[FANFIC] 実に愛しい 1

CHINATSU presents,

 

実に愛しい

 

相葉雅紀x松本成美

 

-I only own the story line and the character named Narumi. The basic idea belongs to ‘Kumanishi Kou’. The characters included belong to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

 

 

お楽しみ

 

 

[1]

 

 

“Narumi…. Anak perempuan itu harus kuat! Kau jangan mau kalah dengan teman-temanmu! Kau nggak harus menggunakan fisik, tapi kau jangan sampai diperbudak mereka,”

 

“Narumi… Diluar itu bahaya! Sini, akan kuajarkan ilmu bela diri yang bisa menjadi senjata untuk melindungimu,”

 

“Narumi, kami nggak bisa mengawasimu terus-terusan! Jadi kami minta kau jangan terlalu percaya dengan orang lain. Ini demi keselamatanmu!”

 

“Narumi, jangan bawa dia ke rumah lagi…Hawanya membuat suasana rumah rusak!”

 

“Narumi…. Kau pacaran?!”

 

 

Aku Matsumoto Narumi. Aku dibesarkan di keluarga yang cukup berada, berlimpah akan kasih sayang, dan diperhatikan secara penuh. Orangtuaku mengajarkan berbagai macam teknik yang membuatku tumbuh menjadi gadis yang cukup kuat, hingga kusadari, aku memiliki tenaga dan mental yang lebih kuat dari anak perempuan pada umumnya.

 

Orangtuaku menyaring secara penuh teman-teman yang boleh kubawa kerumah. Orangtuaku bahkan menyindirku secara halus melalui pertanyaan apabila aku menyukai seorang lawan jenis. Hal ini membuat diriku sedikit tertutup. Aku memang mendapat perhatian secara penuh, tapi karena terlalu perhatian, aku jadi menganggap semua itu sangat mengganggu. Mereka terlalu ikut campur urusanku!

 

Berkali-kali aku berpikir untuk keluar dari rumah, tapi aku tidak mendapat kesempatan sedikitpun untuk berkata bahwa aku ingin tinggal terpisah dengan orangtuaku, atau yang terburuk, melarikan diri dari rumah.

 

Awalnya aku berpikir hidupku ini buruk. Walaupun dari luar aku terlihat dibesarkan dengan baik, aku terus berseteru dengan diriku sendiri. Perasaan tak ingin dikekang selalu berdebat dengan tubuhku yang tidak bisa membangkang.

 

Tahun demi tahun berlalu. Pertumbuhan membuatku terbiasa akan sistem yang diterapkan oleh keluargaku. Disamping itu, pertumbuhan pun membuatku memiliki tiga wajah. Wajah yang kutunjukkan pada dunia luar, wajah yang kutunjukkan dirumah, dan wajah yang tidak diketahui seorangpun kecuali diriku. Wajah yang kutunjukkan di dunia luar pun terbagi lagi menjadi beberapa kelompok. Aaah! Sepertinya aku tidak perlu menyebutkannya. Ini bukan presentasi karya ilmiah!

 

Didikan keras yang kuterima sejak kecil membuatku memiliki hati baja. Kadar toleransiku sedikit, aku tak bisa mengendalikan emosiku, wajahku yang sedang melamun pun dikatakan seperti sedang menghujat seseorang dalam hati. Terkadang aku juga menggunakan fisikku untuk memukul atau menendang benda mati agar semua orang mendengarkanku, atau memilih ‘mainan’ dari salah seorang dikelasku untuk menyegarkan mentalku. Apabila ditanya, alasannya mudah!

 

Jangan cari muka didepanku!

 

Jangan membuatku kesal!

 

Dengarkan aku!

 

…..atau terkadang aku sering menggunakan alasan konyol ketika aku ingin melepaskan emosiku sedikit lagi seperti, “aku tak suka melihat wajahmu!”

 

Aku tak melarang teman-temanku untuk lebih unggul dariku, aku juga tak bermaksud untuk menakuti mereka. Sebenarnya aku hanya ingin mereka mendengarkanku. Aku hanya ingin didengarkan tanpa ada penolakan, tapi ujungnya malah memunculkan kekerasan.

