今日は今日であれば良い 3

[3]

 

“…….pokoknya, sekarang kita berangkat ke Chiba dulu! Kita bertemu dengan Narumi dan Aiba-kun disana dan kita tanya apa yang sebenarnya terjadi,”

 

Beberapa waktu lalu, Matsumoto-san memberiku instruksi untuk ikut bersamanya ke Chiba bertemu dengan Narumi dan Aiba-kun. Aku yang masih belum dapat menata pikiranku pun hanya mengiyakan apa yang ia arahkan.

 

Kini, aku sedang duduk di kursi penumpang mobil Matsumoto-san. Menatap jalanan luas yang terhampar di hadapan kami. Membisu.

 

 

Gawat! Aku terlalu gugup.

 

 

Aku masih berusaha untuk menata pikiranku dan bersikap seperti biasa. Meski aku bertekad demikian, nampaknya aku terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, sehingga kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang kuharapkan.

 

Aku melirikkan mataku diam-diam pada Matsumoto-san. Pria itu tampak memegang kemudi dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya bersandar pada pintu mobil. Jari telunjuknya menempel di bibirnya yang terlihat lembut, dan tatapan matanya fokus menatap jalan raya. Tidak! Sepertinya ia bukan fokus pada jalan raya, tapi fokus dengan apa yang sedang terjadi diantara kami.

 

Di saat seperti ini pun, Matsumoto-san tetap terlihat tampan. Bisa-bisanya aku berdelusi dengan pikiranku sendiri.

 

“……Haruka, mulai sekarang tolong panggil aku Jun,”aku terperanjat mendengar Matsumoto-san tiba-tiba membuka mulut dan mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia membuang embel-embel –chan yang biasa ia gunakan saat memanggilku, dan menyuruhku secara tiba-tiba untuk memanggilnya dengan nama kecilnya.

 

“Eh?! Kenapa ?!”

 

“….Nggak, aku hanya berpikir, kalau dilihat dari alurnya, sepertinya untuk sementara ini kau lebih baik memanggilku Jun,”Matsumoto-san tak memberiku jawaban yang jelas. “Pokoknya mulai sekarang panggil aku Jun!”

 

Nada serius Matsumoto-san yang terdengar memaksa membuatku tak memiliki pilihan lain selain menerimanya. “……Kalau begitu, izinkan aku memanggilmu Jun-kun,”

 

Aku menunduk seraya mengatakan hal itu. Wajahku memanas seiring dengan terucapnya kata demi kata. Entah semerah apa wajahku sekarang, tapi aku ingin Ma,—Jun tak melihatku.

 

Jun.

 

Dengan membayangkan diriku memanggil nama kecilnya saja, dadaku berdebar kencang. Aku selalu memimpikan hal ini. Aku berkhayal suatu saat aku akan memanggil nama kecil Jun dengan ringan bagai itu adalah hal yang wajar. Walaupun mungkin saat ini bukan saat yang tepat untuk disebut waktu yang wajar.

 

Jadi seperti ini rasanya mimpi yang terwujud…

 

 

“Kita sudah sampai,”Jun menyadarkanku dari lamunanku. Pria itu bergegas mematikan mesin begitu mobil telah terparkir dengan rapi. Aku segera mengikuti Jun keluar dari mobil ketika pria itu telah melakukan hal yang serupa.

 

Jadi ini rumah Aiba-kun… Aku meluaskan pandanganku. Menatapi bangunan yang terhampar di hadapanku. Di depan bangunan tersebut terdapat plat besar bertulisan Keikarou. Aku sudah tahu kalau rumah keluarga Aiba-kun memiliki usaha restoran Cina bernama Keikarou, tapi aku baru pertama kali menginjakkan kaki kemari. Bukan untuk meliput, melainkan secara pribadi. Dalam dimensi waktu yang tak masuk akal.

 

“Selamat siang,”Jun mengucap salam ketika dirinya melangkahkan kaki menuju rumah yang berada di belakang restoran tersebut. Langkah kakinya menunjukkan ia sudah sangat hafal bagian-bagian rumah Aiba-kun.

