[WHITE DAY SP] AMORE

A M O R E

 

chinatsu, 2017 March

Enjoy….

 

 

Ciiip…. Ciiiipp….

 

Aku terbangun oleh suara kicau burung yang hinggap di beranda apartemen. Seperti biasa, pemandangan pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah wajah tidur Masaki yang manis. Wajah tidur damai yang tak pernah bosan kulihat.

 

“Selamat pagi,”aku mengecup dahi pria itu meski ia masih asyik berpetualang dalam alam mimpinya.

 

Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju dapur. Mencari sebuah santapan manis untuk kusantap bersama secangkir teh hangat. Kusibak semua gorden yang menutupi seluruh ruangan agar sinar matahari dapat masuk memberi penerangan.

 

Hari ini adalah tanggal 14 Maret. White Day. Mereka bilang, white day adalah hari dimana seorang pria membalas coklat yang ia terima dari seorang gadis. Tapi, hal itu tidak berlaku bagiku. Kurasa aku tidak memiliki definisi hari valentine yang harus dirayakan tanggal 14 Februari dan white day pada tanggal 14 Maret hanya untuk menunggu balasan dari sebungkus coklat. Bagiku, setiap hari adalah hari kasih sayang sekaligus white day. Karena setiap hari aku berusaha memberikan yang terbaik untuk Masaki, dan aku pun selalu mendapat rasa kasih sayang darinya setiap hari.

 

Aku justru heran, kenapa hari kasih sayang saja harus diberi tanggal khusus? Kalau memang menyayangi, setiap hari pun adalah hari kasih sayang, bukan?

 

“Selamat pagi, Masami,”aku sedikit terperanjat ketika seseorang memanggil namaku dengan lembut dan mengecup ubun-ubun kepalaku tiba-tiba. Baru saja aku hendak menoleh, sebuah pelukan hangat segera membungkus bagian belakang tubuhku.

 

“Selamat pagi, Masaki… Kau tidur nyenyak?!”tanyaku. Masaki hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dan menenggelamkan kepala dalam pelukannya. Ia kemudian mendekati wajahku secara tiba-tiba dan memberi ciuman kecil yang tak terduga. “….Masaki….”

 

“Aku bermimpi melihat wajahmu merona setelah kucium…. Rupanya mimpi itu benar,”dengan wajah yang masih setengah mengantuk, Masaki memandangku dan mengelus rambutku dengan lembut.

 

“Ka,-kau ngapain, sih?!”Aku yang malu diperlakukan manis oleh Masaki segera mendorongnya sehingga pria itu sedikit tersungkur. Masaki mengaduh sesaat. Ia kemudian segera bangkit dan berjalan ke dapur setelah sebelumnya membalasku dengan mengacak-acak rambutku.

 

Aku protes, namun sebuah senyuman segera menghiasi wajahku.

 

“Hari ini mau kemana?!”tanyaku ketika Masaki telah kembali dari dapur seraya membawa secangkir kopi hangat. “….Hari ini kau libur, kan?!”

 

“Iya, tapi ada fitting pakaian jam setengah tiga nanti,”jawab Masaki seperlunya.

 

“Eh?! Katanya libur?!”entah kenapa caraku bertanya pada Masaki seolah terdengar seperti sebuah protes. Sebenarnya, sih, bukan protes… Tapi entah kenapa aku sering merasa kesal kalau di hari liburnya ia masih melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan.

 

“Iya… Tapi aku harus datang untuk fitting pakaian… Soalnya dalam waktu dekat ini akan ada event penting,”jelas Masaki. “Oh, ya… Setelah selesai fitting pakaian, kau bisa menemaniku, nggak?! Setelah itu aku ada janji dengan seseorang,”

 

“Boleh saja, sih…. Siapa?!”tanyaku polos.

 

“Nanti akan kukenalkan…. Ia orang penting yang akan datang di event yang akan datang,”jawab Masaki lagi. “….Nah! Sekarang ayo beres-beres! Masami, kemarin kau janji padaku untuk membereskan wilayah gambarmu itu, kan?!”

 

“Ukh…. Iya, iya….”

 

 

~ ~ ~ ~ A m o r e

 

 

Drap…. Drap…. Drap….

 

 

Aku berlari tergesa-gesa menyalip diantara kerumunan orang yang masuk keluar stasiun. Aku berusaha untuk menepati janji bertemu dengan Masaki di Tsutaya yang berada tepat di depan Stasiun Shibuya. Seharusnya aku sudah sampai daritadi dan tidak perlu tergesa-gesa untuk bertemu Masaki, namun karena terjadi kecelakaan, jalur kereta yang kutumpangi pun akhirnya mengalami keterlambatan.

