[FANFIC] 実に愛しい  4

CHINATSU presents,

実に愛しい

相葉雅紀x松本成美

-I only own the story line and the character named Narumi. The basic idea belongs to ‘Kumanishi Kou’. The characters included belong to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

お楽しみ

 

[4]

 

“Narumi! Malam ini aku mau pulang ke Chiba lagi, kau mau ikut?!”ujar Masaki ketika aku menjawab panggilan teleponnya.

 

Sejak kunjungan pertamaku ke rumah keluarga Masaki, pria itu jadi lebih sering mengajakku untuk mengunjungi keluarganya. Ia telah mengenalkanku pada para tetangganya dan beberapa orang yang ia anggap bisa menjaga privasinya. Waktu Yuusuke menikah pun, aku diundang ke pesta pernikahannya.

 

Kami menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama. Apalagi akhir pekan. Memang sejak awal frekuensiku bertemu dengan Masaki sudah banyak, tapi sejak ia mengenalkan keluarganya padaku, ia sering mengajakku pulang ke Chiba secara mendadak. Entah kami akan pergi bersama, atau langsung bertemu di rumah orangtuanya—karena Masaki akan berangkat dari lokasi syutingnya.

 

Awalnya Kou sering ikut serta bersama kami, tapi karena ia ada kerja sambilan dan sibuk mencari pekerjaan, akhirnya aku lebih sering pergi berdua dengan Masaki. Dibanding sebelumnya, tentu saja aku sudah tak merasa gugup karena orangtua Masaki sudah cukup mengenalku. Mereka bahkan memintaku untuk melepas panggilan “paman” dan “bibi” dan menggantinya dengan “ayah” dan “ibu” seperti halnya Masaki memanggil mereka.

 

Di satu sisi, aku merasa senang dengan perilaku mereka. Karena itu artinya mereka menerimaku. Tapi disisi lain aku juga merasa malu karena harus memanggil mereka seperti Masaki memanggil kedua orangtuanya.

 

 

“Ayah…. Ibu…”

 

Tidak!

 

Itu terlalu memalukan!

 

Bahkan dikatakan dalam hati saja sudah memalukan!

 

 

Aku kerap berusaha mengontrol diriku setiap kali mencoba memangil orangtua Masaki dengan sebutan “ayah” dan “ibu” meski di dalam hati.

 

 

“Masami! Tolong ambilkan bir didalam kulkas!”seru ayah Masaki dari kejauhan. Ia memanggilku seperti memanggil anaknya sendiri.

 

“Iya… Bir segera datang!”aku yang sedang membantu ibu Masaki mengelap piring yang baru saja selesai kami cuci segera beralih sejenak menuju kulkas dan mengantarkan dua buah bir kalengan untuk Masaki dan ayahnya.

 

“Ayah! Sudah kubilang namanya Narumi! Bukan Masami!”protes Masaki.

 

“Ah! Selama ini aku mengingatnya dengan nama Masami… Repot kalau aku harus mengingatnya kembali,”kilah ayah Masaki.

 

“Apa susahnya, sih, mengingat nama satu orang saja?!”gerutu Masaki.

 

“Kau sendiri kenapa menulis namanya di kontakmu menjadi Masami?! Kurang kerjaan,”ayah Masaki tak menyerah. Ia masih terus membalikkan kata-kata Masaki.

 

“Biar saja! Aku kan nggak mengunci ponselku dengan password! Sebagai gantinya aku mengganti nama orang-orang itu di kontakku,”jelas Masaki. “Lagipula kenapa ayah bisa tahu, sih?! Ayah suka lihat-lihat ponselku, ya?!”

 

“Memangnya kenapa?! Kau kan anakku! Barangmu itu barangku juga, tahu!”

 

“Tapi aku kan beli ponsel ini dengan uangku sendiri! Punyaku, dong!”

 

“Kalau kau nggak ada di dunia ini, kau nggak bisa beli ponsel! Jadi semuanya kembali padaku!”

 

“Sudah, sudah! Mau Narumi atau Masami, terserah! Aku akan segera tahu kalau namaku dipanggil, kok!”aku berusaha melerai pertengkaran tak berguna mereka seraya menyerahkan bir kalengan yang kubawa. “Lagipula cuma masalah nama panggilan, kenapa jadi berantem begini, sih?!”

