今日は今日であれば良い 4

[4]

 

Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa aneh itu bermula. Ketika aku membuka mata di keesokan harinya, aku masih mendapati Jun terlelap disampingku. Wajah tidurnya yang menghadapku membuatku tersipu malu setiap kali melihatnya. Awalnya aku terkejut, namun aku berbicara pada diriku sendiri untuk menganggap itu adalah sebuah hadiah khusus untukku.

 

Tiga hari ini juga kami telah memainkan peran dengan baik sebagai suami istri. Kami berbagi tugas sesuai dengan keahlian kami agar semua pekerjaan rumah bisa diselesaikan dengan baik. Aku membangunkan Junko, mengurus pakaian dan membersihkan rumah, sedangkan Jun memasak, memandikan Junko, membuang sampah dan mengantar Junko ke TK.

 

Namun permasalahannya adalah hari ini….

 

Ini hari pertama kami kembali bekerja setelah mendapat libur. Hanya itu yang tidak berubah dengan waktu sebelumnya. Malah hari liburku yang semula hanya dua hari berubah menjadi tiga hari. Aku mendapati hal itu ketika melihat agendaku. Tak hanya itu, jadwal bekerjaku juga berkurang dan aku bisa selesai bekerja sebelum jam lima sore.

 

Apa ini toleransi yang kudapat karena aku sedang mengandung?!

 

 

“Halo, Narumi?! Bisa kau ke rumahku dan mengantar Junko ke TK?! Iya… Hari ini aku sudah kembali bekerja,”aku mendapati Jun yang tengah menghubungi Narumi ketika aku baru selesai membangunkan Junko. “Iya…. Tolong, ya…”

 

“Jam berapa manager akan menjemput?!”tanyaku seraya membantu Junko duduk di kursi meja makan.

 

“Ah, aku nggak tahu…. Di buku agendaku sih tertulis jam 11.00 nanti ada rekaman, tapi aku belum mendapat pesan sama sekali kapan ia akan menjemputku,”jawab Jun seraya memeriksa ponselnya. “….apa mungkin kutelepon saja, ya?!”

 

“Kalau begitu, aku siap-siap dulu, ya….”ujarku ketika Jun telah selesai menyiapkan sarapan dan duduk disamping Junko.

 

 

Ini aneh. Seharusnya disaat seperti ini aku masih merasa panik dan mencari jalan keluar agar bisa kembali ke dimensi awal. Tapi baik diriku maupun Jun, sepertinya tidak ada diantara kami yang berusaha untuk mencari jalan keluar. Bukan berarti kami tak ingin kembali, tentu saja aku merasa tak nyaman dengan semua kejanggalan yang seolah terlihat normal ini, dan aku yakin Jun pasti merasa privasinya terganggu dengan kehadiran diriku.

 

Namun sepertinya kami berdua lebih memilih untuk menjalani kehidupan saat ini daripada harus pusing memikirkan bagaimana harus kembali ke waktu yang sebenarnya. Kalau dikatakan berubah, tidak ada yang berubah dengan orang-orang. Yang berubah hanya aku, Jun dan kondisi internal diantara kami berdua seperti adanya Junko, seorang anak dalam perutku dan statusku yang entah sejak kapan menjadi istri seorang Matsumoto Jun.

 

Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan kondisi seperti ini. Maksudku, mungkin ini adalah simulasi atau drama kecil yang menggambarkan bagaimana kehidupanku dan Jun ketika kami menjadi sebuah keluarga. Sekilas, kami mungkin terlihat seperti keluarga normal—terlepas dari dimensi aneh yang sedang kami kunjungi, kami bisa berbagi tugas, membicarakan hal-hal yang mungkin dilakukan oleh keluarga pada umumnya, mengurus Junko yang masih kecil, menghabiskan waktu berdua ketika Junko telah terlelap. Tapi hanya itu! Hanya sampai situ! Kami tidak melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengobrol dan menanyakan kondisi satu sama lain.

 

Jun yang terus mengkhawatirkan kondisi tubuhku, dan aku yang terus berkata “terima kasih atas kerjasamanya” atas drama yang telah sukses kami lakukan setiap harinya.

