[FANFIC] 実に愛しい 3

CHINATSU presents,

実に愛しい

相葉雅紀x松本成美

-I only own the story line and the character named Narumi. The basic idea belongs to ‘Kumanishi Kou’. The characters included belong to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

お楽しみ

[3]

 

 

“Hei, Narumi…. Akhir minggu ini apa kau mau ke rumah orangtuaku?!”Aku menoleh cepat kearah Masaki yang sedang membaca komik seraya merebahkan diri di kasurku.

 

“Hah?!”

 

“Sebenarnya adikku akan menikah, jadi ayahku menyuruhku untuk pulang ke rumah,”lanjutnya seraya bangkit dari kasurku dan menatapku. Tatapan memohon sedikitnya tersirat di matanya.

 

“Hng… yaaa, boleh saja, sih…”ujarku ragu. “…..tapi aku nggak pandai berkenalan dengan orangtua!”

 

“Nggak apa-apa… Orangtuaku konyol, kok,”Masaki tertawa kecil. “….maksudku…. menarik,”

 

“Hahahaha… Dasar durhaka!”cibirku. “…….siapa lagi yang ikut?!”

 

Masaki tampak terdiam dan berpikir sejenak. “……aku baru mengajakmu, sih…”

 

“Oooh,”aku mengangguk paham. “…..kalau begitu boleh aku bawa teman?!”

 

“Hmm, boleh saja, sih…”Aku merasa ada rasa keberatan ketika Masaki menjawab pertanyaanku, tapi aku pura-pura tidak menyadarinya.

 

“Kalau begitu boleh aku bawa Kou?!”tanyaku lagi.

 

“Eh?! Kou?! Kumanishi Kou-chan?!”Masaki memastikan kembali perkataanku. Aku mengangguk. “Boleh saja, sih… Kupikir kau akan mengajak Sho-chan atau Jun-kun,”

 

“Hah?! Jun kan bukan temanku. Lagipula aku nggak mau kesenanganku dirusak gara-gara keberadaanya,”dengusku. “….tadinya aku juga berpikir ingin mengajak Sho-chan, tapi aku baru ingat kalau akhir-akhir ini dia sibuk sekali… Aku nggak tahu, sih, dia libur atau nggak, tapi kalau libur, kurasa ada baiknya ia beristirahat dirumah,”

 

“Hmmm….”Masaki mengangguk paham.

 

“Lalu….. karena yang akan kita kunjungi adalah rumah orangtuamu, aku butuh seseorang yang kukenal supaya aku nggak begitu gugup,”ujarku.

 

“Kan ada aku?!”

 

“Ini kan acara keluargamu! Kau pasti sibuk mengurus satu dan lain hal!”aku mengerucutkan bibirku. “Kalau kau bisa terus berada bersamaku, sih, aman… Kalau kau mondar-mandir kan aku bingung harus bersikap seperti apa,”

 

“Hahahaha…. Aku nggak tahu, kau ini introvert sekali, ya….”Masaki tertawa kecil. “….nggak usah berpikir jauh-jauh! Seperti biasa saja!”

 

“Seperti biasa itu seperti apa?! Masa aku harus bersikap pada orangtuamu seperti aku bersikap padamu?! Mereka kan jauh lebih tua diatasku!”gerutuku. “Lagipula, kau tahu sendiri nada bicaraku seperti apa, kan?! Aku nggak mau dianggap ketus atau nggak sopan!”

 

“Baiklah… Baiklah… Aku mengerti,”Masaki akhirnya mengalah. Senyum kecil tampak terlihat dari wajahnya. “….kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi sebelum berangkat, ya…”

 

 

 

***

 

 

 

“……..jadi begitu ceritanya, Kou…”aku menceritakan pada Kou mengenai apa yang Masaki katakan padaku siang tadi. “…..kau mau ikut, kan?! Ya, kan?! Ya, kan?!”

 

“Hah?! Kenapa aku harus ikut?! Bukannya kau biasa pergi berdua dengan Aiba-chan?!”ujar Kou acuh tak acuh.

 

“Ayolah! Jangan dingin begitu!”rengekku. “……masalahnya ini kan ke rumah orangtuanya! Bukan perjalanan biasa!”

 

“Bukan perjalanan biasa?!”Kou mengulangi pertanyaanku. “….kau seperti mau minta izin menikah saja…”

 

“Eh?!”Aku tercengang mendengar perkataan Kou.