 

“Tuh, ayah yang mulai!”Masaki menunjuk ayahnya, seolah tak mau disalahkan.

 

“Apa?!’

 

“Kau juga, Masaki!”aku mengembalikan tunjukkan itu kepada Masaki. “Nggak seharusnya kau berkilah pada ayahmu! Itu kan bukan hal penting! Nggak usah dibesar-besarkan!”

 

“Tuh! Dengar kata Masami!”ayah Masaki memasang senyum kemenangan.

 

“Ayah juga!”dengan segenap keberanian aku memanggil ayah Masaki dengan sebutan ayah. “…..itu kan hal kecil, nggak usah diperdebatkan!”

 

“Nah! Kalian dengar apa yang Narumi-chan katakan?! Jangan ribut!”ibu Masaki berteriak dari dapur. Aku yang mengintipnya dari kejauhan dapat melihat sebuah senyum geli menghiasi wajah wanita paruh baya itu.

 

 

Keduanya pun menutup mulut.

 

Melihat pertengkaran mereka yang telah mereda, aku pun kembali melangkahkan kakiku menghampiri ibu seraya tersenyum kecil. Lucu sekali melihat pertengkaran kecil mereka berdua yang tak ada gunanya. Andai dulu aku bisa seperti ini dengan ayahku, mungkin hubungan kami seperti kakak dan adik.

 

Bukan berarti hubunganku dengan ayahku tidak baik, sih. Terkadang kami juga sering berkumpul dan mendiskusikan suatu hal,—dibanding dikatakan diskusi, mungkin lebih tepat dikatakan mendengarkannya berbicara. Bukan berarti juga aku tak menyukainya, tapi dalam keluargaku masih terlihat jelas hubungan orangtua dan anak yang mana anak harus patuh dan mengabdi sedangkan orangtua akan melindungi dari luar.

 

Pemikiran itu sebenarnya juga tak salah. Meski aku dan Jun sudah beranjak dewasa dan diperlakukan seperti orang dewasa, bahkan mungkin bisa dibilang sahabat, tapi terkadang aku masih berharap seandainya dulu didikan orangtuaku sedikit longgar, apakah aku akan lebih membuka hatiku?! Apakah kami akan menjadi sahabat?! Apakah hatiku akan sedikit lembut?!

 

 

Tidak!

 

Kalau dahulu orangtuaku tak mendidikku seketat ini, mungkin aku tak akan memiliki pendirian yang kuat. Mungkin aku akan selalu bertengkar dengan mereka. Mungkin aku akan selalu melawan mereka.

 

Meski aku tak bisa membuka hatiku seluruhnya, mungkin ini yang dinamakan “tak perlu semua hal diketahui orang lain”.

 

 

Kalau sedang merenungkan masa-masa kilas balik itu, aku selalu berdebat dengan diriku sendiri. Memang awalnya tidak enak, namun hasilnya bisa kurasakan sekarang. Meski sifat egoisku terkadang masih tak bisa menerima hal itu, kurasa apa yang orangtuaku lakukan benar karena sepertinya sejak awal  mereka tahu aku memiliki sifat seperti ini.

 

 

Kurasa memang sudah saatnya memaafkan diriku sendiri dan terus maju kedepan.

 

 

“Eh, Narumi! Besok kau mau pergi ke suatu tempat?!”Masaki tiba-tiba menghampiriku yang tengah melanjutkan aktivitasku membantu ibu Masaki merapikan dapur. “Disneyland?! Disney Sea?!”

 

“Lho?! Besok kau nggak kerja?!”tanyaku.

 

“Tadi manajerku memberitahu kalau aku dapat libur tiga hari,”Masaki mengacungkan tanda peace di hadapanku. “…..makanya aku ingin mengajakmu keluar,”

 

Aku terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Kau sudah mengajakku keluar, kok,”

 

“Eh?!”

 

“Kau sudah mengajakku keluar,”aku mengulangi ucapanku. “….buktinya sekarang aku ada disini…”

 

 

Masaki sesaat tercengang. Ketidakmengertian terlihat jelas diwajahnya, namun aku tetap diam dan tak memberitahunya apa maksudku. Setelah beberapa saat, aku dapat melihat wajahnya merona. Saat aku melirikkan mata padanya, ia segera membuang muka. Aku terkekeh geli.

 

 

“Kalau begitu aku ingin pulang saja,”aku mengoreksi jawabanku.

