[FANFIC] 実に愛しい  5

CHINATSU presents,

実に愛しい

相葉雅紀x松本成美

-I only own the story line and the character named Narumi. The basic idea belongs to ‘Kumanishi Kou’. The characters included belong to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

お楽しみ

[5]

 

 

Aku menatap kalender cukup lama, kemudian menghembuskan nafas berat-berat. Hampir setiap hari aku melakukan itu hingga membuat Jun muak dengan sikapku. Awalnya ia penasaran dan bertanya padaku, kenapa aku sampai menghembuskan nafas seberat itu, tapi karena aku tak pernah memberinya jawaban yang pasti, lama kelamaan ia merasa kesal padaku.

 

Tak terasa, akhir tahun hampir tiba. Desember sudah mulai masuk dan musim dingin tak kunjung memberi kehangatan.

 

Sebentar lagi ulang tahun Masaki. Aku berpikir untuk memberinya sesuatu yang istimewa tahun ini. Karena pada waktu ulangtahunku kemarin, ia mengeluarkan cukup banyak uang untukku. Padahal melakukan upacara kedewasaan saja belum, tapi ia sudah memberiku lebih dari cukup.

 

Masaki, sih, enak! Karena ia sudah bekerja, ia bisa membeli apa yang ia inginkan dan memberi sebanyak yang ia bisa. Sedangkan aku?! Bisa tinggal terpisah dengan orangtua namun dalam tanggungan Jun saja sudah bersyukur. Rasanya apapun yang akan kuberi tidak akan menjadi sesuatu yang berarti untuknya.

 

 

Itulah yang membuatku menghela nafas belakangan ini.

 

 

“Haaah…..”aku kembali menghembuskan nafas ketika menatap kalender yang terpampang di dinding apartemen Kou.

 

“Kau datang hanya untuk menghela nafas?! Pulang sana!”cibir Kou. Aku hanya mengerucutkan bibirku. “…..sebentar lagi sudah natal, ya…”

 

“Iya…”jawabku singkat. Aku menghampiri Kou yang tengah menaruh mangkuk berisi sup hangat dan daging diatas meja ruang keluarganya. Hari ini aku menginap di rumah Kou.

 

“Kau akan memberikan hadiah apa pada Aiba-chan?!”tanya Kou.

 

“Eh?!”aku menoleh cepat dan menatap Kou tajam. “…..kau ingat ulang tahun Masaki?!”

 

“Hah?! Kau ngomong apa?! Mana kutahu!”seru Kou. “Maksudku hadiah natal… Kok jadi ulang tahun?!”

 

Aku terdiam beberapa saat, kemudian menyeringai kecil. “Ah! Maksudmu natal! Hahaha… Benar juga,”

 

“Memangnya Aiba-chan mau ulang tahun, ya?! Kapan?!”tanya Kou.

 

“24 Desember,”jawabku singkat.

 

“HAH???!!” Seolah mengerti kegalauanku, Kou berteriak. “Aiba-chan ulang tahun ketika malam natal?! Kok enak?! Dapat hadiahnya dua kali lipat, dong!”

 

 

Ternyata bukan itu. Ia tidak mengerti kegalauanku sama sekali.

 

 

“Terserah kau saja,”aku menghela nafas melihat Kou yang malah memikirkan jumlah hadiah yang akan diterima Masaki.

 

“…..jadi, kau mau kasih apa untuk Aiba-chan?!”Kou kembali pada pertanyaannya. Aku hanya mengedikkan bahu. Justru itu yang kupikirkan saat ini. “…teman-temanku sudah sibuk memilih hadiah untuk pasangannya dan menanyakan pendapatku, tapi kujawab asal saja, celana dalam…”

 

“Memang salah mereka curhat padamu,”aku tertawa getir. “….aku juga, sih. Hahahaha….”

 

“Kok gitu, sih?!”Kou mengerucutkan bibirnya.

