今日は今日であれば良い 2

「2」

 

“Ayo masuk,”

 

Tubuhku mematung ketika langkahku terhenti di depan sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan ‘Matsumoto’. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Saking tak percayanya, aku sampai tak bisa menata isi kepalaku dan hanya berdiam diri dengan mulut setengah terbuka.

 

“Haruka-chan?! Kau sedang apa?!”tanya Matsumoto-san. Panggilan pria itu segera membuatku tersadar dari lamunanku. Aku segera menggeleng, kemudian mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam pintu yang selama ini hanya menjadi bagian dari mimpi-mimpi belakaku. “Aku pulang…”

 

Matsumoto-san terdengar melantangkan suaranya ke seluruh penjuru ruangan mengumumkan kepulangannya. Namun salamnya dibalas sunyi. Sepertinya tidak ada seorang pun di rumah.

 

Ya!

 

Entah apa yang telah terjadi, kini aku tengah menginjakkan kakiku di rumah Matsumoto-san. Saat ini otakku masih berusaha mencerna apa yang berhasil membuatku kemari. Namun aku hanya bisa mengingat bahwa aku hanya mengikuti arus yang diciptakan Matsumoto-san hingga akhirnya kami sampai ke tempat ini,—bukan, ke rumah Matsumoto-san.

 

Ya ampun !

 

Apa ini?!

Sejak aku menarik sebuah daikichi, hal-hal yang selalu kumimpikan tiba-tiba terjadi secara beruntut. Apa ramalan di kuil itu memang setepat itu?!

 

Kalau tahu begini, kenapa dari dulu aku tidak melakukannya?!

 

Aku masih berusaha menata pikiranku dan memisahkan emosi yang berlebihan dengan akal sehat yang seharusnya bekerja lebih tangkas daripada perasaan menggebu-gebu ini.

 

“Narumi, kau dirumah?!” Matsumoto-san kembali melantangkan suaranya. Mencari adik perempuannya yang tinggal bersamanya. “Ah! Haruka-chan! Silahkan duduk! Buat dirimu nyaman, ya…”

 

 

Gawat ! Aku akan bertemu dengan keluarganya! Aku harus memberi kesan yang baik dihadapan adiknya!, aku segera membenahi diriku ketika sadar bahwa Matsumoto-san akan mempertemukanku dengan adiknya,—meski hanya sekedar memberi salam.

 

 

“Narumi!!!”

 

Seruan Matsumoto-san yang lebih lantang dari sebelumnya membuatku terperanjat. Aku segera menoleh dan mencari sosok Matsumoto-san untuk mengira-ngira apa yang sedang terjadi.

 

“Kau ini! Aku kan sudah bilang, kalau nggak ada siapa-siapa di rumah, jangan pakai headset! Bagaimana kalau nanti ada orang yang masuk?! Atau telepon rumah berbunyi?! Atau tamu datang?!”aku membelalakkan mataku mendengar Matsumoto-san yang tampak marah seraya menceramahi adiknya. Dalam saat yang sama, disatu sisi aku merasa sedikit takut dengan Matsumoto-san yang tampaknya sangat detil dalam berbagai hal. Namun disisi lain aku masih bisa menganggapnya manis karena rupanya orang sepertinya pun masih memikirkan hal seperti ini. Aku seolah melihat sisi seorang bapak dari perilaku Matsumoto-san yang seperti itu.

 

“Habisnya kalau nggak pakai headset, suara-suara itu mengganggu konsentrasi menggambarku, tahu!”aku dapat mendengar suara seorang wanita dengan jelas dari balik pintu tempat Matsumoto-san menyandarkan tangannya.

 

Ya! Suara seorang wanita.

 

Suara seorang wanita yang cukup berat.

 

Bukan suara seorang gadis yang mungkin masih tergolong imut.

 

 

“Jangan banyak alasan!”seru Matsumoto-san galak. “Ayo sini! Aku membawa seorang teman. Beri salam padanya!”

 

“Hah?! Kau bawa teman?!”bukannya sedikit merendah, suara wanita itu terdengar semakin menantang Matsumoto-san. “….kalau kau bawa teman, kau seharusnya tahu sikapmu harus bagaimana, kan?! Jangan memarahiku di depan orang lain kalau kau sendiri nggak mau menanggung malu!”

