今日は今日であれば良い 1

今日は今日であれば良い

松本潤 X 一十木春花

お楽しみ!

 

「1」

 

 

Siapa yang nggak suka dengan pria tampan?!

 

Semua gadis pasti menyukai pria  tampan. Tak terkecuali diriku.

 

Aku bisa menikmati diriku berada didepan layar televisi berjam-jam sambil menatapi pria tampan yang tampil disana.

 

Terkadang aku berpikir mungkin asyik jika bisa menjadi salah satu dari kehidupan mereka. Kalau itu terjadi, kehidupan apa yang akan kualami?!

 

 

“Ittoki-san! Selamat pagi!”seorang staf menyapaku ketika aku tengah melangkahkan kakiku menuju ruang ganti para artis.

 

“Haruka-chan! Sepertinya Arashi-san akan sedikit terlambat,”seorang produser acara dengan tergesa-gesa datang menghampiriku seraya melihat jam yang bertengger di tangannya. “….sepertinya ada sedikit masalah di stasiun TV sebelumnya… Ah! Aku bisa menekan waktunya sampai lima belas menit. Tapi pastikan kau bergerak cepat ketika mereka datang, ya!”

 

“Baik,”aku mengangguk cepat, kemudian mempercepat langkahku menuju ruang ganti artis saat pembicaraanku dengan Produser-san selesai.

 

 

Namaku Ittoki Haruka. Sejak dulu, aku bermimpi untuk hidup ditengah-tengah gemerlap dunia.

 

 

Dikelilingi pria tampan…. Makanan enak… Lampu yang bersinar…

 

Mungkin aku tak memiliki kemampuan untuk tampil, namun dengan terus berbekal mimpi, akhirnya aku dapat menjadi salah satu dari mereka. Meski tugasku yang sebenarnya adalah dibelakang layar.

 

Aku adalah seorang penata rias. Kesukaanku pada make up membuatku meraih mimpiku untuk berada ditengah-tengah dunia gemerlap. Setiap hari aku bisa keluar masuk stasiun televisi, bertemu dengan artis-artis papan atas, dan karena keahlianku adalah merias, aku bisa bersentuhan dengan mereka secara langsung.

 

Bukan hanya bersentuhan dalam hal komunikasi, tapi juga menyetuh tubuh mereka.

 

Aku dikontrak oleh beberapa artis untuk menjadi penata rias khusus mereka. Salah satunya adalah grup bernama Arashi. Grup idola papan atas yang tidak hanya bergerak dalam bidang musik, tapi juga dalam program televisi lainnya. Mereka tidak hanya bergerak sebagai grup, tapi juga memiliki kegitan solo. Pekerjaanku akan terasa sedikit lebih ringan ketika Arashi melakukan pengambilan gambar bersama. Namun jika mereka sedang terlibat dalam kegiatan solo, terlebih di stasiun televisi yang berbeda, disitulah tantangan yang sebenarnya!

 

……dan kalau aku boleh jujur, Arashi adalah salah satu alasan mengapa aku berada disini.

 

 

“……Arashi-san telah datang!”seruan lantang seorang staf yang berjaga diluar ruang ganti artis segera membuatku bangkit dari tempat dudukku dan segera mempersiapkan alat-alat make up.

 

 

Cklek!

 

 

“Selamat pagi,”Ninomiya-kun tampak memberi salam ketika dirinya memasuki ruang ganti, diikuti dengan Ohno-kun, Aiba-kun, Sakurai-kun dan Matsumoto-san.

 

“Ah! Selamat pagi!”aku membungkuk cepat seraya melempar sebuah senyum kecil pada mereka. “…..hari ini agak telat, ya?!”

 

“Ah! Haruka-chan! Maaf, ya…. Acara penutupan 24 jikan sedikit diperpanjang,”Ninomiya-kun tampak membalas sapaanku. Aku mengangguk mengerti, kemudian melemparkan tatapanku pada Matsumoto-san ketika Ninomiya-kun telah mengalihkan pandangannya.