 

Kalau memang hubungan kami adalah suami istri, aku ingin ketika aku menjadi istri dari seseorang, aku tetap mendapat sentuhan yang biasa didapatkan seorang wanita dari sang kekasih. Makna dari seorang suami itu adalah kekasih yang abadi, kan?! Menurutku tak lazim apabila seorang kekasih memutuskan untuk menikah dan menghentikan sentuhan cinta itu karena pernikahan telah menjadi jaminan ikatan lahir dan batin.

 

Aku menginginkan sentuhan lembut itu. Sentuhan hangat yang akan selalu menjadi momen manis dalam ingatanku. Untuk saat ini, mungkin semua itu hanyalah khayalan. Tapi kurasa tidak ada salahnya berkhayal untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

 

….syukur-syukur kalau pasanganku adalah Matsumoto Jun….

 

 

“Matsumoto-san, selamat pagi…”aku mengedikkan bahu ketika seorang staf televisi menyapaku dengan nama Matsumoto.

 

Benar juga, namaku sudah berubah menjadi Matsumoto Haruka…. Aku harus membiasakan diri dengan nama panggilan itu!

 

“Haruka-san, selamat pagi!”salah seorang manager Arashi menyapaku dan menghampiriku seraya berlari kecil. “…..suamimu?!”

 

“Eh?! Ia datang bersama manager-nya,”jawabku polos. Kenapa tanya padaku?!—Bukan! Kenapa kau bertanya hal yang sudah pasti padaku?!

 

“Lho?! Tumben?! Biasanya kalian datang bersama dan bertemu dengan manager pribadinya langsung di stasiun televisi?!”tanyanya. Gawat! Disaat seperti ini, apa yang harus kukatakan?!

 

“Eh?! Ya,–yaah…. Karena hari ini kami mulai kembali bekerja, J,-Jun-kun sedang menunggu Narumi-chan yang akan menjemput Junko-chan dan membawanya ke TK,”aku berusaha untuk meminimalisir kebohongan dengan hal yang kuketahui pagi ini.

 

“Benar juga, ya….” Manager tersebut mengangguk paham. “Ah! Haruka-san! Bagaimana kondisi tubuhmu?! Apa kau sudah merasa lebih baik?!”

 

“Eh?!”

 

“Kau nggak ingat?! Tepat setelah jam kerjamu selesai, kau terduduk di depan lobi stasiun televisi sembari memegangi perutmu. Untung waktu itu Matsumoto-kun lewat bersama Aiba-kun! Mereka langsung membawamu ke rumah sakit saat itu juga,”jelas manager tersebut. “….lalu, jadwalmu untuk keesokan harinya akhirnya digantikan oleh orang lain, sehingga kau mendapat libur lebih cepat dan diperpanjang satu hari menjadi tiga hari demi kesehatanmu,”

 

Aku terdiam seraya mengangguk perlahan mendengarkan cerita sang manager. Ternyata hal seperti itu juga terjadi padaku! Rasanya aku seperti mendapat petunjuk untuk melakukan improvisasi di cerita yang akan datang.

 

 

“Selamat pagi,”

 

Aku menolehkan kepalaku ketika mendengar suara Jun memasuki ruang rias. Ninomiya-kun, Aiba-kun dan Ohno-kun yang sedang menunggu giliran menjawab salam Jun dengan gaya khas masing-masing. Ninomiya-kun yang menjawab sekenanya, Ohno-kun yang malas membuka mulut dan Aiba-kun yang sepanjang penglihatanku selalu bersemangat.

 

“Tumben, nggak datang bersama?!”Ninomiya-kun yang pada dimensi ini tak mengalami perubahan mengajukan pertanyaan kepada Jun yang meletakkan tas disampingnya. Pria berkulit pucat itu tampak tak mengangkat kepalanya sedikitpun dari game yang tengah dimainkannya, namun mulutnya terus berbicara.

 

“Ah… Ya…. Hari ini aku menunggu Narumi datang untuk membawa Junko ke TK,”sekaligus terkejut, aku menghela nafas lega ketika jawaban Jun selaras dengan alasan yang kukatakan pada manager. Dengan begini aku tak memiliki kebohongan apapun! “Ah! Haruka-chan, kau sudah sampai?!”

