今日は今日であれば良い 5 拡大・終

[5]

 

Aku memperhatikan jemari Narumi yang dengan antusiasnya membuka lembar demi lembar halaman album foto pernikahanku. Aku dapat melihat senyumnya yang merekah manis di setiap foto yang menyiratkan perasaan mendalam. Tatapanku tertuju pada sebuah foto dimana Jun tersenyum kepada para tamu yang hadir seraya melambaikan tangan. Bunga-bunga berwarna pastel tampak tengah dilempar ke udara dan beberapa diantara kelopak bunga tersebut menempel di rambut dan tuksedo putih yang dikenakan pria itu.

 

Tampan….

 

Aku merasakan wajahku yang memanas melihat sosok Jun yang begitu gagah dengan baju pengantin yang bernuansa lembut. Padahal itu hanya sebuah setelan tuksedo serba putih dan bunga mawar yang tersemat di dada kirinya, tapi entah kenapa rasanya aku bisa menggambarkan semua perasaan dan nuansa yang kudapat dari foto tersebut.

 

Pandanganku kemudian teralihkan pada lengan Jun yang tertekuk karena ada sebuah tangan yang melingkar lengan kirinya. Sebuah tangan yang memakai sarung tangan putih panjang, yang semakin lama kugeser pandanganku, semakin terlihat sosok pengantin wanita yang mengiringinya.

 

Itu aku….

 

Aku berusaha menahan rasa sakit yang membelenggu dadaku. Perih, sakit, bahagia, malu. Perasaan kontras yang tak wajar berkecamuk dalam diriku menjadi satu. Aku bahagia melihat diriku memakai gaun pengantin wanita mengiringi Jun yang keluar dari gedung resepsi pernikahan. Aku malu membayangkan bagaimana orang-orang menatap kami seraya menyelamati kami yang menjadi pusat perhatian di hari besar itu. Aku merasa perih, aku merasa sakit, karena aku tak memiliki ingatan pernah mengalami hal itu.

 

Kenapa?!

 

Hal itu masih terus berkecamuk dalam diriku, namun aku berusaha untuk melupakannya. Karena seberapa pun aku mencari, nampaknya aku tak akan menemukan jawabannya. Padahal sebagian besar dari diriku sudah bertekad untuk tidak berpikir bagaimana caranya kembali ke masa lalu kalau masa depan yang kutinggali sekarang ini adalah kehidupan yang kuinginkan. Tapi kalau ternyata aku memiliki masa lalu sebahagia ini, aku juga ingin merasakannya apapun hambatan yang terjadi.

 

 

“Ah! Ini foto pertemuan pertama kita, kan, kak?!”aku segera memfokuskan perhatianku ketika Narumi sontak memanggilku dan berkata hal aneh. “……Jadi kangen, deh… Rupanya Jun menyimpannya…”

 

“Eh?!”
“Kalau dilihat-lihat, banyak sekali foto candid-mu disini,”Narumi mendekatkan wajahnya pada album foto, dan memperhatikan foto candid-ku dengan seksama. “Kalau seperti ini, rasanya Jun seperti maniak, ya…”

 

“Hei, Narumi-chan! Cara bicaramu!”aku menegur Narumi yang rupanya hingga saat ini ia masih memiliki kebiasaan mencela kakaknya.

 

“Habisnya! Dilihat dari manapun ini terlihat seperti maniak, kan?!”Narumi tak menggubris teguranku. “….Jun pasti sangat menyukaimu, ya, kak…. Sayang dia nggak jujur dengan perasaannya… Kalau jujur, mungkin aku sudah mengenalmu sebelum foto ini ada… Ah! Bahkan mungkin akan ada foto-fotomu yang lain dengan Jun yang berusaha untuk manja dihadapanmu!”

 

“Kau pikir begitu?!”aku terkekeh seolah itu adalah hal yang sudah biasa kudengar. Padahal sebenarnya aku berteriak panik dalam diriku. Saking penasaran dengan apa yang baru saja kudengar. “…..Kalau kau berkata demikian, menurutmu sudah sejak kapan Jun-kun menyukaiku?!”

 

“Hm?!! Kau ingin tahu, kak?!”tatapan menggoda Narumi membuatku semakin penasaran. “Sebenarnya aku disuruh untuk merahasiakan hal ini, tapi karena kalian sudah menikah, kurasa nggak ada salahnya untuk membuka hal ini…. Tapi karena Jun pasti malu, jangan katakan apapun pada Jun, ya?!”

 

“Iya, aku janji…”dengan dada berdebar-debar, aku memperbaiki posisi dudukku dan menajamkan kedua telingaku.

 

“…….Kalian sudah 4 tahun menikah, lalu pertemuan pertama kita itu kalau nggak salah di tahun ketiga kau memasuki dunia hiburan… Kemudian banyak hal yang terjadi selama satu tahun hingga akhirnya di tahun kelima dalam pekerjaanmu Jun menikahimu…. Hemmmm,”Narumi mengucapkan apa yang ia pikirkan. Daripada menunggunya mengingat-ingat apa yang Jun katakan padanya, aku hanya bisa membelalakkan mata karena setiap kalimat yang Narumi ucapkan berisi info mengenai kehidupan saat ini.

 

Jadi aku lompat ke dimensi 5 tahun ke depan?!

 

Aku sudah menikah dengan Jun selama 4 tahun?!

 

Lalu, ‘hal-hal’ yang terjadi selama satu tahun itu yang membawaku ke pernikahan bersama Jun?!

 

Berarti awal kedekatanku dengan Jun adalah tahun ketiga di pekerjaanku! Dimensiku sebelumnya!

 

Rasanya puzzle yang berantakan mulai tersusun….