 

Wajah pria itu tampak kusut. Ia tak mengangkat wajahnya sedikit pun, memberi salam, maupun mengeluarkan sepatah kata ketika memasuki ruang ganti. Ia tampak begitu fokus pada ponselnya. Membuatku penasaran apa yang sedang dilakukannya.

 

“Sho-chan, aku mau tidur dulu, nanti kalau sudah giliranku, bangunkan, ya….”Aiba-kun tampak melepas topi dan jaketnya, kemudian menuju sofa yang ada di pojok ruangan dan segera menghempaskan dirinya.

 

“Jun-kun, mau kutuangkan kopi?!”tawar Ninomiya-kun. Kali ini Matsumoto-san tampak mengangkat wajahnya menatap Ninomiya-kun, kemudian mengangguk kecil.

 

“Haruka-chan! Hari ini juga mohon bantuannya, ya!”Sakurai-kun datang menghampiriku dengan wajah yang basah karena habis mencuci muka. Itu adalah hal yang harus mereka lakukan sebelum sesi rias dimulai.

 

“Sakurai-kun, Ada apa dengan Matsumoto-san?!”tanyaku seraya menyeka wajah Sakurai-kun dengan tisu wajah. “…..wajahnya terlihat kusut,”

 

“Aaah, biarkan saja! Nanti juga kembali lagi,”ujar Sakurai-kun acuh tak acuh. “…..mood-nya hanya sedang nggak bagus saja karena lelah,”

 

Aku mengangguk paham, kemudian melanjutkan tugasku tanpa bertanya lebih lanjut tentang Matsumoto-san.

 

Ya!

 

Alasanku berada disini adalah karena aku menyukai Matsumoto-san. Matsumoto Jun-san. Ia adalah alasanku yang paling kuat mengapa aku suka berdiam diri dihadapan layar kaca hingga berjam-jam. Itu karena aku mengaguminya. Aku selalu ingin mengenalnya dan berada di dekatnya. Beberapa orang yang terikat kontrak denganku juga merupakan orang-orang yang kupuja, tapi dari semuanya, Matsumoto-san tetap berada di peringkat paling atas.

 

Aku bukanlah seorang professional. Aku baru berada di tahun ketiga semenjak masuk ke dalam dunia ini. Pertemuan pertamaku dengan Arashi adalah ketika aku menjadi asisten seorang senior kampusku yang waktu itu mendapat tugas dadakan untuk menata rias Arashi. Aku yang diajak dan tak tahu sama sekali mengenai klien yang akan kutangani tentu saja terkejut ketika kami melangkahkan kaki menuju ruang ganti bertuliskan ‘Arashi-sama’ di pintunya. Terlebih ketika seniorku membuka pintu itu, ia hampir bertabrakan dengan Matsumoto-san yang juga membuka pintu dalam saat yang bersamaan.

 

Matsumoto-san…. Matsumoto-san yang selama ini kukagumi kini berada di hadapanku….

 

Dapat dibayangkan bagaimana aku bersusah payah mengontrol diriku dihadapan Matsumoto-san….

 

Sekarang, hal itu sudah menjadi kegiatan rutinku setiap pagi. Berjalan menuju stasiun televisi, masuk ke ruang ganti para artis, menyentuh wajah mereka, bahkan saat dibutuhkan, terkadang aku mendapat kesempatan untuk memeluk mereka apabila desainer kostum memerlukan bantuan saat pengukuran dilakukan.

 

Ini dunia yang kutinggali sekarang…

 

 

Drrrtt…. Drrrtt…..

 

 

“Aiba-kun! Ponselmu bunyi, tuh!”Sakurai-kun yang baru saja selesai dengan gilirannya melirik ponsel Aiba-kun yang bergetar diatas meja. “…..dari Masami,”

 

 

Pip!

 

 

“Tu,-tunggu! Matsujun!!!”