 

“Eh?! U,-un…. Seperti yang kau lihat,”jawabku gugup. Disaat seperti ini, aku malah tak tahu apa yang harus kulakukan. Karena ini pertama kalinya Jun mengajakku berbicara dihadapan anggota yang lain. Apalagi pertanyaan ‘tak lazim’ seperti “kau sudah sampai?!”. Kalau di dimensi awal, ini akan menjadi sebuah berita besar!

 

“Kenapa nggak menghubungiku?!”aku sedikit tergerak dari tempatku berdiri melihat Jun yang tiba-tiba sedikit mengerutkan dahinya melihatku. “Setidaknya beritahu aku, dong, kalau sudah sampai,”

 

“Ah, anu….”Disaat seperti ini aku merasa dibuat bingung olehnya. Apa ia serius mengatakannya?! Atau ini hanya bagian dari aktingnya?! Lagipula, aku kan nggak punya nomornya!

 

Ah, nggak! Kami sekarang suami istri, seharusnya aku punya nomornya!

 

“Sudah…. Sudah…. Hentikan pertengkaran suami istri ini! Masih pagi, nih,”Ninomiya-kun beranjak dari kursinya dan menepuk bahu Jun perlahan.

 

“Hah?! Aku bicara biasa, kok,”masih dengan kening yang berkerut, Jun berkilah.

 

“Kalau bicara biasa, kau nggak akan mengerutkan alismu,”timpal Ninomiya-kun.“Ah! Sho-chan, sudah selesai?!”

 

“Iya… Giliranmu, ya?! Silahkan!”ujar Sakurai-kun seraya memberikan tempatnya pada Ninomiya-kun.

 

Ninomiya-kun mengangguk, kemudian segera datang menghampiriku. Aku menatap pria mungil itu berjalan ke arahku. Rasanya aku ingin mengatakan terima kasih karena telah membuat Jun tak berkata apa-apa lagi. Tapi tak mungkin aku mengatakannya di hadapan Jun!

 

Sebenarnya ini bukan yang pertama kali. Sejak aku bekerja dengan Arashi, secara natural aku mempelajari sifat mereka masing-masing. Namun hanya sifat Jun yang tak bisa kukendalikan. Maksudku, aku tak tahu harus bersikap seperti apa ketika berhadapan dengan Jun, terlepas dari rasa sukaku.

 

Jun bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Semua akan terlihat dengan jelas di wajahnya apabila terjadi sesuatu. Terlebih ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, atau pagi hari. Jun bukan orang yang pandai menghadapi pagi hari. Sering kali ia datang ke stasiun televisi dengan wajah bangun tidur, wajah kusut, atau wajah dengan pikiran kosong yang kemudian disusul dengan tidur di ruang rias.  Atau, ketika rapat baru saja selesai, atau sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, perasaannya dapat terbaca dengan jelas hanya dengan mendengarnya berbicara. Karena saat itu, nada bicaranya yang berubah akan menjelaskan apa yang kira-kira terjadi. Entah hal yang menyenangkan atau hal yang buruk.

 

Meski ia berusaha sekeras mungkin, atau mungkin semakin jago mengendalikan wajahnya, tapi nada bicaranya tidak bisa berbohong. Mungkin dirinya sendiri tidak sadar, tapi kami sangat mengenalnya dengan baik! Kapan harus bercanda dengan Jun, berbicara serius dengan Jun, atau tidak membuka mulut sama sekali dengan Jun.

 

Tapi tak jarang pula kami dibuat bingung olehnya. Karena terkadang, meski ia berusaha untuk berbicara seperti biasa, nada bicaranya akan meninggi seolah-olah sedang marah. Dan ketika kami berusaha untuk menenangkannya, sebaliknya ia malah bersikeras berkata bahwa ia sedang berbicara seperti biasa.

 

“Hei…. Aku ingin mendengar pendapat kalian,”Jun yang semula asyik bermain dengan ponselnya seraya menunggu giliran tiba-tiba berbicara. Aiba-kun, Sakurai-kun, Ohno-kun, bahkan Ninomiya-kun yang sedang kutangani pun segera fokus pada Jun yang memecah kesunyian. Begitu pula denganku. “…..seandainya, ketika kalian membuka mata di pagi hari, lalu ada seorang perempuan tertidur di ranjang yang sama dengan kalian, apa yang akan kalian lakukan?!”

