[FANFIC] 実に愛しい 2

CHINATSU presents,

実に愛しい

相葉雅紀x松本成美

-I only own the story line and the character named Narumi. The basic idea belongs to ‘Kumanishi Kou’. The characters included belong to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

お楽しみ

 

[2]

 

“……Aku nggak mengerti lagi! Masaki itu aneh banget! Kau harus tahu! Kemarin ia bercerita padaku bahwa ia pergi ke supermarket dengan mobil dan pulang menggunakan kereta!”siang ini aku bertemu dengan senior kampusku yang sangat dekat denganku. Namanya Kumanishi Kou. Ia sempat menjadi murid Sho selama tiga bulan untuk mengejar ketinggalannya pada pelajaran yang paling ia benci. Tentu saja, bukan hanya Sho yang ia kenal, tapi Sho dengan tim nyentriknya itu.

 

“Memangnya kenapa dengan mobilnya?!”tanya Kou.

 

“Itu dia yang ingin kubicarakan!!”aku sudah emosi duluan sebelum menceritakan inti permasalahannya. “…..ia bilang, waktu pulang dengan kereta, ia merogoh celananya untuk mengambil ponsel, tapi yang terambil malah kunci mobilnya. Saat itu ia baru ingat bahwa ia datang membawa mobil,”

 

“Hahahahahahahaha…. Kau bercanda!”Kou terbahak-bahak mendengar ceritaku.

 

“Aku serius! Dan kau harus tahu, dulu, waktu aku bertukar kontak dengannya untuk pertama kali, ia bilang ia nggak memakaikan password pada ponselnya karena repot membukanya. Sebagai gantinya, ia mengganti nama asli orang-orang itu!”lanjutku. “…….aku nggak bisa membayangkan bagaimana kalau suatu hari ia lupa dengan nama yang ia ganti dan ia salah memanggilnya. Terlebih kalau orang itu adalah orang penting! Mobil saja lupa!”

 

“Hahahahahaha…. Itu jelas aneh banget!”Kou masih tak bisa mengendalikan tawanya. “Contohnya seperti apa?!’

 

“Kau mau tahu contohnya?!”aku menaikkan sebelah alisku. “Sho-chan ia ganti dengan nama my darling,”

 

“HAH?!”reaksi Kou persis seperti yang kubayangkan. Tapi itu memang benar! Waktu Masaki menceritakan hal itu, itu bukan hanya sekedar bualan belaka. Ia menunjukkannya padaku. “……lalu…. Apa nama yang Aiba-chan berikan padamu?!”

 

Aku terdiam sejenak. “….kalau itu aku nggak tahu…”

 

“Eeeeh?!”protes Kou.

 

“Aku nggak pernah menanyakan itu pada Masaki… Lagipula itu kan kontakku sendiri, kenapa juga aku harus penasaran dengan nama kontakku?! Yang penting pesanku dibalas,”ujarku acuh tak acuh.

 

“Dasar gadis hati baja! Seharusnya kau merasa ingin tahu, dong!”cibir Kou.

 

“Aku nggak mau dikatai oleh wanita negatif sepertimu,”balasku seraya menjulurkan lidah.

 

“Kurang ajar,”Kou memukul kepalaku pelan.

 

 

Dua tahun lebih telah berlalu sejak perkenalan pertamaku dengan Masaki. Hubungan kami semakin dekat dan bisa dibilang kami saling melengkapi. Persis seperti Sho, ia lebih pandai menghadapiku daripada kakakku sendiri, Jun. Masaki benar-benar memanjakanku dan membuatku merasa selalu membutuhkannya. Saat tak dibutuhkan pun, orang pertama yang kupikirkan adalah Masaki.

 

Sebagai seorang individu, ia mengalihkan perhatianku sepenuhnya.

 

Terkadang aku berpikir, aku ingin beristirahat sejenak dan memberi kelonggaran untuk Masaki agar ia bisa menikmati privasinya sendiri. Tapi disaat aku berpikir seperti itu, Masaki selalu datang dan merusak semua konsep yang tadinya sudah hampir matang itu.