 

“Aiba-kun tidur!! Kau mau apa?!”Aku terkejut ketika melihat Matsumoto-san mengambil ponsel Aiba-kun dan mengangkat telepon yang masuk tanpa seizin Aiba-kun. Terlebih nadanya begitu ketus. “…..hah?! Ya sudah, nanti saja kalau dia sudah bangun… Iya, 24jikan baru selesai, sebentar lagi mau syuting lagi.. Iya, nanti aku langsung pulang! Bawel!”

 

Matsumoto-san segera menutup telepon dari ‘Masami’, kemudian memberikan ponsel Aiba-kun pada Sakurai-kun.

 

“Matsujun! Kau harus berhenti melakukan hal itu!”Sakurai-kun menerima ponsel Aiba-kun seraya menegur Matsumoto-san. “….walaupun yang menelepon adikmu, tapi tetap saja ini barang orang lain,”

 

“Maaf…. Kebiasaan,”Matsumoto-san tampak setengah menyesali perbuatannya. “….habis kalau melihatnya, aku jadi ingin terus mengganggunya,”

 

“Nggak heran kalau kalian berdua bertengkar terus!”cibir Sakurai-kun.

 

 

Oooh, rupanya adik Matsumoto-san…, ujarku dalam hati. Jadi namanya Masami….

 

 

Aku berusaha menyembunyikan senyumku karena merasa berhasil mengenal Matsumoto-san lebih jauh dalam keadaan seperti ini.

 

Tunggu!

 

Bukannya adik Matsumoto-san memiliki hubungan dengan Aiba-kun?! Kalau tidak salah namanya Narumi, kan?! Apa Matsumoto-san punya adik selain Narumi-san?!

 

 

“Ah! Halo… Narumi?! Maaf, tadi aku tidur… Kau tadi telepon, ya?!”Aiba-kun yang terbangun dari tidurnya tampak melakukan panggilan kembali pada nomor yang menghubunginya.

 

“Hng?!”

 

“Ada apa, Haruka-chan?!”Ninomiya-kun yang datang menghampiriku untuk giliran make up menegurku ketika tak sengaja aku mengucapkan ekspresi kebingunganku.

 

“Ah! Nggak…. Silahkan duduk, Ninomiya-kun,”aku mempersilahkan Ninomiya-kun untuk duduk dan mulai menyeka wajahnya dengan tisu wajah seperti yang kulakukan pada Sakurai-kun. “….tadi aku sempat dengar sedikit, bukannya selama Aiba-kun tidur, telepon yang masuk hanya dari Masami-san?! Tapi tadi Aiba-kun menyebutnya Narumi……”

 

“Ah! Kau nggak tahu, ya?!”ujar Ninomiya-kun ringan. “…..kau tahu kan sebagai pengganti password, Aiba-kun mengganti nama orang-orang di ponselnya?! Masami adalah nama yang ia berikan untuk Narumi,”

 

Aku mengangguk paham. Jadi begitu rupanya….

 

“…..kenapa Masami, ya?! Kalau diucapkan secara lisan, namanya jadi seperti anak kembar,”komentarku.

 

“Aku juga nggak tahu. Mungkin maksudnya Matsumoto Narumi?!”Ninomiya-kun tampak sedikit mengendus.

 

 

Aiba-kun yang memiliki hubungan dengan adik perempuan Matsumoto-san sudah menjadi rahasia umum diantara kami para staf. Sebenarnya, agensi melarang Arashi-san untuk memiliki hubungan dengan seorang wanita, bukan berarti mereka tidak boleh menikah, tapi akan ada saatnya izin itu tiba. Namun karena pasangan Aiba-kun sendiri adalah adik dari Matsumoto-san, sepertinya agensi memaafkannya. Karena kalau itu menjadi gosip sekalipun, itu bisa ditempas dengan menggunakan status Narumi-san yang merupakan adik dari Matsumoto-san.

 

Maksudku, kalau dekat dengan semua anggota keluarganya, mau diapakan lagi?!

 

Mungkin alasan seperti itu yang akan dipakai untuk menjawab media.