 

“Ah! Sudah datang!”Aku melihat Aiba-kun yang sedang menggendong seorang anak perempuan sembari bermain dengan dua ekor anjing. “Junko-chan! Lihat! Papa dan Mama sudah datang!”

 

“Ah! Papaaaa!!” Gadis kecil yang dipanggil Junko tersebut segera turun dari dekapan Aiba-kun dan berlari menghampiri Jun. Jun yang sempat menoleh kebingungan kearahku segera mengambil sikap tangkas dan menyambut Junko yang berlari ingin memeluknya. “…Papa! Dengar, deh! Kemarin Paman Masaki mengajariku cara membuat gelembung dari sabun mandi!”

 

“O,-Oh, ya?!”Aku dapat merasakan kekakuan yang tak dapat Jun tutupi. Yaah, aku merasa itu hal yang wajar, sih….

 

“Ah! Jun! Kakak! Kalian sudah datang?!”Narumi tiba-tiba lewat dihadapan kami seraya membawa dua buah piring berisi daging mentah segar. Meski bawaannya terlihat penuh, ia masih menyempatkan diri untuk menyapa kami. “Ah! Kak! Bisa tolong bantu bawakan daging ini?! Aku akan membantu ibu disana!”

 

“Ibu?! Ibu kemari?!”tanya Jun.

 

“Ibu Masaki!”Narumi mengalihkan kepalanya. Menatap Jun dengan tatapan malas.

 

“Hahahaha! Matsujun kayaknya masih belum terbiasa dengan panggilan itu,”aku dapat melihat Aiba-kun yang menepuk bahu Jun, kemudian mengajaknya untuk bergabung bersama Narumi yang telah jalan lebih dulu menghampiri kami.

 

 

Aku memberi salam kepada sepasang suami istri paruh baya yang tengah sibuk dengan peralatan barbeque mereka. Hampir saja aku berkata ‘salam kenal’ ketika hendak memberi salam. Untungnya aku bisa mengendalikan diriku sebelum sepatah katapun terucap dan menggantinya dengan salam yang lain. Seperti tak asing denganku lagi, ibu Aiba-kun langsung menyambutku dan memintaku untuk membantu Narumi memotong daging dan menyiapkan makanan lainnya.

 

Sembari menyiapkan makanan, aku mencuri pandang menatap Jun yang tengah bermain dengan Aiba-kun, Junko, dan anjingnya.

 

Jadi nama gadis itu Junko… Pikirku. Memang sedikit terlambat untuk mengucap hal itu meski hanya dalam pikiran. Tapi pikiranku untuk fokus pada gadis bernama Junko itu baru muncul sekarang karena sejak tadi aku terfokus pada bagaimana aku harus bersikap menghadapi keluarga Aiba-kun.

 

Eh?! Tunggu sebentar!

 

Berarti….

 

…..kalau mengikuti alur yang ada, Junko itu anakku?!

 

 

“Bagaimana keadaanmu, kak?!”aku terkejut mendengar Narumi yang tiba-tiba berusaha memulai pembicaraan. Panggilan ‘kakak’ yang ia gunakan untuk memanggilku masih membuat telingaku terasa geli. Aku belum terbiasa mendengarnya. Padahal seingatku, beberapa jam yang lalu ia masih memanggilku dengan sebutan ‘Haruka-chan’. Beberapa jam yang lalu dimensi waktu normal. “…..sepertinya lelah, ya?!”

 

“Eh?! Aku sehat-sehat saja, kok…”aku tak mengerti dengan pertanyaan yang Narumi ajukan, dan reflek menggantinya dengan jawaban positif.

 

“Sungguh?! Karena Jun pagi ini jadi aneh, aku pikir ada sesuatu yang terjadi padamu,”ujar Narumi. “….Dengar, deh! Pagi ini ia tiba-tiba meneleponku dan mencariku tanpa alasan yang jelas. Ketika aku menjawab ada dirumah, ia malah mengira aku ada dirumah ayah dan ibu! Apa aku terlihat sesenggang itu sampai ia kira bisa pulang ke rumah orang tua kapan saja?!”