Aku sudah memberi kabar pada Masaki akan keterlambatanku, dan pria itu juga sudah membalasnya. Namun ia malah menyuruhku untuk santai saja tanpa terburu-buru. Tapi itu tidak mungkin! Karena pagi tadi ia berkata akan bertemu dengan orang penting yang akan hadir di event  selanjutnya. Aku tak ingin penilaiannya terhadap Masaki menjadi buruk karena kesalahanku.

 

“Masaki…. Maaf menunggu,”aku menghampiri Masaki yang sedang asyik menyeruput segelas minuman dingin seraya membaca majalah di lantai paling atas gedung Tsutaya. Toko itu memang memiliki bar kecil di lantai paling atas, yang dijajarkan dengan bagian majalah barat yang bisa dilihat kapan saja.

 

“Masami, kau habis berlari, ya?! Kan sudah kubilang kau nggak usah terburu-buru,”seru Masaki. “Aku sudah menduga! Kau pasti akan berdandan lebih rapi dari biasanya! Kalau kau lari, tatanan rambutmu jadi nggak teratur lagi, kan?!”

 

“Habisnya! Kau kan bilang akan bertemu dengan orang penting! Mana mungkin aku nggak berdandan lebih rapi!”gerutuku. “Pilihannya hanya dua! Kau terlambat bertemu dengan orang penting itu, atau aku sedikit berantakan tapi kita tepat waktu,”

 

“Nggak ada pilihan lain dari kalimatmu?!”Masaki balas menggerutu.

 

“Memang seperti itu adanya! Sudahlah, aku akan menggerai rambutku saja… ah! Sebelum pergi, kau mau tunggu sebentar?! Setidaknya aku mau memperbaiki riasanku dulu di toilet,”

 

“Hihihi…. Baiklah, tuan putri! Aku akan menunggu!”

 

Aku segera bergegas berjalan menuju toilet dan memperbaiki riasanku. Tatanan rambut yang susah payah kubentuk sambil melihat tutorial di situs youtube terpaksa kuurai kembali karena aku tak punya waktu memperbaikinya, dan lagi aku tak bisa melakukannya kalau tidak sambil melihat video itu sendiri. Keringat di wajahku segera kuseka dengan tisu yang tersedia di toilet dan minyak diwajah pun kuangkat dengan kertas minyak wajah.

Aku berusaha untuk tak memakan banyak waktu mengingat Masaki harus bertemu dengan orang penting itu setelah ini. Meski ia berkata “santai saja” atau bahkan ia masih mau menunggu tanpa adanya rasa panik, akan lebih baik kalau kami bisa sampai di tempat janjian duluan daripada orang penting yang akan ditemuinya.

 

Masaki mulai melajukan mobilnya yang ia parkirkan di sebuah gedung parkir yang letaknya agak terpisah dari pusat keramaian. Untuk mencairkan suasana, ia memasang radio dan mencari gelombang yang pas untuk mengisi ruang diantara kami berdua.

Entah apa yang terjadi pada Masaki hari ini, ia tampak begitu santai, ceria, dan entah kenapa aku merasa ia jadi lebih gagah daripada biasanya. Aku merasa ia menjadi lebih tenang, dewasa, dan gentlemen. Padahal saat ini ia memakai jeans, meski pakaian atas yang dikenakannya adalah kaus putih yang dibalut dengan blazer hitam. Maksudku, ini adalah pakaian sehari-harinya, tapi kenapa aku merasa ada yang lain dari dirinya?!

Tak butuh waktu lama hingga kami pun tiba di area Roppongi. Area dimana restoran kelas atas berkumpul dan banyak orang asing datang kesana. Setelah memarkirkan mobil, Masaki pun menggandeng tanganku dan menuntunku ke sebuah restoran yang tampak cukup mahal.

 

“Ma,-Masaki…. Maaf, kau masuk saja duluan,”aku menghentikan langkahku ketika ponselku tiba-tiba bergetar. “…..ada telepon,”

 

“Baiklah, kalau begitu aku tunggu di dalam, ya… Nanti katakan saja namaku pada pelayannya… Aku yang memesan tempat, kok….”aku mengangguk, kemudian bergegas kembali keluar restoran bersamaan dengan Masaki yang semakin masuk ke dalam restoran.

 

Aku mengambil ponselku dan mendapati nomor telepon apartemenku yang lama, —yang sekarang menjadi tempat tinggal Jun dan keluarganya—. Karena tak biasanya Jun menelepon dengan telepon rumah, aku segera mengangkatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi.