 

Aku menelan ludah. Sesaat aku merasa seolah berada di tempat yang salah. Galak banget! Apa itu benar Narumi-san?!

 

“Narumi, kenalkan… Ini penata riasku. Namanya Kashino Haruka…”Matsumoto-san berusaha untuk mengubah nada bicaranya saat mengenalkanku pada adiknya. “….Haruka-chan, ini adikku… Mungkin kau juga sudah tahu, ia kekasih Aiba-kun… namanya Narumi,”

 

“Salam kenal… Aku Matsumoto Narumi. Terima kasih telah selalu menjaga kakakku,”

 

“Ah, Aku Kashino Haruka… Senang berkenalan denganmu,”

 

 

Dihadapanku, seorang wanita bertubuh tinggi dengan postur badan yang terbilang cukup seksi tampak membungkukkan tubuhnya dengan sopan. Nada bicaranya yang ia buat agar terdengar lembut tak dapat menutupi gaya bicara aslinya yang blak-blakan.

 

Dengan berbalut pakaian serba minim, aku dapat melihat lekukan tubuhnya yang sesaat membuatku langsung minder. Benar-benar seperti orang dewasa. Sepertinya ia lebih tua dariku.

 

Benar-benar tipe postur tubuh kesukaan Matsumoto-san, batinku. Aku kalah abu!

 

 

“Ah! Haruka-chan! Kuberitahu satu hal, biarpun Narumi terlihat seperti ini, ia baru berusia dua puluh tahun. Jadi kau nggak perlu sungkan padanya,”pernyataan mengejutkan yang dikeluarkan Matsumoto-san segera membuatku kembali menoleh pada Narumi-san yang kembali membungkukkan badannya.

 

 

Dua puluh tahun?! Mahasiswa?! Kekasih Aiba-kun?! Terlihat sedewasa ini?!

 

“Sekali lagi salam kenal, Kashino-san,”ujarnya. Aku hanya mengangguk cepat. Padahal aku belum selesai menata isi kepalaku karena keterkejutan yang diberikan Matsumoto-san dengan membawaku ke rumahnya. Tapi aku sudah dikejutkan kembali oleh latar belakang adiknya yang sesaat sempat membuatku salah paham. “….Ngomong-ngomong, Jun… Tumben kau bawa penata riasmu ke rumah… Apa habis ini ada syuting lagi?!”

 

 

Jun, katanya?! Aku menajamkan telingaku ketika mendengar cara Narumi-san memanggil kakaknya. Jadi ia memanggil Matsumoto-san langsung dengan namanya?! Bukan panggilan ‘kakak’?!

 

 

“Nggak ada… Tadi aku sempat ke kuil sebentar, lalu karena nggak sengaja bertemu dengannya, kuajak saja ke rumah,”jawab Matsumoto-san, tak membuka secara jelas apa yang terjadi beberapa waktu lalu.

 

“Oooh, maksudmu kuil yang kau bilang ramalannya jitu itu?!”tanya Narumi-san pada kakaknya. Matsumoto-san mengiyakan pertanyaan adiknya.

 

‘Kau’ dia bilang?! Tunggu, Narumi-san! Sebagai seorang adik, apa kau nggak merasa kelewat nggak sopan?!, tadinya aku ingin berkata seperti itu, namun aku segera mengurungkan niatku menyadari bahwa aku baru pertama kali bertemu dengannya dan aku bukanlah siapa-siapa disini. Aku bahkan belum tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya.

 

“…..kudengar ema-nya juga bisa benar-benar mengabulkan permohonan,”lanjutnya. Aku segera melirikkan mataku secara diam-diam pada Narumi-san ketika mendengarnya mengatakan hal itu. Yang benar?!

 

“Bukannya ema memang dibuat untuk mengabulkan permohonan?!”Matsumoto-san tampak mencibir adiknya. “…..kau tahu dari siapa?!”

 

“…Masaki….”jawabnya pendek.

 

 

Aku menegakkan posisi tubuhku mendengar Narumi-san memanggil nama Aiba-kun. Nama kecil yang jarang sekali terdengar di telingaku sebagai seorang staf yang bahkan hampir setiap hari bertemu dengan pria itu. Ditambah lagi tekanan yang berbeda ketika ia memanggil nama ‘Masaki’.