 

“Habisnya kau asal banget jawabnya!”protesku, tak mau disalahkan. “….jadi, kau mau kasih hadiah apa untuk Sho-chan?!”

 

“Kok jadi Sho-kun?!”mendengar ucapanku, Kou berbalik malu. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan wajah tersipunya itu. “…..aku kan sedang bertanya padamu! Lagipula kenapa harus Sho-kun?! Kami bahkan bukan pasangan,”

 

“Yaah…. Kalau masalah itu, sih, aku juga bukan pasangan Masaki,”aku menopang wajahku dengan sebelah tangan seraya mengalihkan pandangan.

 

“Eh?! Bukan pasangan?! Kupikir selama ini kalian pacaran,”Kou menatapku polos. Sementara itu aku bingung bagaimana harus bereaksi. “…..dimataku selama ini, kalian selalu terlihat seperti pasangan, sih…. Apalagi sampai dikenalkan pada orangtua, apa lagi kalau bukan pasangan?!”

 

“Oh, ya?! Hahaha…”sekali lagi, aku tertawa getir. Masih bingung bagaimana harus merespon ucapan Kou.

 

 

Sejak saat itu, perkataan Kou sangat membekas dalam benakku. Benarkah kami terlihat seperti pasangan?!

 

Selama ini aku memang tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku pada Masaki apabila diwujudkan dengan sebuah kata. Aku selalu berpikir kehadirannya adalah sesuatu yang wajar. Keberadaannya membuatku terus bergantung pada dirinya. Ia bagaikan seorang kakak bagiku. Seorang kakak yang bisa terus menyenangkan hatiku.

 

 

Kakak?! Kurasa bukan itu ungkapan yang tepat!

 

 

Terkadang aku juga berpikir, apakah aku tidak terlalu lekat dengan Masaki?! Apakah aku menghalangi seseorang yang ingin dekat dengannya?! Apakah aku mengganggunya?! Namun setiap kali aku berpikir demikian, Masaki seolah menepis pikiran tersebut dengan bersikap layaknya hal yang wajar. Ia memberi tidak hanya apa yang kuinginkan, tapi juga yang tak terpikirkan olehku, mau melakukan sesuatu untukku, dan memberi ketenangan padaku. Saat aku menerima semua itu, aku kembali berpikir, apa aku boleh menerima semua perlakuan ini?!

 

Aku merasa sangat nyaman dengan hubungan yang kujalani sekarang. Aku merasa tak membutuhkan apa-apa lagi selama Masaki berada disampingku. Aku tahu, dengan menerima perlakuan istimewa seperti ini, aku merasa harus memastikan hubungan kami dan membuat semuanya jelas. Namun, ketika aku berpikir demikian, rasanya aku tak sanggup menerima resikonya apabila ternyata Masaki memiliki seseorang yang kehadirannya melebihiku dan harus pergi dari sisiku.

 

Kuakui, diriku takut untuk menghadapi kenyataan itu!

 

Aku tahu aku tak boleh egois, tapi tanpa sadar, sebagian dari diriku telah mengklaim bahwa Masaki adalah milikku.

 

 

“Narumi,”suara lembut Masaki menyadarkanku dari lamunanku. Aku segera menatapnya seraya mengumpulkan kesadaranku untuk kembali pada kenyataan, kemudian tersenyum malu. “….kenapa ngelamun?!”

 

“Nggak apa-apa,”jawabku singkat seraya tersenyum kecil.

 

Masaki hanya mengangguk. Tak paham atas apa arti anggukannya, yang jelas saat ini ia tengah menatapku dengan pandangan intens. “……kau sedang ada masalah?!”

 

“Hm?! Ng,-nggak, kok…. Kenapa kau berpikir seperti itu?!”tanyaku.

 

“Hmm…. Kenapa, ya?! Mungkin karena aku selalu memperhatikanmu?!”

 

 

Ini dia! Alasan mengapa aku takut menghadapi kenyataan. Aku tak ingin kalimat ini ditujukan kepada orang lain.