 

“Narumi…. Hari ini Narumi janji ajari Junko gambar, kan?! Kenapa belum datang?!”aku terkekeh ketika mendapati suara seorang gadis kecil dari seberang sana. Suara keponakan perempuanku yang menagihku untuk datang ke rumahnya dan mengajarinya bagaimana cara menggambar. Aku memang janji padanya untuk mengajarinya bagaimana cara menggambar, tapi aku lupa memberitahunya kalau aku sedang menemani Masaki bertemu dengan seseorang.

 

“Ma,-maaf, Junko… Aku sedang menemani Masaki-kun bertemu dengan seseorang….”aku berusaha untuk meminta maaf pada gadis berusia empat tahun itu. “…..aku akan kesana kalau kami nggak kemalaman, ya…. Tapi kalau nanti aku pulang terlalu malam, aku akan kabari Mama secepatnya… Sebagai gantinya, hari Jumat nanti aku traktir makan crepes, deh…”

 

“Benar?! Horeee!! Kalau begitu, sampai nanti, Narumi!!”Junko, keponakanku segera menutup teleponnya. Namun tak lama kemudian telepon dari nomor yang sama kembali masuk ke ponselku. Kali ini Haruka, kakak iparku. Ia memberitahuku bahwa Junko sudah bisa menghafal nomor telepon orang-orang terdekatnya. Hal ini diterapkan Haruka dan Jun dengan maksud agar Junko dapat memberi kabar kalau saja sesuatu terjadi padanya. Namun ia sendiri tak menyangka kalau hal itu Junko gunakan untuk menghubungiku dan menagih janji.

 

Aku kembali memasuki restoran ketika telepon bener-benar sudah terputus. Aku menghampiri seorang pelayan dan menyebutkan nama Masaki hingga pelayan itu akhirnya mengantarku ke sebuah ruangan tertutup. Seperti biasa, Masaki sepertinya menggunakan kekuatannya untuk mendapatkan ruang privat yang katanya cukup sulit untuk diambil.

 

“Maaf menunggu…”aku segera membungkuk dan masuk ketika pintu ruang privat dibuka. Setelah pintu itu ditutup, aku segera duduk di samping Masaki dan kembali membungkuk memberi salam. “Selamat malam…………… Ayah?!”

 

Aku terbelalak ketika mendapati ayahku duduk dihadapanku. Ia menatapku sesaat, kemudian kembali menatap Masaki dengan tatapan serius. Melihat ayahku yang menatap Masaki dengan tatapan serius, aku melirikkan mataku pada Masaki. Begitu pula dengan pria itu, tanpa menyambut kedatanganku, Masaki terus menatap ayah dalam-dalam.

 

Ada apa ini?! Dengan kepala penuh tanda tanya, aku pun membenahi posisi dudukku tanpa melepaskan pandangan mataku dari Masaki.

 

 

“……ayah……izinkan aku meminang putrimu. Aku mohon!” aku terkejut ketika Masaki tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga kepalanya nyaris terbentur meja. Lebih dari itu, aku terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan pada ayahku.

 

“Ma,-Masaki! Jangan bercanda! Kau ngapain, sih?!”aku menyikut Masaki perlahan seraya tertawa getir. Berusaha membuat suasana terlihat seperti sebuah lelucon.

 

Sebenarnya hubunganku dengan Masaki tidak ditentang oleh keluargaku. Mereka bahkan mengenal Masaki jauh sebelum aku mengenal baik pria ini. Justru saat ini masalahnya ada pada diriku sendiri. Aku datang kemari tanpa mengetahui apa-apa, aku tak mengetahui siapa ‘orang penting’ yang akan kutemui, dan aku tak tahu sama sekali tentang pernikahan ini.

 

Bukannya aku tak mau, tapi karena tak diberi tahu apa-apa, aku jadi kacau sendiri!

 

“Silahkan saja,”jawaban ayah yang begitu ringan seketika membuatku sontak mengalihkan wajahku padanya. Tak ada  hal lain yang bisa kulakukan selain menatap ayah dengan tatapan tak percaya. Sementara itu, Masaki segera mengangkat kepalanya dan berterimakasih kepada ayah, kemudian ia segera memelukku dengan erat.

 

Aku hanya dapat merasakan dengan jelas bulu kudukku seketika berdiri dengan rasa bahagia yang tiba-tiba saja membuncah dari dalam dadaku. Entah sejak kapan air mataku pun ikut mengalir, dan aku baru menyadari hal itu ketika Masaki menyodorkan sapu tangannya padaku.