 

Sejujurnya, kalau boleh jujur, aku iri dengan Narumi-san. Lahir sebagai adik dari Matsumoto-san, berteman baik dengan Sakurai-kun yang pandai menata semua hal, dekat dengan Ninomiya-kun, bisa menyesuaikan diri dengan Ohno-kun, dan memiliki hubungan dengan Aiba-kun. Dunianya benar-benar dijaga ketat oleh ‘Arashi’. Kurasa orang seperti Narumi-san sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi di dunia ini. Dunianya sudah sangat sempurna bersama dengan orang-orang tampan yang kini menggenggam hati hampir sebagian besar wanita Jepang.

 

Aku pernah bertemu dengan Narumi-san sekali. Waktu itu ia datang ke stasiun teve membawakan barang Matsumoto-san yang tertinggal. Kebetulan saat itu aku juga baru datang dan melihatnya dihampiri oleh Matsumoto-san. Karena mereka tidak memiliki kemiripan wajah, —meskipun sama-sama tegas—aku sempat menyangka bahwa wanita itu memiliki hubungan dengan Matsumoto-san. Aku merasa sangat lega ketika Matsumoto-san menyapaku dan langsung memberitahu bahwa gadis itu adalah adiknya meski aku tak bertanya padanya sedikit pun.

 

Narumi-san bukan seorang public figure. Bukan juga seseorang yang berusaha untuk tampil. Ia benar-benar orang biasa. Bukan berarti ia orang yang aneh, tapi jika direkrut sekalipun, kurasa Narumi-san bukan orang yang berminat pada dunia ini.

 

Itu kesan pertama yang kudapat ketika melihat Narumi-san, yang notabennya belum pernah berbicara denganku sekalipun.

 

 

“Haruka-san, terima kasih untuk hari ini, ya…”Arashi-san mengucapkan salam ketika pengambilan gambar telah selesai. Syuting untuk Arashi hari ini berakhir pukul 14.00, dan setelah ini mereka mendapat libur untuk tiga hari ke depan.

 

Kebetulan untuk dua hari ke depan aku juga mendapat libur, aku pun memutuskan untuk pulang dan menikmati diriku sendiri.

 

“Haruka-san, terima kasih atas kerjasamanya!”Aku sontak menoleh ketika mendapati Aiba-kun yang telah berganti pakaian menyapaku dari dalam lift.

 

“Ah! Aiba-kun… Terima kasih atas kerjasamanya,”balasku. “Hari ini pun kau terlihat stylish, ya… Apa setelah ini ada acara dengan Narumi-san?!”

 

Wajah Aiba-kun lekas memerah ketika aku menyebut nama Narumi-san dalam kalimatku. “……Ng,-nggak ada, sih…. Aku hanya berusaha untuk selalu rapi saja kalau bertemu dengannya,”

 

“Lho?! Memangnya setelah ini kau benar-benar mau langsung menemui Narumi-san?!”aku terkejut melihat Aiba-kun yang termakan omonganku masih tampak bersemangat. Padahal Matsumoto-san saja sudah mengeluarkan aura tidak enak sejak pagi. “….kau nggak merasa lelah?! Habisnya, kan, 24jikan terebi baru saja selesai… Ditambah lagi syuting hari ini…”

 

“Aku datang menemuinya untuk dimarahi, kok,”Aiba-kun tertawa kecil seraya tersipu. “….aku tahu kalau kukunjungi sekarang, ia pasti akan marah dan menyuruhku untuk beristirahat. Tapi bagaimana pun juga aku ingin melihat wajahnya yang sedang marah,”

 

“Maksudmu?!”aku tak menangkap maksud perkataan Aiba-kun. Memangnya apa bagusnya melihat wajah orang yang sedang marah?!