 

 

“Aku serius!”protesku, berusaha menutupi rasa tersipu.

 

“Hahahaha…. Ekspresimu selalu berubah kalau digombali, ya! Maaf… maaf… Aku ingin melihat wajah cemberutmu itu,”Masaki tertawa kecil, kemudian menepuk kepalaku perlahan. Aku juga tak ingin tangan ini menepuk kepala wanita lain. “……habisnya belakangan ini kau jadi lebih pendiam daripada biasanya,”

 

“Oh ya?! Hahaha…”aku tertawa getir. “….aku hanya nggak ingin berbicara saja…”

 

“Tuh, kan! Mulai, deh, jurus ‘jangan campuri urusanku’!”protes Masaki. Aku menoleh padanya. Memiringkan kepala tanda tak mengerti ucapan pria itu. “…..kau sedang ada masalah, ya?! Sebelumnya juga begini… Antara ingin mengatakan dan nggak mengatakannya,”

 

 

Aku terdiam sejenak. Ia benar-benar memperhatikanku, ujarku dalam hati.

 

“Kalau nggak mau cerita, aku nggak akan memaksa, kok… Tapi aku senang kalau kau mau berbagi denganku,”ujarnya lembut. “……Ngomong-ngomong, sebentar lagi natal, ya?!

 

Itu yang sedang kupikirkan, Masaki! Itu! Aku hanya bisa menjerit dalam hati.

 

“Iya…”jawabku seadanya. “….kau paling ada syuting lagi, kan?!”

 

“Iya… rekaman untuk tahun baru…. Mana malam natal lagi,”Masaki mengacak-acak rambutnya. “….padahal aku ingin merayakan ulang tahun dengan teman-teman…”

 

“Paling-paling pesta natal dengan tulisan kecil ‘selamat ulang tahun’ lagi, kan?!”timpalku.

 

“Nggak usah diperjelas!”Masaki melotot menatapku. “…itu yang paling menyakitkan,”

 

“Hahahaha… Maaf, maaf… Aku bercanda,”aku mencubit tangan Masaki gemas. Ia memang paling tidak cocok memasang tampang cemberut.

 

“…..kau tahu?! Aku selalu merasa kesepian kalau ulang tahun,”nada bicara Masaki tiba-tiba terasa begitu dalam. “……karena ulangtahunku tepat di malam natal, jarang orang yang bisa kuajak untuk berpesta. Teman-temanku pasti sudah sibuk dengan pasangan mereka masing-masing… Kalau pun ada yang membuat pesta, itu bukan pesta untukku, tapi pesta natal….”

 

“…yaaah, apa boleh buat, sih…  kau juga nggak bisa menyalahkan hari kelahiranmu, kan…”aku jadi bingung, apa aku mengucapkan hal yang tepat, atau tak perlu. “…..kalau begitu, bagaimana kalau kita buat pesta ulang tahun dirumahmu?!”

 

“Eh?!”

 

“Pesta ulang tahun… Bukan pesta natal,”aku memperjelas ucapanku. Berusaha untuk membangkitkan kembali senyum Masaki. Pola pikirnya yang terkadang seperti anak kecil ini tak jarang membuatku kasihan padanya.

 

“Eh?! Sungguh?! Keluargamu bagaimana?!”Masaki tampak antusias dengan tawaranku. Namun tampaknya ia masih memikirkan keluargaku.

 

“Kau nggak perlu khawatir…. Aku akan pulang ketika malam tahun baru sudah dekat, kok…”ujarku. “….lagipula Jun kan masih harus syuting bersamamu… Aku akan pulang dengan Jun,”

 

“Sungguh?! Horee….” Aku refleks tersenyum melihat Masaki yang berseru kegirangan. “…kalau begitu, aku akan beritahu Sho-chan dan yang lainnya,”

 

 

Aku mengangguk.