 

“Hm?! Kenapa kau terkejut begitu?!”Kou memecah lamunanku. “Memangnya kau sudah menjalin hubungan dengan Aiba-chan?!”

 

“Eh?! Ng,-nggak! Yang benar saja! Hahahaha,”kilahku. “….ng…pokoknya kau ikut denganku, ya?! Kudengar keluarga Aiba itu pemilik restoran makanan Cina… Aku traktir deh!”

 

“Meski kau bilang begitu, ujungnya juga Aiba-chan yang akan membayarnya…. Ia kan sangat memanjakanmu,”ujar Kou. “…..lagipula itu kan rumah Aiba-chan! Apanya yang traktir!! Memangnya aku bodoh?!”

 

Aku terkekeh. “Ayolaaah! Ikut denganku! Ikut denganku! Ikut denganku!”

 

“Iya, iya… Aku mengerti,”Kou tampak menyerah. “….kalau begitu hubungi aku detilnya lagi, ya… Selamat malam,”

 

Aku mengakhiri sambungan teleponku dengan Kou. Dengan begini, sudah diputuskan bahwa kami akan pergi ke rumah orangtua Masaki akhir minggu ini.

 

Namun untuk beberapa saat, aku sempat terhenti dan  memikirkan apa yang barusan dikatakan Kou.

 

 

Kalau dipikir-pikir benar juga! Kenapa aku harus merasa gugup untuk bertemu dengan orangtua Masaki?!

 

Bertemu dengan orangtuanya kan bukan sesuatu hal yang besar, Jun juga pasti sudah pernah bertemu dengan mereka.

 

 

Aku berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa tak akan ada hal diluar dugaan yang akan terjadi. Aku cukup bersikap seperti biasa dan ramah pada orang yang lebih tua. Aku tak perlu membuat ‘mainan’ dan aku hanya perlu menganggap rumah Masaki seperti rumahku!

 

 

Tidak! Itu tidak mungkin!

 

 

Hari yang ditunggu pun datang. Aku dan Kou janjian dengan Masaki di stasiun Tokyo. Pagi ini, Masaki mendadak menghubungiku bahwa ia tak bisa menjemputku di apartemen karena ada syuting pagi. Setelah itu ia akan pulang sebentar mengganti baju dan langsung menjemputku di stasiun Tokyo.

 

Tak bisa bertemu dengan Masaki di awal hari membuatku semakin gelisah. Maksudku, kalau kami akan bertemu di stasiun Tokyo, itu artinya waktuku untuk beradaptasi dengan aura Masaki pun semakin sedikit. Meski aku sering bertemu dengannya, namun aku yakin bahwa aura yang dikeluarkan Masaki ketika bertemu denganku dan bertemu dengan orangtuanya akan berbeda.

 

Aku meyakini bahwa aura yang dikeluarkan seseorang ketika bertemu dengan orangtua mereka menggambarkan bagaimana hubungan mereka. Apakah hubungan mereka kaku atau baik-baik saja, semua dapat terlihat dengan jelas. Dari sanalah aku berusaha untuk menyelaraskan aura Masaki dan menentukan bagaimana aku harus bersikap di hadapan keluarganya.

 

Aku tahu aku penuh pertimbangan dalam hal ini. Mungkin hal seperti ini tidak terlalu penting untuk dipikirkan. Tapi dengan alasan satu dan lain hal, aku sangat keras dengan diriku sendiri. Terutama soal kesan pertama.

 

Tepat pukul empat sore kami bertemu dengan Masaki di stasiun Tokyo. Aku sempat tak mengenalinya ketika ia memanggilku dari kejauhan. Aku bahkan sampai membuatnya menghampiriku dan melepas kacamata hitam yang dipakainya.

 

“Narumi, ada apa?!”tanyanya lugu.

 

“Masaki…. kau potong rambut?!”aku balik bertanya seraya menatap Masaki lekat-lekat. Ia memotong pendek rambutnya dan mengecatnya menjadi coklat karamel.

 

“….Ja,-jangan menatapku lekat-lekat!”Masaki segera mengalihkan wajahnya. Telinga tipis yang terlihat jelas dibalik rambut barunya itu perlahan menjadi merah.

 

Aku terkekeh melihat sikap malu-malunya itu. Ia kemudian membantu kami membawa barang dan menghampiri mobilnya yang terparkir agak jauh dari stasiun.

 

Dalam perjalanan menuju Chiba, aku menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelaraskan aura dengan Masaki. Tadinya, sih, aku berpikir begitu, tapi semua itu berubah ketika melihat Masaki datang menjemput kami dengan penampilan barunya. Bukan hanya menyelaraskan aura, tapi aku juga jadi harus beradaptasi dengan penampilan barunya yang menyegarkan.