 

“Narumi itu nggak bisa marah… Bukan,—rasanya aneh kalau kubilang nggak bisa marah. Lebih tepatnya ia nggak bisa sembarangan memarahi orang…Cara bicaranya memang blak-blakan dan terkesan galak, tapi kalau  diperhatikan baik-baik, wajahnya selalu bersemu ketika nada bicaranya meninggi. Dan wajah bersemu itulah yang ingin kulihat saat ini,”jelas Aiba-kun seraya tersenyum mendengar ucapannya sendiri. Mungkin ia sedang membayangkan wajah Narumi-san yang bersemu ketika ia mengatakan hal itu.

 

“Heee…. Orang yang sedang jatuh cinta memang beda, ya,”godaku. Aiba-kun tersenyum malu. Wajahnya yang malu-malu itu sesaat membuatku mengerti apa yang membuat Narumi-san jatuh hati padanya.

 

“Sudah, ah! Jangan membicarakan hal itu di tempat kerja,”Aiba-kun berusaha mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana denganmu, Haruka-chan?! Pekerjaanmu hari ini sudah selesai?!”

 

Aku mengangguk. “Iya… Untuk dua hari ke depan aku juga mendapat libur. Jadi aku mau langsung pulang dan menikmati hari liburku,”

 

“Heee….”Aiba-kun menganggukkan kepalanya. “…..apa yang biasanya kau lakukan selama hari libur?!”

 

“Hmmm…. Nggak ada yang khusus, kok… Pulang ke rumah, bersih-bersih apartemen, lalu menonton rekaman televisi yang belum kutonton… Atau berjalan-jalan di pusat perbelanjaan sebentar, atau pergi ke kuil……”

 

“Ke kuil?!”

 

“Iya… Ah! Aku punya kebiasaan pergi ke kuil setiap satu bulan sekali,”ujarku. “…..biasanya aku pergi untuk berterima kasih,”

 

“Berterimakasih?! Untuk apa?!”

 

Berterimakasih karena sampai saat ini aku masih diizinkan bersama Matsumoto-san, ujarku dalam hati. “…..untuk sesuatu yang sudah kucapai hingga saat ini,”

 

 

Aku berusaha untuk menyembunyikan jawaban yang sebenarnya dalam hatiku. Aiba-kun yang mendengar jawabanku tampak terkejut.

 

 

“Haruka-chan hebat, ya…”diluar perkiraan, Aiba-kun malah memujiku. “……mungkin saat ini aku juga harus melakukan hal itu… Ah! Sudah sampai! Aku duluan, ya, Haruka-chan! Selamat beristirahat!”

 

 

Aku membungkuk sopan ketika melihat Aiba-kun melangkahkan kakinya keluar dari lift. Ketika pintu lift kembali tertutup, aku pun menghela nafas panjang.

 

Tak kusangka hari terakhirku ditutup dengan berbincang-bincang dengan Aiba-kun.

 

Aiba-kun adalah pria yang sangat baik. Mungkin pria terbaik yang pernah kutemui. Tidak banyak mengeluarkan argumen, penurut, tidak malu untuk memuji ataupun meminta maaf, dan bisa mengeluarkan apa yang dirasakannya dengan baik. Terkadang aku merasa tak bisa membaca pikirannya jika ia sedang terdiam, tapi ia tak pernah mengeluarkan aura untuk tidak didekati sama sekali.

 

Jika aku menjelaskan sifat Aiba-kun yang seperti ini, siapa yang tidak jatuh cinta pada pria seperti dirinya?! Mungkin hanya wanita bodoh yang bisa menolak dirinya. Tapi Aiba-kun bukan tipeku. Terlebih perannya sebagai Arashi adalah si Polos, yang akhirnya merujuk pada kata ‘bodoh’. Walaupun sebenarnya Aiba-kun cukup telaten, image yang berhasil ia ciptakan sedikit banyak akhirnya berpengaruh pada lingkungan sekitar.

 

Aku sendiri sebenarnya lebih suka pria yang mendominasi. Kuat dengan argumentasinya dan sedikit pemaksa. Pemaksa dalam arti ia bisa memimpinku dengan baik. Mungkin dengan adanya sifat seperti itu, pertengkaran tak dapat dipungkiri, tapi bukannya dengan begitu hubungan akan lebih berwarna?!