 

 

“….aku ingat bagaimana Jun sangat antusias menceritakan drimu pertama kali ia sadar bahwa ia tertarik denganmu…. Kecil, kikuk, pemalu, tapi terasa panas saat terbakar semangat… Itu yang Jun sering katakan padaku ketika menceritakan sosok dirimu. Aku bahkan sampai muak mendengarnya karena ia pasti mengatakan hal itu,”Narumi mulai menceritakan sosok Jun yang tertarik padaku. Wajahku sontak merona dibuatnya. Namun karena gadis itu menatap lurus menerawang ke depan, aku berharap ia tidak melihatku dengan wajahku yang sekarang ini. “……tapi meski ia begitu panas bercerita tentang dirimu, pada kenyataannya ia nggak memiliki keberanian untuk berbicara denganmu,”

 

“Eh?!” Tanpa sadar aku bereaksi dengan jujur. Reaksi yang mungkin membuat Narumi berpikir ada apa dengan diriku. “….aku nggak merasa dirinya seperti itu. Malah menurutku, ia yang paling memiliki keberanian berbicara dengan siapapun. Baik ketika ada maunya, maupun mengkritik mereka,”

 

“Kau berpikir begitu, kan?! Sejujurnya, aku pun nggak pernah melihat Jun yang sepengecut itu hanya karena ia ingin berbicara dengan perempuan! Tapi kenyataannya seperti itu. Kenyataan yang selama ini nggak kau ketahui,”lanjut Narumi. “…..kalau dipikir-pikir, tingkah lakunya saat itu seperti stalker. Aku, sih, nggak melihatnya secara langsung, tapi cara Jun menceritakan bahwa dirinya jadi lebih sering bertemu denganmu dalam berbagai keadaan kecil membuatku sedikit jijik padanya! Hahaha… Mungkin jika orang lain yang melihatnya, itu adalah hal yang wajar, tapi kalau kau sedang jatuh cinta pada seseorang, bukankah hal-hal sekecil apapun menjadi hal-hal yang berharga?! Apa kau juga merasa seperti itu, kak?!”

 

“Ah! Iya…. Aku juga merasa seperti itu waktu aku masih menyimpan perasaanku pada Jun-kun,”ujarku tersipu malu. Sebenarnya sampai sekarang pun aku masih menyimpan perasaanku pada Jun….

 

“Kupikir, dengan keadaan yang terus seperti itu, Jun akan terus terlihat seperti pengecut dan tak akan ada yang terjadi diantara kalian. Kalau boleh jujur, sampai sekarang aku masih belum percaya kalian bisa menikah, dan sudah mau memiliki dua anak,”Narumi tampak menerawang ke album foto yang dipegangnya. “…..tertarik pada pandangan pertama, memperhatikan tanpa memiliki keberanian untuk mengajak berbicara, tidak jujur….. sampai akhirnya kalian tak sengaja bertemu di kuil…. Ah! Kalau nggak salah itu pertemuan pertamaku denganmu, ya, kak?!”

 

“Eh?! Ah… Ya….”

 

“Waktu aku melihatmu, rasanya aku langsung mendapat titik terang gadis seperti apa yang membuat Jun menjadi pengecut. Kupikir gadis itu gadis kuat yang hanya mau mencari muka di hadapan Jun karena tampangnya saja, tapi aku bersyukur kau bukan orang yang seperti itu,”Narumi dengan lidah tajamnya terus bercerita mengenai perasaannya saat ia pertama kali bertemu denganku. “…..Saat ini pun sejujurnya aku masih merasa bersyukur kau bertemu dengan Jun di kuil. Ah! Mungkin lebih tepatnya bertabrakan, ya?! Karena kurasa kalau hanya bertemu, nggak akan ada percakapan diantara kalian,”

 

Aku tak memberi respon sedikit pun. Nampaknya Jun menceritakan pertemuan kami secara utuh pada Narumi.

 

“…..aku juga ingat sekali bagaimana ia bersikap sok keren saat ia membawamu kemari. ‘Aku bertemu dengannya di kuil’. Waktu itu aku setengah mati menahan tawa melihat Jun yang menjaga image di hadapanmu. Namun karena kejadian itu, kalian mengalami perkembangan pesat hingga akhirnya kalian menikah setelah satu tahun berbicara… Padahal kupikir hari itu nggak akan pernah datang. Aku juga berpikir kakakku itu sudah nggak bisa diapa-apakan lagi, dan kau hanya akan terus menjadi dewi dalam imajinasinya… Hidup itu aneh, ya, kak…”Narumi tersenyum seraya menghela nafas kecil. “…..kalau nggak salah, waktu itu kau pergi ke kuil yang kabarnya memiliki ema yang jitu, kan?! Ah! Aku masih ingat isi ema yang kau tulis! Kau menceritakannya padaku seminggu setelah pernikahan kalian berlangsung. Semoga aku bisa hidup bersama Matsumoto-san…. Sepertinya ini berkat ema, ya, kak?!”

 

“Eh?!”

 

Aku terbelalak mendengar kalimat terakhir Narumi.

 

 

“……..Ah! Ngomong-ngomong ema, kakak ingat apa yang Jun tulis di ema miliknya?! Menjadi nomor satu untuk Kashino Haruka….”

 

Membatu.

 

Ucapan Narumi terngiang begitu jelas di telingaku. Bahkan hanya suara Narumi yang mengisi indera pendengaranku.

 

“……untung saja aku tahu hal itu setelah kalian menikah. Bahkan dalam keadaan kalian telah menikah saja aku masih berpikiran untuk mencelanya! Nggak punya nyali…. Tapi pada akhirnya aku nggak mengatakan hal itu karena apa yang kukatakan pasti berbanding terbalik dengan kenyataannya… Hanya saja kalau waktu itu aku tahu, bagaimana, ya….”

