[FANFIC] 実に愛しい  6 -EXTRA PAGE/END-

CHINATSU presents,

実に愛しい

相葉雅紀x松本成美

-I only own the story line and the character named Narumi. The basic idea belongs to ‘Kumanishi Kou’. The characters included belong to themselves. これから母語で書かせてもらいますー

お楽しみ

[6/END]

 

 

Aku berjalan berdampingan bersama Masaki ditengah kegelapan malam. Waktu memang masih menunjukkan pukul enam lewat, namun langit telah menjadi gelap karena musim dingin.

 

 

“Maaf, ya… Membuatmu keluar lagi… Padahal kau lagi siap-siap,”ujarku memecah keheningan.

 

“Nggak masalah, kok! Kau nggak perlu minta maaf,”Masaki menggelengkan kepalanya. “….kita lewat sini saja, ya…. Lebih sepi,”

 

 

Aku mengangguk, kemudian berjalan mengikuti kemana langkah Masaki pergi.

 

Masaki membenahi letak maskernya, kemudian mengatur poni rambutnya supaya sedikit menutupi wajahnya. Terkadang aku kasihan padanya, karena setiap kami pergi ke tempat yang banyak dikunjungi orang, Masaki selalu menggunakan sesuatu untuk bisa menutupi wajahnya. Kalau kami pergi berdua, apabila aku tidak menyelaraskan pakaianku dengannya, atau menutupi auraku, akan terlihat mencolok sekali. Terkadang kami juga harus berjalan terpisah, atau sama-sama berpakaian aneh untuk menghilangkan aura Masaki.

 

Jadi public figure itu susah, ya. Kalau aku sedang berpikir demikian, rasanya aku ingin menghadiahi Masaki rambut atau gigi palsu agar ia tak repot menyamar dan dapat mengangkat wajahnya untuk melihat dunia. Tapi tidak mungkin aku memberikannya, kan….

 

Namun sejujurnya, sejak ia mengenalkanku pada orang tuanya tempo hari, gaya menyamar Masaki menjadi lebih ringan namun menyamai aura masyarakat pada umumnya. Entah ia mengubah model rambutnya sebelum pergi keluar, berganti-ganti kacamata, menumpuk lensa kontak dengan kacamata, dan sebagainya. Apalagi waktu kami pergi ke Disney Sea. Bisa dibilang ia hampir tidak menyamar!

 

Tidak seperti dulu, yang seperti apa pun musimnya, ia akan selalu memakai penyamaran yang menutupi hampir seluruh kulitnya.

 

Ah! Tapi itu hanya berlaku ketika kami pergi berdua. Apabila Sho dan yang lainnya hadir, terkadang tanpa melakukan penyamaran pun ia datang dengan bebasnya.

 

“Sudah?!”tanya Masaki yang menungguku di luar minimarket seraya memainkan ponselnya. Aku menganggukkan kepala.

 

“Maaf, ya…. Ini dadakan. Tadi saja aku pakai punya Kou,”ujarku seraya meminta maaf.

 

“Nggak masalah… Kalau itu apa boleh buat, kan,”balas Masaki. “……aku nggak menyangka, kedatangan setelah sekian lama ini diawali dengan mengantarmu beli pembalut ke minimarket,”

 

“Maaf…”

 

“Eh?! Ah! Bukan begitu maksudku!”Masaki segera menepis perkataanku ketika mendengarku meminta maaf. “……aku hanya berpikir, rupanya masih ada yang kau butuhkan yang aku nggak punya dirumahku. Mungkin mulai sekarang aku harus menyediakan setidaknya satu kotak,”

 

Aku tertawa kecil. “Nggak perlu! Kalau kau punya, itu akan menjadi tanda tanya besar untukku!”

 

Masaki hanya membalas dengan tawa uniknya.

 

 

Cklek!

 

Masaki membuka pintu apartemennya, kemudian menuntunku masuk. Kami pun lantas berjalan ke ruang utama dimana semuanya tengah berkumpul.

 

“Lho?! Sepi sekali…. Pada kemana mereka?!”Masaki merasakan sesuatu yang janggal ketika menyadari teman-temannya yang biasa berisik itu tak mengeluarkan suara, padahal semua sedang berkumpul. “Aku kemba…….”

 

“Selamat ulang tahun!!!”

 

 

Pyar!!

 

 

Nino, Jun dan Sho menarik confetti shooter bersamaan dengan masuknya Masaki ke ruang utama apartemennya. Ohno dan Kou yang berada disana pun tak kalah heboh menyerukan ucapan selamat pada Masaki.

 

“Kalian…..”hanya sebuah kata itu yang awalnya keluar dari mulut Masaki ketika kami mengira ia tersentuh. “….Apa yang kalian lakukan?! Rumahku jadi kotor, tahu!”

 

“Oi!!!! Bodoh!!!”seketika celaan dari Nino dan Sho segera menyerang Masaki yang tertawa oleh kalimat yang diucapkannya sendiri.

 

“Jadi kalian mempersiapkan ini selama aku ke minimarket?!”tanya Masaki. “…..berarti yang soal menstruasi itu juga bohong?!”

 

“Hm?! Aku kan cuma bilang mau beli pembalut…”aku menjulurkan lidah. Lagipula mau menstruasi atau tidak, kau nggak perlu tahu, kan?!