 

 

“Ah! Tadi Haruka-chan sedang menulis ema, lho, waktu aku bertemu dengannya di kuil. Apa kita tanya saja?! Apa hal itu sudah terkabul?!”Matsumoto-san menunjukku tanpa menyebutkan dirinya sebenarnya juga menulis sebuah ema. Sial! Sebenarnya aku ingin membalasnya dengan mengatakan bahwa ia juga menulis ema, tapi aku merasa ini bukan saat yang tepat untuk membahasnya.

 

“Oh ya?! Haruka-chan, kau menulis apa?!”Narumi-san tiba-tiba mendekatiku, duduk disebelahku dan langsung memanggilku dengan nama ‘Haruka-chan’. “……ah! Maksudku…….Kashino-san,”

 

“Ah! Nggak apa-apa… Aku lebih senang kau memanggilku Haruka-chan, karena semua orang memanggilku seperti itu,”aku melempar senyum pada gadis itu.

 

“Oh, ya?! Kalau begitu, panggil aku Narumi! Jangan pakai embel-embel apapun!” Narumi,—mulai sekarang aku akan memanggilnya sesuai dengan permintaannya— segera membalas perkataanku dengan nada antusias.

 

Aku hanya mengangguk.

 

Ada apa dengan gadis ini?!

Padahal sampai beberapa saat yang lalu, aku masih merasa ia adalah seorang wanita dewasa dengan aura berbahaya. Suaranya yang keras dan blak-blakan membuatku terus menahan diri untuk mengeluarkan sepatah kata. Namun ketika ia mengajakku berbicara, aku merasa ia bukan seseorang yang sulit untuk didekati. Terlebih ketika beberapa saat kemudian Aiba-kun datang ke rumah Matsumoto-san untuk mengunjungi kekasih kecilnya ini.

 

Persis seperti apa yang Aiba-kun prediksi, Narumi tampak marah ketika melihat Aiba-kun datang mengunjunginya. Persis pula seperti apa yang pria itu prediksi, Narumi berulangkali menyuruh Aiba-kun beristirahat ketika gadis itu menceramahi kekasihnya. Persis seperti apa yang Aiba-kun katakan, wajah Narumi tampak bersemu meski nadanya terdengar seperti orang yang sedang marah.

 

Aku sempat tertawa getir melihat perubahan sifat Narumi yang ekstrim. Blak-blakan, berani, tapi tak jujur ketika ia merasa senang. Kalau yang seperti ini, bukannya namanya tsundere?!

 

Aku sedikit berdehem ketika pandanganku tak sengaja bertemu dengan Aiba-kun. Pria itu sesaat tampak terbelalak, mungkin karena ia terkejut melihat kehadiranku. Namun Aiba-kun segera memberiku isyarat untuk diam, seolah ia memerintahku untuk tidak membeberkan apa yang kami bicarakan di lift siang ini.

 

Aiba-kun, sepertinya kau mendapat apa yang kau mau, ya, aku memberi isyarat dalam tawa kecilku.

 

Suasana rumah Matsumoto-san menjadi ramai ketika aku menyadarinya. Hawa dingin dan mencekam ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini seolah hanya angin lalu. Semakin kuperhatikan,  Narumi dengan gayanya yang blak-blakan namun tak jujur dengan dirinya sendiri membuatku merasa gadis itu benar-benar mirip dengan Matsumoto-san. Tak lupa pula dengan kakaknya, hari ini aku merasa Matsumoto-san adalah milikku meski hanya beberapa jam. Aku dapat melihat berbagai macam sisi dirinya yang tidak pernah kulihat ketika sedang bekerja.

 

…..dan meski tidak bermaksud, sedikit banyak aku juga dapat melihat wajah Aiba-kun yang hanya ia perlihatkan pada Narumi.

 

“….Ah! Sudah jam segini,”aku terkejut melihat jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 21.00. “…..Ma,-Matsumoto-san, sepertinya aku harus pulang…”

 

“Eh?! Kau sudah mau pulang?!”Matsumoto-san segera beranjak dari tempat duduknya dan menaruh kartu yang sedang dipegangnya. Ya! Hingga beberapa saat lalu, kami masih berkumpul berempat dan bermain baba nuki setelah makan malam selesai.

 

“Iya… Maaf, ya… Aku jadi ikut makan malam disini,”ujarku seraya bergegas merapikan barang-barangku.

