat bisa mengontrol diriku untuk terus bersikap tenang di hadapan Sho!

 

Akal sehatku bahkan bisa menahan semua perasaan yang bergejolak dalam hatiku.

 

Bagus! Aku masih normal!

 

 

“Kou-chan…Aku sudah selesai,”Sho menyeka rambutnya dengan handuk seraya berjalan menghampiriku dengan langkah perlahan.

 

“Ah! Pas sekali! Sarapannya juga baru siap,”ujarku seraya menaruh piring besar yang penuh dengan panekuk bertabur madu.

 

“Ah! Kau nggak usah repot,”Sho mendadak sungkan.

 

“Nggak masalah… Kau mau minum apa? Latte?!”tanyaku. Sho mengangguk cepat. “…duduklah! Akan kutuangkan latte untukmu,”

 

 

Seperti baru pertama kali mengenal, Sho duduk dengan sopan di kursi meja makanku.

 

 

“Ah! Kou-chan….Hari ini kau nggak kerja?!”Sho memecah sunyi yang untuk beberapa saat menghampiri kami berdua.

 

“Kerja, kok…. Tapi karena aku kesiangan, aku minta tukar shift dengan jam sore,”jawabku seraya menaruh secangkir latte hangat padanya.

 

“Maaf…”Sho menunduk.

 

“Kau jangan meminta maaf terus! Aku jadi nggak enak padamu!”

 

“Tapi memang aku yang salah! Aku membuatmu memakaikanmu baju, membuatkanku sarapan, dan rendahnya lagi aku nggak ingat apa yang terjadi semalam!”Sho mulai menyalahkan dirinya sendiri. Benar-benar kaku!

 

“Nggak…. Aku juga salah karena seenaknya membawamu kemari… Harusnya aku mengantarmu pulang saja,”balasku. “….tapi jatah uangku kemarin itu benar-benar habis! Meski aku bawa uang cadangan, uang itupun akhirnya kupakai untuk membayar taksi…. Kupikir kalau aku mengantarmu, aku nggak bisa pulang…. Jadi aku membawamu kemari,”

 

 

Padahal kupikir aku berhasil membuat diriku sebagai orang yang bersalah, tapi sebaliknya Sho malah kembali menyalahkan dirinya. Ia bilang, kalau saja ia tidak mabuk, aku pasti tidak akan mengalami kesulitan seperti sekarang. Sebenarnya aku tidak merasa kesulitan sama sekali, tapi aku membiarkannya mengatakan hal itu.

 

Aku jadi ingat perkataan Narumi dulu. Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan rela berkorban dan melakukan apapun untuk terus berada bersama orang yang dikasihinya. Pengorbanan itu dapat ditunjukkan dengan ketidakberatan kita untuk melakukan sesuatu yang biasanya tidak mungkin kita lakukan. Sebagai contoh, hal yang sedang terjadi padaku saat ini. Memindah waktu jam kerja! Padahal aku yang biasanya sangat ketat soal jam kerja.

 

Pengorbanan itu menepis malu. Aku bahkan tak percaya diriku telah mengganti pakaian seorang pria mabuk yang bahkan bukan kekasihku. Aku membiarkan dirinya terlelap diatas tubuhku dan menunggunya sadar hingga pagi tanpa membuatnya terbangun sedikit pun. Aku membuat diriku sebagai pihak yang bersalah agar pria di hadapanku ini tidak terus-terusan menyalahkan dirinya.

 

Awalnya aku menepis teori asal-asalan yang dikatakan Narumi, namun setelah aku merasakannya, bukannya merasa buruk, aku malah merasa tidak keberatan melakukan hal semacam ini.

 

Kalau begitu, apakah aku jatuh cinta pada Sho?!

 

Rasanya tidak! Tapi aku ingin mengulas balik kata-kata macam apa yang pernah Narumi lontarkan padaku.