 

Terkadang aku juga berpikir, seperti apakah aku di mata Masaki? Aku memang jarang peduli pandangan orang lain terhadapku, tapi entah kenapa aku merasa harus menjadi anak baik di hadapan Masaki dan tidak berbuat ulah didepannya. Apa mungkin karena Masaki orang dewasa? Jadi aku berpikir untuk menyetarakan diriku dengannya?

 

Tidak, Masaki tidak dewasa sepenuhnya. Ia sering melakukan hal-hal bodoh yang terkadang ingin membuatku pura-pura tidak mengenalnya ketika kami pergi ke suatu tempat. Ia juga sering melakukan hal tak terduga yang membuatku berpikir dia itu bodoh secara denotasi. Tapi ia tidak sepenuhnya bodoh! Sepertinya ia bersikap demikian hanya untuk menghidupkan suasana saja.

 

Disisi lain, pola pikirnya yang seperti itulah yang membuatku berpikir bahwa ia dewasa.

 

Satu lagi yang membuatku berpikir ia sangat dewasa adalah bagaimana cara Masaki menegur sikap burukku. Itu adalah hal yang paling membekas dalam ingatanku. Lembut, tapi menyeramkan.

 

Seperti yang telah kujelaskan sebelumnya, aku memiliki kebiasaan untuk membuat ‘mainan’ ketika aku berada di tahun pertama. Begitu pula ketika aku mulai menjadi mahasiswi. Sifat anak sekolah yang masih tertinggal pada kami mahasiswa tingkat satu belum menjadikan kami murid perguruan tinggi sepenuhnya.

 

Waktu itu, aku dan kelasku sedang mengadakan rapat untuk festival budaya pertama kami, murid tingkat satu. Kami mengadakan rapat di sebuah gedung karaoke yang letaknya dekat dengan kampusku. Entahlah! Apakah ini menjadi hal yang alami atau tidak, tapi aku merasa selalu menemukan setidaknya satu anak yang ingin dilihat tinggi sedangkan kemampuannya tak setinggi itu. Ia mengatur apa yang harus kami buat di festival budaya nanti, padahal ia bukan ketua kelas. Ia memaksakan kehendak untuk membuat bagian kelas kami semewah mungkin, padahal budget kami tidak setinggi yang ia mau. Ia bahkan menyumbangkan paling sedikit dana untuk festival budaya ini.

 

Kebetulan, kehidupan mahasiswaku di tingkat satu ini sedikit ekstrim. Guru pembimbingku menunjukku menjadi ketua kelas karena aku adalah murid paling muda di kelasku. Menurutku guru pembimbingku membuat kesalahan besar! Karena biasanya anak yang paling muda dianggap tidak bisa apa-apa dan tidak akan ada yang mendengarkan, sebaliknya akulah yang memutar balik semua ‘teori’ itu. Tentu saja, dengan sedikit ‘pelajaran’.

 

Aku yang sudah cukup sabar menghadapi anak itu pun akhirnya mengajaknya keluar untuk berbicara. Aku masih memikirkan harga dirinya! Aku tak akan langsung menggertaknya di hadapan banyak orang, tapi bukan berarti aku tidak melakukannya!

 

Akhirnya, aku pun mengajaknya berbicara diluar ruangan. Sikapnya yang memandang dari atas itu benar-benar membuatku muak, hingga akhirnya aku membuat anak itu benar-benar seperti memandangku dari atas. Kupojokkan anak itu ke dinding dan kucengkram kedua pipinya dengan satu tanganku, sementara tanganku yang lain menahan lehernya. Kukatakan padanya bahwa aku sudah muak mendengar ocehannya. Kutegaskan pula padanya bahwa ia bukan ketua kelas dan ia tak berhak memutuskan semuanya, kalaupun itu diputuskan bukan olehku, aku tak mau ia yang memutuskannya. Tak lupa, kubuat ia mengerti dan mencamkan kata-kataku baik-baik dalam otaknya.