 

“Hahahaha…. Sial! Aku benar-benar tertipu!!”Masaki membiarkan dirinya terbawa oleh rasa bahagia yang ia rasakan.

 

 

Acara pesta ulang tahun dilanjutkan dengan acara tiup lilin. Bukannya ikut bernyanyi, Masaki malah tertawa sendiri melihat coklat papan kecil yang terletak diatas kuenya. Nino yang awalnya bernyanyi untuk temannya itu kemudian berhenti dan memukul lengan Masaki pelan.

 

“Kau ngapain, sih?! Seram!”tanya Nino.

 

“Ah! Ng,-nggak…. Aku hanya kelewat senang saja….”Masaki masih tak bisa menghentikan tawanya. “…..ini pertama kalinya aku menerima kue bertuliskan selamat ulang tahun untukku, dan selamat natal yang ditulis kecil-kecil dibawahnya. Biasanya terbalik. Hahahaha…”

 

“Hei! Kau pikir kami nggak pernah memberimu kue ulang tahun?! Lalu kue yang kami beri diatas panggung itu apa?!”protes Jun.

 

“Kau pikir itu hari ulang tahunku?! Kalian semua selalu menekannya di awal, karena pada hari yang sebenarnya, kita semua dapat libur, kan?!”Masaki membalas perkataan Jun.

 

Jun tampak tak bisa membalas perkataan Masaki, namun ia masih tak mau mengalah. Sho yang melihat hal ini tak akan selesai segera melerai mereka berdua dan kembali menarik kami semua ke acara sebenarnya. Ia kemudian mendekati Masaki dan memberinya sebuah bingkisan. Hal itu kemudian diikuti oleh Ohno, Nino, Kou dan aku. Jun yang tadinya masih ingin beradu mulut dengan Masaki pun mengurungkan niatnya dan ikut memberi kado untuk temannya itu.

 

Masaki berterima kasih kepada teman-temannya satu persatu ketika ia menerima semua hadiah itu.

 

“Nino, kau nggak memberiku sesuatu yang konyol lagi, kan?!”Masaki menggoyang-goyangkan hadiah yang ia terima dari Nino.

 

“Nggak, lah!”sambar Nino. “Aku nggak punya waktu untuk memikirkanmu, tahu!”

 

Masaki tertawa menanggapi jawaban Nino. Pria itu kemudian mempersilahkan teman-temannya untuk menyantap makanan yang telah mereka sediakan di atas meja selama aku dan Masaki pergi ke minimarket.

 

“Ah! Aku punya wine di dapur! Akan kuambilkan!”Masaki tiba-tiba bangkit dari tempatnya dan bergegas menuju dapur. Namun, sebelum pria itu menghilang dari hadapan kami, ia menghentikan langkahnya. “Ah! Narumi! Khusus untukmu, ada ginger ale di kulkas. Perasan lemon juga ada. Ambil sesukamu, ya…”

 

Aku mengangguk malu.

 

Sebenarnya tidak ada hal yang harus membuatku malu. Memang benar hanya aku yang berusia paling muda disini, namun pengecualian yang dibuat Masaki terkadang membuatku berpikir bahwa ia masih menganggapku seperti anak kecil.

 

“Waaahhh…. Masaki-kun benar-benar mengurus adikku dengan baik,”gaya bicara Jun yang dibuat-buat lekas membuatku menoleh menatapnya sangsi. Pria berwajah tegas itu kini tampak tengah memainkan alisnya, berusaha untuk menggodaku. “…..sepertinya aku harus membuat ucapan terima kasih resmi karena telah mengurus adikku ini,”

 

“Nggak perlu,”aku menatap Jun sinis, kemudian beranjak dari tempatku dan menyusul Masaki yang berada di dapur. Samar-samar aku mendengar tawa sangsi Nino dan Kou yang membahas pertengkaran kami yang tak berarti. Aku juga mendengar tawa puas Jun yang berhasil membuatku kesal.

 

Aku menghampiri Masaki yang tengah sibuk mengambil gelas wine untuk teman-temannya. Ia yang menyadari kedatanganku sesaat menyapaku, kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada lemari tempatnya menyimpan gelas-gelas Kristal.

 

Aku berjalan melewati Masaki dan membuka pintu kulkas yang ada dibelakang pria itu. Kemudian aku berjongkok dan menatap isi kulkasnya untuk beberapa saat. Mencari ginger ale dan perasan lemon yang baru saja ia sebutkan.

 

“Kau menemukannya?!”tanya Masaki yang mengintip isi kulkasnya. Jarak tubuhnya yang terlalu dekat denganku membuatku dapat memcium aroma tubuhnya. “Ah! Ini dia!”

 

Masaki mengeluarkan sebuah jar bening yang berisi cairan berwarna kuning muda dan beberapa kaleng ginger ale dari dalam sana. Ia kemudian mengumpulkan apa yang mau dibawanya, kemudian meminta tolong padaku untuk membantunya membawakan minuman-minuman tersebut.

 

“Pakai keranjang ini saja… Supaya nggak bolak-balik,”Masaki menyerahkan sebuah keranjang kecil padaku, kemudian memasukkan kaleng-kaleng ginger ale tersebut kedalamnya. Ia juga mengambil sebuah nampan untuk membawa gelas-gelas kristal miliknya dan sebuah ember berisi es batu untuk menaruh wine.