 

 

Berada bersamanya menjadi sesuatu yang wajar, dan bahkan membuatmu nyaman. Saat ini aku tidak merasa hal itu ada pada diriku. Sebaliknya, aku semakin merasa gelisah ketika berada didekat Sho. Dadaku berdebar tak karuan, dan tanganku tak berhenti berkeringat. Rasanya aku ingin sembunyi di balik punggung Narumi, atau melepas tawa bersama Aiba dan tidak menghiraukan keberadaan Sho. Tapi itu tidak mungkin!

 

Semua akan menjadi indah ketika kau ingin pergi menemuinya. Ya! Aku selalu merasa ingin cepat bertemu dengan Sho! Aku yang biasanya selalu datang disaat-saat terakhir akan menjadi sangat bersemangat dan bisa menjadi yang pertama siap apabila hal itu berhubungan dengan Sho.

 

Matamu akan terus mencari-cari sosoknya ketika kau pergi ke tempat yang sering kau datangi bersamanya, meski kau nggak sedang bersamanya. Ya! Aku melakukannya! Walaupun tak begitu banyak pula tempat yang kukunjungi bersama Sho, tapi aku tahu tempat yang sering ia kunjungi, dan secara tak sadar aku mencari sosok kehadirannya. Dan saat itu otakku akan menyusun skenario seolah-olah pertemuan kami ini tidak disengaja.

 

Kau akan terus melihat namanya di kontak ponselmu. Bertanya-tanya kapan ia akan menghubungimu. Aku melakukannya.

 

Barang sekecil apapun yang kau terima akan menjadi harta terbaikmu dan kau simpan baik-baik, terpisah dari tempat yang bisa mengotori barang-barang tersebut. Ya! Aku memiliki kotak sendiri untuk menaruh barang-barang yang kuterima dari Sho. Sekecil apapun. Setidak berarti apapun.

 

 

Apakah ini berarti aku benar-benar jatuh cinta pada Sho tanpa kusadari?!

 

Apakah perasaan jatuh cinta ada yang tidak disadari manusia?!

 

Aku tidak mengerti lagi….

 

 

Drrrt… Drrrt….!! Drrt…. Drrrt…!!

 

 

Aku segera berlari ke ruang staf ketika ponsel yang kutaruh dalam apronku bergetar.  Sho.

 

“Halo….”aku mengangkat teleponku dengan seraya meminimalisir volume suaraku. Ada apa?! Tumben dia telepon.

 

“Ah! Kou-chan, ini aku! Anu… Aku mau mengembalikan kunci cadanganmu, aku ke tempat kerjamu sekarang, ya?! Tolong beritahu alamatnya,”ujar Sho.

 

“Eh????!!!”aku hampir menjerit mendengar perkataan Sho. “Ah! Kau nggak usah repot-repot datang kemari! Titipkan saja kuncinya di Narumi, nanti kuambil,”

 

“Oh, begitu…. Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, ya?! Terima kasih untuk hari ini….”ujar Sho.

 

“Iya… Hati-hati, ya…”balasku.

 

“Terima kasih,”lanjut Sho. “Ah! Kou-chan!”

 

“Hm?!”

 

“…….Ah, nggak jadi,”Sho terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi batal diucapkannya.

 

“Oh, begitu… Kalau begitu kututup, ya…”

 

“Ah! Anu!”baru saja aku berniat untuk mematikan panggilanku, Sho kembali berseru. “…….Kapan kita bisa bertemu lagi?!”

 

“Kapan?!”aku memiringkan kepalaku tanpa kusadari. Kenapa pertanyaan manis semacam ini bisa keluar dari mulutnya?! , batinku. “…….aku, sih, terserah! Kita cocokkan jadwal saja. Kau mau pergi ke suatu tempat?!”

 

“Yaah, begitulah…”Sho tak memberikan jawaban yang jelas. “Kalau begitu sampai nanti, ya…. Semangat, Kou-chan!”

 

“Iya, terima kasih,”

 

 

Aku menekan tanda akhiri panggilan pada ponselku. Untuk beberapa saat, aku menatap layar ponselku. Pikiranku melayang kemana-mana.

 

Padahal kalau soal kunci saja, kenapa ia tidak mengirimiku pesan? Untuk apa pula ia repot-repot datang kemari?Padahal ada Narumi… Aku lebih sering bertemu anak itu daripada bertemu Sho.