 

“Eh?!”Jawaban yang mulanya kutujukan untuk Masaki rupanya memancing perhatian ibunya juga. Pada saat yang sama, dengan nada bicara yang sama mereka berseru.

 

“Kenapa?! Apa ada sesuatu yang nggak berkenan?!”tanya ibu Masaki. Aku menggeleng cepat. Bukan itu maksudku!

 

“Mumpung libur tiga hari, bukannya sebaiknya kau menggunakan waktumu untuk istirahat, Masaki?! Pekerjaan rumahmu nggak menumpuk?!”aku membalikkan pertanyaanku pada Masaki. “…..kau kan sudah sering mengajakku keluar, bagaimana kalau kali ini aku yang mengajakmu pulang dan menyuruhmu istirahat?! Belakangan kau sibuk, kan?!”

 

 

Ibu Masaki yang tampaknya mengerti maksudku tak mengeluarkan sepatah kata kembali.

 

 

“Eeeh?! Tapi kan istirahat bisa dimana saja,”Masaki mengerucutkan bibirnya. “….malam aku istirahat, kok!”

 

“Hmmm, kalau begitu kuberi dua pilihan,”sahutku. “Kita pulang dan aku membantumu membereskan pekerjaan rumahmu, atau kita tetap disini dan memberi waktu untuk ayah dan ibu kencan berdua?!”

 

“Eh?!”ibu Masaki yang masih berada disebelahku bereaksi lebih besar daripada Masaki. “Narumi-chan….”

 

“Narumi, kau serius mengatakan hal itu?!”Masaki malah balik bertanya padaku. Aku mengangguk mantap.

 

“Kenapa nggak?!”aku bertanya balik padanya. “….atau kita beri ayah dan ibu waktu selama satu hari sementara kita dirumah, lalu esoknya kita pergi ke suatu tempat, dan hari terakhir kita pulang supaya kau bisa beristirahat?!”

 

“Memangnya harus ada kata ‘pulang’ dan ‘istirahat’, ya?!”gerutu Masaki.

 

“Harus!”ujarku tegas. Masaki kembali mengeluh. “…..aku tahu kau senang bergerak, tapi kau juga harus mengatur diri, dong! Akhir-akhir ini kau lebih sibuk dari biasanya. Kalau kau sakit bagaimana?!”

 

 

Masaki masih mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian meregangkan tubuhnya seraya sedikit mendesah. Pertanda ia tak mau mendengar ceramah lebih jauh lagi, dan memutuskan untuk mengalah.

 

“Ibu… Besok silahkan pergi berdua bersama Ayah… Aku dan Masaki akan berjaga disini sampai kalian pulang,”ujarku pada ibu Masaki.

 

“Eh?! Memangnya nggak apa-apa?! Benar?!”

 

“Tentu saja!”sahutku tanpa mempertanyakan kembali persetujuan Masaki. Karena kalau aku bertanya kembali, ia pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk bernegosiasi.

 

“Waaah, terima kasih!”ibu Masaki tampak senang. “Ayah! Kau dengar?! Narumi-chan ingin kita pergi ke suatu tempat berdua sementara mereka berjaga disini,”

 

“Wah, yang benar?! Kalau begitu ayo pergi ke suatu tempat!”ayah Masaki yang mendengar dari kejauhan pun ikut berseru menyetujui usul yang kuajukan. “…..waaah, aku sudah lama nggak pergi jalan-jalan! Apalagi kali ini disuruh! Memang beda, ya, kalau dirumah ada gadis muda! Hahaha…”

 

“Hahahaha… Kalau itu, sih, artinya lain, kan?!”candaku, disambut dengan tawa ibu.

 

“Ayah, Ibu…. Kalian lebih sayang pada Narumi daripada aku, ya!”Masaki mulai bersikap seperti anak kecil. “….daritadi Narumi melulu!”

 

“Itu karena Narumi lebih memikirkanmu daripada dirimu sendiri!”timpal ibunya. Masaki tak dapat mengelak. “…..Narumi-chan, terima kasih, ya… Mulai sekarang, tolong jaga Masaki,”

 

 

Ibu Masaki membungkukkan badannya dengan sopan. Aku yang melihatnya segera menaruh segala peralatan yang sedang kupegang dan balas membungkuk sopan. Beliau yang telah selesai menyeka piring-piring yang baru saja dicuci kemudian segera melepas apronnya dan berlari genit menghampiri suaminya yang sedang menonton televisi seraya menikmati sekaleng bir yang tadi kubawakan.