 

“Ah! Masaki….”aku menghentikan langkah Masaki ketika kami hendak memasuki ruang utama. Pria itu menoleh. “…..kalau bisa….. malam ini jangan mabuk, ya?!”

 

“Eh?!”Masaki menatapku heran.

 

“….Ng….. Aku….. Aku ingin mengobrol denganmu,”jawabku canggung. Sial! Aku benar-benar nggak bisa menyembunyikan rasa grogi ini!

 

Masaki menatapku sejenak, kemudian tersenyum kecil. “….kalau begitu izinkan aku minum segelas saja… Setelah itu aku akan menemanimu minum perasan lemon kesukaanmu,”

 

 

***

 

 

Malam semakin larut. Perbincangan kami telah melalang buana. Perut kami telah terisi penuh, dan kami sudah puas tertawa. Aku menatap pemandangan yang ada di hadapanku. Nino yang mulai meninggikan nada suaranya menghadapi Jun yang mulai mabuk, Ohno yang tertawa melihat aksi kedua temannya, dan Sho yang masih asyik mengobrol dengan Kou.

 

Aku tak tahu apa yang Kou bicarakan dengan Sho. Apakah itu juga bisa dikatakan obrolan? Karena Sho tampak menyenderkan lehernya di sofa seraya menatap langit-langit, begitu pula dengan Kou. Terlebih, mata Kou tampak mulai mengerjap pelan. Pertanda ia mulai mengantuk. Sepertinya efek alkohol telah bekerja pada keduanya.

 

Aku beranjak dari tempatku dan berjalan menuju beranda apartemen Masaki. Angin musim dingin segera menerpa rambutku ketika aku membuka pintu geser beranda. Membuatku menutup mata beberapa saat seraya memeluk diriku sendiri untuk membuat diriku lebih hangat.

 

“Narumi….”suara Masaki yang mengejutkanku sontak membuatku menoleh. “….kok nggak pakai jaket?! Nanti masuk angin,”

 

Masaki datang menghampiriku dan menyelimuti punggungku dengan sebuah mantel. “Terima kasih,”

 

Masaki tersenyum lembut, kemudian menepuk kepalaku. “….hari ini kau mau menginap?!”

 

“Ah…. Aku masih belum tahu,”ujarku pelan. “…..kalau memungkinkan untuk pulang, aku akan pulang… tapi kalau Jun mabuk berat, izinkan kami menginap, ya…”

 

“Tentu saja…”Masaki mengangguk setuju, kemudian meneguk air perasan lemon yang dipegangnya. “….Uwaaahhh!! Apa ini??!!! Assaammmm!!!!!! Narumi, kenapa kau suka sekali minuman seperti ini, sih?! Aku bahkan terkejut dengan rasanya meski ini buatanku!!”

 

“Ahahahahahahahahahaha….. Itu ekspresi yang kutunggu!!!”aku tak bisa menghentikan tawaku melihat Masaki yang tak bisa menahan rasa asam akan perasan lemon buatannya sendiri. “Lagipula kenapa kau minum, sih?! Nggak ada yang menyuruhmu minum itu, kok!”

 

“Hahhh!! Urat wajahku seperti ditarik!!!”aku terkekeh melihat Masaki yang masih mengerjap-ngerjap. “Sepertinya ada yang aneh dengan lidahmu! Pasti!!”

 

Masaki seolah berapi-api setelah meminum perasan lemon tersebut. “Ahahahahaha…. Ya sudah, sini! Jangan paksakan dirimu… Biar aku yang habiskan,”

 

“Eh?! Benar?!”Masaki membulatkan matanya. Aku dapat melihat bola mata besarnya itu memohon padaku. Aku mengangguk seraya tertawa kecil. Dengan cepat ia segera menyerahkan gelasnya padaku. “Terima kasih!! Aku tertolong!”

 

“Jangan berlebihan!”aku mendorong Masaki dengan jari telunjukku. Pria itu tertawa kecil.

 

“Ngomong-ngomong, terima kasih, ya…”Masaki tiba-tiba membuka topik pembicaraan baru. “……perayaan ulang tahun ini…. Mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku,”

 

“Pembohong!”cibirku seraya tertawa sangsi.

 

“Sungguh!”balas Masaki cepat. “…..seperti yang kukatakan, karena aku lahir di malam natal, orang-orang yang ingin kuundang untuk merayakan ulangtahun bersama lebih memilih untuk mengadakan pesta natal daripada ulangtahunku. Bahkan keluargaku saja memberiku hadiah natal sebagai hadiah ulang tahun,”

 

 

Aku hanya terdiam mendengarkan cerita Masaki. Keluhannya sesaat memang terdengar seperti cerita anak kecil. Kalau dari luar, tak ada orang dewasa yang pantas mempermasalahkan hal kecil seperti ulang tahun. Tapi kalau memang ia tak pernah merasakannya sejak kecil, sepertinya aku sedikit mengerti rasa kesepian yang dirasakannya. Meski mungkin aku tak pantas mengatakannya….