 

Tapi kalau dipikir kembali…… menelepon tanpa ada urusan penting itu…. apa boleh kuanggap istimewa?!

 

Hari ini, aku memutuskan untuk pergi ke tempat kerjaku setelah ditemani Sho pergi ke supermarket dan makan di restoran terdekat. Karena pengaruh alkohol masih sedikit tersisa, aku membiarkan Sho berada di apartemenku hingga ia merasa baikan. Aku pun meminjamkan kunci cadangan rumahku karena aku tak bisa terus menemaninya dan pergi bekerja.

 

Jarak diantara kami berdua sempat membeku pagi ini. Keterkejutan yang Sho alami dan pengalaman yang luar biasa aneh yang kualami semalam sama-sama membuat kami menjadi canggung dan berlomba menyalahkan diri masing-masing.

 

Pagi tadi, akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi pada Sho. Betapa malunya ia mendengar apa yang kuceritakan dan terus menerus meminta maaf. Padahal kukira Sho adalah orang yang tak akan begitu mempermasalahkannya karena terkadang aku melihat sisi liar pada dirinya, tapi ia benar-benar meminta maaf seolah telah melakukan sesuatu yang sangat fatal.

 

Dibilang fatal, sih, ya, mungkin saja! Tapi karena kenyataannya tidak terjadi apa-apa, aku anggap saja itu ketidaksengajaan.

 

Permainan saling menyalahkan itu akhirnya berakhir setelah aku berkata padanya bahwa kita berdua sama-sama salah. Aku mengizinkan Sho merasa bersalah atas apa yang ia lakukan diluar kesadarannya, dan aku juga mengaku salah karena seenaknya membawanya ke rumahku, berikut dengan alasan keuangan habis, aku tak bisa pulang, dan sebagainya. Aku bahkan mengaku aku mengambil uang dari dompet Sho untuk membayar makan malam kami. Tapi ketika aku mengatakannya, Sho malah merasa lega karena dengan begitu setidaknya ia menebus ucapannya.

 

Sho tak banyak bicara ketika pembicaraan itu selesai. Gerak-geriknya terlihat begitu kaku. Tampak sekali ia sedang memikirkan pembicaraan dan mengulas seluruh ingatannya yang tertinggal. Ia mulai menghangat kembali ketika aku mengajaknya pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja, dan melontarkan beberapa candaan dan cerita lucu.

 

Sudah kuduga, tawa renyah Sho adalah hal yang paling kusuka!

 

Eh?!

 

Apa yang kukatakan ?!

 

 

***

 

 

Tak terasa, dua seminggu sejak kejadian itu sudah berlalu. Sejak saat itu, aku belum bertemu dengan Sho sama sekali. Padahal ia berjanji untuk mencocokkan jadwalnya dan kami akan bertemu kembali. Apakah jadwalnya begitu padat?!

 

Sejak saat itu pun, aku jadi sering melirik ponselku dan membuka layarnya. Mencari-cari kontak Sho dan menatapinya selama beberapa saat. Menunggu kapan ia akan menghubungiku, tapi panggilan tersebut tak kunjung datang.

 

Satu-satunya hal yang dapat melegakan hatiku adalah ketika melihat keberadaannya di televisi, membacakan berita di studio, meliput suatu tempat yang jauh dari Tokyo yang dapat membuatku berpikir betapa sibuk dirinya.

 

Terkadang aku berpikir untuk meneleponnya meski tak beralasan. Tapi saat itu pula aku akan berpikir kembali apakah aku mengganggu kesibukannya?! Bagaimana kalau teleponku nanti masuk ketika ia sedang rapat?! Atau ia sedang tidak memegang ponselnya karena syuting dan orang lain yang mengangkatnya?!

 

Mungkin semua itu bisa diselesaikan dengan mengirim pesan, tapi kembali lagi, apa yang harus kukatakan dalam pesan itu?! ‘Kau sedang apa?’, ‘Boleh aku meneleponmu?’. Tidak! Aku tak mungkin mengatakan hal semacam itu padanya! Memangnya aku anak SMP?! Lalu setelah aku berkata seperti itu dan dijawabnya, apa yang akan kuberikan sebagai balasan?! Pada akhirnya aku tak akan bisa berkata-kata.