 

Karena semua peraturan dan dampak yang terjadi pada diriku, seperti harapan kedua orangtuaku, aku tak begitu mempercayai orang lain. Sekali aku percaya dan kecewa karena seseorang, aku akan membuat barir yang kuat dan menjadikan orang tersebut mainanku selanjutnya.

 

Meski begitu, aku punya seseorang yang tak pernah mengecewakanku. Ia adalah temanku sejak kecil yang usianya jauh diatasku, dan setahun lebih tua dari kakakku. Namanya Sakurai Sho. Ia adalah putra dari seorang politikus yang sejak kecil bersekolah di yayasan swasta terkenal, Keio. Ia adalah satu-satunya orang yang lolos masuk ke dalam barir keluargaku dan berhasil membuat pertahanan keluargaku melonggar.

 

Singkat cerita, berkat Sho, kini aku bisa tinggal terpisah dengan keluargaku, meski masih dalam persyaratan aku tidak tinggal sendiri, tapi dengan kakakku, dan setiap akhir minggu aku harus pulang ke rumah dan menghabiskan waktu bersama keluargaku. Berkat Sho pula, orangtuaku yang dulu sangat sensitif mengenai lawan jenis kini malah balik bertanya, kapan aku membawa seorang lelaki ke rumahku.

 

Tak hanya itu, selama ini Sho-lah yang selalu mendengar keluh kesahku dan menasihatiku dengan baik. Waktu aku bercerita padanya aku mulai memiliki kebiasaan ‘menghukum’ seseorang, Sho-lah yang akan memarahi dan menceramahiku. Walaupun aku masih sering mengulanginya, Sho tak pernah bosan menceramahiku sampai akhirnya aku sadar itu bukan tindakan yang baik.

 

Kebiasaanku ‘menghukum’ seseorang itu tidak bisa dibilang hanya berlangsung beberapa saat sampai akhirnya aku sadar dan tidak mengulanginya lagi. Kebiasaan itu akan muncul ketika aku menjadi anak tahun pertama, atau semester pertama, atau dimanapun yang membuatku harus beradaptasi kembali. Saat itu aku akan mencamkan di otak mereka untuk tidak macam-macam padaku, dan akan kuperkuat akar itu sampai sedikitnya enam bulan lamanya.

 

Tentu saja, sikapku yang seperti ini tidak diketahui kedua orangtuaku. Karena ketika langkahku telah menginjak balkon rumah, aku akan membuang wajah dunia luarku dan memperlihatkan wajah ‘anak baik’ di hadapan mereka.

 

Meski begitu, meski aku menceritakan semuanya terang-terangan pada Sho, ia tetap memperhatikanku, mendengarkanku, mengajakku bermain, dan bahkan ia bisa menjadi guru privat gratisan untukku dan kakakku ketika musim ujian sudah datang.

 

Ia lebih pandai menghadapiku dan menjinakkanku daripada kakakku sendiri.

 

Untuk satu dan lain hal, aku sangat berterimakasih dan berhutang budi pada Sho.

 

 

 

“Narumi! Hari ini aku nggak bisa datang! Tolong sampaikan pada Sho-chan, ya!”suara Jun, kakakku, yang tengah tersambung dengan saluran telepon terdengar begitu terburu-buru dan tergesa-gesa.

 

“Hah?! Kenapa kau nggak bilang saja langsung?!”Aku yang sejenak berpikir untuk protes karena semburan pesannya itu segera mengurungkan niat dan menyelaraskan ritme bicara kami.

 

“Rapatku diperpanjang… Nomor paling atas yang ada diteleponku itu nomor ponselmu. Aku nggak punya waktu, tolong sampaikan padanya, ya! Daaah,” tanpa mendengar jawaban dariku, Jun segera menutup teleponnya. Seperti biasa, serampangan! Aku bukan burung hantu pengantar pesan, tahu!

 

 

Aku menutup teleponku seraya mendengus kesal.

 

Aku, Jun, dan Sho sering mengadakan pertemuan rutin sekitar seminggu atau dua minggu sekali. Dikatakan pertemuan rutin, sebenarnya kami hanya pergi makan malam, pergi menonton film atau pergi ke suatu tempat. Saat itu kami akan berbicara banyak hal, dan hal-hal yang tak bisa kuungkapkan dirumah akan kukatakan dihadapan Sho dan Jun. Ketika saat itu tiba, Sho akan memikirkan sikap terbaik yang harus kulakukan agar apa yang kuinginkan tercapai tanpa membuat suasana keluarga rusak, dan Jun akan melakukan pendekatan kepada kedua orangtuaku jika yang kuinginkan masuk akal.