 

 

“Sejak bekerja dengan mereka, aku mulai merasakan kebahagiaan akan pesta ulang tahun yang dibuat hanya untukku. Bukannya aku nggak bersyukur, aku senang… Mungkin aku juga bersikap egois kalau meminta mereka merayakan ulang tahunku disaat semua orang ingin berkumpul bersama keluarga mereka. Karena itu agar semuanya kebagian, mereka mendahulukanku agar mereka bisa berkumpul dengan keluarga mereka….”lanjut Masaki. Untuk sesaat ia memutar kepalanya dan melemparkan pandangan ke arah teman-temannya yang sudah masuk ke dalam pengaruh alkohol. “…..kami sudah dewasa. Jarang berkumpul dengan orangtua kami adalah sesuatu yang wajar… Tapi bukan berarti ketika seharusnya ada waktu untuk berkumpul, kami mengorbankan waktu kami untuk keluarga dan pergi melakukan hal yang lain. Aku paham hal itu! Aku benar-benar paham!”

 

 

Aku memandang Masaki dalam-dalam. Meski pria itu tak memandangku, aku menikmati diriku yang tengah memandangnya dari samping. Cahaya apartemennya yang menyinari sedikit wajahnya membuat pria itu sedikit lebih rupawan dan elegan dari biasanya. Pria yang kutahu hanya bisa melakukan hal konyol dan kekanak-kanakkan itu kini tengah terlarut dalam pikirannya. Membuatku mengetahui sisi lain darinya.

 

 

“Ah! Maaf…. Kenapa aku jadi curhat,”Masaki tersadar dari lamunannya yang terlalu dalam. Ia tersenyum malu seraya menggaruk pelipisnya. Sedangkan aku hanya menggeleng. Karena aku menikmatinya bercerita.“…Ah! Narumi…. Terima kasih, ya… telah membuat pesta ulang tahun untukku…..dan hadiah ulang tahun darimu…. Aku suka,”

 

Masaki menunjukkan lengan kirinya yang memakai jam tangan yang kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahun. Aku menatap jam tangan itu untuk beberapa saat, kemudian mengalihkan wajah. “Ah… Syukurlah kalau kau suka. Aku hanya berpikir apa yang bermanfaat ketika memikirkan hadiah untukmu,”

 

…..dan apa yang membuatmu bisa terus mengingatku ketika memakainya.

 

“Oh ya?! Aku senang kau memikirkannya. Tapi bukannya ini mahal?!”

 

“Kau nggak perlu memikirkan hal itu,”ujarku seraya menatap pemandangan malam yang terhampar dihadapanku. Berusaha untuk terlihat keren di hadapan Masaki. “….kau sudah memberiku lebih dari cukup… Aku juga harus mengucapkan terima kasih padamu dengan sungguh-sungguh…. Karena telah mengurusku yang seperti ini dan selalu ada untukku….”

 

“Narumi….”

 

 

Grep!

 

 

Aku membelalakkan mataku ketika Masaki tiba-tiba memelukku saat aku baru saja mengumpulkan keberanian untuk menatap wajahnya. Butuh sedikit waktu untukku mencerna apa yang sedang terjadi, hingga memberikan Masaki kesempatan untuk memelukku lebih lama.

 

“Masaki….”panggilku pelan. Tubuhku mulai terasa panas ketika merasakan nafas hangat Masaki berhembus secara teratur dileherku.

 

“Ah! Ma,-maaf….”Masaki yang akhirnya tersadar pun segera melepas pelukannya dan membuat sedikit jarak dariku. Sesaat ia menyadari mantelku yang terjatuh. Ia kemudian mendekatiku kembali untuk menyelimuti punggungku dengan mantel tersebut, setelah itu ia membuat jarak denganku untuk kedua kalinya.

 

 

Masaki melemparkan pandangannya ke pemandangan malam di hadapannya seraya menopang wajahnya yang membuat bibirnya tertutup seluruhnya. Sesekali ia menggaruk kepalanya dengan kasar, kemudian kembali menatap pemandangan malam. Ia bahkan sama sekali tidak menatapku.

 

Aku memberanikan diri untuk menatapnya. Aku dapat melihat dengan jelas wajah Masaki yang memerah tengah memandang rumit pemandangan malam yang terhampar di hadapannya.

 

 

“Masaki…”aku berusaha memecah keheningan yang ada diantara kami.Sebenarnya aku tak yakin dengan apa yang kulakukan. Apakah usahaku memecah keheningan ini akan kembali berubah hening ketika aku melontarkan sebuah pertanyaan yang selama ini kutahan?! Tapi kalau aku tidak mengatakannya, aku tak akan tahu jawabannya. “……..boleh….aku tanya sesuatu?!”

 

 

Kali ini Masaki menatapku terkejut. Heran dengan sikapku yang begitu sopan hanya karena ingin bertanya sesuatu.

 

 

“…….waktu itu kau bertanya, apakah aku sedang ada masalah, kan?!”aku berusaha memancing ingatan Masaki, dan dengan mudahnya pria itu terpancing. Ia kemudian memperbaiki posisi berdirinya dan menatapku, seolah wajahnya menyiratkan kalimat ‘akhirnya kau mau cerita juga’. “Ah! Kalau tentang aku nggak ada masalah, itu benar! Hanya saja….. sebenarnya belakangan ini ada yang mengganjal di pikiranku… Mungkin sebaiknya aku nggak mengatakannya, tapi semakin aku berusaha untuk melupakannya, hal itu semakin berkecamuk dalam pikiranku,”

 

 

Masaki tetap terdiam mendengarkanku.

 

 

“Masaki….”panggilku lagi. “…..hubungan kita ini……sebenarnya apa, sih?!”