 

 

***

 

 

Cklek!

 

“Aku pulang….”Aku mendengar suara Jun semakin mendekat seiring dengan suara langkah kaki yang terdengar semakin jelas. “…..Haruka?!”

 

“Jun-kun, selamat datang…”aku menolehkan kepalaku dan menyambut Jun dengan senyuman lembut. Aku berusaha untuk tidak memikirkan kata-kata Narumi tadi siang untuk beberapa saat agar Jun tidak menganggapku aneh. Meski cepat atau lambat aku tetap akan menceritakan apa yang kudengar dari Narumi pada Jun.

 

“Aku pulang, Haruka….”Jun kembali mengucap salam, kemudian tersenyum lembut. Ia memanggil namaku tanpa embel-embel. Sejenak aku merasa atmosfer diantara kami berubah. Manis, tapi aku merasa ditarik ke dalam sebuah atmosfer yang lain. Seolah ada maksud tersembunyi dari senyuman Jun.

 

“Kau sudah makan, kan?! Mau minum sesuatu?! Atau langsung mandi?! Akan kuhangatkan airnya,”merasa tak nyaman dengan perlakuan manis yang Jun  tawarkan padaku, aku segera berkilah dengan menawarkan berbagai macam hal pada Jun. Hal-hal yang wajar dilakukan oleh seorang istri. Peran istri.

 

“Nggak… Kau nggak usah repot-repot. Aku masih mau disini, mengobrol denganmu,”diluar dugaan, Jun malah mengatakan jawaban yang lain. Pria itu berjalan mendekatiku dan menghempaskan dirinya duduk di sofa bersamaku. Tangan kirinya bersandar di sofa, dan menopang dagunya yang kecil. Sudah kuduga ini aneh. Meski Jun memperlihatkan sisi dirinya yang keren, dugaan atas apa yang sedang terjadi lebih kuat di benakku. “….anu……. ada yang ingin kukatakan padamu,”

 

“Hm?!”dengan rasa kecurigaan yang besar, aku segera memberi respon atas perkataan Jun.

 

“…….aku ingin meminta maaf padamu…. Hari ini aku bersikap kasar padamu,”rasa curigaku pada Jun segera runtuh ketika pria itu meminta maaf padaku secara tiba-tiba. Bahuku yang semula tegang karena saking penasaran dengan apa yang ingin Jun katakan segera merosot karena lega. Aku bahkan nggak berpikir sama sekali ia akan meminta maaf padaku. Lagipula, apa hari ini ia bersikap kasar padaku?!

 

“Memangnya apa yang kau lakukan padaku?!”alih-alih menerima atau menolak permintaan maafnya, aku bertanya apa yang membuatnya menjadi merasa bersalah padaku.

 

“…..hari ini aku berbicara padamu dengan nada tinggi, kan?! Saat aku bertanya padamu kenapa kau nggak memberi kabar kalau sudah sampai,”Jun mengakui kesalahannya. “…..maaf, sebenarnya aku hanya bermaksud untuk berakting saja….Hari ini hari pertama kita bertemu dengan teman-teman dengan status kita sebagai suami istri…. Sebenarnya, saking gugupnya semalaman aku berpikir tingkah laku apa yang harus kutunjukkan didepan teman-teman sebagai seorang suami… Aku membayangkan, aku akan menjadi suami yang sangat sayang pada istriku dan mudah terluka oleh hal-hal kecil yang dapat melukai istriku. Aku akan menjadi orang yang sangat memperhatikan hal-hal kecil dan mudah terusik oleh kejanggalan-kejanggalan pada hal yang telah menjadi kebiasaan…. Tapi yang terjadi aku malah terlihat over protective,”

 

“Ah…. Un….”

 

“….sebenarnya aku nggak begitu menyesal dengan apa yang kulakukan. Asal kau tahu, aku melakukannya karena aku juga memikirkan kondisimu yang tengah mengandung ‘anak kita’. Aku ingin tahu dimana keberadaanmu ketika kau nggak berada disampingku agar aku tahu kau selalu dalam keadaan baik-baik saja…. Tapi aku juga nggak mau kau sakit hati atau salah paham karena tingkah lakuku… Karena itu aku meminta maaf padamu kalau aku membuatmu tersinggung,”lanjut Jun. “….kau mau memaafkanku?!”

 

Wajahku memanas ketika mendapati Jun menatapku lekat-lekat. Pandangannya seperti seekor kucing yang tak ingin ditinggalkan oleh majikannya. Entah bagaimana aku harus mengekspresikannya, tapi tatapannya membuatku ingin terus menatapnya. Sayangnya akal sehatku berkata untuk mengalihkan pandangan sebelum Jun menegurku karena aku terlalu lama memandanginya.

 

Aku bahkan lupa sama sekali dengan kejadian tadi pagi, batinku dalam hati.

 

“Kalau boleh jujur, aku lupa sama sekali dengan apa yang terjadi tadi pagi,”dengan suara pelan, aku menjawab permintaan maaf Jun seraya tersenyum malu-malu.

 

“Eeeehhh?!”Jun segera mengangkat kepalanya dan melemparkan pandangan ke langit-langit apartemen. “….padahal itu membuatku kepikiran seharian!!!”

 

“Ma,-maaf… Bukan maksudku melupakannya…”kali ini giliranku yang balik meminta maaf pada Jun. “…..aku terlalu fokus pada hal lain…. Jadi…… maafkan aku…..”

 

“Nggak masalah… Kau nggak perlu meminta maaf padaku…. Aku lega karena kau nggak tersinggung padaku. Aku juga lega karena telah menyampaikan pikiranku,”Jun mengibaskan tangannya. “…..tapi kalau begini enak juga, ya…. Meminta maaf dari diri sendiri…. Nggak perlu menunggu lawanmu marah atau ditegur, diri sendiri juga jadi lega…. Apa kita terapkan saja pada keluarga kita, ya?! Meminta maaf dari diri sendiri…”

 

Keluarga kita, katanya….