 

 

Tanpa berpikir panjang, Masaki segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik secepat yang ia bisa. Ia berkata bahwa ia akan mengundang Sho, Nino, Ohno, Jun dan Kou. Ia pun segera menentukan jam berapa pesta itu akan berlangsung, dan apa saja yang akan ia sajikan di pesta ulangtahunnya.

 

Melihat Masaki yang begitu bahagia dengan hal sekecil ini membuatku berpikir bahwa masih ada bagian dari dirinya yang terjerat pada masa kecilnya. Selama ini, tindakan konyolnya dan tawa uniknya sukses membuat pria itu terkesan bodoh. Tapi sebenarnya tidak!

 

Mungkin ia hanya tak begitu pandai merefleksikan perasaannya. Tapi karena tawa selalu menghiasi bibirnya, jarang ada orang yang menyadari hal itu.

 

Mungkin juga masih banyak mimpi anak-anak yang ada dalam dirinya. Mimpi kecil yang sebenarnya bisa diraih. Namun ia tak mengungkapkannya karena sudah terlanjur dewasa.

 

 

“Aahh, bagaimana ini!! Sepertinya aku membuat kesalahan!!”aku menaruh kepalaku diatas meja. Merenungkan apa yang telah kukatakan pada Masaki. “…..seharusnya aku nggak mengajaknya merayakan pesta ulang tahun,”

 

 

Hari ini aku dan Kou pergi berbelanja ke Shibuya. Aku bermaksud untuk membeli hadiah ulangtahun untuk Masaki. Aku ingin memberikannya sesuatu yang bermanfaat untuknya. Mungkin dengan uang yang kumiliki sekarang tidak akan bisa membalas kebaikan Masaki selama dua tahun lebih aku mengenalnya, tapi aku ingin ia terus mengingatku setiap kali memakai barang yang kuberikan.

 

 

 

Kalau seperti ini, kesannya seperti aku ingin memonopoli Masaki, ya…

 

 

“….memangnya pesta ulang tahun ini awalnya idemu?!”tanya Kou seraya menyeruput es kopinya.

 

“Itu karena ia bilang ia selalu merasa kesepian waktu ulangtahun… Karena hari ulangtahunnya bertepatan dengan malam natal, ia merasa hari kelahirannya dikesampingkan,”aku menceritakan apa yang Masaki ceritakan padaku secara singkat.

 

“Kalau itu sih memang nggak bisa disalahkan, ya…”Kou ikut-ikutan menghela nafas. Persis seperti apa yang kulakukan ketika mendengar cerita Masaki.

 

“Makanya aku ingin membuatnya senang… Walaupun tetap ujungnya diadakan dirumahnya, sih…”ujarku. “…..menurutmu aneh nggak, sih, kalau aku memberinya hadiah dan mengajaknya seperti itu?!”

 

“Menurutku kalau memberi hadiah, sih, nggak masalah…. Apalagi itu hari ulangtahunnya. Nggak masalah, kan?!”Kou melempar balik sebuah pertanyaan padaku. “….lagipula, perayaan ulangtahun itu dirayakan bersama, kan?! Kau nggak perlu mengkhawatirkan hal semacam itu,”

 

Aku terdiam sejenak seraya menatap Kou. Gadis itu balik menatapku. Seperti mengetahui aku ingin berkata sesuatu namun ragu untuk mengatakannya. “…..sebenarnya aku berniat untuk merayakannya berdua,”

 

“Eh?!”

 

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Malu untuk mengatakannya kembali. “…..sebenarnya aku berniat untuk merayakannya berdua. Tapi karena Masaki bilang ingin mengajakmu, Sho-chan dan yang lainnya, aku nggak berani merusak kesenangan itu,”

 

“……..baiklah, kalau begitu kau harus khawatir!”Kou mengoreksi ucapannya. “…..Narumi, apa nggak sebaiknya kau bertanya pada dirimu sendiri, bagaimana perasaanmu pada Masaki?! Atau mungkin berbicara dengan Masaki dan membuat hubungan kalian berdua lebih jelas?!”