 

“Eeeh?! Hahahaha….”Aku berusaha memberikan jawaban yang kira-kira pas dengan harapan Narumi. Meski sebenarnya aku tak tahu apa yang kukatakan.

 

“….lalu, waktu aku bilang aku ada di apartemen Masaki, ia malah bertanya ‘jadi sekarang kau menyebut apartemen Aiba-kun rumahmu?’! Padahal sudah dua tahun aku tinggal disana,”Narumi tampak mengeluarkan pikirannya ketika menceritakan panggilan yang ia terima dari Jun pagi ini. “Ah! Masaki! Aku sudah selesai memotong dagingnya!”

 

“Iyaa!”jawab Aiba-kun dari kejauhan. “Junko! Ayo potong sosis dengan Paman!?”

 

Aiba-kun tampak berlari menghampiri Narumi seraya menggandeng tangan Junko. Ia kemudian mencuci tangannya dan membantu Junko mengusap tangannya dengan sabun. Setelah itu mereka pun menghampiri kami. Aiba-kun memberi Junko sebuah kursi agar gadis itu dapat berdiri diatasnya dan memotong pisau menjadi bentuk kesukaannya dengan pisau roti.

 

“Junko! Ayo bikin sosis gurita dengan Narumi!”Narumi tampak menghampiri Junko dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Dengan santai ia menyerahkannya pada Aiba-kun, dan pria itu tampak tak protes sedikit pun.

 

“Bibi Narumi!”Aiba-kun yang menyela pembicaraan tampak mencibir kekasihnya. Narumi segera menoleh dan menatap Aiba-kun cemberut. “…..kau ini bukan anak kecil lagi! Sadarlah kalau kau ini sudah pantas dipanggil bibi!”

 

“Aku kan bukan kau! Setidaknya aku masih pantas dipanggil ‘kakak’, kalau kau sudah mutlak ‘paman’,”balas Narumi seraya mengalihkan pandangannya kembali.

 

Aiba-kun tampak mengusap wajah Narumi gemas, yang kemudian diikuti oleh protes dari Narumi. “…..bagaimana kalau sekali ini kau mengerjakan pekerjaanmu sampai selesai tanpa kau serahkan padaku?!”

 

“Nggak, ah! Aku lebih suka kau yang memasak,”tolak Narumi tanpa basa-basi. “….aku lebih suka melihatmu memasak dari sini,”

 

“Meski kau berkata begitu, kalau kau jadi istriku kau yang akan memasak untukku, kan? Aku juga ingin masak masakanmu,”

 

“Kalau begitu, saat itu ayo buat sama-sama,”Narumi tampak tersenyum manis menanggapi perkataan Aiba-kun. Senyum yang sebelumnya kupikir tak akan pernah ia lakukan dengan wajahnya yang dingin. Beraninya aku berkata begitu, padahal berhadapan dengannya langsung saja baru pertama kali.

 

“Tu,-tunggu! Apa yang kalian bicarakan?!”Jun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan akhirnya membuka mulut.

 

“Apa?!”Narumi tampak tak mengerti pertanyaan Jun.

 

Istriku?! Memangnya kau berencana untuk menikahi adikku, Aiba-kun?!”

 

“Aku mengajakmu kesini, kan, untuk mengakrabkan diri dengan keluargaku,”Aiba-kun menjawab pertanyaan Jun dengan wajah yang tak kalah kebingungan. “…..waktu itu juga orangtuamu sudah datang kemari memberi salam,”

 

“Tu,-tunggu sebentar! Narumi, apa ini nggak terlalu cepat?!”aku terkejut melihat wajah Jun yang menyiratkan wajah memohon ketika mendengar adiknya akan menikahi Aiba-kun. Wajah memohon yang mungkin tak disadari Aiba-kun, bahkan Narumi sendiri. Wajah yang mirip seperti anak kecil yang tak ingin ditinggal ibunya. Manis sekali.