 

Sayangnya, bertambahnya usia kami juga menambah sibuknya aktivitas yang kami lakukan. Jun yang bergerak di bidang hiburan sering melakukan rapat hingga dini hari, begitu pula dengan Sho yang kurang lebih bergerak di bidang yang sama. Sebenarnya Sho dan Jun memiliki satu tim yang beranggotakan lima orang, namun selain beraktivitas sebagai tim, mereka juga disibukkan dengan kegiatan individu.  Kudengar tim tersebut memiliki anggota dengan karakteristik masing-masing yang bukannya membuat tim tersebut suram, malah menambah warna yang membuat mereka kebanjiran pekerjaan.

 

Aku cukup sering bertemu dengan seorang yang paling tua diantara tim tersebut. Namanya Ohno Satoshi. Seorang seniman yang dari luar tampak seperti tidak memiliki kemauan, namun sangat jago dalam bidang seni. Berakting, bernyanyi, menari dan menggambar. Meskipun ia mengaku berhenti sekolah, namun karya yang ia hasilkan sungguh luar biasa. Aku sering mengajaknya untuk menggambar bersama ketika Jun mengundangnya ke rumah. Walaupun ia datang untuk urusan pekerjaan, tapi ia selalu menyempatkan waktu untuk menggambar bersamaku.

 

Selanjutnya Ninomiya Kazunari. Aku memanggilnya Nino. Seorang pria berkulit putih hampir pucat yang sangat suka berbicara. Ia sangat usil dan mulutnya sangat tajam. Ia adalah satu-satunya orang yang bisa kujadikan sparing partner, karena seberapa kasar aku mengatainya, ia tak akan memasukkannya ke dalam hati. Sebaliknya, ia akan terus membalas perkataanku sampai salah satu diantara kami kalah adu mulut.

 

Nino juga hampir mirip seperti Ohno. Dari luar, ia tampak seperti orang yang tak memiliki keinginan untuk hidup. Namun ia sangat unggul dalam bidang seni, terutama seni panggung. Nino lebih aktif dalam dunia perfilman, namun ia tak kalah unggul dengan Ohno dalam hal menyanyi. Selain itu Nino juga tipe pembelajar yang cepat. Ia juga pandai memainkan alat musik seperti Sho. Waktu Sho masih duduk di bangku perkuliahan, mereka sering membuat konser pura-pura di rumah Sho. Saat itu Nino akan bermain gitar sambil bernyanyi, dan Sho memainkan piano. Mereka juga akan mengambil video dari konser pura-pura itu dan mengirimkannya padaku dan Jun.

 

Aku mengenal Sho dan timnya dengan baik. Kubilang begitu karena Sho teman mainku sejak kecil. Sho juga sudah kenal cukup lama dengan Ohno. Entah mereka dekat atau tidak, tapi hubungan keduanya cukup aneh. Tidak terlihat dekat tapi terlihat saling membutuhkan. Kemudian, dalam tim Sho juga ada kakakku, Jun yang kenal cukup lama dengan Nino. Lucunya, terkadang aku merasa aneh jika melihat Nino bersama dengan Jun. Kakakku adalah tipe agresif yang selalu melakukan sesuatu dengan semangat yang membara, sedangkan Nino adalah tipe yang akan mengeluh terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Aku selalu gagal menahan senyuman ringan di bibirku ketika melihat mereka berdua berdampingan.

 

……dan satu lagi……..

 

Jujur saja, aku tidak terlalu bisa mendeskripsikan seorang lagi dalam tim ini. Bukan berarti aku tidak mengenalnya. Orang luar pasti akan menganggap pria ini adalah orang yang mudah didekati karena selalu tertawa dan membiarkan dirinya menjadi ‘mainan’ teman-temannya. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Dibalik tawanya, kupikir ada wajah yang tidak ia tunjukkan pada siapapun. Sedekat apapun seseorang dengannya, seintim apapun seseorang dengannya.