 

……dan warna itu hanya kutemukan pada Matsumoto-san.

 

 

Aaaah… Kalau saja aku bisa mengintip kehidupan pribadi Matsumoto-san, mungkin aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini….

 

 

Cring!

 

 

Plok! Plok!

 

 

Aku menepukkan kedua tanganku setelah melemparkan koin ke tempat persembahan. Bulan ini pun, aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengizinkanku untuk berada di samping Matsumoto-san hingga saat ini. Mungkin saat ini jangkauanku untuk meraihnya masih jauh, tapi aku percaya suatu saat aku bisa lebih dekat lagi dengan Matsumoto-san.

 

Sebenarnya, berada di dekatnya saja sudah membuatku bersyukur. Tapi kurasa tak ada salahnya jika meminta lebih dari ini…

 

Aku membuka mataku dan menatap tempat persembahan sejenak, kemudian memutar tubuh dan melemparkan pandanganku ke area kuil yang tidak begitu ramai. Pandanganku pun terhenti pada sebuah tempat untuk menggantung ema, yaitu papan kecil berisi permohonan yang digantung bersama dengan permohonan-permohonan lainnya.

 

Sebenarnya aku tidak terlalu percaya pada ema, tapi entah kenapa kali ini aku merasa ingin menulisnya.

 

Aku pun melangkahkan kakiku ke sebuah bangunan kecil dimana para pendeta yang berjaga menjual ramalan dan papan ema yang masih kosong. Sesuatu yang membuncah terasa di dalam dadaku ketika aku mendapati daikichi tertulis dalam ramalanku. Itu berarti apa yang kulakukan akan membuahkan hasil yang bagus. Orang yang kutunggu akan datang dan semua akan berjalan sesuai dengan keinginanku.

 

Aku tak bisa menyembunyikan perasaan gembiraku ketika mendapat sebuah  daikichi dalam ramalanku. Kurasa setelah ini aku akan pulang dan memajang hasil ramalan ini dalam buku harianku sebagai kenang-kenangan.

 

Setelah membeli sebuah ema, aku pun sedikit menggeser posisi tubuhku agar orang lain yang mengantri bisa mendapat gilirannya. Sambil menatap ema dengan senyum yang tersungging di bibirku, aku membayangkan kalimat apa yang sebaiknya kutulis pada papan permohonan ini.

 

 

Semoga aku bisa hidup bersama Matsumoto-san….

 

 

“Ahahahaha…! Kau terlalu banyak berkhayal, Haru….. Eeehhh??!!!”

 

Aku menjerit ketika mendapati diriku secara tak sadar telah menulis apa yang ada dalam pikiranku. Wajahku terasa panas ketika membaca sendiri apa yang telah kutulis. Aku berusaha untuk menghapusnya seperti orang bodoh. Padahal jelas-jelas aku menulisnya dengan sebuah spidol hitam.

 

“Bagaimana ini…. Apa aku beli lagi saja, ya?!”aku segera merogoh tasku dan mencari uang receh untuk membeli ema lagi. Namun aku tak mendapati sepeser pun uang yang cukup untuk membeli ema, karena uang yang kumiliki sekarang hanya uang kertas. “Sial! Nggak ada lagi!”

 

 

Aku sempat terdiam sejenak dan berpikir untuk mengurungkan niat untuk menggantung ema.

 

 

Apa kubawa pulang saja, ya?!

 

Ah! Nggak mungkin!

Ini akan menjadi hal yang sangat memalukan kalau teman-temanku datang ke rumah!

….tapi kalau kubuang, aku jadi merasa bersalah pada Dewa!

Bagaimana ini?!

 

Sudahlah! Gantung saja!

 

Setelah berdebat dengan diriku sendiri selama beberapa saat, aku pun memutuskan untuk menggantung ema yang telah tertulis permohonan konyol tersebut. Sudahlah…. Toh aku juga nggak begitu percaya pada ema, pikirku.