 

Seperti baru mengenal dan tertarik dengannya, aku membicarakan banyak hal dengan Masaki di mobil. Tak hanya aku saja, tentu Kou juga berpartisipasi dalam perbincangan kami. Kou yang mudah mencairkan suasana dan Masaki yang mampu menghidupkan suasana membuatku semakin mudah untuk merasa nyaman, sehingga kegugupan berlebihan itupun perlahan mulai hilang.

 

Tapi aku sadar, aku juga tidak boleh terlalu merasa santai! Karena sekali aku merasa santai, aku pasti akan terbawa suasana. Itu tidak boleh dibiarkan.

 

Bicara tentang penampilan baru Masaki, ada satu hal yang menarik perhatianku. Selain aku dapat melihat telinganya yang tipis, aku baru sadar kalau wajah Masaki tidak terlihat seperti orang Jepang pada umumnya. Dengan rambut barunya yang seperti ini, ia tampak seperti orang Korea. Apalagi kalau ia menyemir rambutnya menjadi hitam. Sebelumnya aku juga sempat memikirkannya, namun aku tak pernah mengatakan hal itu padanya.

 

Ketika aku mengatakan hal itu, Kou pun rupanya menyetujui ucapanku. Ia bahkan mengatai Masaki serakah. Berkewarganegaraan Jepang, pemilik restoran Cina, berwajah seperti orang Korea.

 

Segitu inginnyakah menguasai daerah Asia Timur?!, begitu candaan yang kami lontarkan pada Masaki. Kami bahkan sesaat memanggilnya Oppa.

 

 

“Ayah, ibu… Kenalkan, ini gadis yang sering kuceritakan, Matsumoto Narumi,”Masaki memperkenalkan diriku dihadapan orangtuanya ketika kami sampai di rumah keluarganya. “….ah, dan ini senior, —bukan, temannya, Kumanishi Kou,”

 

“Ah, aku Matsumoto Narumi… Senang berkenalan dengan kalian,”aku membungkuk sopan.

 

“Aku Kumanishi Kou,”Kou juga melakukan hal yang sama denganku.

 

“Ah! Ini Masami yang sering kau ceritakan?!”ayah Masaki tiba-tiba mengeluarkan pernyataan mengejutkan.

 

 

Masami?!

 

Siapa itu?!

 

Entah kenapa aku merasa bahuku terangkat sedikit lebih tinggi dari biasanya.

 

 

“Bukaan !!! Narumi! Na…Ru…Mi!!”Masaki mengeja namaku dengan benar. Caranya memperbaiki namaku didepan ayahnya terlihat lucu sekali.

 

 

Ah! Sepertinya ayahnya hanya salah mengingat namaku saja!, batinku.

 

 

“Eh?! Bukan Masami yang sering menghubungimu?!”tanyanya lagi.

 

 

Eh?!

 

Tunggu dulu! Apa maksudnya ini?!

 

Bukan salah sebut?!

 

 

Aku segera menatap Masaki cepat. Wajah pria itu tampak kusut. Tanpa rasa segan ia segera mendekati ayahnya dan membungkam mulutnya.

 

Apa ada orang bernama Masami yang sering menghubungi Masaki selain aku?!, tanpa kusadari, aku menurunkan pandanganku dan menatap lantai kayu dengan gentar.

 

Tunggu!

 

‘Selain aku’ ?! Memang aku siapa?!

 

 

“Sudah kubilang namanya Narumi! Ayah terima saja! Jelas?!”Sadar tak boleh bersikap seperti ini, aku segera mengangkat pandanganku dan tertawa kecil melihat Masaki yang bertingkah seenaknya seolah ayahnya adalah adiknya.

 

“Ayo masuk, Matsumoto-chan, Kumanishi-chan,”tawar ibu Masaki. Aku mengangguk sopan, kemudian kami pun diantar masuk ke dalam rumah mereka.

 

Rumah kediaman Masaki sedikit terpisah dengan restoran Cina yang dijalankan dengan keluarganya. Memang perlu melewati restoran, tapi rumah yang sebenarnya berada tepat di belakang restoran. Pembatas antara rumah yang sebenarnya dan restoran tersebut adalah sebuah tembok tebal. Namun hanya dengan itu saja, suasana didalamnya dapat berubah drastis.