 

“Apa sih?! Aku kan juga nggak mau diam saja dan ingin ikut menyusul sepertimu! Jangan maju sendirian dong!”protes Narumi. “….padahal aku belum menikah, tapi kau sudah mau punya anak kedua,”

 

“Eh?!”Aku dan Jun merefleksikan keterkejutan kami secara bersamaan.

 

“Lihat, kan, kak?! Dia aneh!”Narumi tiba-tiba memalingkan pandangannya padaku dan menunjuk Jun dengan kepalanya. “…..Ngomong-ngomong apa yang dikatakan dokter tentang kandunganmu?! Jun sampai aneh begini,”

 

 

Eh?

 

 

“Apa Junji baik-baik saja?!”tanya Aiba-kun.

 

 

Eh?!

 

 

“Apa?! Junji?! Jadi kau sudah memikirkan nama untuk anak keduamu, Jun?! Apa nggak ada nama lain?! Mau berapa Jun yang kau mau buat dikeluarga kita?!”

 

 

Eeeh??!!!

 

 

 

***

 

 

Aku terduduk di sofa apartemen aneh yang sekarang menjadi tempat tinggalku. Mataku menatap kosong ke layar televisi , dan berulang kali aku menghela nafas panjang. Sesekali aku menatap perutku yang ketika kusadari lebih besar dari sebelumnya.

 

 

Apa ini?!

 

Padahal sampai tadi pagi aku masih bisa berdelusi ditengah-tengah kekacauan. Tapi kenapa sekarang tidak bisa?!

Apa karena aku sedang ‘mengandung’?! Jadi aku cepat merasa lelah dengan tubuh seperti ini….

Aaah….

Kenapa aku merasa seperti terjatuh ke lubang yang dalam, ya?!

Bukannya selama ini aku menginginkan kehidupan seperti ini?!

 

“Hidup bersama Matsumoto-san yang selama ini kukagumi”

 

Padahal aku yang biasanya akan mencari segala cara untuk mendekatinya. Aku bahkan kerap kali memikirkan cara licik agar bisa menjadi lebih dekat dengannya. Dengan kejadian aneh yang membuatku tiba-tiba harus hidup bersama Jun seperti ini, bukannya seharusnya aku merasa senang?!

 

 

“Haruka-chan,”panggilan Jun yang terdengar lembut membuatku sedikit terkejut. Aku menolehkan kepalaku dan mendapatinya sedang berjalan ke arahku. Aaaah, disaat seperti ini jantungku masih bisa berdegup kencang melihatnya berjalan seperti pria jantan.

 

“Junko-chan sudah tidur?!”tanyaku. Jun mengangguk. “….maaf, ya…. Aku jadi membuatmu menidurkannya…. Aku anak bungsu, jadi nggak tahu cara menidurkan anak kecil,”

 

“Nggak masalah,”jawab Jun ringan. “….dulu aku sering menidurkan Narumi kalau pulang cepat. Walaupun sudah lama sekali, tapi pekerjaan juga terkadang melibatkanku dengan anak kecil… Lagipula, untuk sekarang ini, tubuhmu harus dijaga, kan,”

 

Aku mengangguk pelan.

 

Entah kenapa, ketika Jun mengatakan hal itu, dadaku terasa sakit. Bukan sakit karena terlalu bahagia dengan kelembutan yang ia berikan padaku. Sakit. Sesak. Padahal kata-kata itu ia tujukan padaku. Tapi aku tak merasa kata-kata itu ditujukan kepadaku. Ada yang salah. Aku nggak memiliki ingatan sama sekali bagaimana aku dapat membangun keluarga bersama Jun.

 

Padahal itu saat-saat yang paling penting. Tapi kenapa aku harus melewatkan hal itu?! Kenapa aku harus melompat ke waktu yang instan seperti ini?!

 

Bukan ini yang kumau. Tapi bagaimana pun juga aku nggak bisa kembali dengan mudah. Aku bahkan nggak tahu bagaimana caranya untuk kembali.

