私の論文はあなたに賭けてる

Title :  私の論文はあなたに賭けてる (introduction)

Pairing : Matsumoto Narumi (OFC/You) x Aiba Masaki (Arashi)

Genre   : School life, Romance, Slice of life, Lemon

Rating   : 17+

 

 

Enjoy

 

Semester baru telah dimulai. Mulai hari ini, aku menjadi mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi menyelesaikan masa studiku. Bisa dibilang, sebagian besar studiku telah selesai dengan nilai yang cukup baik. Namun, aku masih harus mengambil mata kuliah skripsi sebagai syarat untuk mendapat gelar dari program studi yang kuampu.

 

Ketika semester ini resmi dimulai, belum-belum aku sudah bersorak kegirangan dalam hati ketika mengetahui siapa yang akan menjadi pembimbing utamaku.

 

Aiba Masaki. Ia adalah seorang dosen muda yang sangat menarik perhatianku. Awalnya, aku hanya menganggap dirinya sebagai seorang guru yang menyenangkan. Aku dapat menerima pelajarannya tanpa kesulitan sedikit pun, dan ia juga dapat menanganiku dengan baik. Aku bukan murid yang bermasalah, tapi aku bukanlah tipe orang yang menyukai basa-basi. Aku akan berkata dengan jujur apa yang kusuka dan tidak, aku akan langsung mengatakan apa yang menggangguku dan aku tidak terbiasa menyembunyikan hal yang membuatku bingung. Mungkin karena pembawaan yang ada pada diriku, banyak orang yang memilih untuk tidak mencari masalah denganku.

 

Selain itu, keberadaanku di kampus ini juga memiliki peran yang cukup besar. Keluargaku memiliki hubungan yang sangat baik dengan pendonasi terbesar di kampus tempatku belajar, sehingga bisa dibilang aku dapat semakin egois dengan adanya keuntungan yang kupunya. Namun aku meminta keluargaku untuk tidak turun tangan dan membocorkan hal tersebut, karena aku tidak mau melihat adanya penjilat disekelilingku hanya karena status tersebut.

 

Hanya saja, niatku untuk tidak membocorkan hal itu tidak bertahan lama ketika aku mengetahui bahwa Aiba-sensei,—begitu panggilanku padanya—adalah teman dekat kakakku sejak SMA.

 

Ya! Aku memiliki seorang kakak lelaki yang usianya cukup jauh diatasku. Namanya Jun. Matsumoto Jun. Ia adalah seorang pengacara di kantor hukum advokat dan pengacara terbesar di Jepang. Selain itu, ia juga mengajar sebagai dosen di fakultas hukum tempatku belajar. Dari program studi yang ditekuninya, dapat dibayangkan bahwa sifatnya tak jauh beda dengan diriku. Mungkin karena itu pula, tak banyak orang yang nekad mencari masalah dengannya.

 

“Matsumoto!”aku segera menegakkan punggungku ketika namaku dipanggil demikian. Apakah namaku dipanggil?! Atau kakakku ada di dekatku?! Hanya dua hal itu yang terlintas dibenakku ketika nama keluargaku dipanggil. “Matsumoto Narumi!”

 

Aku memutar kepalaku perlahan ketika namaku akhirnya dipanggil dengan jelas. Entah kenapa aku selalu merasa malu ketika menoleh dan ternyata panggilan tersebut tak ditujukan padaku. Padahal seharusnya aku tahu, tidak hanya aku dan kakakku yang memiliki marga Matsumoto di kampus ini.

 

“Sakurai-sensei…”aku melihat kepala program studi dari jurusanku yang tengah berjalan menghampiriku. Sakurai Sho.

 

“Bisa minta waktumu sebentar?!”tanya Sakurai-sensei seraya berlari kecil ke arahku. “….Aku disuruh menyampaikan pesan dari Aiba-sensei… Katanya hari ini ia ada urusan mendadak, jadi bimbingan pertama ditiadakan,”

 

“Eh?!” Aku membelalakkan mata mendengar perkataan Sakura-sensei. Padahal hari ini aku datang ke kampus hanya untuk bertemu dengannya!

 

“Ah! Ia juga masih ada tugas yang kuberikan, jadi mungkin bimbinganmu akan diundur beberapa hari lagi,”tambah Sakurai-sensei. Bukan itu masalahnya! “…..Ah! Setelah ini aku ada janji makan siang dengan kakakmu… Bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama?!”

 

Aku terdiam sejenak. “Baiklah….”

 

 

~~~

~~~

 

 

“Memangnya kau baru tahu?! Itu hal biasa kalau kau mulai berhadapan dengan skripsi!”ujar Jun ketika aku menceritakan padanya apa yang kualami hari ini. “…..janji yang mendadak batal, para dosen yang mendadak rapat, para dosen yang ada urusan mendadak, semua serba mendadak… Bahkan kau bisa disuruh datang mendadak,”

 

“Eeeh?! Memangnya kalian para dosen tidak bisa mengatur jadwal kalian dengan baik?!”gerutuku. “Hidupku bukan hanya untuk skripsi saja,”

 

“Kalau aku dosenmu dan bukan kakakmu, aku sudah mengeluarkanmu dari kampus, tahu! Hati-hati dengan mulutmu!”nada Jun mendadak terdengar galak. “….kalau kujawab dari sudut pandang dosen, kau mau lulus dan mendapat gelar,kan?! Selama itu nyawamu berada di bawah tangan dosen… Kau butuh gelar itu, otomatis kau butuh mereka, dan kau harus mendatangi mereka… Kalau kau sembarangan dengan mereka, mereka bisa menyulitkanmu bahkan menjatuhkanmu,”

 

“Ukh….”