 

“Hah?! Kau bicara apa?! Mana mungkin aku melakukan hal itu!”balasku cepat. “….kau sendiri tahu, kan, aku paling nggak bisa bertanya hal semacam itu?!”

 

“Tapi kalau kau nggak mengatakannya, suatu hari Masaki bisa jadi milik orang lain, lho?!”ujar Kou. “…Memangnya dengan mempertahankan  hubungan seperti ini sudah pasti kau akan bersama Masaki selamanya?! Bahkan kau saja nggak pernah bertanya mengenai perasaannya,”

 

“Tapi……..”aku masih berusaha untuk berkilah. “…..padahal aku nggak pernah membicarakan tentang perasaannya. Kalau aku tiba-tiba bertanya padanya, apa nggak aneh?!”

 

“Jelas aneh!”jawab Kou cepat. “….tapi kau nggak bisa seperti ini terus! Kalau kau seperti ini, kau nggak akan mendapat jawaban yang jelas, lho…”

 

 

Aku terdiam. Tak mendebat Kou lebih dari ini. Bahkan dalam diriku pun, hatiku dan pikiranku masih berdebat. Apakah aku harus mendapat kepastian atau mempertahankan gengsiku.

 

 

“Narumi, ini hanya sekali seumur hidup!”tegas Kou lagi. “…….kau ingin terus bersama Masaki, atau menyesal di kemudian hari,”

 

 

Kalimat Kou membekas dalam ingatanku. Berapa kali aku mencoba untuk menepis ucapannya dan mempertahankan gengsiku, kalimat itu tetap muncul dan mendominasi pikiranku. Seolah dari lubuk hatiku menjerit, ternyata aku memang nggak ingin kehilangan Masaki.

 

Aku memang tak bisa mengatakannya. Aku sendiri bahkan merasa kesal dengan diriku yang ternyata sekaku ini. Meski selama ini aku merasa telah hidup dengan santai, tapi rupanya masih banyak barir dalam diriku yang membuatku tersadar bahwa aku memang si gadis baja. Tak hanya keras, tapi juga sulit dilelehkan.

 

Hari ulang tahun Masaki tiba. Hariku diawali dengan membuka ponsel yang telah tertera sebuah pesan masuk di dalamnya. Dari Masaki.

 

 

Terima kasih atas ucapan ulangtahunnya.

Kau begadang lagi, ya?!

Hari ini aku akan berangkat pagi untuk syuting. Kita bertemu langsung diapartemenku, ya?!

Istirahat yang cukup! Tapi jangan sampai ketiduran! Hahaha…

Sampai nanti…

 

 

Aku tersenyum membaca pesan Masaki. Seperti yang kuduga, sejak pagi begini ia sudah kelewat semangat!

 

 

Ia bahkan tahu kalau semalam aku begadang. Dikatakan begadang, sih, tidak. Aku hanya menunggu jam dua belas malam, dan pada pergantian hari tersebut aku lekas mengirimkannya ucapan selamat ulang tahun pada pria berbola mata bulat tersebut. Aku ingin menjadi yang pertama mengirimkannya ucapan selamat.

 

Lagi-lagi aku berpikiran untuk memonopoli Masaki….

 

 

Aku menghela nafas, kemudian dengan sebuah tarikan nafas, aku bangkit dari kasurku dan menghembuskannya kembali.

 

 

Sudah kuputuskan! Hari ini aku akan berbicara dengan Masaki

 

 

Aku mengepalkan tanganku. Tanda bahwa aku sudah menata pikiranku dan membuat keputusan bulat. Sebenarnya, kalau dikatakan mantap, sih, tidak. Masih ada bagian dari diriku yang ingin mempertahankan gengsi. Namun rasa tidak ingin kehilangan Masaki lebih kuat daripada itu. Meski harus menahan malu, aku memutuskan untuk membicarakan hal ini dengannya. Karena aku menyayangi Masaki.

 

 

Ah….