 

“Eh?!”Aku dapat melihat dengan jelas mata Masaki yang semakin membulat mendengar apa yang kukatakan.

 

“Hng…. Maaf, aku tahu ini bukan hal yang sepantasnya kutanyakan…. Maksudku…. Padahal aku sendiri yang bilang padamu kalau aku lemah dalam hal seperti ini,”aku berusaha untuk menetralisir kalimatku yang agaknya terlalu mencolok. “……Dulu aku pernah bilang, aku pernah punya pacar, tapi nggak pernah terjadi apapun, kan?! Rasanya aneh kalau aku tiba-tiba bertanya seperti ini, padahal dulu aku berkata demikian…. Tapi…bagaimana pun juga aku ingin tahu…..”

 

Masaki tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia terdiam beberapa saat seraya menatap kosong kearahku. Aku bahkan tak tahu apa yang sedang ditatapnya. Leherku?! Bahu?! Dada?!

 

Tidak, tidak. Kenapa aku malah berpikir ke arah sana?!

 

 

“Menurutku nggak aneh, kok…”Masaki memecah keheningan. “…..setiap orang bisa berubah kapan saja, kan?! Begitu juga denganmu,”

 

 

Aku membelalakkan mataku, terkejut dengan jawaban yang dilontarkan Masaki.

 

 

“…..Kalau kau berkata seperti itu, boleh aku juga mengatakan sesuatu?!”tanpa mengerti maksud Masaki, aku mengangguk. “…..Aku ini sama sepertimu, Narumi…”

 

“Eh?!”kalimat pembuka Masaki tetap tak memberi titik terang di kepalaku.

 

“Aku bukan orang yang pandai menahan perasaanku…”lanjut Masaki. Ketika ia melanjutkan kalimatnya, sebuah tanda tanya besar mengisi kepalaku. Nggak pandai menahan perasaan? Mananya?

 

“….pembohong! Kalau kau nggak pandai, apa-apaan senyum penuh paksaan setiap kali kau tersenyum itu?!……..Ups,”aku segera menutup mulut ketika sadar telah mengatakan hal yang seharusnya tak kukatakan.

 

 

Padahal aku selalu berusaha untuk menyimpannya dalam hati, kenapa sekarang aku malah mengatakannya?! Bodoh!

 

 

“……rupanya kau sadar, ya, Narumi,”perkataan Masaki membuatku segera menoleh padanya. Aku mengangguk kecil setelah beberapa saat menatapnya. “….kupikir aku sudah pandai menyembunyikannya,”

 

“Ah….maaf… Aku sudah mengatakan hal yang nggak perlu,”ujarku lemah. Masaki menggeleng.

 

“….sungguh, kalau boleh jujur, aku ini bukan orang yang bisa mengendalikan perasaanku sendiri, “Masaki mengulangi kalimatnya. “….mungkin kau selalu melihatku tertawa, tapi nggak jarang juga aku melampiaskan emosiku ketika aku sedang seorang diri,”

 

“Eh?!”

 

“Tentu saja aku nggak membiarkan orang lain tahu apa yang membuatku marah… Kau mungkin orang pertama yang kuberitahu tentang hal ini,”lanjut Masaki, seolah tak mempedulikan keterkejutanku. “……sekarang aku sudah nggak apa-apa…. Tapi sampai saat tahun pertama kita bertemu, aku masih sering melakukannya…. Setelah sampai di rumah, aku akan menutup wajah yang kutunjukkan pada dunia luar, berjalan menuju ke kamar dan meninju bantal dengan sekuat tenaga….Terkadang, aku juga berpikir untuk membiarkan orang lain tahu kemarahanku, agar mereka bisa bersikap lebih tenang dan berhati-hati ketika berbicara denganku. Tapi ketika aku baru memutuskan untuk melakukannya, tak lama kemudian aku melihatmu mencekik temanmu sendiri…. Itu adalah hal yang menjadi titik balik dalam hidupku. Aku berpikir, apakah ketika aku melampiaskan kemarahanku, apa aku akan melakukan hal yang sama sepertimu?! Lalu apa yang orang lain akan pikirkan terhadapku?! Aku bukan orang yang bisa hidup seorang diri, karena itu aku selalu tersenyum untuk menarik perhatian mereka. Apa aku siap menghadapi semua itu kalau aku melampiaskan kemarahanku?! Hal itu terus berkecamuk dalam pikiranku, hingga akhirnya saat aku sadar, aku sudah bisa mengendalikan diriku …”

 

 

Aku menelan ludah mendengar Masaki yang berkata demikian. Aku tak merasa mengenal Masaki yang tengah berbicara denganku saat ini. Daripada itu, mungkin aku yang tak tahu apa-apa tentang Masaki. Mungkinkah ini perasaan Masaki yang sebenarnya?! Bagian dari diri Masaki yang ingin selalu kuketahui?! Rahasia dibalik senyum penuh tekanan itu?!

 

 

 

“Kau memberiku banyak pelajaran, Narumi….”Masaki tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menyentuh pipiku. Tangannya yang besar begitu hangat meski ditengah musim dingin seperti ini. “….kau memberiku banyak pelajaran dengan caramu yang seperti anak kecil….kau membuatku selalu ingin melindungimu,”

 

“Masaki….”