 

 

“…..situasinya jadi aneh begini, ya,”Jun memecah kesunyian diantara kami seraya menatap televisi. Aku menolehkan kepalaku dan menatapnya nanar, seolah ia dapat membaca perasaanku. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku, Jun?!

 

“…..sejujurnya kepalaku masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi,”aku tertawa pahit menanggapi ucapan Jun. “…….di dimensi waktu ini, apa yang terakhir kita lakukan, ya?! Rasanya hari ini aku nggak mengerti apa yang orang-orang bicarakan,”

 

 

Jun terdiam sejenak mendengar perkataanku. Itu bukan hal yang aneh. Kami berdua sama-sama terjebak dalam dimensi waktu yang sama sekali asing bagi kami. Apa kami melompat ke masa depan?! Karena ini semua terlalu aneh jika dikatakan sebagai sebuah candaan. Mungkin papan nama di pintu apartemen masih bisa diutak-atik, tapi anak manusia yang ada dalam tubuhku?! Siapa yang mengutak-atiknya?!

 

“…..kudengar dari Aiba-kun, dua hari yang lalu jadwal kita padat, jadi Narumi menjemput Junko di TK dan membawanya pulang untuk menginap diapartemen Aiba-kun. Lalu kemarin kita berdua pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu,”Jun akhirnya menjawab pertanyaanku setelah beberapa saat terdiam. Aku mendengarkan perkataannya dengan baik. “…….Maaf, aku nggak punya ingatan membuatmu seperti ini,”

 

“Ah! Nggak…”Aku menggeleng cepat mendengar perkataan Jun. “…….ini bukan salahmu. Kita berdua terjebak dalam dimensi yang sama sekali asing seperti ini. Nggak ada kesalahan yang kau buat karena kita berdua sama-sama nggak memiliki ingatan ini,”

 

Jun mengangguk paham. “….tapi aku tetap harus bertanggung jawab,”

 

“Eh?!”

 

“Kalau seperti ini, nggak ada jalan lain selain menjalaninya, kan?!”Jun memperjelas kalimatnya. “….apalagi dengan adanya Junko dan anak yang ada di dalam perutmu itu…. Mana mungkin aku menelantarkan mereka,”

 

Aku hanya terdiam mendengar ucapan Jun. Memang tak ada jalan lain selain menjalaninya, tapi rasanya aku belum bisa menerima situasi ini. Lingkungan familiar yang membuatku merasa asing. Meski sebagian dari mimpiku terwujud bagaikan sebuah simulasi dalam drama, ini bukan drama sama sekali. Aku hidup dengan orang yang kukagumi! Aku membangun keluarga bersama dengan orang yang kupikir tak pernah bisa kugapai. Tapi aku tak memiliki ingatan bagaimana aku bisa hidup dengannya. Aku tak punya skenario tentang apa yang terjadi, dan aku tak punya petunjuk untuk berimprovisasi.

 

Aku tak mau seperti ini…. Aku ingin memiliki ingatan sebelumnya…

 

Aku ingin kembali….

 

 

“Haruka-chan…. Malam ini tidurlah di kamar, aku akan tidur di sofa,”perkataan Jun membuatku menoleh cepat.

 

“Eh?! Ja,-jangan….. Nanti kau masuk angin!”

 

“Nggak akan!”timpal Jun. “Malam ini aku mau menonton rekaman televisi yang belum kutonton, jadi kau bisa memakai kamar sesuka hatimu,”

 

Jun tampak tak menatapku dan terus fokus menatap layar televisi.

 

Pembohong. Pasti bukan itu alasannya! Sekarang tanggal berapa, hari apa dan tahun berapa saja ia tidak tahu! Bagaimana ia bisa mengetahui rekaman televisi yang belum ditontonnya?!

 

“….ya,-yang penting sekarang adalah kondsi tubuhmu….”aku kembali menatap Jun ketika pria itu kembali berbicara. “……Kau harus menjaga tubuhmu dan bayi yang ada di dalam tubuhmu dengan baik,”

 

“Jun-kun….”aku menatap pria itu lembut. Aku baru mengerti maksud pria itu! Wajah Jun kini tampak merona setelah ia berhasil menunjukkan perhatiannya dengan baik. “…..kalau begitu, selamat malam,”

 

“Selamat malam,”jawab Jun pelan.