 

 

Aaah! Padahal menurut Narumi aku bisa berteman dengan siapa saja. Tapi kenapa aku nggak bisa berteman dengan pikiran dan hatiku sendiri?! Mendamaikan keduanya saja sulit!

 

 

“Sho-kun! Ini bagaimana?!”Entah kenapa, telingaku pun otomatis akan menangkap pembicaraan setiap orang yang memanggil nama Sho. Padahal belum tentu orang itu adalah Sakurai Sho. Atau sebaliknya, telingaku akan bergerak ketika mendengar nama Sakurai, sekali lagi, padahal belum tentu orang itu Sakurai Sho.

 

“Eeeeh?! Aku nggak mengerti… Kenapa nggak asal ambil saja, sih?!”

 

Aku segera menolehkan kepalaku ketika mendengar suara seorang pria yang benar-benar mirip dengan suara Sho.

 

Saat ini aku sedang berada di toko aksesoris. Tidak mungkin Sho berada di tempat seperti ini, kan?!

 

Namun akal sehatku dikalahkan oleh hatiku. Untuk memastikan benar atau tidak, aku pun berjalan mendekati sumber suara.

 

“Nggak boleh! Aku ingin kau memilihnya!”

 

“Eeeeh?! Merepotkan! …..Kalau begitu yang biru muda ini,”

 

Langkahku terhenti ketika aku menangkap sosok yang selama ini kucari-cari. Ternyata benar, itu adalah Sho!

 

Sho….

 

Bersama seorang wanita…..

 

 

Aaah…..

 

 

Aku merasakan sesuatu jatuh dari dalam tubuhku. Sesuatu yang sangat berat sehingga tak mampu membuatku berdiri tegak. Tanpa kusadari, aku telah melangkahkan kakiku menjauh dari tempat itu dan menutup sebagian wajahku ketika sesuatu terasa mengalir dipipiku.

 

 

Seharusnya aku sudah tahu ini akan terjadi.

 

Tidak mungkin seorang pria sebaik Sho tidak memiliki pasangan!

 

Masih banyak wajah Sho yang nggak kuketahui. Masih banyak tentang Sho yang nggak kuketahui…….. atau mungkin aku nggak tahu apa-apa tentang Sho.

 

Kenapa aku masih berharap?

 

Apa yang sebenarnya kuharapkan?

 

Cinta yang bahagia? Cinta apa? Cinta seperti dalam dongeng?

 

Kou… Kau sudah gila?

 

 

Aku membuka mataku perlahan dan menatap langit-langit ruang tamuku dengan tatapan kosong.

 

 

Dua minggu yang lalu, Sho tertidur disofa ini. Meski matanya memejam, mungkin ini pemandangan yang ia lihat kalau ia bisa tidur dengan rapi. Hihihi….

 

Kejadian dua minggu yang lalu, kalau diingat-ingat lucu juga….

 

Belanja siang hari waktu itu juga menyenangkan. Aku bisa menikmati tawa renyah Sho dan merasakan hangat tubuhnya ketika tangan kami tak sengaja bersentuhan.

 

Waktu itu aku sangat menikmatinya.

 

Hanya aku yang dapat menikmatinya.

 

Kenikmatan itu hanya untukku.

 

Seharusnya seperti itu….

 

Tapi ia sudah memiliki orang lain….

 

 

“Aaaahhh!!!!”aku bangkit dari posisiku dan mengacak-acak rambutku frustasi. Sepertinya aku terlalu banyak memikirkan Sho hingga tak bisa berpikir jernih. “Aku harus mendinginkan kepalaku!”

 

Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengambil mantel.

 

Langit malam terlihat begitu cerah. Bintang-bintang bertebaran menghiasi langit. Aku melangkahkan kakiku ke tempatku biasa menyendiri menikmati langit malam dalam kesunyian.