 

“Narumi, aku membesarkanmu dengan didikan yang keras… Mungkin kau menganggap terkadang didikanmu lebih keras daripada Jun… Itu kulakukan agar kau menjadi wanita yang memiliki nilai. Mungkin peraturan yang begitu ketat membuatmu berulang kali ingin kabur, tapi percayalah, aku yakin kau merasakan manfaatnya sekarang. Kau bisa mengendalikan emosimu, dan kau menjadi lebih kuat daripada gadis yang lain…. Kau sudah dewasa…. Kau sudah menjalin hubungan dengan pria yang baik…. Pria itu adalah teman anakku sendiri yang telah kukenal sejak dulu dan telah kuanggap sebagai anak sendiri… Aku juga yakin, keputusanmu untuk tinggal bersama dengannya setelah Jun menikah adalah keputusan yang telah kau pikirkan matang-matang…. Aku mengetahuinya karena kau bukan orang yang berpikir sembarangan… Sejujurnya, ketika Jun menikah dan kau memberitahu kami bahwa kau akan tinggal bersama Masaki, aku sudah tahu kalau kau berniat untuk menjalin hubungan yang serius dengannya, tapi aku tak bisa mengatakan hal itu padamu…. Tapi sekarang aku bisa mengucapkannya…. Aku hanya bisa mengucapkan selamat padamu, nak! Berbahagialah dengan Masaki…..”perkataan ayah yang begitu dalam membuatku semakin larut dalam perasaanku. Itu adalah perkataan paling jujur yang baru pertama kali kudengar dari mulut seorang ayah.

 

Jujur saja, kalau aku harus memberi kesan bagaimana perasaanku sekarang ini, sejujurnya aku masih merasa kacau! Aku tak tahu kalau orang penting yang kutemui adalah ayah, dan aku juga tak tahu kalau tujuan Masaki bertemu dengan ayahku adalah melamarku langsung dihadapannya, tanpa memberitahuku terlebih dahulu, yang notabennya akan menjadi pasangannya nanti.

 

“……Masaki! Awas, ya, kalau kau membuat anak kesayanganku menangis!”pernyataan yang keluar dari mulut ayah kemudian seketika membuatku terkejut sekaligus tersipu. Rasanya baru kali ini aku mendengar sendiri dari mulut ayahku kalau aku adalah anak kesayangannya.

 

Suasana semakin mencair ketika makanan pesanan kami telah tersaji di meja. Karena pertemuan ini segera diawali dengan lamaran langsung, topik pembicaraan yang kami bahas di meja ini tentu saja tak jauh dari topik pernikahan. Mulai dari bagaimana waktu ayah melamar ibu, pandangan orang-orang mengenai mereka ketika baru saja menikah, cerita ketika Jun dan diriku lahir, sampai khayalan-khayalan ayah dan ibu yang tak pernah kuketahui. Khayalan-khayalan yang membayangkan bagaimana jika Jun dan aku telah memiliki keluarga masing-masing, apa yang akan terjadi pada ayah dan ibu, dan bagaimana cucu mereka akan tumbuh.

 

Apakah mereka masih mendapat kesempatan untuk menyaksikan pertumbuhan cucu mereka?

 

Sebenarnya ayah dan ibu masih terbilang muda untuk ukuran usia, tapi entah kenapa cerita melankolis terus mengalir dari mulutnya. Ini menjadi momen dimana aku dapat melihat salah satu wajah ayah yang tak pernah kulihat. Wajah rapuh dari seorang ayah yang selama ini selalu bersikap paling kuat.

 

“Kenapa nggak bilang kau mau bertemu dengan ayah?!”gerutuku ketika kami telah duduk berdua di dalam mobil, menuju perjalanan pulang. “…..kau bilang mau bertemu dengan orang penting?!”

 

“Memangnya ayahmu bukan orang penting?!”Masaki dengan entengnya malah membalikkan kata-kataku dan tertawa kecil.

 

“Bukan begitu! Maksudku……orang penting untuk event selanjutnya! Kau bilang akan ada event penting selanjutnya, kan?! Bagaimana dengan orang itu?!”tanyaku.

 

Masaki menghela nafas seraya tertawa kecil. Pria itu seketika menginjak rem dan mengubah persneling ketika mobil kami sampai di lampu merah.  Ia kemudian memutar sebagian tubuhnya ke bagian belakang mobil dan mengambil sesuatu dari belakang sana.

 

“Ini,”aku membelalakkan mataku ketika mendapati Masaki menyodorkanku sebuah kotak perhiasan dikala aku baru saja melepaskan perhatianku darinya dan melihat lampu jalan yang menyinari malam kami. Tanpa menunggu respon dariku, Masaki segera membuka kotak perhiasan tersebut, memasangkan sebuah cincin perak yang terdapat di dalam sana dan memasangnya ke jari manisku. “Happy white day….