 

“Ah… ya…. mungkin bagus…”mengalihkan kalimat yang memenuhi kepalaku, aku mengiyakan apa yang Jun katakana. “……malah menurutku yang menjadi tantangan itu meminta maaf dari diri sendiri…. Menebas gensi, belajar tulus, mengesampingkan rasa malu…”

 

“Kau benar…”Jun mengiyakan perkataanku. “….lalu?! Apa yang sedang kau pikirkan?! ….Kau bilang kau sedang fokus pada hal lain,”

 

“Ah…. Ya…..”aku hanya mengangguk. Rupanya Jun memperhatikan setiap bagian kecil dari kalimatku. “…..hari ini aku mengobrol dengan Narumi-chan ketika ia baru saja menjemput Junko-chan… Ia melihat album pernikahan kita untuk simulasi saat dirinya menikah dengan Aiba-kun nanti,”

 

“Album pernikahan, ya… Aku juga mau lihat,”suara Jun tiba-tiba berubah datar. Mungkin ia berusaha untuk menyembunyikan sebuah perasaan yang terbersit dalam dirinya, tapi ia gagal melakukan hal itu. “…..Narumi juga sudah mau menikah dengan Aiba-kun, ya… Rasanya aku belum siap….”

 

“Padahal kemarin kau masih memarahinya karena memakai headset saat tak ada seorang pun di rumah, ya…”aku tertawa kecil saat mengingat kembali kejadian terakhir ketika kami berada di dimensi awal.

 

“Hahaha… Kau mengingatnya dengan baik, ya,”Jun membalas tawaku. “…..tapi mereka bisa merasakan pernikahan yang sebenarnya….”

 

 

Eh?!

 

 

Aku merasakan sebuah denyutan kecil yang tiba-tiba membuat dadaku sesak. Jun…. Apa kau merasakan hal yang sama denganku?! Apa sebenarnya selama ini kita memikirkan hal yang sama?!

 

“…..lalu….. aku mendapat beberapa informasi yang mungkin sebaiknya kau tahu,”aku berusaha untuk membawa Jun ke topik utama dan menariknya dari perasaan terjatuh. “…..Jun-kun, kita ternyata melompat ke lima tahun yang akan datang,”

 

“Eh?!”Jun yang semula jatuh dalam pikirannya segera menoleh padaku dan menatapku tak percaya. “…..kau tahu darimana?!”

 

“…..Sudah kubilang, hari ini, kan, Narumi-chan datang berkunjung! Saat simulasi pernikahan itulah aku mendengar banyak informasi yang keluar begitu saja dari mulutnya,”jelasku. “…..sebenarnya ide untuk melihat album pernikahan itu ideku… Karena aku masih belum tahu apa yang ada di sekelilingku dan dimana aku menaruh barang-barang seperti itu di tempat ini. Kupikir dengan foto aku bisa mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang kulewatkan, tapi rupanya aku mendapat lebih dari hal itu,”

 

“….apa yang Narumi ceritakan padamu?!”tanya Jun.

 

“Sebelum itu, aku mau memberitahumu hal penting… Jun-kun, kau masih ingat isi ema yang kau tulis di kuil waktu itu?!”tanyaku. Jun terdiam sejenak seolah tak mengerti apa yang kukatakan. Namun ekspresinya seketika berubah seolah ia mengingat sesuatu. “……sepertinya ini ulah ema,”

 

“Eh?! Tu,-tunggu…. Ema?! Kenapa jadi ema?! Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang ema milikku?! Memangnya kau tahu isinya?!”Jun yang semula tenang seolah panik dan bertanya padaku tergesa-gesa.

 

Aku terdiam sejenak. Berpikir apakah aku harus menceritakan seluruhnya yang kudengar dari Narumi atau memilih informasi yang Jun butuhkan saja. Namun karena Jun terus menatapku dan menungguku memberi jawaban, aku sadar bahwa aku tak memiliki waktu untuk berpikir, hingga aku memutuskan untuk mengangguk dan menceritakan apa yang kudengar dari Narumi. “…..Maaf, aku mendengar semuanya….”

 

“Yang benar saja!!!”Jun segera menepuk dahinya dan mengalihkan pandangan dariku. “….yang benar saja! Sekarang?! Kenapa tiba-tiba?! Ini benar-benar akan membuatku terlihat payah!”

 

“Eh?!”aku memiringkan kepalaku ketika mendengar Jun menggumamkan keluhan-keluhan yang tak kumengerti.

 

“Haruka, aku ingin bertanya padamu…. Apa yang kau rasakan selama kau tinggal bersamaku?!”tanya Jun tiba-tiba.

 

“Eh?!”aku hanya membelalakkan mataku sesaat. Terkejut dengan perkataannya, tak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkannya. Tentu saja aku senang! Dapat bersama denganmu adalah impianku sejak dulu… Meskipun aku benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan aku tak yakin apakah ini cara yang benar untuk dapat bisa bersamamu…

 

“Kau boleh mengatakannya dengan jujur, kok…”sebelum aku menjawab pertanyaan Jun, pria itu kembali menegaskan.

 

Tidak mungkin… Justru itu hal yang paling tidak mungkin kulakukan….