 

 

Srek…. Srek….

 

 

Aku menyeret langkah kakiku ketika hampir sampai ditempatku biasa menyendiri. Sebuah taman yang agak luas dan diterangi beberapa lampu putih yang tidak begitu menyilaukan mata.

 

 

“Ah! Kou-chan!”kedua bahuku terangkat mendengar suara seorang pria yang sangat kukenal. Suara yang saat ini sangat takut untuk kudengar. Aku yang semula menunduk menatap langkah kakiku pun mengangkat wajahku secara perlahan.

 

“Sho-kun….”panggilku lirih. Saat ini rasanya aku benar-benar ingin melarikan diri. Dadaku seketika terasa sakit. Aku benar-benar tidak ingin melihatnya dulu!

 

“Lama sekali…. Kupikir kau nggak akan datang,”Sho beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku.

 

“….nggak akan datang?!”aku memiringkan kepalaku, tak mengerti dengan apa yang Sho bicarakan.

 

“Eh?! Aku kan mengirimkanmu pesan… Memangnya kau nggak baca?!”tanya Sho. Aku menatapnya tak mengerti. Aku pun merogoh saku celanaku dan menatap layar ponselku. Tidak ada pesan masuk. Daripada repot-repot menjelaskan, aku segera memutar layar ponselku dan menunjukkannya pada Sho.

 

“Nggak ada, tuh,”ujarku singkat.

 

“Eh?! Nggak sampai?!”Sho kemudian merogoh saku celananya dan menatap layar ponselnya. Seketika, ia menepuk dahinya kencang-kencang dan tertawa malu. “…..Aku salah kirim! Aku mengirimkan pesan itu pada Aiba-chan! Hahahahaha!!!”

 

“Eeeeh???!!!”

 

“Ya, ampun! Mana itu pesan dua jam yang lalu! Apa dia sedang menungguku di suatu tempat, ya?! Aku harus menghubunginya,”ujar Sho, tak habis pikir dengan tingkah lakunya sendiri. “Ah! Nanti saja, deh!”

 

“Kau ini! Kasihan, tahu!!”protesku. “…..setidaknya kirim pesan kalau kau salah kirim!”

 

“I,-iya… Maaf,”ujar Sho pelan. Ia kemudian kembali merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Jarinya yang lihai bergerak nampaknya sedang menuliskan pesan salah kirim untuk Aiba.

 

Aku menatap Sho dalam diam. Tiba-tiba saja aku tersadar akan sesuatu. “……Anu…Sho-kun….. Kenapa kau tahu tempat ini?!”

 

 

Sho menatapku sejenak disela-sela perhatiannya pada ponselnya. Sepertinya ia masih belum selesai mengetikkan pesannya. Sepertinya ia nggak mendengar apa yang kukatakan. Apa aku terburu-buru?!

 

 

“…….ah! Maaf, ya…. Aku seenaknya memakai tempatmu menyendiri, ya?!”aku terkejut ketika mendengar Sho mengetahui tempat ini adalah tempatku menyendiri. Bahkan Narumi saja belum pernah kuajak kemari.

 

“Kenapa kau bisa tahu……?!”

 

“Ah…. Waktu aku pulang liputan, beberapa kali aku lewat sini dan melihatmu sedang menyendiri. Terkadang kau sedang menyanyi, bermain dengan kucing jalanan, atau hanya sekedar bengong…”ujar Sho. Membeberkan sedikit ingatannya sebagai bukti bahwa ia benar-benar tahu tempat ini. “….Karena kau tampak sedang menikmati waktumu sendiri, aku nggak menyapamu waktu itu, maaf….”

 

“Eh?! Ta,-tapi…..Aku kan jarang kemari…Maksudku…..Kau nggak tahu kapan aku akan kemari, kan?!”