 

“Masaki, aku nggak menuntut untuk pergi kemana pun, kok. Tapi diantara pilihan yang kuberikan tadi, aku tetap ingin ada satu hari untuk kau mengistirahatkan diri!”tegasku lagi.

 

“…..Kalau begitu, kita pakai pilihan terakhir saja,”Masaki akhirnya memilih setelah terdiam beberapa saat. “….besok ayah ibu pergi berdua, lalu besoknya giliran kita, kemudian hari terakhir pulang,”

 

“Baiklah! Aku setuju,”ujarku seraya mengangguk mantap. “Begitu pulang nanti, aku akan mampir ke apartemenmu untuk bantu bersih-bersih,”

 

“Kalau begitu boleh pergi ke Disney Sea?!”Masaki tiba-tiba kembali semangat. Matanya yang membulat itu membuat dirinya terlihat seperti anak anjing. “Aku ingin naik Tower of Terror! Lalu Indiana Jones, Journey to the Center of the Earth………”

 

“Hahaha… Ternyata memang dari awal kau sudah menargetkan ingin kesana!”tawaku. “…..Mana wahana tujuanmu ekstrim semua! Sial! Kalau begitu aku akan menyediakan kantung muntah,”

 

 

 

Sesuai dengan janji, keesokan harinya, kedua orangtua Masaki pun pergi berkencan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Sepertinya mereka akan melakukan sebuah perjalanan pulang balik ke luar kota, karena mereka berpamitan pada kami berdua ketika hari masih begitu dini.

 

Aku ingat bagaimana lucunya Masaki mengantar kepergian orangtuanya sampai depan rumah dengan masih menggunakan kaos tidur, rambut yang acak-acakan dan menguap selebar singa. Bahkan setelah orangtuanya pergi pun, Masaki masih jalan terhuyung-huyung dan asal menghempaskan dirinya di sofa ruang keluarga, kemudian kembali tidur disana.

 

 

Lihat!

 

Untung ia memutuskan untuk nggak pergi kemana-mana!

 

Terkadang Masaki nggak tahu sampai mana batas tubuhnya!

 

 

Aku menyunggingkan senyum kecil melihat Masaki yang setengah sadar itu tampak bergitu jujur. Maksudku, lihat caranya menghempaskan dirinya di sofa! Apalagi kalau bukan kelelahan?! Aku tahu ia berusaha untuk menutup rasa lelahnya dengan membuat kegiatan yang dapat menyenangkan dirinya, tapi sayangnya hal itu tidak selalu berguna, bahkan bisa memberikan hasil yang sebaliknya.

 

Aku pun kembali berjalan ke kamar tempatku tidur dan mengambil selembar selimut yang semalam dipakai ibu Masaki untuk tidur.

 

Ya, terkadang ibu Masaki tidur bersamaku apabila ia memiliki cerita menarik yang bisa membuat kami terjaga hingga dini hari. Namun belakangan ini, ia juga memilih untuk tidur bersamaku daripada dengan suaminya. Sebagai gantinya, Masaki tidur dengan ayahnya.

 

Aku kembali melangkahkan kakiku ke ruang keluarga dan menyelimuti Masaki yang masih terlelap. Kuangkat kakinya yang setengah menggantung agar keduanya tergeletak di sofa, dan kubenahi posisi bantal di kepalanya.

 

Aku menatap jam dinding di dekat meja makan. Waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Meski aku sudah mencuci wajahku, sepertinya belum ada yang bisa kulakukan melihat situasi saat ini. Udara pagi musim gugur yang begitu dingin dan suasana yang mendukung untuk kembali merebahkan kepala pun sukses membuatku kembali melangkahkan kaki ke kamar tempatku tidur dan menarik selimut yang belum kubereskan.

 

 

“Narumi…. Ayo makan,”

 

Aku merasakan sebuah sentuhan lembut di bahuku. Perlahan aku membuka mataku dan mendapati wajah Masaki yang tengah menatapku dengan lembut. Aku mencari ponselku untuk melihat pukul berapa sekarang.

 

Benar-benar hari libur, batinku dalam hati ketika melihat waktu menunjukkan pukul 12 siang.