 

“…….kalau aku boleh berkata jujur, aku selalu berpikir apa ini adalah hal yang benar?!…Meskipun semua orang mengakui kita sebagai suami istri, tapi mereka nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi…. Kita juga nggak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, karena tak mungkin mereka mempercayai kita….”alih-alih mengatakan apa yang kurasakan sebenarnya, aku mengutarakan kegelisahanku selama bersama Jun. “…..dan lagi, aku hanya seorang staf… Aku selalu berpikir, dengan terjebaknya dirimu bersamaku, kau pasti merasa ini semua hal bodoh dan merepotkan. Aku selalu takut kalau aku mengambil privasimu dan hanya membuatmu kerepotan setiap harinya,”

 

Jun mengangguk kecil seraya memperhatikan setiap kalimat yang kukatakan. Ia membiarkanku menyelesaikan kalimatku hingga kesunyian akhirnya menghampiri kami.

 

“…….kalau kau berpikir begitu, sejujurnya aku nggak pernah merasa direpotkan olehmu dalam situasi seperti ini,”Jun tiba-tiba memecah keheningan. “…….daripada hukuman, mungkin aku lebih menganggap ini adalah hadiah untukku,”

 

“Eh?!”

 

“Tuhan memberi hadiah padaku yang pengecut ini,”Jun tiba-tiba tertawa kecil akan perkataannya sendiri. “…..kau sudah mendengar semuanya dari Narumi, kan?!… Maksudku… ‘semua’… Aku yakin Narumi tak hanya menceritakan tentang ema yang kutulis,”

 

Jun menatapku takut-takut. Entah apa yang ia takutkan, tapi rasanya ini pertama kalinya aku melihat ekspresi Jun seperti ini.

 

Aku hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Kupikir, dengan Jun berkata seperti ini bukan berarti aku boleh membahasnya, kan?! Karena itu aku memilih untuk diam hingga ia yang memulainya.

 

“……aku sudah tertarik padamu sejak kau datang sebagai asisten seniormu. Kikuk, kecil, pemalu, tapi terasa panas saat terbakar semangat,”aku menunduk menahan senyumku ketika apa yang Narumi katakan teralisasikan dari mulut Jun sendiri. “…..awalnya aku hanya berpikir seperti itu. Aku nggak berniat mendekatimu maupun mencari perhatianmu. Tapi begitu sadar, aku sudah memusatkan perhatianku padamu…”

 

Aku membenarkan posisi dudukku ketika bayi didalam perutku mulai memberikan tendangan-tendangan kecil.

 

“…..bagiku, semua yang terjadi adalah kesempatan dan hadiah yang Tuhan berikan padaku. Awalnya, sih, aku terkejut mendapatimu disampingku ketika aku membuka mata. Aku juga merasa kacau ketika semua orang berkata kita adalah suami istri. Namun setiap malam aku berpikir, melihat wajah tidurmu disampingku, aku baru mengerti ini adalah hadiah dari Tuhan… Mungkin aku terlihat kuat, tapi aku sendiri mengakui diriku adalah seorang pengecut. Aku tak berani memulai pembicaraan maupun melakukan pendekatan meski hanya sedikti. Rasanya aneh… Aku merasa jijik pada diriku sendiri yang seakan terbakar nafsu jika aku mendekati dirimu secara tiba-tiba. Aku yakin kau juga pasti akan berpikir aku aneh, karena itu aku nggak tahu bagaimana caranya mendekatimu,”Jun mulai memaparkan perasaannya yang selama ini tak kuketahui. Mengeluarkan sisi dirinya yang tak pernah terpikirkan sama sekali olehku. “……mungkin Tuhan menolongku… Kita melompati dimensi 5 tahun yang akan datang dan hidup sebagai sebuah keluarga. Aku berpikir, mungkin Tuhan menolongku karena aku tak bisa membuat kemajuan sama sekali… Aku nggak tahu cara mendekatimu, tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu… Aku juga nggak mengerti, banyak ketakutan yang kurasakan hanya dengan berpikir bagaimana aku dapat mendekatimu… Atau mungkin Tuhan membuatku melompati 5 tahun itu karena terlalu banyak hal yang terjadi, yang mungkin membuatku nggak sanggup untuk bangkit,”

 

“……….kau benar-benar bersyukur kau melewati 5 tahun itu?!”entah kenapa, tanpa berpikir panjang aku mengajukan pertanyaan. Rasanya sebagaian dari diriku kini menolak melihat sisi lemah Jun, seolah kata pengecut tidak pantas ia tujukan pada dirinya sendiri. Meski begitu ia tetap terlihat manis…

 

Jun terdiam sejenak. “……nggak…. Aku nggak tahu…. Tapi sekarang aku berpikir, alangkah baiknya kalau kita melewati lima tahun itu…. Mungkin memang banyak hal yang terjadi, tapi aku merasa terlalu banyak kebahagiaan yang kita lewatkan selama lima tahun itu… Seperti pernikahan, kelahiran Junko, dan malam pertama,”

 

Aku segera mengangkat kepalaku dan menatap Jun dengan tatapan terkejut. Wajahku sontak memanas ketika Jun menyebutkan frasa terakhir pada kalimatnya.

 

“Haruka…. Kalau boleh aku tahu, apa yang kau pikirkan tentang diriku?!”Jun membuka topik pembicaraan baru. Sebuah topik yang tiba-tiba membuat darahku berdesir dan otakku menjadi kacau seketika. Sekarang?! Aku harus menjawab sekarang?! Aku belum siap!