 

“Nggak masalah, kok,”ujar Matsumoto-san. Pria itu tampak tak melakukan apapun dan memperhatikanku yang sibuk membenahi barang-barangku. “….kuantar, ya?!”

 

“Eh?!”aku segera menatap Matsumoto-san dengan tatapan terkejut ketika pria itu tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantarku. “….ah! Nggak apa-apa… Aku bisa pulang dengan kereta,”

 

“Tapi ini sudah cukup malam, lho… Bahaya, kan, kalau perempuan jalan sendiri di malam hari?! Aku akan mengantarmu dengan mobil,”nada bicara Matsumoto-san terdengar sedikit memaksa. Ia bahkan sudah berancang-ancang untuk mengambil kunci mobilnya.

 

“ng,-nggak! Nggak apa-apa, kok… Sungguh!”aku masih berusaha untuk menolak tawaran Matsumoto-san. “Kalau masih jam segini, jalanan masih ramai… Lagipula, bisa gawat kalau kau mengantarku dengan mobil…”

 

“Kenapa gawat?!”

 

“Bagaimana kalau tertangkap dengan media yang nggak bertanggung jawab dan mereka sembarangan membuat artikel tentangmu?!”

 

 

Matsumoto-san terdiam mendengar perkataanku. Sepertinya ia berpikir apa yang kukatakan ada benarnya juga.

 

“….kalau begitu, setidaknya biarkan aku memanggilkanmu taksi,”tanpa menunggu jawaban dariku, Matsumoto-san segera berjalan menuju telepon rumahnya dan menghubungi pool taksi untuk menjemputku.

 

Melihatnya bersikeras seperti itu, aku seperti tak memiliki alasan untuk menolak. Aku pun membiarkan Matsumoto-san untuk melakukan apa yang ia mau.

 

Sebenarnya aku senang sekali dengan tawarannya. Aku juga tak bermaksud untuk membuatnya mengurungkan niatnya. Hanya saja, aku belum siap apabila nanti aku merasa terlalu senang dan tak bisa mengendalikan diriku, aku akan mengatakan hal yang tak perlu dan membuat Matsumoto-san merasa aku adalah orang aneh.

 

Lagipula bisa dibilang kalimat yang kutujukan kepada Matsumoto-san juga ditujukan padaku. Siapa peduli aku akan menjadi bahan gosip ?! Asalkan pasanganku Matsumoto-san, aku tidak keberatan! Tapi aku sadar, aku yang saat ini tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, melainkan hanya sebagai staf belakang panggung dan bintang yang bersinar di panggung. Aku juga tidak ingin menjadi penghambat Matsumoto-san.

 

Untuk sekarang ini, aku merasa lebih baik kalau perasaan ini kupendam dulu.

 

Entah kapan aku akan mengeluarkannya….

 

 

 

“Haaahhhhhh…….”

 

Aku menghempaskan diriku di tempat tidur dan terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian aku mengguling-gulingkan tubuhku diatasnya dan melepaskan rasa senang yang sejak tadi kutahan.

 

 

“Kyaaaaaa!!!!!”Aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak sekencang-kencangnya disana. “Gawat! Nggak bisa!! Nggak bisa!!!! Haruka!! Kau hari ini sudah berjuang keras!!! Ini benar-benar diluar perkiraan!!! Kau menginjakkan kaki di rumah Matsumoto-san, Haruka!!! Kyaaaaa!!!”

 

Aku menyerukan kalimat-kalimat yang kutujukan pada diriku sendiri. Aku membiarkan apa yang kurasakan dan kupikirkan keluar. Membuat isi kepalaku kosong dan membiarkan dadaku terasa meledak.

 

Merasa dadaku sudah sedikit ringan, aku pun merogoh tasku dan mencari hasil ramalan yang kutarik di kuil siang ini. Aku menatapi tulisan daikichi dengan tatapan lembut seraya memutar balik apa yang baru saja kualami hari ini.

 

Daikichi…. Keberuntungan besar….

 

“Terima kasih, Tuhan…”aku lantas memeluk kertas ramalan itu dan mengendusnya sesaat. Meski aku merasa telah melepaskan semuanya, kilas balik memori itu masih terus memenuhi kepalaku. Untung besok libur! Karena kalau terlalu bersemangat seperti ini, aku merasa tak akan bisa memejamkan mataku!