 

“Eh?!”Aku terbelalak mendengar pertanyaan Jun. Begitu pula dengan keempat rekan kerjanya.

 

Aku segera menunduk. Pandanganku berlarian kesana kemari, seolah meminta tempat untuk berlindung.

 

“Kau ngapain, J?!”Ninomiya-kun yang sedang sedang kutangani segera berputar menatap Jun. “….kau mabuk lalu berbuat sesuatu?!”

 

“Matsujun, Haruka-chan ada di hadapanmu, lho?!”timpal Aiba-kun.

 

“E,-eh?! Tu,-tunggu dulu!! Ini bukan soal aku!”Jun segera berkilah ketika ia tersadar akan reaksi teman-temannya. Aku sedikit mengerutkan dahiku ketika melihat reaksi itu. Apa ia mengatakan hal itu diluar kesadarannya?! “….i,-ini soal temanku… iya, soal temanku….. beberapa hari lalu aku bertemu dengan teman lamaku, lalu ketika kami tengah mengobrol, ia bercerita mengenai hal ini,”

 

“Lalu?!”

 

“……te,-temanku bilang ia ingat dengan jelas kalau ia pulang dalam keadaan sadar. Ia nggak mabuk dan tidur cepat karena kelelahan. Tapi ketika terbangun di pagi hari, ia mendapati seorang wanita yang sedang dekat dengannya tidur di ranjang yang sama dengannya,”lanjut Jun.

 

Sedang dekat dengannya?! Aku?!

 

Tidak mungkin! Ini pasti hanya karangannya saja agar terdengar klise…

 

“….ah! Daripada dekat dengannya, mungkin lebih tepat kalau dikatakan ia sedang mendekati wanita itu….Ah, bukan! ….Berusaha mendekati gadis itu!?”

 

 

Eh?!

 

Apa maksudnya?!

 

 

“Po,-pokoknya ini nggak terjadi padaku! Ini masalah teman lamaku yang mendapati seorang rekan kerja wanitanya tidur di ranjang yang sama saat ia terbangun…  Haruka-chan juga tahu hal ini… Ya, kan?!”masih dalam keterkejutanku, Jun tiba-tiba menyeretku dalam pembicaraannya.

 

“Eh?! I, iya….”aku mengiyakan kalimat Jun tanpa berpikir kembali apa yang pria itu katakan padaku.

 

“….kalau seperti itu, bukannya kau yang lebih tahu cara mengatasinya?!”Ninomiya-kun memecah keheningan aneh diantara kami.

 

“Eh?!”

 

“Ah! Benar juga! Kalau dipikir-pikir, nasib temanmu memang mirip dengan kalian berdua, ya….”timpal Aiba-kun. “…..kalian berdua juga berawal dari rekan kerja biasa, kan?!”

 

“Eh?! Y,-ya…”secara reflek aku menatap Jun, begitu pula dengan pria itu. Tatapan kami saling bertemu, tak tahu harus menjawab apa.

 

“Kalau begitu seharusnya kau sudah memberi jawaban yang tepat, kan?! Kenapa bertanya pada kami?!”ujar Aiba-kun. “……hanya kau yang memiliki pengalaman menikahi staf,”

 

“Aiba-kun! Cara bicaramu!”tegur Sakurai-kun.

 

“…..yang kutanyakan itu apa yang akan kalian lakukan kalau wanita yang kalian sukai tiba-tiba ada di ranjang yang sama dengan kalian ketika kalian membuka mata!? Dalam kondisi ini, kalian hanya bisa menatapnya dari jauh,”Jun mempertegas pertanyaannya, menyadari pembicaraan terasa mengalir ke arah lain.

 

“Kalau aku, sih, aku akan bertanya apa yang terjadi dan apa yang sudah kulakukan padanya,”jawab Sakurai-kun tegas.

 

“Kalau aku, sih, aku akan bertanya padanya apa yang sedang ia lakukan,”jawab Ninomiya-kun. “…..tapi aku nggak akan memaksanya keluar. Kalau perlu aku yang keluar dari ranjang itu. Meski keadaan kacau, aku akan tetap membuktikan padanya kalau aku menyayanginya tanpa ia sadari,”

 

“Jadi kau tetap akan mendekatinya tanpa merasa malu atas apa yang terjadi?!”tanya Jun. Aku hanya menatap pria itu sesaat kemudian menatap Ninomiya-kun setelahnya. Jun dengan sifat kerasnya dan Ninomiya-kun yang diluar dugaan pemalu, tapi pantang menyerah.