 

Namanya Aiba Masaki. Aku berkenalan dengannya ketika aku duduk di bangku SMA tingkat akhir. Perkenalan kami berawal pada sebuah pertemuan rutin yang biasa kulakukan bersama dengan Sho dan Jun. Saat itu, seperti biasa Jun tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan. Namun karena seperti biasa Jun membatalkannya secara mendadak, Sho tetap pergi menemuiku. Saat itulah Sho datang membawa Aiba Masaki dan mengenalkannya padaku.

 

“Narumi… Kenalkan, ini Aiba-chan… Teman kerjaku,”waktu itu Sho langsung mengenalkan Aiba Masaki ketika kami sudah bertemu. “….Maaf, ya, aku membawanya… Tadi ia mengajakku untuk pergi ke kafe, tapi karena aku sudah terlanjur janji denganmu pergi ke kafe, kupikir sekalian saja supaya dua-duanya kebagian…Ah! Aiba-chan, kenalkan, ini teman kecilku, Narumi…”

 

“Selamat malam… Aku Aiba Masaki,”aku ingat dengan jelas bagaimana caranya mengucap salam dengan sopan, bahkan dihadapan anak kecil sepertiku. “Namamu siapa?!”

 

“Matsumoto Narumi…”aku juga ingat dengan jelas bagaimana aku mengenalkan diriku malu-malu dihadapannya. Aku, sih, merasa malu. Tapi apakah Aiba Masaki melihatku seperti sedang mengutuknya? Atau aku terlihat seperti memasang wajah terpaksa? Aku tidak tahu.

 

“Ah! Kau adiknya Matsujun?! Senang berkenalan denganmu, Narumi-chan!”wajah kaku Aiba Masaki saat itu seketika melunak ketika tahu aku adalah adik Jun. Tanpa ragu-ragu, ia pun membuang nama keluargaku dan memanggilku langsung dengan nama depan. “….Ah! Aku Aiba…. Tunggu, rasanya nggak adil kalau aku seenaknya memanggilmu Narumi dan kau memanggilku Aiba,”

 

Sebenarnya sih aku nggak masalah. Mau dipanggil Matsumoto juga aku nggak keberatan,batinku.

 

“Kalau begitu, kau panggil aku Masaki saja,”Meskipun begitu tiba-tiba, saat itu pula aku memutuskan untuk memanggilnya Masaki seperti apa yang dimintanya.

 

 

Masaki adalah orang yang ramah. Awalnya, ia memang tidak begitu banyak bicara, namun setelah dipancing oleh Sho, Masaki pun mulai membuka mulut dan membicarakan banyak hal. Ia bercerita, bahwa ia adalah teman kecil Nino. Mereka telah bersama sejak kecil, –tidak! Masaki bercerita bahwa ia telah berteman dengan Nino sejak tubuh pria itu lebih besar darinya. Namun karena proses pertumbuhan Masaki dan Nino berbeda, Masaki menjadi jauh lebih tinggi dan meninggalkan Nino 10cm dibelakang. Aku ingat sekali bagaimana gayanya saat menceritakan hal ini! Terdengar menyebalkan, tapi karena wajahnya terlihat begitu polos, aku jadi bingung harus bereaksi seperti apa.

 

Masaki memiliki wajah yang bisa dibilang cukup manis untuk ukuran seorang pria. Ia tidak cantik seperti Nino, Ohno maupun Sho. Kalau dibandingkan dengan mereka bertiga, wajahnya masih masuk ke dalam kategori wajah seorang ‘pria’.

 

Masaki memiliki bola mata hitam yang ukurannya lebih besar dibandingkan orang lain pada umumnya, sehingga itu memunculkan kesan imut yang kuat, terutama ketika ia memohon untuk meminta sesuatu. Pria itu juga memiliki tubuh yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari Sho maupun Jun. Satu lagi yang tak boleh dilupakan, ia memiliki porsi makan yang luar biasa, namun tubuhnya begitu ramping. Ini adalah salah satu hal yang membuatku iri dengannya.