 

Rasanya ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku dalam sebuah kalimat. Meski tak terucap, ini pertama kalinya aku berhasil menyimpulkan perasaanku. Aku menyayangi Masaki.

 

Aku membuka pintu kamarku. Menghirup udara rumah yang beraroma kayu dan sedikit aroma manis yang tersisa. Aku menemukan sebuah kertas berisikan tulisan tangan Jun ketika melangkahkan kaki menuju dapur.

 

 

Narumi…

Aku ada jadwal syuting dari pagi bersama Aiba-kun dan yang lainnya. Untuk pesta nanti, kita langsung bertemu di apartemen Aiba-kun, ya….

Tadi aku buat sarapan kebanyakan, jadi kusisakan untukmu diatas meja…

Ngomong-ngomong, cucian sudah kuangkat semalam… Giliranmu menyeterika!

Sampai nanti…

 

 

Aku mendecak seraya tersenyum melihat isi pesan Jun. “…..kalau mau buatkan sarapan, jujur saja kenapa, sih… Nggak usah ngomong buatnya kebanyakan. Dasar tsundere!

 

Aku segera mengambil roti bakar yang telah tersedia di meja makan. Kubuka plastic wrap yang membungkusnya dan mengambil selembar roti dari atas piring. Setelah melahap habis roti tersebut, aku segera mencuci tangan dan melakukan tugas yang diberikan oleh tuan Jun. Menyetrika cucian kami yang sudah kering, melipatnya dan memasukkannya ke dalam lemari masing-masing.

 

Aku melirikkan mataku ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Masih ada waktu sebelum jam tiga sore! Aku masih bisa berbenah!

 

Tanpa membuang waktu, aku segera membereskan piring bekas makanku, mengambil vacuum cleaner dan membersihkan rumah, serta menata kamarku yang sudah seperti kapal pecah. Pesta Masaki akan diadakan sekitar pukul enam. Memang terlalu cepat apabila aku menargetkan semua pekerjaan rumahku selesai pukul tiga sore, tapi berhubung ini adalah malam natal, aku sudah memperkirakan apabila aku terlambat bersiap-siap berikut dengan kemacetan yang akan melanda Tokyo malam ini.

 

“……Kunci jendela… Pakaian…. Listrik… Lampu… Hadiah Masaki….”aku menggumam apa yang harus kuperiksa sebelum keluar rumah. “….baiklah! Sudah semua!”

 

 

Klik!

 

 

Aku mengunci pintu apartemenku dan memastikan kembali bahwa pintu tersebut telah tertutup rapat. Setelah itu, aku merogoh kantung mantelku dan mencari ponselku. Berniat untuk menghubungi Kou dan memberitahunya bahwa aku sudah dalam perjalanan menuju tempat kami janjian.

 

 

“Narumi! Kau terlalu cepat!”aku mendapati Kou yang tampak menghampiriku sambil berlari kecil. Dari kejauhan, aku dapat melihat wajah protes itu dengan jelas karena aku selalu datang lebih cepat dari waktu janjian. “….kau bahkan lebih cepat dari Mocchi!”

 

“Maksudmu Kaede-san?! Hahaha…”aku tertawa kecil mendengar Kou yang membandingkanku dengan teman sekelasnya, Mochizuki Kaede, yang terkadang juga main bersama kami. “….aku hanya menyelaraskan dengan waktu janjian, kok. Lagipula ini kan malam natal! Kau tahu sendiri apa yang terjadi kalau kita terjebak keramaian!”

 

“Iya juga, sih… Tapi kalau kita datang terlalu awal bagaimana?! Kita harus menunggu diluar sampai Aiba-chan pulang?!”tanya Kou.

 

Aku tersenyum menanggapi Kou. “….tenang saja! Aku punya kunci duplikat apartemen Masaki!”

 

“…..kunci duplikat?!”Kou membelalakkan matanya sejenak. “….. sudah kuduga, hubungan kalian bukan sesuatu yang normal. Hahahaha….”