 

“Aku tahu, kok…”Sho menjawab singkat. “…..setiap aku nggak sengaja melihatmu di taman ini, kau pasti seolah sedang berusaha menghilangkan kegelisahanmu…. Kalau hari seperti itu datang, aku selalu menghubungi Narumi dan bertanya apa yang telah terjadi pada hari itu… Kupikir kau pasti akan cerita padanya,”

 

“Lalu?! Kenapa kau tahu aku akan datang kemari malam ini?!”tanyaku. Kenyataannya, pada saat ini aku sedang tidak bermain dengan kucing jalanan, bengong sendirian ataupun menyanyi seperti apa yang Sho deskripsikan, meskipun kejadian itu pada waktu lalu semuanya benar. Kalau ia tahu aku seperti sedang mencoba menghilangkan kegelisahanku, apa hari ini ia bisa membaca hatiku?

 

“……hari ini kita bertemu, kan?!”ucapan Sho seolah menghunus jantungku. Rasa sesak seketika memenuhi dada.

 

“Ma,-maksudmu?!”tanyaku tak yakin. Jangan-jangan dia melihatku siang tadi?!

 

“…..siang ini kau pergi ke toko aksesoris, kan?!”tanya Sho. “…..kenapa tiba-tiba kau lari?!”

 

 

Aku terdiam mendengar ucapan Sho. Untuk kedua kalinya aku katakan, saat ini aku benar-benar ingin melarikan diri! Benar-benar ingin menghilang dari hadapannya. Rasanya aku sudah tahu kemana pembicaraan ini akan mengarah. Aku tak mau mendengar semua itu! Aku ingin tahu tentang hal itu!

 

“Ah! Ternyata kau sadar, ya?! Hahaha… Maaf, ya, sepertinya aku sudah mengganggumu dengan gadis tadi, ya?!”Berlawanan dengan apa yang ada dalam pikiranku, aku malah mengorek lukaku sendiri. “Rupanya kau sudah punya pacar, ya…. Benar juga ya…. Mana mungkin orang sebaik dirimu nggak punya pacar…”

 

“……Iya……”jawaban singkat Sho seolah menggenggam jantungku. “Aku datang kemari untuk membicarakan hal itu,”

 

 

Nggak….

 

Aku nggak mau dengar….

 

 

“Eh?!  Ternyata benar, ya?! Selamat, ya, atas hari jadi kalian…. Walaupun aku nggak tahu itu kapan,”aku tersenyum kecil. Rasanya, dengan tersenyum saja, wajahku benar-benar terasa kram! Aku tak bisa membayangkan bagaimana wajah normalku jika harus menghadap cermin saat ini juga. “….aku nggak menyangka kalau kau akan cerita padaku,”

 

 

Aku juga nggak menyangka diriku bisa mengatakan hal itu!

 

Kou, kau ini masokis, ya?!

 

Mau sampai sedalam apa lagi kau mengorek lukamu?!

 

Padahal kau sudah tahu jawabannya. Tidak ada cerita cinta seperti dalam dongeng! Lalu kenapa kau masih membuat skenario dramatis!?

Apa yang kau harapkan?!

 

 

Hati dan akal sehatku berdebat hebat dalam diriku. Aku bahkan sampai bisa mendengar dua suara yang sering diandaikan seperti malaikat dan setan. Entah secepat apa percakapan dalam otakku berlangsung,karena dalam kenyataannya, tak ada yang berlangsung selama terjadi perdebatan dalam diriku.

 

 

“Kau salah paham,”sepatah kata yang diucapkan Sho membuatku kembali tersadar.

 

“Eh?!”

 

“Apa yang kau lihat itu nggak seperti yang kau bayangkan,”ujar Sho. Saat ini pria itu terlihat seperti seorang pemeran dalam sebuah sinetron yang tengah membuat alasan ketika perselingkuhannya terungkap. “……..kau mau mendengarnya?!”

 

“Hahaha! Apa yang kau katakan?! Bicara saja sesukamu! Kenapa aku harus melarangmu?!”kata-kata yang keluar dari mulutku masih berlawanan dengan apa yang kurasakan. Padahal jelas-jelas hatiku menjerit, tidak!

 

“…..kalau begitu, akan kuceritakan secara singkat,”Sho mengucapkan kalimat pembukanya. Sementara aku mempersiapkan hatiku. Apakah aku akan pingsan?! Terduduk lemas?! Atau merasa lega?!