 

Sebelum kami berkumpul, Masaki dan ibunya mengantar kami ke sebuah kamar kosong dimana kami bisa meletakkan barang-barang kami terlebih dahulu. Masaki pun berpesan pada kami untuk tak terburu-buru, ia akan memanggil kami begitu makan malam sudah siap.

 

“….Ooooh! Jadi kau adik Matsujun!”ibu Masaki tampak terkejut ketika Masaki memperkenalkan diriku sekali lagi. “…tapi nggak begitu mirip, ya!”

 

“Wajahnya memang nggak mirip, tapi galaknya sama!”ujar Masaki seraya menyuap nasi ke mulutnya. Aku menyenggolnya dengan siku tanganku. “Tuh, lihat!”

 

“Itu karena kau sering mengusilinya kan?!”balas ibu Masaki. “…..aku malah merasa ia mirip dengan Nino… Ah, kau kenal Nino?!”

 

 

Aku mengangguk seraya tertawa kecil. Nino, katanya?! Aku nggak mau disamakan dengannya.

 

 

“Memangnya….. apa yang membuat bibi berpikir aku mirip dengan Nino…..miya-kun?!”aku berusaha meminimalisir gaya bicara kasualku. Aku bahkan berusaha memanggil nama Nino dengan benar.

 

“Hmm… Mungkin mata?! Atau saat kau tersenyum tiga jari?!”ibu Masaki tampak bertanya pada dirinya sendiri. “….sepertinya mata! Lingkar mata,”

 

“Mau yang mana pun juga nggak penting, kan?!”kali ini Masaki mengambil tempura yang ada di hadapanku. “….ibu harus tahu! Yang paling mirip itu sifat sarkastiknya! Kalau aku melihat mereka berdua berbincang, aku selalu mempersiapkan diri kalau salah satu dari mereka ada yang mengambil hati perkataan lawannya,”

 

“Ck,”tanpa sadar aku berdecak. Sepertinya ia sengaja menguji kesabaranku!

 

“Lihat, kan?!”Masaki menatapku jahil. Rasanya aku ingin menginjak kakinya dan mengambil tempura yang baru saja diambilnya. Tapi ini bukan di apartemenku! Bukan juga wilayah kekuasaanku. Karena Masaki paham benar posisinyalah ia jadi bebas mengerjaiku.

 

Makan malam berlangsung dengan meriah. Aku tak hanya berkenalan dengan orangtua Masaki, tapi juga dengan adiknya, Yuusuke dan calon istrinya. Kami berbicara tentang banyak hal, bercanda, bahkan saling mengenal satu sama lain.

 

Syukurlah, apa yang kupikirkan akan jadi hal yang terus kupikirkan. Maksudku, semua hal berlebihan yang kupikirkan tidak ada yang terjadi. Seperti yang Masaki ceritakan padaku waktu mengajakku kemari, keluarganya benar-benar konyol,—bukan, menarik!

 

Aku ingat dengan jelas bagaimana ketika keheningan menghampiri ruang keluarga Masaki, ayahnya tiba-tiba berkata “gorilla”, yang kemudian disambung dengan jawaban ibunya yang tiba-tiba berseru “lampu”.

 

Untuk beberapa saat aku berpikir, ada apa dengan gorilla?! Apa ada gorilla disini?! Lalu kenapa dengan lampunya?! Setelah akhirnya Masaki mengucapkan suatu kata, aku baru menyadari bahwa ayahnya baru saja memulai permainan sambung kata tanpa aba-aba terlebih dahulu.

 

Tidak hanya itu, ibunya juga menceritakan banyak macam hal yang menarik padaku, Kou, dan calon istri Yuusuke ketika para pria dirumah tersebut asyik menonton pertandingan bola. Hal yang paling berkesan dari cerita-cerita yang dilontarkan ibu Masaki adalah ketika Masaki menelepon ibunya dan beliau sedang ada di Korea. Beliau meminta Masaki untuk tidak mengatakan apapun pada ayahnya karena beliau pergi tanpa mengatakan apapun,. Padahal saat itu Masaki sudah keluar dari rumah dan hanya beliau dan suaminya lah yang tinggal bersama.

 

Atau cerita ketika Masaki dan Yuusuke pergi bermain kembang api bersama Nino. Mereka sudah repot-repot membeli kembang api dan menyusun area sendiri, tapi Yuusuke tiba-tiba berlari pulang karena lupa membawa korek api.