 

“……..aku banyak melihat sisi Jun-kun yang nggak kuketahui,”ujarku singkat. “…..terutama malam ini…. Rasanya kata pengecut nggak pantas untukmu, Jun-kun… Kau nggak pantas mengacungkan kata pengecut pada dirimu, juga nggak pantas menceritakan sisi dirimu yang pengecut…. Kau lebih pantas bersikap dominan seperti biasanya, walaupun aku mengerti setiap orang pasti memiliki sisi pengecut dalam dirinya,”

 

“Maaf…”

 

“Kau nggak perlu meminta maaf… Aku senang mengetahui sisi dirimu yang seperti ini… Pria yang selalu berusaha terlihat gagah dan keren, rupanya memiliki kekhawatiran akan hal kecil yang membuat dirinya menjadi terlihat manis… “ujarku. Sadar bahwa kalimatku membuatnya terjatuh, aku berusaha untuk meringankan nada bicaraku. “…..Sejak dulu aku berharap, mungkin asyik jika suatu hari aku bisa masuk ke daftar orang-orang yang kau tanggapi, dan kau mau menjadi lebih terbuka padaku… Tapi aku sadar, aku hanya seorang staf yang hanya akan selalu menjadi penyokong dari balik layar. Aku nggak akan pernah bisa berperan besar dalam hidupmu, dan hubungan kita nggak akan lebih dari sekedar rekan kerja… Awalnya aku berpikir demikian,”

 

Jun terdiam mendengarkanku. Ia tetap fokus menatapku, namun matanya menatap nanar, seolah dirinya merasa hangat dapat berbicara seperti ini.  “……lalu tiba-tiba kita terbangun dan berada di dimensi lima tahun yang akan datang,”

 

“Kau benar,”tanggapku.

 

“…..Haruka, mendengar perkataanmu tadi… kekhawatiran-kekhawatiran kecilmu… apa aku boleh mengartikan kalau kau punya perasaan yang sama denganku?!”

 

Aku terkejut mendengar suara Jun yang rendah. Hampir berbisik, tapi dapat terdengar dengan jelas. Wajahku memanas, pikiranku kacau, rasanya aku ingin segera kabur dari hadapannya agar ia tidak melihat wajahku seperti ini. Tapi sebuah perasaan membuncah memenuhi dadaku. Hangat, menyenangkan….

 

“Iya….”akupun memutuskan untuk mengangguk.

 

Ekspresi Jun yang semula tenang seolah bangkit. Matanya membulat dan menatapku tak percaya. Yang benar?! Mungkin saat ini dirinya sedang berpikir demikian. Namun perlahan sebuah senyum menghiasi wajahnya. Senyum hangat yang sangat mempesona. Senyum hangat yang ia tujukan untukku. Hanya untukku.

 

Jun kemudian beranjak dari posisi duduknya dan merayap mendekatiku. Tangannya perlahan terbuka lebar dan ia pun mendekapku perlahan. Dekapan pelan yang semakin lama semakin erat dan memberikan kehangatan.

 

Aku hanya dapat membelalakkan mataku ketika Jun memelukku dengan erat. Aroma tubuhnya yang hangat dapat tercium dengan baik ketika bahunya menempel tepat di hidungku. Panas…. Bahagia…. Katakan padaku kalau ini bukan mimpi…

 

“…..kalau dibicarakan seperti ini enak, ya…”ujar Jun tiba-tiba. Dagunya yang menyentuh bahuku membuatku sedikit tergelitik. “….aku nggak menyangka kalau ternyata selama ini kita menyimpan perasaan satu sama lain,”

 

“Oh ya, Jun-kun…. Ada satu hal yang belum kuceritakan padamu,”sahutku ketika Jun tak lagi berbicara dan hanya menikmati dirinya yang mendekapku. “……Narumi-chan bilang, ema untuk pasangan di kuil itu katanya akan terwujud kalau ema itu ditukar dengan pasangan kita… Katanya, sih, itu simbol kalau pasangannya juga setuju… Dan sepertinya waktu kita bertabrakan di kuil, ema milikmu jatuh ke tanganku dan kau memegang milikku,”

 

“Eh?! Yang benar?!”

 

“Katanya, sih, begitu….”sahutku lagi. “….lagipula kita kan nggak lihat ema satu sama lain lagi… Kita sembarang menggantungnya tanpa melihat isinya kembali,”

 

“….Gawat, ya… Rupanya ema di kuil itu benar-benar sakti,” Jun tertawa kecil. “….Ngomong-ngomong, Haruka…. Berbicara tentang ema, apa yang kau tulis dalam ema milikmu?!”

 

“Eh?!”ujarku terkejut. “…..ke,-kenapa tiba-tiba?!”

 

“Kamu, kan, tahu apa isi ema milikku! Beritahu juga milikmu, dong!”Jun terdengar memaksa.

 

“………..Semoga aku bisa hidup bersama Matsumoto-san,”bisikku, nyaris tanpa suara.

 

“Eh?!”

 

“Eh?! Ma,-maaf…. A,-aku nggak bermaksud untuk menulisnya…. Waktu aku sedang berkhayal… eh, bukan! Maksudku melamun…. Lalu tanpa sadar aku sudah menulisnya,”aku segera panic ketika nampaknya Jun mendengar dengan jelas bisikanku. “….awalnya aku juga berniat untuk membuangnya, tapi aku takut merasa bersalah pada Dewa… Lalu, kalau kubawa pulang, bisa-bisa aku ditertawakan teman-teman kalau mereka melihatnya…. Jadi aku menggantungnya dengan asumsi ema itu nggak akan terwujud…………….”

 

Selagi aku berusaha untuk menjelaskan apa yang kulakukan waktu itu, Jun tiba-tiba melepas pelukannya dan mencium bibirku perlahan. “Kau sudah hidup bersamaku, kok…”

 

“Jun-kun….”aku hanya dapat memanggil nama Jun perlahan setelah pria itu melepas bibirnya dari bibirku. Wajahku mendadak panas, otakku sontak berhenti berpikir. Pria itu menatapku lembut, menyibak rambutku dan menyelipkannya di telinga kananku dan mencium pipiku perlahan.