 

Tak butuh waktu yang lama untuk membuatnya mengerti kata-kataku, sehingga kami bisa kembali ke ruangan dan berdiskusi kembali dengan cepat. Tubuh anak itu gemetar, membuatku semakin tak bisa mengontrol mulutku yang jahat dan segera menyuruhnya duduk dengan kasar seolah ia adalah anjing liar. Tentu saja sesaat seisi ruangan menjadi senyap, membuatku semakin mudah untuk berkampanye bahwa aku tidak suka orang yang mencari muka. Aku siap ‘mendidik’ mereka yang cari muka dihadapanku dan siapapun yang macam-macam denganku. Aku tidak melarang mereka untuk berkreativitas ataupun lebih unggul dariku, tapi aku mau tidak ada yang berlaku seolah dunia dapat dibeli olehnya. Aku menekankan itu semua pada mereka.

 

Aku melakukannya dengan caraku. Kupikir aku sudah melakukannya dengan benar. Kupikir aku sudah melakukan cara paling praktis untuk menjinakkan mereka yang sulit diatur. Tapi rupanya tidak bagi Masaki.

 

Aku bertemu dengan Masaki tepat setelah rapat festival budaya selesai. Rapat berjalan sesuai harapanku dan kejadian semula seolah seperti angin lalu. Keputusan pada hari itu juga didapat dan kami dapat bergerak keesokan harinya.

 

Ketika temanku membuka pintu ruang karaoke dan kami saling berpamitan seraya berjalan keluar, Masaki tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menghadangku.

 

 

 

“Naarumi!”Aku ingat bagaimana caranya mengayunkan nada bicaranya ketika memanggil namaku. Saat itu aku tak berpikir bahwa Masaki melihat apa yang kulakukan.

 

 

Teman-temanku yang melihat kehadiran Masaki secara tiba-tiba segera heboh. Aku yakin, tak sedikit orang yang mengenal Masaki karena ia bekerja di industri hiburan, tapi aku yakin, teman-temanku bukanlah orang yang banyak menonton televisi.

 

Masaki memiliki style yang bagus. Untuk orang yang tidak menonton televisi sekalipun, kurasa mereka akan setuju dengan apa yang mereka lihat.

 

 

“….Masaki! Kaget aku!”hanya itu kata yang keluar dari mulutku ketika aku melihat sosoknya dihadapanku. “….kau disini?!”

 

“Seperti yang kau lihat,”Masaki mengembangkan kedua tangannya. “Ayo pulang!”

 

“Eh?!”Aku hanya membelalakkan mataku. Sementara teman-temanku mulai heboh. Sepertinya aku tak terlihat seperti orang yang memikirkan lelaki di mata mereka. Atau aku terlihat seperti orang yang tidak peduli pada lelaki. Atau mungkin mereka tidak menyangka orang sepertiku yang suka membuat ‘mainan’ bisa mengenal orang seperti Masaki.

 

Masaki melempar pandangan pada teman-temanku. Seolah meminta izin untuk membiarkanku pulang bersamanya. Teman-temanku yang mengerti tatapan mata Masaki segera melepaskanku dan membiarkan aku pulang bersama Masaki. “Maaf, ya… Teman kalian kupinjam… Ayo pulang, Narumi!”

 

 

Masaki segera mengambil tas yang kubawa dan menggenggam tanganku keluar gedung. Untuk beberapa sekon aku terkejut dengan apa yang dilakukan pria bertubuh jangkung itu. Apa yang ia lakukan?! Sementara aku berkata dalam hati, aku merasa bahwa ini bukan saatnya melepas genggaman tangannya dan berkata “kau ngapain, sih?!”. Aku memutuskan untuk mengikuti alur Masaki hingga akhirnya teman-teman tak terlihat lagi dihadapanku.