 

Aku pun melangkahkan kakiku ke tempat orang-orang menggantung ema mereka. Belum sampai tepat di depan tempat tersebut, pikiranku sudah berkecamuk kembali, apakah aku harus menggantungkannya atau kembali mengurungkan niatku. Tapi karena aku sudah memutuskan akan menggantungnya, aku tetap memaksakan kakiku untuk melangkah kesana.

 

 

Bruk!

 

 

“Ah! Maaf!”tak sengaja aku menabrak tubuh seorang pria ketika berjalan tergesa-gesa ingin menggantung ema. Alhasil, ema yang kupegang jatuh berikut dengan ema milik pria yang kutabrak tersebut. Karena merasa bersalah, aku segera memungutnya dengan terburu-buru dan memberikan ema tersebut pada pria itu. “…..ma,-maaf…. Aku nggak sengaja! I,-ini, ema-nya….”

 

“Te,-terima kasih,”pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, namun tak mengangkat kepalanya kembali untuk beberapa saat. Hal itu membuatku rishi dan berpikir bahwa pria ini tidak ada sopan santunnya sama sekali. Maksudku aku sudah menabraknya dan meminta maaf, tapi kenapa ia tidak mau menatapku sedikit pun?!

 

“……Matsumoto-san?!”aku membelalakkan mataku ketika mengetahui pria yang kutabrak ternyata adalah Matsumoto-san. Sesuatu yang berada di dalam dadaku seolah meledak. Aku sontak tak bisa mengendalikan diriku sendiri.

 

“Haruka-chan?!”Matsumoto-san yang semula seolah menghindari wajah orang lain turut terkejut melihat wajahku ketika dia memutuskan untuk menatap orang yang memanggilnya.

 

“Matsumo………..”

 

“Ssssttt!!!”

 

Matsumoto-san lekas membungkam mulutku dengan tangannya ketika aku mencoba untuk bertanya apa yang sedang ia lakukan disini dengan suara yang mungkin bisa menarik perhatian orang lain.

 

“Matsumoto-san, sedang apa kau disini?!”untuk kedua kalinya, aku bertanya apa yang sedang ia lakukan disini. Kali ini dengan volume suara yang bisa kukendalikan.

 

“Apa?! Memangnya orang lain mau apa kalau ke kuil?!”tanya Matsumoto-san sangsi.

 

“Ma,-maaf…”aku reflek meminta maaf mendengar nada bicara Matsumoto-san yang seperti tidak ingin diikutcampuri.

 

“Ah! Nggak… Bukan begitu maksudku,”kali ini nada bicara Matsumoto-san yang terasa seperti pihak yang bersalah. “…..aku hanya berdoa….. dan menulis ema,”

 

“Eh?! Kau juga menulis ema?!”aku terkejut ketika mengetahui bahwa Matsumoto-san rupanya juga melakukan hal semacam ini. “….Kau memohon apa?!”

 

“Jangan lihat!”Matsumoto-san lekas menutup rapat-rapat bagian papan ema yang bertuliskan permohonannya. “…. Kau?”

 

“Ng?! Ng-nggak….. Bukan apa-apa, kok…”aku segera menyembunyikan ema-ku di balik punggung. Mana mungkin aku memperlihatkan hal semacam ini pada orangnya sendiri! Memangnya aku siapa?!

 

“Dasar! Kau berniat untuk balas dendam, ya…”cibir Matsumoto-san. Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuhnya menjadi lebih kaku dari sebelumnya. Ia kemudian menunduk dan menarik topi yang dipakainya untuk menutup sebagian wajahnya. “…..Ha,-Haruka-chan, bagaimana kalau kita mengobrol di tempat lain?”

 

“Eh?!”

 

“….disini terlalu mencolok! Ayo pindah!”bisikan Matsumoto-san terasa seperti alarm minta tolong di telingaku. Melihat dirinya yang kerepotan menutup wajahnya, aku reflek mengangguk dan mengikuti apa yang ia inginkan.

 

Kami berdua pun segera menggantung ema kami tanpa melihat isinya kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s