 

“Hahahahaha…. Wajahmu benar-benar merah, Haruka-chan!”Jun yang terlihat begitu berseri kembali memanggilku dengan sebutan –chan diakhir namaku. “…….Haaaahhhh….. kau ini benar-benar kikuk, ya! Aku nggak bosan-bosan melihatmu!”

 

“Tunggu! Kau menyindirku, ya?!”aku mengerucutkan bibirku. Jun tertawa kecil. Aku memperhatikan dirinya yang menikmati dirinya menggangguku. Perlahan tangan Jun mengulur menyentuh perutku, dan mengusapnya perlahan. “….Mau sampai kapan kita berperan sebagai suami istri, ya?!”

 

“Hm?!”Jun mengangkat pandangannya.

 

“…..Ah! Bukannya aku nggak senang tinggal bersamamu…. Maksudku, aku masih berpikir apakah ini hal yang benar untuk dapat hidup bersamamu…. Dan lagi, hubungan kita baru sampai tahu perasaan satu sama lain…..”aku berusaha untuk menjelaskan kekhawatiranku pada Jun. “……tapi….. kurasa kita nggak akan bisa kembali dengan mudah ke dimensi awal….”

 

“……kalau aku, sih, nggak keberatan,”Jun membuka suara setelah beberapa saat terdiam. “…..Aku nggak keberatan kalau Haruka-chan benar-benar jadi istriku…”

 

“Eh?!”aku membelalakkan mataku.

 

“Mungkin apa yang kukatakan terlalu cepat… Apalagi kita baru saja mengetahui perasaan satu sama lain… Tapi aku sudah nggak berada di usia mencari pacar… Aku ingin mencari wanita yang bisa mendampingi hidupku… Dan lagi, kejadian yang kita alami ini sudah menjadi simulasi nyata apabila kita jadi sebuah keluarga, kan?! Terlebih dengan adanya Junko…. Dan Junji…”Untuk pertama kalinya Jun memanggil nama calon bayi yang berada di dalam perutku seraya mengelusnya. “…..Sebenarnya, aku ingin menyentuhmu lebih dari ini, tapi aku akan menunggu sampai anak yang ada di dalam perutmu lahir,”

 

“Jun-kun…”Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri sekarang juga. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa apa yang kualami sekarang bukanlah sebuah mimpi. Aku ingin membuktikan pada diriku bahwa apa yang kudengar dari mulut Jun adalah sebuah kenyataan.

 

“……dan soal pernikahan….setelah anak ini lahir, ayo kita pergi ke luar negeri…”kali ini Jun mencium perutku dengan lembut. “……kita buat pesta pernikahan sekali lagi, dan membuat kenangan berempat,”

 

“Pesta pernikahan sekali lagi……..”

 

“Ah! Bukan! Pernikahan, ya… Pernikahan resmi kita,”Jun mengoreksi kembali perkataannya.”…..tapi pesta pernikahan untuk orang-orang yang ada di dimensi ini…. Anggap saja seperti pesta ulang tahun pernikahan yang sedikit dibuat mewah…. Lalu aku akan memberi salam pada kedua orangtuamu…. Tentu saja aku akan meminta Narumi memberitahu kedua orangtuamu untuk berakting seolah ini pertemuan pertama kita… Meskipun ini akan benar-benar menjadi yang pertama untukku,”

 

“Hahahahaha….. Jun-kun! Pikiranmu terlalu cepat!”Aku terkekeh mendengar Jun yang begitu panas dengan rencananya. “Jangan tinggalkan aku membuat rencana!”

 

“Hahahaha…. Habis, membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat!”Jun membalas tawaku. “Aku akan sangat menantikan hari itu…”

 

“Iya….”

 

 

DEG!!!!

 

 

Aku reflek membungkuk ketika sebuah tendangan keras menghantam perutku. Senyuman dan tawa yang baru saja menghiasi wajahku segera menghilang. Aku segera membuang pandanganku dari Jun dan memejamkan mataku. Menahan rasa sakit yang luar biasa tak tertahankan.

 

“Haruka?! Kau baik-baik saja?!”Melihatku menahan sakit, nampaknya senyuman Jun pun lenyap dari wajahnya. Aku tak menjawab pertanyaan pria itu sama sekali. Tidak mungkin aku mengatakan aku baik-baik saja, tapi aku juga tak ingin membuatnya khawatir. Aku hanya mengulurkan tanganku pada Jun dan memperlihatkan telapak tanganku padanya.

 

 

Dug…..

 

Grep…..

 

 

Tanganku reflek mencengkram lengan kemeja yang dipakai Jun ketika sebuah tendangan menghujam perutku. TIdak! Apa ini?! Lebih sakit dari yang biasanya! Aku nggak bisa bergerak! Aku bahkan nggak bisa menjawab apapun yang Jun tanyakan padaku! Sial! Sakit……

 

“Haruka…. Bajumu basah….”aku dapat mendengar dengan jelas suara Jun yang bergetar akan hal yang dilihatnya. “……Haruka…. Jangan-jangan……. A,-aku akan segera memanggil ambulans!”

 

“Jun-kun….”

 

 

Tanpa mempedulikan panggilanku, Jun segera melepas tanganku yang mencengkram lengan kemejanya dan berlari menuju telepon rumah. Ia tampak tergesa-gesa menunggu teleponnya terjawab, dan berbicara seefektif mungkin ketika nampaknya ia telah mendapat respon.

 

Jun kemudian mengambil ponsel yang ia letakkan di pantry dan mencari sebuah kontak dengan tergesa-gesa.

 

“Narumi! Ini aku! Bisa kau ke rumahku sekarang?! Haruka tampaknya akan segera melahirkan… Air ketubannya baru saja pecah dan aku sudah memanggil ambulans!”aku mendengar suara Jun yang tak dapat ia kontrol kembali. Pria itu nampak sangat panik hingga tak dapat mengontrol volume suaranya. “Tolong jaga Junko, ya! Ia tampaknya sudah tidur! Aku akan bersama Haruka ketika ambulans tiba. Junko kuserahkan padamu!”