 

Haruka…. Kau mendapat kemajuan yang sangat besar hari ini, aku kembali memberi pujian pada diriku sendiri.

 

Setelah puas melepaskan apa yang kurasakan, aku pun beranjak dari kasurku untuk membersihkan tubuh. Saking senangnya dengan apa yang kualami hari ini, aku sampai tak bisa berhenti menyenandungkan lagu Arashi bahkan ketika aku sedang berendam sekalipun.

 

Aku membuka password di ponselku dan mencari sebuah kontak yang baru kumasukkan beberapa waktu lalu. Matsumoto Narumi. Bukan hanya mengenai Matsumoto-san, aku pun jadi lebih dekat dengan adik Matsumoto-san. Meski baru pertama kali berhadapan dengannya langsung, Narumi banyak membicarakan  banyak hal sehingga barir diantara kami menipis seiring dengan berjalannya waktu. Hari ini pun kami bertukar nomor kontak karena ia berkata ingin diajari bagaimana cara merias wajah dengan benar. Meski gadis itu juga mengenakan riasan, namun sepertinya ia ingin tahu lebih dalam tentang tata rias. Lucunya, ia berkata seperti itu padaku ketika Aiba-kun tak ada di dekat kami berdua. Ia benar-benar adik Matsumoto-san…

 

Di samping itu, dengan mengenalnya Narumi, aku merasa bahwa hubunganku dengan Matsumoto-san menjadi lebih dekat. Mungkin suatu hari aku akan berkata pada Narumi bahwa aku menyukai kakaknya, tapi tidak saat ini! Aku bermaksud untuk mendekati Narumi lebih dari ini agar aku bisa mendekati Matsumoto-san secara natural.

 

……dan mungkin melalui Narumi, aku bisa memiliki nomor ponsel Matsumoto-san….

 

Mungkin aku bisa cari alasan ada perlu dengannya agar bisa menghubunginya secara langsung, atau aku membuat Narumi memberikan nomor ponselku pada Matsumoto-san…….

 

 

Tidak, Haruka!

Tahan dirimu! Jangan sampai kesenangan ini membuatmu memiliki pikiran licik!

 

 

“Aaah, Matsumoto-san! Sudah, dong! Jangan masuk ke kepalaku teruus!!”aku masih berusaha mengontrol diriku yang masih dipenuhi dengan Matsumoto-san.

 

……hingga akhirnya aku pun terlelap ketika tenagaku hari itu sudah habis.

 

 

***

 

 

Ciiiip… Ciiip….

 

Kicauan burung gereja samar-samar masuk ke dalam pendengaranku. Cahaya matahari yang menembus tirai sedikit menyilaukanku. Memaksaku untuk bangkit dari alam mimpiku. Sepertinya sudah agak siang….

 

Aku memiringkan tubuhku untuk melihat jam di ponselku. Tanganku meraba-raba ke atas meja yang ada di sisi tempat tidur, namun aku sama sekali tak dapat menemukan ponselku. Dengan malas, aku pun sedikit memajukan posisi tubuhku agar jangkauanku lebih panjang.

 

“Ng?!” aku menghentikan gerakanku ketika sebuah benda berat terasa menahan tubuhku. Apa ini?!

 

Dengan mata tetap terpejam, aku berusaha memindahkan beban yang menahan tubuhku untuk bergerak. Paling-paling tumpukan buku yang semalam kubaca jatuh, batinku.

 

Aku memindahkan benda yang menimpaku tersebut. Sebuah benda besar yang panjang, keras, lembut, dan hangat.

 

Hng?! Memangnya aku punya buku yang lembut dan hangat?!

 

“Ssshhhh…. Sshhhh…..”

 

Aku sontak membuka mataku ketika samar-samar terdengar dengkuran halus tepat disebelahku. Dengkuran itu terdengar srmakin jelas ketika aku berusaha untuk memfokuskan perhatianku.  Aku pun mengarahkan pandanganku ke sebuah benda besar yang semula menindihku.

 

 

Tangan?!

 

 

Aku segera terperanjat dari posisi tidurku dan sontak melihat ke arah sang empunya tangan. Kenapa ada tangan memelukku?!

 

 

“KYAAAAAAAAAA!!!!!!!”