 

“Masaki….”aku hanya bisa memanggil nama pria itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Pria itu kemudian memajukan sedikit tubuhnya dan menciumku dengan lembut.

 

“Kau tahu?! Gara-gara apa yang kau berikan padaku ketika tahun baru, aku jadi berpikir untuk menjadikan hari istimewa menjadi lebih istimewa dari biasanya.”perkataan Masaki memunculkan tanda tanya besar di atas kepalaku. Aku bahkan tak mengerti apa yang dikatakannya. “…….Di hari ulang tahunku, tepat di malam natal, kau menjadi kekasihku…. Pada hari kasih sayang tahun lalu, itu menjadi hari pertama kau tinggal bersamaku… Lalu awal tahun baru ini, kau memutuskan untuk memberikan dirimu seluruhnya padaku…. Sekarang saatnya giliranku,”

 

“Eh?!”aku terdiam sesaat seraya melakukan kilas balik atas apa yang selama ini kulakukan.

 

“………aku telah menjadikan hari white day ini sebagai hari dimana aku melamarmu…. Dan aku bermaksud untuk melakukan upacara pernikahan denganmu di hari ulang tahunmu,”aku hanya bisa membelalakkan mata mendengar apa yang Masaki katakana padaku. Sekali lagi aku merasa merinding. Perasaan bahagia membuncah dasyat di dalam dadaku dan aku hanya bisa menahan rasa panas disekelilingku. “……orang penting yang baru saja kutemui adalah orang yang akan menjadi pendampingmu ketika pernikahan kita berlangsung…. Fitting pakaian yang kulakukan siang ini adalah fitting baju pernikahan yang akan kupakai pada hari itu, tentu saja kau juga akan melakukan pengukuran kalau jadwalmu sudah kosong…. Dan event  selanjutnya yang kukatakan padamu pagi ini adalah pernikahan kita,”

 

Hari ini adalah tanggal 14 Maret. White Day. Mereka bilang, white day adalah hari dimana seorang pria membalas coklat yang ia terima dari seorang gadis. Tapi, hal itu tidak berlaku bagiku. Kurasa aku tidak memiliki definisi hari valentine yang harus dirayakan tanggal 14 Februari dan white day pada tanggal 14 Maret hanya untuk menunggu balasan dari sebungkus coklat. Bagiku, setiap hari adalah hari kasih sayang sekaligus white day. Karena setiap hari aku berusaha memberikan yang terbaik untuk Masaki, dan aku pun selalu mendapat rasa kasih sayang darinya setiap hari.

 

Aku justru heran, kenapa hari kasih sayang saja harus diberi tanggal khusus? Kalau memang menyayangi, setiap hari pun adalah hari kasih sayang, bukan?

 

“Narumi…. Maukah kau menikah denganku?!”untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mendengar Masaki memanggil nama asliku dikala hanya ada kami berdua.

 

Sepertinya aku salah.

 

Memang, kalau setiap hari kita terus menyayangi, setiap hari adalah hari kasih sayang untuk kita. Tapi kalau balasan yang kau terima dari rasa kasih sayang yang kau berikan adalah sebuah lamaran pernikahan, kita hanya bisa terus memperingatinya tanpa menganggap itu adalah hal yang biasa.

 

Padahal selama ini aku menganggap hari peringatan semacam itu adalah hari yang konyol. Tapi Masaki membuatku mengingat hal itu dan membuatnya menjadi lebih istimewa dengan caranya sendiri. Kalau begini caranya, tak ada yang bisa kulakukan selain menganggap hal itu adalah hari-hari istimewa.Dasar! Aku nggak akan pernah bisa mengalahkan rasa cinta pria ini!

 

“Kau lama!!!”sebagai bentuk persertujuan atas lamaran yang Masaki ajukan padaku, aku segera melingkarkan tanganku di lehernya dan memeluknya erat-erat.

 

Masaki….

Ti voglio molto bene… (Aku sangat mencintaimu)

Sei tutto per me…(Kau adalah segalanya bagiku)

Sei l’uomo della mia vita… (Kau adalah pria dalam hidupku)

 

Masaki…

Mi accompagni ovunque io vada….(kau selalu ada kemanapun aku pergi)

Sei la cosa più cara che ho…. (Kau adalah orang yang sangat kusayangi)

Hai conquistato il mio cuore… (Kau telah memenangkan hatiku)

Cara mia, ti voglio bene… (Sayangku, aku mencintaimu)

Sono tua… (Seluruh diriku adalah milikmu)

Mi amore…

 

 

 

E N D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s