 

“Tentu saja! Kalau memang sepanjang ingatanku aku tak melakukan apa-apa, kenapa aku harus malu?!”Ninomiya-kun tampak percaya diri dengan jawabannya. “….apalagi kalau bisa berakhir sepertimu. Menikah dan memiliki anak… Kalau memang aku melakukan sesuatu, itu bukti dari tanggung jawabku atas apa yang kulakukan,”

 

“ Padahal kan kasusnya mirip denganmu, kenapa bertanya pada kami?!”tanya Aiba-kun.

 

“Eh?! Memangnya aku melakukan apa?!”Jun dengan polosnya bertanya pada teman-temannya apa yang telah ia lakukan.

 

“Kau lupa?!”Aiba-kun, dengan tatapan rumit, mengerutkan alisnya menatap Jun. “….lihat, Sho-chan! Ini yang kubilang! Sejak kemarin dia aneh!”

 

“…….Eh?! Ma,-maaf…. Bu,-Bukan…. Aku memikirkan hal yang lain. Hahaha…..”Menyadari dirinya mulai bertingkah aneh dihadapan teman-temannya, Jun tampak kembali ke mode sandiwara. “…Ha,-Habisnya aku takut memberi jawaban yang nggak tepat,”

 

Nada bicara Jun terdengar mulai goyah. Sepertinya ia mulai kehabisan kata-kata untuk mengarang sebuah skenario.

 

“Jawabanmu nggak mungkin nggak tepat, buktinya kalian bisa berujung sampai ke pernikahan. Bahkan sebentar lagi jumlah keluargamu akan bertambah,”ujar Ninomiya-kun. “….ya, kan, Haruka-chan?!”

 

“Ah, I,-iya….”aku menjawab asal. “…..aku percaya apapun yang Jun-kun katakan pasti adalah yang terbaik,”

 

“Lihat! Kau punya istri yang baik, J! Kami iri padamu!” Ninomiya-kun tersenyum lembut menatap Jun.

 

Aku segera mengalihkan pandangank ketika Jun menatapku intens setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulutku. Sebenarnya aku tak tahu apa yang kukatakan, dan aku tak tahu kemana harus berpihak. Aku hanya berpikir sepertinya ini adalah jwaban terbaik yang harus kukatakan.Aku mengiyakan semua perkataan Jun dan meninggikan nama Jun.

 

Kupikir dengan melakukan hal ini, mungkin kami akan terlihat natural seperti suami istri. Meski untuk kami berdua kalimat intim yang terus kami ucapkan satu sama lain merupakan sebuah skenario yang bisa-bisa membuat kami terbawa perasaan dan salah mengartikan.

 

Tapi…. Kalau seperti ini, aku jadi penasaran….

 

Bagaimana aku dan Jun dapat membangun sebuah keluarga?!

 

Padahal kami tidak lebih dari sekedar rekan kerja. Kami tak pernah pergi berdua secara pribadi dan kami tak memiliki momen yang membuatku “Jun-kun tertarik padaku”.

 

Melihat respon Ninomiya-kun dan yang lannya, aku jadi ingin lebih tahu mengenai bagaimana aku bisa menjadi sebuah keluarga dengan Jun daripada memikirkan bagaimana aku bisa kembali ke dimensi awal.

 

 

Cklek

 

 

Aku membuka pintu rumahku dan menaruh barang-barang yang kubawa di lantai. Rumah masih sepi. Junko belum pulang dan Jun masih ada pekerjaan. Hari ini pekerjaanku sudah selesai dan sepertinya aku bisa mengistirahatkan diriku dan bersantai bersama bayi yang ada di dalam kandunganku.

 

“Ming, kau lapar?!”aku memanggil kucing kesayanganku yang tampak berjalan menghampiriku. “….hari ini keju di supermarket sedang diskon… Kali ini kamu bisa makan enak, ya…”

 

“Meow…” Ming, kucingku yang ikut bersamaku ke dimensi ini menjawab manja. Sepertinya Ming bukan ikut bersamaku, tapi ikut menjadi tua bersama dengan yang lain.