 

“Narumi!!! Berisik, ah!!! Kalau mau tidur denganku, tenanglah!!! Kalau nggak bisa, tidur sana sama kecoa di kamarmu!!!”

 

 

Aku menjerit ketika mendapati seorang pria tengah tertidur di ranjangku. Pria itu adalah sosok yang sangat kukenal. Sosok pria yang sangat kukagumi,  yang beberapa jam lalu masih bersamaku.

 

Matsumoto Jun.

 

Kenapa ia bisa berada di ranjangku?! Apa yang kulakukan semalam?!

Aku yakin semalam aku pulang dengan keadaan sadar! Aku ingat semalam aku masih membaca buku sebelum tidur. Aku juga masih ingat bagaimana aku berteriak seperti orang gila karena terlalu senang.

…..tapi kenapa Matsumoto-san berada di sebelahku?!

 

 

Aku berusaha menjauhkan tubuhku dari Matsumoto-san. Kepalaku masih belum mencerna apa yang sedang terjadi. Saking paniknya dengan keberadannya disisiku, aku sampai terjatuh dari tempat tidurku sendiri dan membentur dinding.

 

“Aduuuh…”aku mengaduh ketika kepalaku membentur dinding kamarku.

 

“Ngh… tuh, kan! Rasakan! Makanya kau tidur tenang se…………..”

 

Aku mendapati sosok Matsumoto-san yang beranjak dari posisi tidurnya dan menatapku dengan tatapan terkejut. Matanya yang semula menyipit karena tak rela dipisahkan dari alam tidurnya segera membesar begitu melihatku.

 

 

“…..kau siapa?!”tanya Matsumoto-san. Matanya kembali menyipit untuk memfokuskan pandangannya padaku. Siapa?!

 

Ia kemudian mengambil kacamata yang berada di sisi tempat tidurnya dan kembali terbelalak ketika melihatku. Kali ini lebih terbelalak dari sebelumnya.

 

“…..Haruka-chan?!”aku dapat mendengar suaranya yang hampir berbisik karena saking terkejutnya melihatku. “Apa yang kau lakukan disini?!”

 

“Justru itu yang mau kutanyakan!”aku membalas pertanyaan Matsumoto-san. “…..kenapa kau ada ditempat tidurku?!”

 

“Eh?! Kau bicara apa?! Ini tempat tidurku,”Matsumoto-san tampak tak mengerti dengan apa yang kukatakan.

 

“Tapi…. Seprai ini….. Selimut…. Lemariku…..”aku menunjuk beberapa benda kukenal dengan baik dihadapanku.

 

Matsumoto-san menunduk. Melihat selimut dan seprai yang sedang dipakainya. “…..ini memang bukan punyaku…. Narumi juga nggak punya yang seperti ini………….”

 

Sembari memperhatikan Matsumoto-san yang kebingungan, aku meluaskan pandanganku ke ruangan yang sedang kutempati. Aroma manis dan lembut yang bercampur, ruangan luas yang tidak kukenal, namun banyak barang-barang yang kumiliki.

 

Ini bukan rumahku…. Tapi kenapa barang-barangku ada disini?!

Apa maksudnya ini?!

 

 

“….a,-aku akan memanggil Narumi,”Matsumoto-san tiba-tiba beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar untuk memanggil adiknya. Seiring dengan itu, aku dapat mendengar suara panik Matsumoto-san terdengar hingga seluruh penjuru ruangan di apartemen ini.

 

Sadar tak bisa terus berdiam diri, aku pun mengikutinya keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang utama.

 

Aku membelalakkan mataku dan berdiri mematung ketika melihat ruang utama yang terhampar dihadapanku. Ini apartemen Matsumoto-san. Aku mengenali seluk beluk apartemennya dan warna dominan yang ia pakai untuk furniture-nya meski kemarin aku baru mengunjunginya untuk pertama kali.

 

Tapi ada yang aneh…

 

Tirai beludru Matsumoto-san yang mirip dengan warna kucing Russian Blue kini berubah menjadi warna abu-abu lembut seperti yang kupakai di apartemenku. Meja makan Matsumoto-san yang bersih dari barang apapun kini dilapisi taplak rajutan kecil yang kupakai di apartemenku. Sofa bantal Matsumoto-san yang berwarna hitam kini berubah menjadi warna putih dengan corak kucing, persis seperti yang kupakai di apartemenku. Aku bahkan mendapati kandang dan tas yang kumiliki untuk membawa kucingku di ruang utama apartemen ini….