 

Masih banyak cerita konyol dan menarik yang kudapat ketika berada di rumah keluarga Aiba. Keakraban dan kebaikan hati yang mereka suguhkan padaku membuatku merasa nyaman dan tak menganggap mereka seperti orang baru, namun aku tetap menghormati mereka.

 

“Narumi…. Aku mau pergi ke minimarket sebentar, kau mau titip sesuatu?!”Masaki tiba-tiba memanggilku yang masih asyik mengobrol dengan ibunya.

 

“Ah! Nggak apa-apa! Aku ikut saja!”Merasa tak ingin merepotkan, aku segera mengajukan diri untuk ikut bersama Masaki ke minimarket. Hari ini ia telah melakukan banyak hal untukku. Walau bukan berupa material, tapi ia sudah membantuku hingga bisa berbaur dengan keluarganya. Jadi meskipun bukan apa-apa, aku ingin berterimakasih padanya dengan membantunya. “…..Kou…. mau titip sesuatu?!”

 

“Ah! Aku titip pudding, ya?!”pesan Kou.

 

Aku mengangguk paham. “Bagaimana dengan bibi dan…….”

 

“Sudahlah! Aku pergi ke minimarket karena ingin beli makanan ringan, kok! Kita beli yang banyak saja untuk semuanya,”ujar Masaki. “Ayo!”

 

 

Masaki kemudian menarik tanganku. Aku terkejut untuk beberapa saat, tapi lagi-lagi aku tak mengeluarkan kata sedikit pun dan mengikuti alur yang dibuatnya.

 

Udara malam terasa begitu dingin. Selembar mantel yang kukenakan seolah tak mempan untuk memberiku kehangatan.

 

Padahal masih musim gugur, tapi udaranya sudah sedingin ini. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika musim dingin datang, batinku seraya meniup telapak tanganku agar menghangat.

 

 

“Dingin?!”tanya Masaki. Aku tersadar dari lamunanku, kemudian segera menggeleng. Namun Masaki tampaknya tak percaya begitu saja. Ia masih menatapku beberapa saat, kemudian menarik tanganku kembali. “Pembohong!”

 

 

Aku menunduk ketika Masaki mengetahui kebohongan kecilku. Ia kemudian menggandeng tanganku yang mendingin dengan tangannya yang besar dan memasukkannya ke mantel jaketnya.

 

 

 

“Kalau begini jadi lebih hangat, kan?!”tanyanya. Aku mengangguk malu. “….maaf, ya…. cuma bisa sebelah, sih,”

 

 

Aku menggeleng pelan. Dengan ia memperhatikanku seperti ini saja, aku sudah sangat senang sekali.

 

 

“….Sepertinya kau lebih tenang dari biasanya…. Apa perasaanku saja?!”tanya Masaki lagi. “….padahal sampai tadi kau masih cerewet,”

 

“Ah! Aku hanya sedang nggak ingin bicara saja,”ujarku pelan. “…..seperti katamu, keluargamu benar-benar konyol, —bukan, menarik, ya… Hahahaha….”

 

“Hei! Jaga mulutmu!”tegur Masaki seraya terkekeh pelan.

 

“Kau sendiri yang berkata begitu!”protesku. “……..terima kasih, ya…. Sudah membantuku berbaur,”

 

“Ah… Aku nggak melakukan apa-apa, kok…. Aku hanya melakukan apa yang biasa kulakukan, dan menyelaraskannya dengan keluargaku,”ujarnya. “Lagipula memang sejak awal kau mudah bergaul, kok… Kau saja yang terlalu berpikir berlebihan!”

 

“Hahaha… Terima kasih,”aku mengangguk seraya tersenyum. Sedikit senang dengan pujian Masaki. “……anu….. ada yang ingin kutanyakan padamu,”

 

“Hm?!”

 

“…….tentang……Masami….san,”dengan perasaan sedikit takut, aku pun mengeluarkan rasa penasaran yang sejak awal menggangguku. “……seperti apa orangnya?!”

 

“Eh?! Kenapa kau bertanya seperti itu?!”Masaki menoleh padaku. Aku segera membuang muka.

 

“Ng,-nggak…. Aku hanya berpikir… Rupanya kau dekat dengan wanita lain selain aku,”perkataanku mulai terdengar seperti basa-basi tak berguna. “….yaaah, walaupun sebenarnya aku yakin banyak wanita juga yang kau kenal dan ingin dekat denganmu,”

 

“Nggak ada, kok… Tadi ayahku hanya salah sebut namamu saja,”ujar Masaki. “Lagipula, kalau aku punya pacar, kenapa aku menggandeng tanganmu seperti sekarang?! Kalau memang ada, kurasa harusnya aku lebih bersikap hati-hati,”

 

“Yaaah… Kalau orangnya nggak ada, kan, kau bisa berkata apa saja,”sahutku. Sepertinya aku mulai mengarahkan pembicaraan ini ke arah yang tidak enak. Padahal aku ingin semua baik-baik saja. Kenapa aku malah merasa menggali kuburanku sendiri?