 

Pertemuan pertama kami setelah itu membawa kami ke pertemuan-pertemuan selanjutnya. Karena menyesuaikan jadwal dengan Jun itu susah sekali, pertemuan rutin itu selalu berakhir hanya denganku dan Sho saja. Pada saat itu, Sho pasti membawa serta Masaki bersamanya.

 

 

“Eh, Narumi…. Ayo tukeran nomor telepon,”Masaki membuka pembicaraan ketika keheningan menghampiri kami berdua. Ya, Sho sedang ke toilet.

 

“Ah, boleh…”tanpa berpikir panjang, aku segera mengambil ponselku dan menyerahkannya pada Masaki. “Tulis nomormu sendiri, ya…”

 

 

Masaki menatapku sejenak, kemudian mengambil ponselku ragu. “Narumi aneh, ya…”

 

“Eh?!”

 

“Jaman sekarang, sepertinya hampir nggak ada cewek yang dengan luwesnya memberikan ponselnya pada orang lain,”komentar Masaki. “…..apalagi nggak dikasih password,”

 

“Oh, ya?! Memangnya kenapa?! Aku nggak punya sesuatu yang harus kusembunyikan,”jawabku enteng.

 

“Misalnya…….obrolanmu dengan kekasihmu?!”

 

“Aku nggak punya kekasih…”jawabku pendek. “Kalaupun aku punya, mungkin aku hanya akan mengunci SNS-ku saja… Atau ponselnya selalu kubawa kemana pun aku pergi,”

 

“Heee….”Masaki mengangguk paham.

 

“Kalau ketahuan punya kekasih, aku selalu menghapus semua pesan di SNS-ku dan membiarkannya tanpa password,”tambahku. “….agar jadi bukti bahwa tak ada yang kusembunyikan,”

 

“Eh?! ‘Kalau ketahuan’?! Maksudmu?!”sepertinya kalimat yang kuucapkan membuat tanda tanya di kepala Masaki.

 

“Orangtuaku nggak mengizinkanku punya kekasih,”jawabanku kali ini membuat Masaki membulatkan mata bulatnya. “…..ah! tapi itu cerita dulu, kok… Bukan berarti selamanya aku nggak boleh memiliki kekasih,”

 

“Oh, begitu…”Masaki tampak kebingungan bagaimana harus bereaksi.

 

“Sekarang aku sudah kuliah… Mereka malah menyuruhku untuk cepat menikah. Aku nggak mengerti jalan pikiran mereka,”entah kenapa aku jadi mengeluarkan keluh kesahku padanya. “….yaah, dulu pun bukan berarti dilarang lantas aku nggak punya pacar, sih… Meskipun punya pacar pun nggak ada yang terjadi,”

 

“Nggak ada yang terjadi?!”tanya Masaki lagi.

 

“Kau orang dewasa! Aku nggak perlu mengatakannya secara rinci, kan?!”aku memandang Masaki sinis. Pria itu tertawa pahit, kemudian mengangguk paham. “Ah! Ngomong-ngomong, Masaki! Ponselmu nggak diberi password juga, tuh,”

 

“Ah, aku memang nggak kasih password, habisnya repot bukanya,”jawab Masaki enteng.

 

“Tapi kau kan bekerja dengan banyak orang dari dunia hiburan… Pasti banyak nomor penting disana! Bagaimana kalau dilihat orang?!”tanyaku.

 

“Aku memang nggak kasih password, tapi nama mereka semua kuganti,”Masaki mengacungkan tanda peace seraya tersenyum. “Misalnya kontak Sho-chan… Kuganti jadi my darling,”

 

“Jijik!”cibirku seraya tertawa geli.

 

 

Setelah bertukar kontak dengan Masaki, frekuensi pertemuanku dengan pria itu pun bertambah. Terkadang ia tidak hanya hadir dalam pertemuan rutin Sakumoto,—maksudku Sakurai dan Matsumoto— tapi ia juga secara pribadi sering mengajakku pergi nonton film atau ke kafe yang sedang terkenal di kalangan anak muda. Ia juga sering datang ke apartemenku dan Jun untuk rapat. Saat ia datang ke apartemen kami, biasanya aku hanya akan mengurung diri di kamar karena ruang utama apartemen akan menjadi daerah kekuasan Jun untuk beberapa saat. Tentu saja bukan hanya Masaki, Ohno, Nino dan Sho pun turut datang, karena mereka datang untuk bekerja. Namun biasanya Masaki menyempatkan diri untuk datang ke kamarku dan bertanya apa yang sedang kulakukan. Biasanya saat itu aku sedang menggambar sambil menunggu Ohno atau membaca tumpukan komik yang belum sempat kubaca.