 

“……Narumi, kau dimana?!”aku menolehkan kepalaku kepada Matsumoto-san yang tampaknya memutuskan untuk menghubungi ponsel adiknya.

 

“Di rumah…. Memangnya kenapa?!”aku dapat mendengar suara Narumi yang berat di seberang sana. Matsumoto-san menghidupkan loudspeaker di ponselnya.

 

“Dirumah?! Maksudmu rumah Ayah dan Ibu?! Kenapa nggak bilang kau mau pulang?!”tanya Matsumoto-san.

 

“Hah?! Kau bicara apa?!”Narumi tampak bingung dengan pertanyaan kakaknya. “……aku di apartemen Masaki,”

 

“Hah?! Jadi kau sudah menyebut apartemen Aiba-kun itu rumahmu?!”aku dapat melihat Matsumoto-san yang berusaha mencibir adiknya, walaupun wajahnya saat ini sedikit bersemu mendengar perkataan Narumi.

 

“Memang aku tinggal disini… Sudah dua tahun, kok,” bukannya merespon cibiran Matsumoto-san, Narumi malah mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Hal itu sontak membuat Matsumoto-san reflek menoleh padaku, kemudian kembali melotot menghadapi ponselnya. “….Jun, kau kenapa, sih?!”

 

“Eh?!”wajah Matsumoto-san tampak kusut. Ia tampak tak mengerti apa yang sedang terjadi. Bukan berarti aku juga mengerti apa yang sedang terjadi diantara kami.

 

“Ah! Jun, hari ini kau dan kakak jadi ikut barbeque di rumah orangtua Masaki di Chiba, kan?!”tanya Narumi. Gadis itu terdengar terus mengeluarkan pertanyaan yang tak dimengerti kami berdua.

 

“Kakak?!”

 

“Haruka-chan!”tegas Narumi sekali lagi. “….kau kenapa, sih?!”

 

Aku membelalakkan mataku mendengar apa yang Narumi katakan. Kakak?! Aku?!

 

Sejak kapan Narumi memanggilku kakak?!

 

 

“Ah! Ng,-nggak…. Nggak apa-apa…. Kalau begitu, nanti aku akan ke rumah Aiba-kun… Beritahu aku jam berapa, nanti aku akan menyusul,”setelah Matsumoto-san berkata demikian, Narumi memberitahu kapan ia akan berangkat ke Chiba bersama Aiba-kun. Setelah itu, Matsumoto-san pun mengakhiri panggilannya dan menatapku dalam bisu.

 

“….a,-ada apa?!”aku sedikit takut melihat Matsumoto-san yang melihatku dalam bisu, dengan wajahnya yang sangat kusut. Tanpa mempedulikan pertanyaanku, Matsumoto-san bergegas cepat menuju koridor rumahnya.

 

Aku dapat mendengar suara Matsumoto-san yang bergumam seorang diri. Tak berbeda dengan apa yang dilakukannya saat kami berada di stasiun TV, ia pun tampak banyak mengeluarkan kata-kata yang sepertinya tak ia tujukan pada siapapun, melainkan keluar begitu saja. Kandang…. Mantel…. Rak sepatu… Sepertinya Matsumoto-san menggumamkan barang-barang yang aneh baginya.

 

“Haruka-chan!!! Kemarilah!!!”

 

Aku sedikit terperanjat ketika mendengar suara Matsumoto-san memanggilku dengan lantang dari arah pintu apartemen. Karena nada bicaranya terdengar panik, aku segera menghampiri Matsumoto-san untuk melihat apa yang terjadi.

 

Matsumoto-san tampak diam mematung ketika aku menghampirinya. Tangannya tampak menunjuk ke arah papan nama apartemen, yang lekas membuatku mengikuti isyaratnya tersebut.

 

松本家 (Keluarga Matsumoto)

松本潤 (Matsumoto Jun)

松本春花 (Matsumoto Haruka)

松本潤子 (Matsumoto Junko)

 

 

“Eh?!”

 

Aku tak dapat berkata-kata melihat apa yang tertulis di hadapanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s