 

Tanpa berlama-lama kembali, Jun segera menutup teleponnya dan kembali berlari menghampiriku. Ia membantuku untuk tidak terus meringkuk mengubah posisi dudukku. Jun kemudian menyandarkan kepalaku didadanya. Baik diriku maupun dirinya, keringat dingin sontak membanjiri pelipis kami. Padahal kami baru saja tertawa bersama. Padahal aku baru saja berpikir ini akan menjadi malam yang tenang dan mendebarkan. Tapi debaran yang terjadi benar-benar sangat diluar perkiraan. Siapa yang menyangka kelahiran Junji akan segera tiba?!

 

Sepertinya aku melewatkan satu hal.

 

Satu informasi yang tak memiliki saksi. Satu hal yang seharusnya hanya diketahui oleh diriku dan Jun dimasa ini. Satu hari sebelum kami melompat ke dimensi ini. Ya! Pada hari itu orang-orang mengatakan bahwa aku rubuh karena kontraksi yang kualami hingga akhirnya Jun dan Aiba-kun membawaku ke rumah sakit.

 

Saat itu seharusnya pemeriksaan bayi dilakukan. Saat itu seharusnya hanya aku dan Jun saja yang berada di dalam ruangan pemeriksaan. Saat itu seharusnya diinformasikan kapan bayi yang kukandung akan lahir…

 

…..dan siapa yang menyangka hari itu adalah hari ini…

 

Aku mendengar sayup-sayup suara beberapa orang yang telah berjaga di depan apartemen kami. Pintu apartemen kami pun terbuka, entah siapa yang membukanya, karena Jun terus membiarkanku bersandar padanya dan tak melepaskan dirinya dariku sedikitpun. Apa mungkin itu penjaga apartemen?! Entahlah! Aku benar-benar sudah tak bisa berpikir lagi

 

Aku merasakan diriku mengapung dan dibaringkan ke sebuah tandu. Suara Jun samar-samar terdengar dari sisi kananku dan para perawat yang membawaku ke dalam ambulans terus berusaha untuk membuatku tetap sadar.

 

Rasa sakit yang kualami mungkin adalah rasa sakit pertama yang paling luar biasa dalam hidupku. Kesadaranku mulai menjauh, tapi aku harus tetap tersadar dan tak boleh melepaskannya. Semua orang memanggil namaku, menanyakan apakah aku baik-baik saja, tapi aku hanya bisa terus merintih sambil terus berpegangan erat pada apa yang bisa kupegang. Seorang suster tampak memanduku untuk mengontrol nafasku, dan tangan Jun yang dingin dapat kurasakan menggenggam tangan kiriku.

 

Tak butuh waktu yang lama hingga kami sampai di rumah sakit terdekat. Perawat dari Unit Gawat Darurat segera menanganiku dan membawaku ke dalam ruang penanganan. Tangan Jun yang semula menggenggam tangan kiriku dengan erat tiba-tiba terlepas karena dokter menghalangi Jun untuk ikut masuk ke dalam ruangan.

 

Aku tak dapat mengingat apa yang terjadi lagi setelahnya. Yang kuingat adalah ruangan yang penuh dengan lampu, bunyi alat-alat operasi yang berbenturan seperti alat makan perak, perintah-perintah dokter yang memakai bahasa medis, seorang suster yang terus memanduku untuk mengatur ritme nafasku dan terakhir suara bayi yang akhirnya keluar dari perutku.

 

Perjuangan…

 

Air mata…

 

Rasa sakit…

 

 

Sebuah tarikan nafas lega terdengar di telinga satu sama lain ketika bayiku telah lahir dengan selamat. Tangisannya yang nyaring membuatku ikut menangis melepas segala perasaan yang selama ini kurasakan. Perasaan yang selama ini tak bisa kukatakan. Perasaan subjektif yang hanya dimengerti oleh diriku. Rasa perih karena melewatkan pernikahan dan tak tahu bagaimana Junko dapat lahir ke dunia ini. Rasa iri melihat Narumi dan Aiba-kun yang menjalani kisah cinta mereka dengan normal. Rasa takut akan Jun yang menganggap keberadaanku adalah sebuah gangguan.

 

Tidak….

 

Semua itu sudah berakhir….

 

Mulai hari ini aku akan menjalani hidup yang baru…

 

Hidup yang penuh kebahagiaan, dengan orang-orang yang kusayangi….

 

Dengan seorang suami yang memberiku kesempatan untuk melakukan hal yang kami lewati, seorang adik ipar dan calon suaminya yang selalu mendukung kehidupan kami, dan anak-anakku yang melengkapi kehidupan baruku…

 

“Haruka…. Kau baik-baik saja?!”aku dapat melihat Jun berlari tergesa-gesa menghampiriku dan menggenggam tanganku dengan erat. Tangan pria itu masih dingin dan basah oleh keringat dingin. Raut wajah khawatirnya membuatku kasihan pada dirinya. Matanya tampak tegang dan air wajahnya pucat. Entah kekhawatiran dan ketakutan macam apa yang berkecamuk dalam diri Jun.

 

“Matsumoto-san, selamat, ya… Anaknya laki-laki,”seorang perawat yang mempersilahkan Jun masuk tampak menggendong bayi merah yang telah bersih dari darah dan dibalut dengan kain berwarna putih.

 

“Jun-kun… Junji sudah lahir,”bisikku. “…..aku menantikan perjalanan kita selanjutnya,”

 

 

Aku Matsumoto Haruka.

 

Saat ini aku berusia 28 tahun…

 

 

 

 

E N D

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s