 

Beberapa kali Jun juga sempat mengundangnya untuk main ke rumah orangtua kami. Misalnya seperti pada saat tanabata, pesta ulangtahun kami berdua, –karena aku dan Jun lahir pada bulan yang sama—atau ulang tahun pernikahan kedua orangtua kami.

 

Kedekatan itu semakin lama semakin mendalam. Ia bukan hanya sekedar kenalan bagiku, mungkin ia sudah menjadi bagian dari keluargaku seperti Sho.

 

Tapi entah kenapa kehadiran Masaki terasa sedikit berbeda.

 

Kenapa, ya?!

 

Keberadaannya sudah seperti hal yang wajar. Melihat wajahnya seperti memiliki tempat  berlindung baru. Bukan seperti pada Sho—aku menceritakan keluh kesahku—, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk mengumpulkan cerita menarik dan menceritakannya pada Masaki. Entah kenapa aku merasa selalu ingin melihat tawanya.

 

Kupikir Masaki bukan orang yang pandai tersenyum, tapi ia tampak begitu manis saat tertawa. Makanya aku ingin melihat tawanya. Aku ingin selalu melihat tawanya.

 

 

“Masaki, lihat sini!”

 

“Hm?!”

 

 

Jepret!

 

 

Aku menekan tombol capture pada kamera ponselku sesaat ketika Masaki menoleh ke arahku. Masaki yang terkejut segera beranjak dari kasurku dan mendekatiku yang sedang duduk di kursi meja belajarku.

 

“Kau ngapain, sih?! Coba perlihatkan padaku!”Masaki berusaha untuk mengambil ponselku.

 

“Nggak mau,”aku berusaha melindungi ponselku dari incarannya.

 

“Kau ini suka sekali mengambil foto secara diam-diam, ya!”Masaki bertolak pinggang. Ia tidak memaksakan diri untuk mengambil ponselku. Tidak seperti Nino yang terus berjuang sampai mendapatkan ponselku.

 

“Aku nggak mengambil foto diam-diam… Tapi aku mengambil fotomu secara tiba-tiba,”ujarku seraya melihat kembali foto yang baru saja kuambil ketika Masaki kembali duduk di kasurku. “Lihat! Muka bodoh ini bagus sekali! Aku akan menjadikannya wallpaper,”

 

“Tu,-tunggu!! Oi!!!”

 

Seperti itulah hari-hari yang kujalani ketika Masaki berada di sampingku. Terkadang aku menjahilinya dan membuatnya mematuhi perintahku, ia memberiku makanan kecil, atau bahkan ketika rapatnya dengan Jun sudah selesai, ia akan menghampiriku untuk sekedar tiduran di kasurku dan membaca komikku.

 

Ketika ia berada di kamarku untuk membaca komik, biasanya aku terlalu fokus menggambar atau asyik bersama Ohno. Karena kami sama-sama menggambar. Saat itu, Masaki tidak pernah mengeluh apabila aku tidak mengajaknya bicara. Sebaliknya, ia akan membuat dirinya senyaman mungkin, bahkan tak jarang ia tertidur ketika sedang membaca komik. Ketika ia tertidur, tak jarang pula komik yang sedang dibacanya jatuh menimpa wajahnya dan memecah keheningan, namun ia tetap tertidur pulas.

 

Saat itu pula aku dapat mengambil foto wajah tidurnya, atau mengganti objek gambarku menjadi wajah tidur Masaki.

 

Aku sangat menyukai wajah polos Masaki. Wajah tidurnya yang tampak terlepas dari segala beban itu selalu membuatku betah menatapinya berjam-jam sekalipun. Kalau ia bergerak sedikit, tentu saja aku segera mengalihkan pandanganku dan pura-pura melakukan pekerjaan lain. Tapi kalau ia masih tertidur, aku akan menarikkan selimutku padanya, kembali menatapnya, dan mengabadikan momen itu.

 

 

[FIN]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s