 

 

Tidak mungkin!

 

Mana mungkin aku bisa merasa lega kalau sudah sampai sini!

 

 

“………yang tadi itu Narumi,”ucapan Sho segera membuatku mendongakkan kepala dan menatapnya tajam. Narumi?! Maksudnya?!

 

“Narumi?!”aku mengulang perkataan Sho. Otakku mereka ulang kejadian yang kulihat tadi siang. Seorang perempuan berambut merah tembaga memakai baju berbahan brokat itu Narumi? Aku tidak ingat Narumi yang kukenal bisa berpenampilan seperti itu.

 

“Narumi mengecat rambutnya?!”

 

“Ah, bukan! Itu wig! Hahaha,”Sho tertawa kecil ketika menjawab pertanyaanku. Seolah ia juga ikut mereka ulang kejadian yang ia alami siang ini. “…..aku juga nggak begitu mengerti apa yang ada dipikirannya… Ia memintaku untuk pergi menemaninya membeli hadiah untuk Aiba-chan,”

 

“Eh?!”

 

“….Aku juga nggak menyangka ia akan datang dengan penampilan seperti itu… Aku saja nggak mengenalinya kalau ia nggak menyapaku duluan,”lanjut Sho. “….Narumi bilang ada sesuatu yang ingin ia beli untuk Aiba-chan, tapi Narumi bilang jadwal Aiba-chan hari ini berada dekat dengan toko yang ingin ia datangi, jadi supaya rencananya nggak hancur ia terpaksa berdandan sedemikian rupa supaya nggak ada yang mengenalinya,”

 

“Berdandan?! Itu aneh,”entah kenapa aku merasa diriku malah jadi melampiaskan emosiku pada sosok Narumi yang Sho bilang ‘berdandan’.

 

“Kalau ‘menyamar’ malah lebih aneh  lagi, kan?! Makanya ia lebih memilih berdandan,”ujar Sho. Aku tak bisa membalas perkataannya yang ada benarnya. “….itu yang Narumi jelaskan padaku,”

 

 

Apa?! Jadi itu tadi bukan hasil dari pemikirannya?!

 

 

“…..lalu pulangnya kami mampir ke toko aksesoris tempat kita nggak sengaja bertemu tadi siang,”Sho melanjutkan ceritanya. “Aku bilang pada Narumi kalau aku janji padamu ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi aku nggak ingin datang menjemputmu dengan tangan kosong,”

 

 

Wajahku yang semula terasa kaku perlahan mulai melemas. Aku bahkan tidak mengira kalau yang ternyata menanti-nanti hari kita akan pergi bersama itu bukan hanya aku!

 

 

“Aku nggak pandai memilih hadiah untuk perempuan… Jadi aku membawa Narumi… Kupikir ia tahu seleramu, tapi ujungnya aku juga tetap harus memilihnya sendiri,”ujar Sho. Tentu saja!

 

“….padahal kau nggak usah repot-repot mencari sesuatu untukku,”

 

 

Bohong!

 

Sebenarnya saat ini aku merasa sedikit senang. Dadaku terasa menghangat ketika tahu Sho berusaha untuk membawakan sesuatu untukku meski ia paham betul ia bukan ahli memilih hadiah untuk perempuan.

 

 

“……..Karena itu, malam ini aku datang untuk membicarakan hal itu…”Sho menutup cerita singkatnya. “……Aku nggak mau dikatai aku sudah punya pacar oleh gadis yang selama ini kuperhatikan…. Aku nggak mau diselamati hari jadi sementara gadis yang kuperhatikan berkaca-kaca menahan kecemburuan…”

 

“Eh?!”Wajahku refleks menatap Sho cepat. ‘Gadis yang kuperhatikan’? ‘Gadis yang kuperhatikan berkaca-kaca menahan kecemburuan’?

 

Jadi selama ini Sho sadar?! Apa kecemburuanku terlihat begitu jelas dimatanya?!

 

Tunggu!

 

Memangnya itu aku?!