 

“Masaki…. tangan…..”aku memanggil Masaki yang sedaritadi terus diam dan berjalan tanpa melihatku. Teman-temanku sudah tak ada, kenapa ia masih menggenggam tanganku?!

 

“Biarkan aku seperti ini sebentar,”ujarnya. Eh?

 

 

Aku tak menjawab lebih jauh perkataannya. Begitu pula dengan Masaki, ia tidak mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Ia terus menggenggam tanganku hingga akhirnya kami sampai di sebuah kafe. Tanpa ragu, Masaki memasuki kafe tersebut dan memesan bangku untuk kami berdua.

 

“Masaki, aku sudah makan….”ujarku ketika Masaki tiba-tiba memesan secangkir kopi panas dan ginger ale. Pria itu tak menjawabku. Aku mulai merasakan keanehan pada pria ini. Ada apa dengannya?! Hanya itu pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku.

 

“Kau sedang apa tadi?!”tanya Masaki. Nada bicaranya tiba-tiba berubah menjadi seperti semula. Ia menaruh kedua tangannya diatas meja dan menopang wajahnya dengan salah satu tangannya. “….sepertinya seru sekali,”

 

“Ah, aku habis rapat untuk festival budaya,”jawabku enteng. Sedikit tanda tanya masih membekas dalam benakku.

 

“Oooh,”Masaki mengangguk paham. Tak lama, seorang pelayan pun datang membawa pesanan Masaki. Pelayan tersebut menaruh secangkir kopi panas di hadapan Masaki dan ginger ale dihadapanku. “Aku traktir… Otsukaresamadeshita,”

 

“Ah, terima kasih…”aku mengangguk pelan, kemudian menyeruput minumanku perlahan. Aku mengecap bibirku beberapa kali, karena tak bisa langsung mencerna minuman berkarbonasi tersebut.

 

 

Sesaat keheningan menghampiri kami. Aku masih penasaran, sepertinya Masaki ingin mengatakan sesuatu, namun aku tak memiliki keberanian untuk menanyakannya. Hingga akhirnya ia kembali membuka mulut.

 

 

“Enak?!”tanyanya.

 

“Enak, dong… Gratis!”candaku. Masaki tertawa kecil.

 

“Kau ini memang suka sekali yang gratis, ya!”cibir Masaki. Memangnya ada orang yang tidak suka gratis?!, batinku. “……sudah merasa segar?!”

 

“Ah, iya…”aku tertawa kecil. Kepalaku memang terasa sedikit ringan. Entah apa yang membuatku merasa berat. Apa karena aku habis rapat?  Atau karena aku terlalu penasaran dengan Masaki?

 

“Sudah bisa berpikir jernih?!”tanyanya.

 

“Ng?! Aku berpikir jernih, kok…”jawabku, tak mengerti maksud Masaki.

 

“Kalau begitu, bisa kau ceritakan apa yang terjadi tadi siang?!”tanya Masaki lagi. Matanya yang bulat berubah tajam fokus menatapku.

 

“Tadi siang?!”aku mengulangi perkataan Masaki. Sejenak aku terdiam. Berusaha mengingat apa yang terjadi tadi siang. “Seingatku, aku hanya pergi ke tempat karaoke untuk rapat. Lalu?! Kau mau aku menceritakan tentang apa?!”

 

Masaki terdiam sejenak. “Narumi, kau benar-benar nggak tahu apa yang kau lakukan?! Kau hampir membunuh orang lain, tahu!”

 

 

Mendengar Masaki mengucapkan kata kuncinya, aku terdiam. Rupanya itu yang ia maksud!

 

 

“Ah! Maksudmu itu!”Aku menepukkan tanganku. “…..aku hanya memperingatinya untuk nggak egois,”

 

“Apa itu cara memperingati orang?!”tanya Masaki lagi. “…..aku nggak percaya kau bisa berbuat hal sekejam itu dengan wajah yang tenang,”

 

“Aku nggak berbuat apa-apa, kok! Aku kan sudah bilang aku hanya memperingatinya supaya nggak egois. Itu cara yang kupakai untuk mendisiplinkan orang. Ada yang salah?!”tanyaku. “…..lagipula, sedang apa kau disana?! Kau nggak kerja?!”