 

 

“Maaf, aku jadi bangun siang,”merasa bersalah karena telah berlaku seenaknya, aku meminta maaf pada Masaki.

 

“Nggak apa-apa… Ini kan hari libur, lagipula ayah dan ibu nggak ada dirumah,”ujar Masaki. “….lagipula kalau dirumah orangtuaku, nggak ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Santai saja,”

 

“Maaf… Aku cuci muka dulu, ya…”ujarku seraya menyeka mataku. Masaki tiba-tiba menghentikan tanganku untuk tidak menyeka mataku sendiri.

 

 

Seperti yang telah didiskusikan kemarin, hari libur pertama Masaki diisi dengan berdiam diri dirumah dan bersantai. Selagi orangtua Masaki pergi, rumah ini sesaat serasa menjadi milik Masaki. Mungkin bisa dibilang apartemennya versi besar.

 

Seperti yang biasa ia lakukan, ia akan memasakkan sesuatu untukku, dan aku akan menjadi tukang bersih-bersih setelahnya. Tapi Masaki tak membiarkanku melakukan hal itu sendiri, melainkan ikut membantuku. Meski sudah kularang pun, ia tetap bersikeras membantuku dengan berbagai macam alasan yang membuatku tak bisa melarangnya.

 

Seperti orang yang telah bekerja pada umumnya, hari pertama di hari libur pun, Masaki masih menerima banyak telepon yang membicarakan tentang pekerjaan. Berulang kali aku melihatnya mondar-mandir ke kamar, mengambil buku catatan dan menuliskan sesuatu disana. Terkadang aku melihatnya menghembuskan nafas sejenak, kemudian kembali melakukan panggilan dengan penelepon selanjutnya.

 

Sementara Masaki sibuk dengan pekerjaannya, mencatat dan membuka komputer, aku yang selalu membawa buku gambar dalam tasku membuat diriku sendiri nyaman agar tak mengganggu pekerjaan Masaki. Aku juga tak mau ia jadi tak enak hati sendiri karena keberadaanku yang mengganggunya. Hingga akhirnya senja pun datang, Masaki datang menghampiriku setelah meregangkan tubuhnya.

 

 

“Kau sedang apa?!”tanyanya lembut.

 

“Seperti yang kau lihat,”aku dengan gaya menjawab Nino yang sudah mengakar. “…menggambar,”

 

“Hmmm,”Masaki mengangguk paham. “Maaf, ya… Aku jadi nggak menghiraukanmu,”

 

 

Aku menggeleng pelan. Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah mengganggunya. Syukurlah, Masaki tidak ngotot untuk pergi keluar. Lihat apa yang baru saja ia kerjakan hari ini?! Meski hari libur pun, ia masih terus bekerja.

 

 

Atau sebenarnya ia mengajakku keluar karena ingin menghindari telepon pekerjaan?, pikirku.

 

 

Hari libur kedua Masaki pun datang. Seperti yang telah direncanakan, kami akan pergi ke Disney Sea di Maihama. Sejak pagi, suasana hati Masaki sudah begitu cerah. Ia begitu semangat melakukan ini dan itu, juga sering kali memanggil namaku dengan nada tinggi, seperti orang yang hampir ketinggalan kereta. Sebelum melakukan perjalanan kesana, kami telah merencanakan apa yang ingin kami lakukan disana. Bahkan sampai hal terkecil pun, Masaki memikirkannya. Contohnya seperti baju apa yang akan kami pakai kesana.

 

Hari ini kami akan pergi ke Disney Sea dengan memakai cosplay seragam sekolah.

 

Ini pun Masaki yang memikirkannya karena ia ingin merasakan apa yang menjadi tren anak muda belakangan ini. Padahal seharusnya ia sadar umurnya sudah tak muda lagi! Untung wajahnya mendukung!

 

 

“Masaki, aku sudah siap,”ujarku setelah selesai memakai sepatu.

 

“Tu, -tunggu sebentar! Masker dan topiku…..”Masaki panik mencari masker dan topinya. Padahal sampai tadi, ia seperti sudah lebih dulu siap daripada diriku. Tak lama, ia pun menghampiriku seraya memasang masker di wajahnya.