 

“Tenang saja… Hari ini akan kubuat semuanya menjadi normal kok,”sahutku dalam.

 

“Eh?!”sekali lagi, Kou menoleh padaku. “……Narumi…. Kau…..”

 

 

***

 

 

“……kalau begitu, nanti aku pura-pura kelupaan sesuatu saja, nanti kalian yang siapkan semuanya. Aku juga sudah berbicara dengan Jun, ia pasti sudah mengkoordinasikannya dengan yang lain,”

 

Dalam perjalanan ke apartemen Masaki, aku dan Kou sibuk membicarakan rencana kejutan yang akan kami buat untuk pria itu.

 

Aku dan Kou sampai di apartemen Masaki sekitar pukul enam kurang seperempat karena kami harus membeli kue ulang tahun untuk Masaki. Sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama untuk membeli kue, karena kebetulan malam ini adalah malam natal, banyak toko roti dan restoran yang menjual kue di depan toko mereka. Yang sedikit memakan waktu adalah membeli kue ulang tahun. Bukan kue natal.

 

“Waaah, setiap tahun pasti berat, ya…”aku bahkan dikatai seperti itu oleh salah seorang pegawai toko ketika akhirnya kami berhasil menemukan kue ulang tahun. Tentu saja kue ulang tahun yang kubeli tidak berbau kue natal! Tidak ada artinya kalau kue ulang tahunnya tetap berbentuk seperti kue natal.

 

“Ah….”

 

Kou sempat menghentikan langkahnya beberapa meter sebelum kami sampai di depan pintu apartemen Masaki. Aku yang melihat apa yang dilakukan Kou sesaat menoleh padanya, kemudian mengalihkan pandanganku ke arah pandangan yang ditujukan Kou.

 

“Jun!”aku sontak memanggil kakakku ketika mendapati pria itu dan teman-temannya berada beberapa meter di hadapan kami. Tepatnya di depan pintu apartemen Masaki.

 

“Oh! Narumi, kau baru datang?!”Jun yang semula sibuk dengan ponselnya segera menyapaku. Ia kemudian mengacak-acak rambutku ketika aku mendekatinya. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan Jun sebagai pengganti salam. Tentu saja aku tak pernah menyukai gayanya memberikan salam!

 

Manager-san mana?!”tanyaku seraya mencari-cari sosok manager mereka yang biasanya selalu ikut serta.

 

“Oh, aku sudah berkata padanya kalau hari ini kami akan pergi merayakan ulang tahun Masaki berlima… Jadi kami menekan pekerjaan kami di awal dan dapat libur sampai tahun baru nanti,”jelas Jun.

 

“Kau nggak sakit lagi, kan?!”aku menaruh tanganku di dahi Jun. Mengingat bahwa pria itu selalu terkena flu ketika akhir tahun tiba. Hal itu dikarenakan banyaknya pekerjaan yang masuk dan ditekan sebelum pergantian tahun datang.

 

“Aku nggak apa-apa. Lepaskan tanganmu!”Jun menepis tanganku.

 

“Ah! Saengil chukhaheyo, Oppa!”aku memberi salam berupa ucapan selamat ulang tahun pada Masaki yang tengah berdiri menatapku seraya membuka pintu apartemennya.

 

Masaki sontak tertawa mendengar apa yang kukatakan. “Kau bicara apa, sih?! Aku sama sekali nggak mengerti,”

 

“Itu bahasa Korea, kan?!”tanya Sho seraya menyeringai. “….kenapa bahasa Korea?!”

 

“Habisnya…. Apa kalian nggak merasa Masaki mirip dengan orang Korea dengan potongan rambut seperti ini?!”candaku.