 

“Narumi, aku sedang berbicara padamu. Jangan mengalihkan pembicaraan,”nada bicara Masaki terdengar begitu tajam, namun tetap terbungkus dengan suara lembutnya.

 

“Apa, sih?! Kau mau menceramahiku?!”

 

“Narumi, aku serius! Apa kau tahu apa yang kau lakukan itu bisa membahayakan nyawa orang lain?!”tanya Masaki. Ia merendahkan suaranya. Berusaha untuk tidak membuat nada naik yang terdengar membentak sedikitpun. “………….kau sudah sering melakukannya, ya?!”

 

“Nggak….”jawabku seraya menyandarkan tubuhku pada kursi. “….hanya ketika aku berada di tempat baru saja…. Paling sedikit enam bulan lamanya,”

 

“Narumi….”Masaki menghela nafas. “…..kau nggak boleh berbuat seperti itu. Apa yang kau lakukan itu benar-benar bisa membahayakan nyawa orang lain,”

 

 

Aku terdiam beberapa saat. Satu sisi dari diriku tahu bahwa itu bukan hal yang baik untuk dilakukan, tapi karena tubuhku sudah biasa melakukannya, sisi lain dari diriku tidak merasa itu adalah perbuatan yang buruk karena hasilnya selalu sesuai harapan.

 

 

“Narumi, aku nggak suka kau berbuat begitu!”Masaki membenahi posisi duduknya. Ia masih menatapku serius dan merendahkan suaranya. Nada bicaranya benar-benar dalam dan tajam, tapi seperti yang kukatakan tadi, kelembutan masih membungkus semua itu. “…..berjanjilah padaku untuk nggak berbuat seperti itu lagi!”

 

“……orangtuaku bilang aku nggak boleh kalah dengan teman-temanku,”aku menjawab Masaki setelah beberapa saat terdiam. “……menjadi mahasiswa tingkat satu yang dipilih sebagai ketua kelas karena urutan usia yang paling rendah… Kau pikir itu mudah?!”

 

“…Narumi,”panggil Masaki. “…..apa orangtuamu tahu sikapmu ini?!”

 

“Tentu saja nggak! Kalau tahu, aku pasti sudah mati, kan?!”jawabku acuh tak acuh.

 

“Narumi…”panggilnya sekali lagi.

 

“…..aku nggak mau dilecehkan mereka. Kalau dari awal sensei memang berniat mengerjaiku, akan kubalikkan apa yang diharapkannya. Kalau memang dari awal sensei berpikiran untuk mengajari tanggung jawab pada anak yang paling muda di kelasnya, akan kutunjukkan bahwa aku bisa melebihi ekspektasinya,”lanjutku. “…..dan cara yang kulakukan adalah cara paling efektif yang bisa lakukan selama ini,”

 

“….kalau begitu, sekarang aku tanya,”ujar Masaki. “Apakah itu lebih sulit dari orang yang usianya ditengah-tengah tapi memiliki hak yang sedikit untuk bicara karena ia paling junior dalam sebuah perkumpulan?!”

 

Aku terdiam. Apa Masaki sedang membicarakan dirinya?!, ujarku dalam hati. “……kalau begitu, apa ada cara efektif lain selain cara yang kulakukan?!”

 

“Ada,”jawab Masaki cepat. “……aku akan memberitahumu, asal kau berjanji padaku untuk nggak mengulanginya lagi,”

 

 

Masaki mengulurkan tangan kanannya dan menyodorkan jari kelingkingnya padaku. Menungguku untuk menyambut jari kelingkingnya, sebagai tanda bahwa aku telah berjanji padanya tidak akan melakukan hal yang bisa membahayakan nyawa orang lain lagi.