 

“……awalnya aku berpikir demikian…. Awalnya aku berpikir, akhirnya aku bisa mengendalikan diriku…. Tapi rupanya nggak! Enam bulan terakhir ini aku merasa ada yang aneh dalam diriku… Bukan kemarahan, tapi sesuatu yang nggak bisa kuungkapkan dengan kata-kata…  Aku sendiri nggak tahu bagaimana cara mengatakannya,”seraya menarik tangannya yang semula menyentuhku, Masaki mengarahkan pandangannya ke bawah. Menatap kendaraan yang berlalu lalang. “……Dadaku selalu terasa berat ketika melihatmu nempel dengan Sho-chan, Nino, maupun Ohno-kun. Mereka memang nggak berbuat apa-apa, tapi ketika kau bersama Ohno-kun, aku seperti nggak mengenal dirimu karena kau terlalu terjun ke dalam imajinasimu. Kau membuat dunia bersama Ohno-kun yang nggak bisa kumasuki…. Kalau kau bersama Nino, aku iri karena kau bisa mengatainya sekasar apapun tanpa ada yang sakit hati. Candaan sarkastik pun bisa kau lakukan padanya. Aku tahu apa yang kusebutkan bukanlah hal yang baik, tapi aku merasa lewat candaan itulah kau seperti melepas rasa penatmu, dan aku nggak bisa menjadi pasanganmu karena aku nggak mau mengataimu… Aku juga iri pada Sho-chan yang tahu segalanya tentangmu. Aku tahu, aku nggak akan bisa menang dari Sho-chan kalau diukur dari jangka waktu kapan aku mulai mengenalmu, tapi aku juga ingin aku mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Aku ingin kau memperlihatkanku bagian dari dirimu yang Sho-chan nggak tahu…”

 

Masaki perlahan meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Ketika aku yang terkejut hendak melepaskan tanganku, Masaki segera mengencangkan genggamannya, seolah sudah memprediksi apa yang akan kulakukan sejak awal.

 

“Narumi….mungkin ini saatnya aku memintamu untuk menjadi kekasihku?!”aku terbelalak dengan perkataan Masaki. Seketika, aku merasa ada sesuatu yang membuncah dalam dadaku. Namun bukannya mengekspresikan hal itu, aku segera membuang muka. “….Narumi…..”

 

“……aku nggak tahu bagaimana harus menjawabnya,”ujarku pelan. “…..Sebelumnya aku sudah pernah bilang, kan… Meski punya pacar pun, nggak akan ada yang terjadi… Bukan berarti aku berharap ada yang terjadi, tapi masalahnya sebenarnya ada pada diriku sendiri,”

 

“…..maksudmu?!”tanpa rasa terkejut, Masaki bertanya padaku.

 

“…..Mungkin kau sudah sangat mengetahui bagaimana orangtuaku dan bagaimana mereka mendidikku sehingga aku menjadi gadis baja seperti ini. Walau aku menyukai seseorang dan berhasil mendapatkannya, aku nggak pernah memiliki keberanian untuk melakukan apapun,”jawabku. “…. Ketika aku memiliki seorang kekasih, aku akan mengalami perubahan drastis ketika berhadapan dengannya. Aku akan menjadi lebih diam, dan nggak banyak mengeluarkan suara. Aku bahkan tak akan memulai suatu pembicaraan atau mengatakan apa yang kuinginkan. Itu karena aku nggak punya keberanian untuk menghadapi kekasihku….Bahkan hanya dengan menyebut kata ‘pacar’saja untuk melabelinya ketika aku berbicara dengan teman-temanku, aku nggak memiliki keberanian. Aku sekaku itu! Bukan, aku sepengecut itu!”

 

Masaki terdiam dengan mata yang sedikit lebih bulat dari biasanya. Ia kemudian tersenyum dan memperkecil jarak diantara kami berdua. “….kau salah, Narumi…. Kau hanya nggak tahu kalau dirimu itu manis… Aku bahkan baru pertama kali melihatmu semanis ini…. Bukan karena kau yang berpakaian lebih spesial dari biasanya, tapi kau yang kacau dengan pikiran yang nggak bisa kau ungkapkan, kau yang nggak mau menatapku dengan wajah memerah, kau yang menceritakan masa lalumu yang nggak pernah kuketahui…. Aku nggak menganggapmu pengecut. Kau manis. Kau bukan kaku, tapi kau memiliki harga diri yang tinggi, sehingga kau berpikiran bahwa kau adalah gadis baja…. Kalau kau nggak menceritakan hal ini padaku, aku nggak akan tahu kalau kau ternyata gadis kecil yang sangat sensitif dengan hal-hal kecil. Ketika aku menganggapmu hidup lurus dan sesuka hati, kau ternyata masih memikirkan hal-hal lain dalam kepalamu… Aku salah menilaimu, Narumi….”

 

“Jangan puji aku seperti itu!”ujarku ketus. Wajahku tak bisa berhenti memanas sejak Masaki menyebutku ‘manis’.

 

“Aku juga suka bagian dirimu yang seperti ini,”Masaki tertawa kecil, kemudian menyentuh pipiku dengan jarinya. “…..jadi, apa jawaban yang bisa kudapatkan dari kalimatmu?!”