 

Aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar dimana pagi ini aku terbangun. Kepalaku mendadak terasa sakit. Sepertinya aku terlalu banyak berpikir hari ini. Daripada dikatakan berpikir, sepertinya aku terlalu banyak menggunakan kepalaku untuk mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

 

Aku terduduk di sisi tempat tidurku dan menatap meja kecil yang ada disisiku. Sebuah bingkai foto klasik berwarna putih tampak terpajang rapi disana. Wajahku lekas merona ketika aku mengangkat bingkai tersebut dan melihat apa yang terpampang disana.

 

Foto pernikahanku dan Jun. Foto yang menampilkan Jun menyejajarkan tingginya denganku dan mencium pipiku dengan lembut.

 

“Aaaahhhh!!!!”aku menghempaskan tubuhku di kasur dan memendam kepalaku dalam bantal. Perasaanku campur aduk. Aku tak tahu kemana aku harus memihak. Perasaan kacau menghadapi apa yang terjadi. Perasaan tersipu menerima perlakuan khusus dari Jun. Perasaan bahagia hanya dengan melihat foto pernikahan yang bagaikan mimpi ini. Perasaan sedih karena akut ak punya ingatan semacam itu.

 

Aku yakin, aku tak tertidur selama bertahun-tahun. Mereka yang berada dalam dimensi ini juga berkata melihatku dan Jun kemarin dan hari-hari sebelumnya. Lalu apa yang bisa kusimpulkan atas semua ini?!

 

Sebuah kejadian tidak masuk akal yang akhirnya mau tak mau dikatakan masuk akal?!

 

Aku menghela nafas berat-berat seraya menatap langit-langit kamar. Pemandangan yang tak biasa kulihat. Rasanya tidak nyaman. Aku bukan tipe orang yang tak bisa menginap di rumah orang lain. Sekarang, apartemen asing ini menjadi tempatku melepas lelah. Dengan keadaan seperti ini, mungkin semua akan selesai dengan berpikiran “anggap saja seperti sedang menginap dirumah orang lain”. Tapi, menginap dirumah orang lain?! Dan orang lain itu lelaki?! Dan kau tidur satu ranjang dengan lelaki itu?! Terlebih sebelumnya hubungan kalian tak lebih dari hubungan kerja?! Jangan bercanda!

 

 Sekali lagi, aku menghirup udara dalam-dalam. Aroma apartemen lamaku yang bercampur dengan aroma apartemen Jun tercium dengan jelas di indera penciumanku. Ini tidak benar….

 

 

Klek!

 

Aku berjalan keluar kamar dan menghampiri Jun yang masih menonton televisi seraya merebahkan dirinya di sofa.

 

“Haruka-chan?! Ada apa?!”tanya Jun seraya bangkit dari posisi tidurnya.

 

“……didalam saja,”ujarku pelan. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam untuk menghindari tatapan Jun.

 

“Eh?!”

 

“……Sepertinya lebih baik kau tidur didalam saja,”aku mengulangi ucapanku. “….lagipula….. itu kamar kita,”

 

Aku mengangkat pandanganku perlahan dan mendapati Jun yang terbelalak menatapku. Kedua pipinya perlahan terlihat merona, dan saat pandangan mata kami bertemu, ia segera mengalihkan pandangannya dan kembali menatap televisi.

 

“….ki,-kirain ada apa!”nada bicara Jun terdengar meremehkan. “…….ka,-kalau begitu…. aku akan menyusul… Kau duluan saja,”

 

 

Aku mengangguk, kemudian kembali melangkahkan kaki ke kamar.

 

 

Jun tersipu malu….

 

Manisnya….

 

Eh?! Tu,-tunggu!

 

Jangan-jangan simpatiku tadi diartikan sebagai sebuah ‘ajakan’?!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s