 

Dengan ragu aku menyambut kelingking Masaki dan menggenggamnya erat dengan jari kelingkingku. Wajah Masaki yang semula serius segera berubah menjadi luwes. Pria itu tersenyum padaku dan menepuk kepalaku perlahan.

 

Caranya menegur sikap burukku benar-benar lembut. Aku bahkan tidak merasa tersinggung sama sekali akan tegurannya. Memang benar aku sempat menjawab pertanyaannya acuh tak acuh, siapa juga yang dapat terima begitu saja ketika disalahkan?! Tapi aku benar-benar bisa menerima caranya menegurku. Ia tidak menyalahkanku, melainkan membalikkan semua pertahananku dan membalikkan semua pertanyaan kembali pada diriku. Ia pun dapat menutup permasalahan seolah seperti tak terjadi apapun. Ia kembali mengajakku berbicara dan tersenyum.

 

Aku bukan orang yang bisa mengotak-kotakkan emosi seperti itu. Tentu saja, meski Masaki kembali tersenyum seperti biasanya, aku tak bisa langsung kembali seperti semula. Setiap pertanyaan di akhir hari itu akhirnya hanya kujawab seadanya dengan suara pelan. Untuk pertama kalinya setelah mengenal Masaki, aku merasa sangat tersiksa ketika harus berada bersama pria itu di penghujung hari. Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan membungkam wajahku ke bantal kemudian berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan emosi yang tak bisa kukeluarkan di hadapannya.

 

Bahkan keesokan harinya pun aku masih terus berpikir, mereka ulang apa yang kemarin terjadi dan apa saja yang telah kulakukan. Kalau mengingat bagaimana Masaki menegurku, rasanya hatiku langsung terasa berat.

 

Apa yang selanjutnya harus kulakukan?!

 

Bagaimana aku harus bersikap?!

 

Bagaimana dengan pertemuan rutin dengannya setelah ini?!

 

Apa aku harus terus bersikap seperti ini?! Aku tak boleh seperti ini terus!

 

Tapi……apa ia akan menjaga jarak denganku?!

 

 

Hal itu terus berkecamuk dalam pikiranku. Namun, lamunan berat itupun buyar seketika saat ponselku tiba-tiba berbunyi dan memperlihatkan sebuah pesan masuk dari pria yang sangat kutakuti saat itu. Masaki.

 

 

Selamat pagi!

Maaf, ya, sepertinya aku terlalu keras padamu kemarin… Aku hanya ingin membuatmu mengerti kalau perbuatanmu itu nggak baik.

Tapi berkat itu, aku jadi tahu wajah Narumi yang lain (^_^)V

Dirimu hari ini bukanlah dirimu yang kemarin. Semangatlah!

Sampai ketemu lagi!

 

Aiba Masaki. 

 

 

Aku menarik nafas lega ketika membaca pesan itu. Masaki yang biasanya benar-benar sudah kembali. Ia bahkan menyemangatiku untuk kembali menjadi diriku yang biasanya. Inilah yang kubilang bahwa ia lebih dewasa dariku.

 

Ya, memang pada dasarnya Masaki adalah orang dewasa! Hanya saja ia jarang memperlihatkan kedewasaannya.

 

Dibalik sifat bodohnya itu, terdapat sifat Masaki yang sebenarnya. Saat itu aku masih belum mengetahui benar sifatnya, yang sering kuperhatikan adalah bagaimana ia selalu bersikap bodoh dan tersenyum seolah dipaksakan. Terkadang aku juga berpikir, aku ingin mengenal Masaki lebih jauh, tapi aku merasa bahwa Masaki tak membuka diri sepenuhnya sekalipun pada orang terdekatnya.

 

Kadang aku juga berpikir untuk bertanya padanya, apakah senyum dipaksakan itu memiliki arti?!

 

Tapi keberanian itu tak pernah menjadi bulat.

 

 

 

 

[FIN]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s