 

“….jawaban…..”aku mengulangi kata kunci yang Masaki ucapkan. “……aku…….nggak tahu apa aku bisa menerimamu…. Karena aku sadar aku lemah dengan hal-hal yang berhubungan dengan ‘pacar’…. Aku….. juga menyayangimu, tapi aku nggak mau sikapku padamu berubah begitu aku sadar aku adalah pacarmu…. Tapi aku juga nggak mau kehilanganmu… Rasanya aku nggak bisa membayangkan jika suatu hari nanti kau bersama dengan orang lain…”

 

“Kalau begitu, boleh aku anggap itu sebagai jawaban ‘ya’?!”

 

“Tunggu, Masaki!! Kau dengar apa yang kubilang, kan?!”aku sontak panik ketika Masaki tiba-tiba seenaknya mengambil kesimpulan.

 

“Aku dengar, kok,”Masaki mengarahkan pandangannya ke arah jari-jarinya yang terselubung diantara jari-jari tanganku. “……seperti yang kubilang tadi, semua orang bisa berubah kapan saja… Begitu pula dengan gadis baja sepertimu, Narumi….”

 

“Tapi…….”

 

“Kalau kau menerimaku, itu artinya ada selangkah perubahan yang telah kau buat. Kau tahu apa yang akan terjadi, kau tahu apa yang akan kau lakukan, tapi karena aku sudah mengetahuinya, aku nggak akan membiarkanmu menjadi seperti itu,”ujar Masaki. “……aku janji, ketika kita hubungan kita telah resmi, aku akan membuat segala perasaan gelisahmu menjadi hilang. Aku akan menjawab segala kebingungan yang ada dalam dirimu, dan aku akan membantumu lepas dari rasa tegang yang ada dalam dirimu. Lalu, aku janji, setelah ini aku nggak akan memendam perasaanku seorang diri lagi. Aku akan membagi perasaanku padamu dan lebih terbuka padamu… Bagaimana?!”

 

 

Aku terdiam beberapa saat. Dengan perasaan ragu, aku mengarahkan pandanganku ke arah Masaki dan mencoba untuk fokus menatap mata indahnya. Berkali-kali perasaan ingin kabur dan membuang fokus pandanganku padanya berkecamuk dalam diriku, tapi aku berusaha untuk bertahan dan menatap mata Masaki dalam-dalam. Seolah mencari sebuah jaminan yang bisa kupercaya untuk melindungiku. Dengan begini, aku bisa berubah. Tidak, aku pasti berubah!

 

Aku menganggukkan kepalaku seraya menatap kosong ke arah dada Masaki. Aku berhasil mendapatkan jawaban atas apa yang selama ini kupikirkan. Meski aku tak kuat menatapnya untuk memberi jawaban mantap, aku bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa setelah ini aku pasti bisa berubah.

 

Masaki tersenyum melihatku yang menganggukkan kepala. Ia kemudian melepas genggaman tangannya dan kembali memelukku. Kali ini bukan pelukan tiba-tiba, tapi pelukan perlahan yang begitu intens dan hangat. Aku dapat merasakan dagu Masaki yang bertumpu diatas kepalaku dan membelai kepalaku dengan lembut. Sementara aku yang masih belum terbiasa akan hal ini berusaha untuk mengikuti alur yang Masaki berikan, karena aku sudah berjanji aku akan meninggalkan diriku yang dulu.

 

Aku menarik nafas panjang, sebelum akhirnya aku mengulurkan tanganku dan memeluk Masaki erat. Aku dapat merasakan tubuh Masaki yang hangat dan sedikit aroma manis karena kue dan wine yang semula memenuhi ruang utama apartemennya.  Aku merasakan pelukan yang diberikan Masaki menjadi semakin erat ketika kedua tanganku bertemu melingkari tubuh Masaki.

 

“…..Narumi, kau masih ingat nama Masami yang kuberikan untuk kontakmu?!”suara Masaki yang setengah berbisik terdengar begitu jelas ditelingaku dan membuatku sedikit tergelitik. Aku mengiyakan pertanyaannya. Bagaimana aku bisa lupa nama itu kalau ayah Masaki terus memanggilku dengan nama itu?! “…..nama itu sebenarnya ada artinya…. Masaki no Narumi (Narumi milik Masaki)….”

 

“Eh?!”Aku merasakan wajahku berada pada temperatur klimaks ketika Masaki mengatakan kalimat tersebut. Perasaan meluap dan membuncah muncul dari dalam dadaku, membuat mataku semakin panas hingga air mata seolah akan menetes. Saat ini, aku benar-benar tidak ingin Masaki melihat wajahku! Tapi entah kenapa, aku sangan ingin melihat wajah Masaki ketika dirinya mengatakan hal itu.

 

 

Perasaan apa ini?!

 

Perasaan hangat yang menjalar diseluruh tubuh ini seolah tak tergoyahkan oleh musim dingin. Hatiku terasa lebih ringan, dan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Agak sakit, tapi entah kenapa aku tak merasa keberatan.

 

Apa karena ini malam natal ?!

 

Apa karena ini hari yang istimewa?!

 

Entah kenapa aku merasa lebih rakus dari biasanya. Rasanya aku selalu ingin menatap wajah Masaki, menyentuh tubuhnya, dan mendengar suara lembutnya. Suara lembutnya yang seolah memperlakukanku seperti anak kecil, suara lembutnya yang terdengar manis ketika ia tidak mengerti akan sesuatu, suara lembutnya ketika ia menahan seluruh emosinya. Dalam berbagai arti, aku jadi haus akan hal itu.