 

“Kau kenapa, sih?! Nggak seperti dirimu yang biasanya,”nada bicara Masaki pun mulai terdengar tak mengenakkan. “…..kau mau tahu siapa Masami?!”

 

 

Sesuatu yang tajam seolah menghunus dadaku. Padahal aku tak ingin kejadian berlebihan terjadi, tapi aku malah membuat itu terjadi. Kini pikiranku menjerit sekeras mungkin menolak keingintahuan akan Masami, namun hatiku terus penasaran. Aku merasa apa yang terjadi selanjutnya ini akan menjadi penentu sikapku pada Masaki selanjutnya.

 

Masaki sudah dewasa. Wajar apabila ia memiliki seseorang disisinya. Aku bukan kekasihnya. Usiaku bahkan berada jauh dibawahnya. Ada kemungkinan yang sangat besar kalau ia hanya memperlakukanku seperti seorang adik. Aku tak boleh egois.

 

 

 

“Ini Masami,”Masaki tiba-tiba memberikan ponselnya dan memperlihatkanku sebuah obrolan di line. Awalnya aku benar-benar merasa tak siap, tapi kuberanikan diri untuk membaca satu persatu obrolan yang ada didalamnya.

 

 

Tunggu!

 

Ini kan obrolanku dengan Masaki ?!

 

 

Aku segera menoleh ke arah Masaki dan menatapnya dalam. Menuntut sebuah penjelasan langsung dari pria tersebut.

 

“Lihat, sudah kubilang, kan?! Aku nggak punya pacar… Ayahku hanya salah menyebut namamu,”Masaki menghela nafas berat. “Kau ingat, kan?! Dulu aku pernah bilang, aku nggak memasang password di ponselku… Sebagai gantinya, aku mengganti nama kontak orang-orang yang ada di ponselku,”

 

“….dan namaku jadi….. Masami?!”tanyaku. Masaki menggangguk. “….kenapa?!”

 

“……..karena…… itu yang terlintas dibenakku?!”Masaki menjawab pertanyaanku asal-asalan. “….yah…. Aku kan bekerja di dunia hiburan… Apalagi peraturan dari agensiku cukup ketat…. Kalau aku menulis namamu begitu saja, pasti akan jadi gossip… Tapi kalau Masami, kan, agak terdengar sedikit maskulin… Jadi aku bisa terhindar gosip-gosip yang suka dilebih-lebihkan itu,”

 

“Bagaimana dengan my darling?! Bukannya itu lebih beresiko?!”tanyaku. Sebersit rasa lega tersirat didadaku. Aku lega mendengar bahwa Masami hanya nama buatan yang Masaki cantumkan untukku. Walaupun ia berkata hal yang tak berguna seperti nama itu terdengar maskulin, tak dapat dipungkiri bahwa aku benar-benar merasa lega mendengar jawabannya.

 

“Kalau itu, kujawab saja itu Sho-chan! Hahaha…”Masaki tertawa penuh kemenangan. “Lagipula, kalau ada seseorang yang berniat menjahiliku kemudian mengangkat nama itu, dan ternyata itu adalah Sho-chan, bukannya itu menjadi boomerang?!”

 

“Ah… Haaa….”aku mengangguk paham.

 

“Lalu Masami ini kutulis dengan katakana supaya mereka nggak bisa menebak kau pria atau wanita. Siapa juga yang akan penasaran dengan nama katakana yang bisa dipakai pria dan wanita?!”jelas Masaki. Sekali lagi aku mengangguk paham.“Bagaimana?! Sudah lega?!”

 

“Hah?! Bu,-bukan berarti aku cemburu atau apa, kok! Aku hanya bertanya,”aku segera mengalihkan wajahku. Menutup gengsi di hadapan Masaki.

 

“Lho?! Kau cemburu?!”Masaki seolah mendapat kata kunci dari kalimatku, dan mengulanginya dengan jelas.

 

“Hah?! Jangan geer, kau!”cibirku seraya mencubit pipinya gemas.

 

 

 

[FIN]

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s