 

“Aaah! Benar juga!”Sho, Nino dan Ohno menyetujui apa yang kukatakan. Begitu juga dengan kakakku yang hanya menyambutnya dengan tawa. “…..makanya kau memanggilnya Oppa, ya… Hahaha…”
“Oi, tung,-tunggu! Kenapa kalian jadi…… Narumi! Jangan jadi provokator, dong!”protes Masaki seraya memukul kepalaku perlahan. Aku hanya tertawa kecil. Senang melihat wajah protesnya yang mirip dengan anak kecil. “…….silahkan masuk,”

 

 

Kami masuk secara beraturan ke dalam apartemen Masaki setelah pria itu mempersilahkan kami. Jun dan teman-temannya yang hafal betul seluk beluk rumah Masaki segera berjalan memasuki rumah tersebut dan membuat diri mereka seolah apartemen tersebut milik mereka sendiri.

 

Aku mengikuti Nino yang berjalan didepanku. Ia kemudian segera menghempaskan dirinya di sofa ketika kami sampai ke ruang tengah. Melihatku yang hendak menaruh barangku disebelahnya, Nino segera mengangkat kakinya dan merebahkan diri di kursi tersebut. Pria itu kemudian memejamkan mata, pura-pura tertidur.

 

Sial!, aku melayangkan tasku dan memukul kakinya. Pria itu mengaduh seraya tertawa, kemudian memperbaiki posisi duduknya.

 

Aku menelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Mencari-cari sosok Masaki yang belum bergabung bersama kami. Jun yang menyadari apa yang kulakukan segera memanggilku dengan suara yang hampir berbisik, kemudian menganggukkan kepala.

 

 

“Ah… Masaki….”Aku berjalan ke dapur apartemen Masaki dan menemukan pria itu tengah mengeluarkan piring dan gelas. Pria itu menjawab dengan lembut, kemudian menolehkan kepalanya. “…..aku mau ke minimarket sebentar… Ada yang harus kubeli,”

 

“Eh?!”perhatian Masaki sukses teralihkan seluruhnya. “….kau butuh apa?! Kalau aku punya, pakai saja punyaku,”

 

“…..pembalut,”jawabku pelan. “….kau punya pembalut?!”

 

Masaki membelalakkan matanya, kemudian menjawab seraya tertawa kecil, “….kalau itu aku nggak punya! Hahaha…”

 

“Makanya… aku mau ke minimarket sebentar, ya…”ujarku lagi. “….ah! Lalu sambal super pedas yang biasa kubawa juga habis, jadi sekalian beli,”

 

“Kau masih saja memikirkan sambal! Hahahaha,”Masaki tertawa renyah. “…..kuantar ke minimarket terdekat, ya….”

 

 

Aku menganggukkan kepala seraya tersenyum lega. Lega, karena semua berjalan sesuai dengan rencana yang telah kususun bersama dengan Jun. Selama kami pergi ke minimarket nanti, Jun dan yang lainnya akan mempersiapkan apa yang bisa disiapkan untuk memberi kejutan pada Masaki ketika pria itu kembali dari minimarket.

 

Rencana ini juga merupakan salah satu penyebabku bergadang semalam. Dengan memakai strategi pergi ke minimarket ini, kami berdua memikirkan barang apa yang Masaki tidak miliki, sehingga kalaupun aku memintanya untuk mengantarkanku, ia tidak bisa menolak. Belum lagi, aku tak terlalu hafal apa yang ada di sekitar rumahnya karena aku jarang mengunjunginya. Bukan karena tidak mau, tapi ini salah satu strategi yang Masaki gunakan agar tidak terjadi gosip macam-macam yang bisa memburu dirinya.

 

Untungnya tanpa kuminta Masaki sudah mengajukan diri lebih dahulu.

 

Masaki pun menghampiri teman-temannya dan berkata bahwa ia hendak mengantarku sebentar ke minimarket. Jun pun menawarkan diri untuk membantu Masaki mengurus keperluan pesta, dan pria itu pun tidak menolak. Sebelum meninggalkan apartemen, aku menyempatkan diri menatap wajah Jun yang seolah berkata, kalau begitu akan kubuat sesuka hatiku!

 

 

Dasar jahat!, cibirku dalam hati seraya melempar tertawa sinis padanya.

 

 

 

[FIN]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s