 

 

Cklek….

 

“Junko, ayo masuk! Kita potong kue dan makan bersama!”

 

Aku mendengar pintu apartemenku terbuka. Dari arah sana, terdengar suara Narumi dan suara anak kecil yang bernyanyi kegirangan. Sepertinya Narumi baru saja menjemput Junko dari TK.

 

“O, lihat! Junko, sepertinya Mama sudah pulang,”suara Narumi terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Sepertinya ia sudah masuk ke koridor depan. “….kami pulang!!”

 

“Selamat datang!”aku membalas salam Narumi dari arah dapur.

 

“Ah! Kakak, kami pulang…”ujar Narumi seraya berjalan menuju dapur menghampiriku. “Junko! Ayo cuci tangan! Jangan lari-lari dulu!”

 

Aku terkekeh melihat Narumi yang kerepotan mengurus Junko yang masih bertenaga. Gadis itu segera menaruh barang bawaannya dan mengejar Junko yang berlarian mengelilingi rumahku. Setelah menangkapnya, ia segera menggendong Junko dan mencium perut gadis cilik itu hingga tertawa geli.

 

“Narumi, sepertinya kau sudah cocok punya anak,”aku tersenyum menatap Narumi yang sangat akrab dengan Junko.

 

Narumi segera menoleh cepat ketika aku berkata demikian. Ia kemudian terdiam sejenak kemudian mengalihkan pandangannya. “….ja,-jangan menggodaku!”

 

 

Eh?!

 

Apa ini?! Manisnya…

 

Jangan-jangan ia malu?!

 

 

“Aku serius!”Merasa ketagihan melihat wajah malunya yang tak jujur, aku berusaha untuk menyerang Narumi dan membuatnya semakin merasa malu. Anak ini benar-benar mirip dengan Jun. “……habisnya kau akrab sekali dengan Junko-chan! Kau sudah pantas menjadi seorang ibu! Bahkan lebih pantas dari diriku,”

 

“Kau ngomong apa, kak?! Jun bisa marah kalau mendengarmu berkata seperti itu,”Narumi mendengus seraya tersenyum kecil. Teguran halus yang tak semua orang bisa mengerti. Terdengar seperti candaan, tapi ia serius mengatakan hal itu. Menurutku.

 

Aku hanya tertawa kecil menanggapi teguran Narumi. “Cepatlah kau menikah dan membuat Masaki dan Narumi kecil!”

 

“Hahahaha…. Kalaupun aku menikah dan punya anak nanti, aku akan memberi nama yang lain untuk mereka! Aku nggak akan membuat duplikat Masaki-Masaki yang lain seperti Jun meletakkan namanya pada kedua anakmu,”cibir Narumi.

 

“Oh ya?! Tapi aku yakin Aiba-kun juga memikirkan hal yang sama dengan Jun-kun,”godaku. Kali ini aku berusaha untuk menarik sisi tak mau kalah Narumi keluar. “….setidaknya kalau ia tidak meletakkan namanya pada anak kalian nanti, ia mungkin akan meletakkan kanji dari namamu ataupun namanya pada anak kalian,”

 

“……benar juga,” berbalik dari harapanku, Narumi tiba-tiba sependapat denganku. Apa sifat Aiba-kun yang mau saja dibodohi jadi tertular padanya?! Atau karena ia paham benar Aiba-kun, makanya ia mengiyakan apa yang kukatakan?! Rupanya Aiba-kun memiliki sifat seperti itu! Hihihi….

 

“Ngomong-ngomong, kak, tadi Masaki meneleponku,”Narumi membuka pembicaraan baru. “…..katanya Jun bersikap aneh lagi,”

 

“Eh?! Aneh gimana?!”