 

“…..Aku datang untuk menghilangkan perasaan cemburu itu…”lanjut Sho. “Aku datang untuk menghapus perasaan cemburumu, Kou,”

 

 

Aku?!

 

 

Tanpa embel-embel –chan, Sho memanggil namaku dan menatap wajahku serius. Perlahan ia menghilangkan jarak diantara kami berdua sedikit demi sedikit. Tangannya perlahan terulur. Jari-jarinya yang panjang menyentuh pipiku.

 

 

Dingin….

 

Sudah berapa lama Sho berada disini?

 

Dua jam?! Dua jam ia menunggu disini sedangkan aku nggak tahu kalau ia menungguku?!

 

 

“…..Aku ingin dikatai sudah punya pacar ketika gadis yang selama ini kuperhatikan menerima perasaanku…. Aku ingin diselamati hari jadi oleh gadis yang telah menjadi pacarku…. Dan aku ingin yang menjadi pacarku itu kau….”

 

 

Eh?!

 

 

Sesaat kepalaku menjadi kosong. Seluruh perasaan berat yang mengganjal didadaku dan memenuhi kepalaku bagaikan terhempas angin malam dalam sekejap. Perasaan berat itu tergantikan oleh perasaan hangat dan sesuatu yang terasa seperti akan membuncah.

 

Lagi-lagi otakku dan hatiku berkomunikasi. Mereka memperdebatkan apakah yang diucapkan Sho adalah diriku?! Benar-benar aku?! Aku yang seperti ini?! Aku yang semula sangat mengutuk hal bernama cinta itu?!

 

Aku yang mengutuk cinta itu bisa merasakan kebahagiaan yang mereka sebut cinta itu?!

 

 

“Kou… aku datang untuk menyatakan perasaanku,”suara Sho terdengar lebih berat daripada biasanya.

 

“Sho-kun….”aku memanggil nama pria itu dengan sepenuh hatiku. Padahal baru saja aku merasa kesal, merasa sepi, merasa ditinggalkan oleh dirinya. Meskipun malam ini aku bertemu dengannya dan memanggil namanya, aku merasa bahwa sudah lama sekali aku tidak memanggil namanya seperti ini.

 

 

Grep….

 

 

Perlahan Sho melingkarkan tangannya dileherku dan memelukku erat-erat. Tangannya yang dingin menempel ditengkuk leherku. Nafasnya yang hangat terdengar samar-samar di telingaku. Aroma tubuhnya yang tipis dan hangat membuatku tak ingin terlepas dari pelukannya.

 

Aku ingin terus mencium aroma tubuh ini.

 

Aku ingin mendapat kehangatan dari tubuh ini.

 

 

“Kou…. Aku menyukaimu,”seiring dengan kalimat pernyataan perasaan tersebut, Sho mempererat pelukannya.

 

Aku terbuai kehangatannya. Aku terseret ke dalam perkataannya. Rasa bahagia membuncah yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Rasa bahagia yang berbeda dengan saat-saat berkumpul bersama orang-orang terdekat. Rasa bahagia yang spesial. Rasa bahagia yang sepertinya hanya bisa kami rasakan berdua.

 

Apakah perasaan bahagia yang unik ini dinamakan cinta?!

 

Perasaan menggebu-gebu yang bercampur dengan kehangatan dan keinginan kita untuk terus tersenyum bersama pasangan kita….

 

Perasaan sakit karena rasa sepi dan keinginan untuk memonopoli seseorang…

 

Terdengar sedikit rakus dan kasar, namun itu manusiawi…

 

….tak lupa saat-saat ketika hati dan akal sehat tak bisa bersatu. Beradu dalam diri, adu kekuatan siapa yang bisa merefleksikan hasil emosi kepada tubuh ini…

 

Apa hal seperti itu dinamakan cinta?!

 

Kalau iya, bolehkah aku mempelajari cinta?!

 

Aku juga ingin mencintai cinta…

 

Seperti yang orang-orang ributkan…

 

 

“Sho-kun…. Aku menyukaimu…”

 

 

 

 

 

終わり

 

『このままであなたを愛し続けたい』――ツンちゃん。

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s