 

“Kau ini! Nggak ada gunanya cosplay, dong, kalau ujungnya kelihatan seperti otaku juga!”aku melepas topi yang telah dipakai Masaki. “…..Aku bawa lensa kontak kosong yang baru kubeli beberapa hari yang lalu, warnanya hijau kelereng. Kau punya kacamata bening, kan?! Kita pakai itu saja,”

 

Masaki mengangguk setuju. Ia kemudian kembali ke dalam rumah dan mengambil kacamata beningnya. Selagi ia memakai sepatu ketsnya, aku membukakan lensa kontak yang masih tersegel, kemudian memberikannya pada Masaki.

 

Untuk beberapa saat, aku menatap mata Masaki yang telah berubah menjadi hijau. Lensa kontak yang kubeli tidak memiliki garis berwarna hitam, sehingga mata pria itu jadi terlihat seperti orang barat. Ditambah tubuhnya yang tinggi dan rambutnya yang baru saja diwarnai menjadi coklat karamel. Sempurna!

 

“Kenapa?!”tanya Masaki, merasa pandanganku masih melekat padanya.

 

Aku menggeleng. “Aku hanya berpikir kau keren,”

 

 

Setelah mengatakannya, aku jadi malu pada diriku sendiri. Begitu pula dengan Masaki yang tak menyangka aku akan berkata demikian.

 

 

Hari libur kedua Masaki sangat menyenangkan. Setelah sekian lama tak pergi ke Disney Sea, aku memanfaatkan waktuku sebaik mungkin untuk bermain sepuasnya disana. Begitu pula dengan Masaki, begitu kami sampai di stasiun Maihama, ia langsung mematikan teleponnya dan fokus dengan apa yang ada didepan matanya. Nampaknya ia tak ingin terganggu oleh panggilan-panggilan pekerjaan seperti kemarin. Masaki pun tak kalah heboh ketika kami sampai ke tempat tujuan kami. Kami naik wahana ekstrim dan berteriak melepas penat yang selama ini tak tersalurkan, beristirahat dengan membeli es krim, menonton konser kecil Ariel si putri duyung, menonton parade dan melihat kembang api bersama sebelum Disney Sea tutup.

 

Hari libur ketiga Masak diawali dengan tertawanya ayah dan ibu Masaki yang melihat kami berdua bangun di siang hari. Selepas dari Disney Sea kemarin, kami masih mampir ke restoran untuk mengisi perut dan pergi ke suatu tempat untuk melihat pemandangan malam. Awalnya Masaki mengajakku untuk pergi ke karaoke, tapi aku menolaknya, karena selepas dari Disney Sea, untuk berbicara dengannya saja sudah setengah mati. Kami pun baru sampai dirumah sekitar pukul 3 pagi.

 

“Masaki, tolong ambilkan aku kecap,”ujarku lirih dengan suara yang hampir habis. Daripada mengambilkanku kecap, Masaki malah menoleh dan menatapku intens.

 

“Kau baik-baik saja?!”aku melihat raut khawatir di wajahnya. Aku mengangguk seraya menatapnya polos, seolah itu bukan hal yang besar untukku.

 

Karena mendengar suaraku yang parau, Masaki pun memutuskan untuk pulang ke Tokyo lebih cepat dari rencananya. Selepas sarapan –yang digabung dengan makan siang—, pria itu segera menyuruhku untuk bersiap-siap karena ia ingin kami sampai di Tokyo sebelum senja datang. Tak hanya itu, sesampainya kami di Tokyo, meski aku berkata aku akan membantunya membereskan apartemen supaya ia bisa istirahat, ia malah mengantarku pulang dan melarangku untuk membantunya.

 

Disatu sisi, perlakuan Masaki yang seperti ini selalu membuatku merasa istimewa. Namun disisi lain, saat ia tergesa-gesa dan melakukan keputusan dadakan seperti ini, meskipun ia tetap berbicara lembut padaku dan berusaha mencerahkan suasana, aku merasa canggung padanya. Rasanya perlahan aku mulai memahami dirinya. Kapan dirinya tulus, kapan dirinya khawatir dan kapan dirinya marah. Meski perubahan itu terlihat sangat tipis karena tawa selalu menghiasi wajahnya, ada kalanya aku merasa bersalah karena telah membuat dirinya berwajah seperti itu.

 

Terkadang aku berpikir, apakah suatu hari ia akan melepas topeng tawanya dan terbuka padaku?

 

 

 

[FIN]

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s