 

“Yaah, Masaki bilang, sih, tempo hari Jun habis bertemu dengan teman lamanya… Lalu temannya itu bercerita, suatu ketika saat ia membuka mata, ia mendapati seorang wanita yang ia sukai berada di ranjang yang sama dengannya… Padahal katanya temannya sadar betul kalau sebelum tidur ia tidak mabuk dan sebagainya… Katanya, sih, status kedua orang itu sama sepertimu dan Jun sebelum menikah, tapi Jun malah meminta saran kepada Masaki dan yang lainnya,”jelas Narumi. “….Jun juga berkata kalau ia takut memberi jawaban yang salah pada temannya,”

 

Aku hanya mengangguk mendengarkan cerita Narumi. Aku tahu persis apa yang terjadi, tapi aku tak berusaha untuk memotong maupun memberikan keterangan sebelum gadis itu selesai bercerita. Kupikir dengan begini mungkin aku akan menemukan sesuatu…

 

“……Lalu, saat Masaki berkata bahwa kasus itu mirip dengan hubungan kalian sebelumnya, Jun malah bertanya ‘memangnya aku melakukan apa?!’…. Apa itu nggak aneh?!”Nada bicara Narumi sedikit meninggi. Sepertinya gadis itu gemas dengan tingkah laku kakak lelakinya yang menurutnya aneh belakangan ini. “…..Apa kau melihat kejadiannya saat Jun mengatakan hal itu?!”

 

“Ah, ya… Aku melihatnya, kok… Aku juga tahu tentang cerita itu,”ujarku setelah Narumi akhirnya bertanya tentang hal itu. Dan tentu saja aku tahu cerita itu! Itu kan cerita tentang diriku! “…..Mungkin Jun-kun nggak bermaksud demikian… Ia hanya nggak menyimak omongan kalian saja,”

 

“Menurutmu begitu?!”

 

“Iya…. Belakangan ini Jun-kun sedang banyak pikiran…. Kupikir ia bukan bersikap aneh, tapi ia berusaha mengubah kebiasaannya agar kalian nggak terkena imbasnya… Kau sendiri tahu, kan, kalau Jun-kun sedang banyak pikiran ia mudah marah?!”lagi-lagi aku mengarang skenario untuk membuat percakapan diantara kami terlihat natural. “….Jun-kun berjanji untuk mengubah kebiasaannya itu, tapi sepertinya ia belum terbiasa membuat peralihan dalam dirinya, sehingga ia nggak memperhatikan banyak hal dan bersikap seolah ia nggak tahu apa-apa,”

 

Narumi mengangguk paham. Sepertinya ia tidak menemukan kejanggalan dalam perkataanku. Ia mengangguk seolah apa yang kukatakan adalah hal yang masuk akal. Padahal aku sendiri tak tahu apa yang kukatakan.

 

“Eh, Narumi…. Bisa kau carikan album pernikahanku?!”sebuah ide terlintas di benakku untuk membuat skenario yang baru. Sebelum aku memutuskan apakah hal itu baik atau buruk, mulutku telah mengucapkan apa yang baru saja terlintas di benakku.

 

“Eh?! Kenapa tiba-tiba……?!”

 

“Ng,-nggak…. Waktu itu, dirumah Aiba-kun, kalian sudah berbicara hal-hal yang menyangkut pernikahan, kan?!”tanyaku. “…..aku hanya berpikir, kalau kau akan menikah dengan Aiba-kun dalam jangka dekat ini, ada baiknya kau melihat foto pernikahanku dengan Jun-kun dulu…. Mungkin kau bisa ikut merasakan bagaimana rasanya menikah, dan membayangkan diriku adalah kau dan Jun-kun adalah Aiba-kun,”

 

Aku tersenyum dalam bujukan halusku seraya menatap Narumi. Sesaat, setelah aku mengatakan hal itu, aku merasakan sebuah pukulan kecil dalam dadaku yang menghasilkan rasa sakit yang luar biasa.

 

“Mungkin kau bisa ikut merasakan bagaimana rasanya menikah….”

 

Jangan bercanda!

 

Aku saja tak tahu bagaimana rasanya menikah…

 

Aku tak punya ingatan bahagia semacam itu meski bukti mungkin tertera jelas di hadapan mata…

 

Rasanya seperti memakan ucapan sendiri…

 

 

“Kau benar! Kalau begitu, aku akan mencari album foto pernikahan kalian! Kau duduk saja, kak…”ujar Narumi.

 

Bagus!

 

Gadis itu tak merasakan apa yang kurasakan sebenarnya. Artinya apa yang kurasakan tak terlihat diwajahku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s