 

Berada dalam jarak yang sedekat ini adalah yang pertama untukku. Jika hubungan kami semakin erat, apakah jarak diantara kami bisa semakin dekat?! Bahkan lebih dekat daripada saat ini?! Atau mungkin kami akan bersatu?!

 

 

Ah…. Narumi….

 

 

Hentikan pikiran kotormu!

 

 

“Masaki…”panggilku. Pria itu menjawab lembut. Hasratku akan suara lembutnya segera terpenuhi ketika ia menjawab panggilanku. “……sebenarnya masih ada yang ingin kusampaikan padamu. Tapi sebelum itu, bisa tutup matamu?!”

 

Dalam pelukannya, aku memberikan instruksi pada Masaki. Pria itu menyanggupinya. Perlahan, aku melepas pelukannya, dan menyempatkan diri untuk menatap wajah Masaki yang tengah terpejam hingga puas. Rambutnya yang ringan tampak begitu halus ketika angin musim dingin menerpanya. Kulitnya yang biasanya terlihat agak terbakar sinar matahari kini sedikit pucat karena cuaca. Dan aku pun dapat melihat sedikit kulit yang kering pada bibirnya yang tipis.

 

Aku mendaratkan bibirku pada pipi Masaki. Membuat pria itu segera membuka matanya dan menatapku terkejut. Sementara itu, aku segera membuang wajah, tak membiarkan Masaki melihat wajahku yang habis berbuat nekat.

 

 

Masaki terkekeh geli. Ia segera memelukku erat dan mengacak-acak rambutku. Sebuah ciuman-ciuman kecil juga ia daratkan di kepalaku. Persis seperti seorang ayah yang tengah mencium anak gadisnya. “……kalau begitu, aku juga punya sesuatu yang ingin kusampaikan padamu,”

 

 

Aku membelalakkan mata ketika Masaki mendekatkan wajahnya dengan cepat dan memberikan sebuah ciuman kecil di bibirku. Ciuman yang hanya terjadi sepersekian sekon, tapi sangat membekas diingatanku. Ciuman pertamaku

 

Dapat mengenal Masaki adalah sebuah hal yang begitu membahagiakan. Aku yang berasal dari keluarga didikan keras dapat belajar memahami sebuah keluarga yang begitu santai dan menarik seperti keluarga Masaki. Bukan berarti aku meyerahkan diriku seluruhnya pada keluarga Masaki, tapi dengan melihat keluarganya, aku jadi belajar apa yang baik dan buruk serta apa yang membuatku merasa beruntung berada dibawah didikan keluargaku. Pria itu mengajarkanku rasa saling membutuhkan, saling bergantung, dan saling memperhatikan. Aku bahkan belajar jujur untuk menyampaikan rasa perhatianku melalui dirinya meski tidak kutunjukkan secara langsung.

 

Aku belajar malu darinya. Aku merasa malu ketika aku tak bisa mengendalikan emosiku dan terjatuh dihadapannya. Sementara Masaki yang kurasa berada di dunia yang lebih berat dariku, dapat terus memasang senyum meski sakit hati tengah dirasakan olehnya.

 

Aku juga belajar lembut darinya. Aku belajar untuk memperhalus kata-kataku, gerak reflekku, cara berpakaianku, hingga bagaimana aku menerima semua tugas tanpa merasa keberatan. Masaki memang tidak mengajariku secara verbal, tapi aku yang menganggapnya sebagai seorang figur secara alami mencontoh dirinya agar kami berada dalam posisi yang sejajar.

 

Aku tak ingin menjadi wanita yang memimpin. Aku ingin Masaki yang memimpinku. Meski terkadang aku masih keras kepala, Masaki yang sepertinya tahu benar apa yang terbaik untukku selalu memiliki sebuah cara untuk mendinginkan kepalaku, hingga akhirnya aku patuh pada pilihan yang telah ia tentukan untukku.

 

Masaki adalah sosok yang selama ini kucari. Sosok teman yang sebenarnya rapuh, namun selalu kuat dalam berbagai macam kondisi. Orang yang bisa mengendalikan emosi, membagi masalah, dan bisa mengendalikan diriku. Orang yang bisa menjadi sahabat yang baik, pendengar yang baik, dan figur yang baik. Orang yang bisa menarikku dalam suram ketika aku sedang terjatuh. Orang yang memikirkan segala kebutuhanku demi kebaikanku. Orang yang selalu membuatku merasa senang ketika bersamanya. Orang yang bisa menjadi tempatku untuk berlabuh.

 

Ia adalah orang yang bisa melelehkan seorang gadis baja sepertiku.

 

 

“Narumi, aku baru sadar satu hal,”Masaki tiba-tiba membuka pembicaraan baru ketika kami akhirnya terbawa oleh suasana. “…..kalau begini caranya, tahun berikutnya, ada tiga hari peringatan, dong?!”

 

“Hm?!”aku membutuhkan waktu beberapa saat hingga akhirnya paham apa yang Masaki maksud. Malam natal, hari ulang tahun Masaki, dan peringatan hari jadi kami. “……kalau begitu, untuk tahun berikutnya dan seterusnya, aku akan memilih malam natal,”

 

“Eeeehh???!!!”wajah merengek Masaki membuatku tertawa geli.

 

 

 

 

実に愛しい――終わり

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s