 

“….Kemudian, mungkin staf resmi bisa mengatur jadwal mereka dengan baik, tapi kalau pengajar tidak tetap?! Bukan hanya kampus saja medan pekerjaan mereka, tapi juga pekerjaan utamanya…”jelas Jun. “…..aku nggak sepenuhnya menyalahkanmu, karena aku juga pernah merasakan apa yang kau alami… dan sekarang aku juga merasakan apa yang dosen-dosen itu alami,”

 

“Haaaaa….”aku menghela nafas berat. Rasanya aku tak ingin mendengar ocehan Jun lebih jauh lagi, tapi aku tak bisa menyangkal bahwa apa yang ia ucapkan ada benarnya.

 

“Jangan menghela nafas terus! Menghela nafas nggak mengubah kenyataan!”Jun memukul kepalaku dengan sebungkus makanan ringan seraya menghempaskan dirinya di sisiku yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. “Ah! Baru saja dibicarakan!”

 

“Hng?!”

 

“Narumi, Aiba-kun memintamu untuk menemuinya besok setelah jam 4 sore,”

 

“Hah???!! Yang benar saja!”aku segera menoleh cepat ketika Jun menyampaikan pesan yang ia terima dari Aiba-sensei. “….Bahkan pelajaran formal pun berakhir jam 4!! Kenapa aku harus menemuinya setelah jam 4??!”

 

“Karena ia masih harus mengajar sampai jam 4!”tegas Jun. “Sudah, lakukan saja perintahnya dan jangan mengeluh!”

 

“Ukh…..”

 

Tidak!

 

Bukan itu!

 

Bukan itu yang kumaksud!

 

Aku sering mengucapkan hal yang berlawanan dengan hatiku. Aku sering sekali merasa bahwa mengatakan perasaan yang sesungguhnya adalah perbuatan yang memalukan. Padahal aku tidak ingin mengucapkan kata kasar, tapi aku sering mengatakannya dan berakhir membuat seseorang sakit hati. Padahal aku menginginkan sesuatu, tapi selalu berakhir seolah aku tak membutuhkan hal tersebut.

 

Padahal hari ini aku merasa sedih, tapi hari ini berakhir seolah aku kesal.

 

Aku sedih, karena hari ini aku tak bisa bertemu dengan Aiba-sensei. Padahal hari ini aku datang ke kampus untuk bertemu dengannya. Bahkan aku datang lebih cepat dari waktu janjian hanya untuk menghampirinya dan mengajaknya makan siang bersama. Aku ingin mengambil sedikit dari waktunya untuk dapat bersamanya dan meninggalkan kesan pada dirinya. Aku ingin menikmati waktuku bersamanya dan menatap setiap bagian yang ada pada dirinya.

 

Tapi pada akhirnya aku malah pergi makan siang dengan kakakku dan Sakurai-sensei. Kemudian pulang bersama kakakku.

 

…..dan besok aku akan kembali menemui Aiba-sensei.

 

Sejujurnya, aku senang ia menghubungi kakakku langsung dan memberi kabar padaku untuk menemuinya esok hari. Aku bahkan tidak keberatan sama sekali kapan ia dapat bertemu denganku. Yang kupikirkan adalah “akhirnya aku dapat bertemu dengannya,”.

 

Hanya saja, aku memiliki masalah dalam mengekspresikan perasaanku dengan jujur….

 

Nama dosen pembimbingku adalah Aiba Masaki. Ia adalah seorang dosen muda yang sangat menarik perhatianku. Awalnya, aku hanya menganggap dirinya sebagai seorang guru yang menyenangkan. Tapi entah sejak kapan aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya.

 

 

~~~

~~~

 

Teng… teng…

 

Lonceng jam pelajaran formal telah berdentang. Aku membereskan segala barangku yang berserakan dan bergegas untuk menemui Aiba-sensei.

 

Hari ini, niatku untuk mengajaknya makan siang terpaksa harus kukubur dalam-dalam. Aku memang berangkat jauh lebih awal dari waktu janjian, tapi aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya semenjak aku tiba di kampus. Padahal aku juga sudah sengaja melangkahkan kakiku ke tempat dimana aku bisa menemukannya. Tapi tak ada hasil yang kudapatkan.

 

Terkadang aku merasa diriku seperti seorang penguntit. Sekali aku menyukai seseorang, aku pasti akan mencari tahu semua hal tentang orang yang kusukai seolah aku adalah orang yang paling dekat dengannya. Aku selalu berusaha untuk yang menjadi nomor satu tahu. Aku juga berusaha memperbanyak kehadiranku di mata orang yang kusukai. Tapi, aku tak pernah berani mengungkapkan perasaanku. Bahkan untuk mengungkitnya sedikit saja, aku pasti langsung menghancurkannya dengan lidah tajamku.

 

Aku berharap suatu hari aku dapat jujur pada perasaanku sendiri.

 

 

Tok… tok…

 

 

“Permisi…”aku membuka pintu ruang dosen perlahan dan masuk ke dalamnya seraya mencari sosok Aiba-sensei.

 

Tak jauh dari tempatku berdiri, aku dapat melihat Aiba-sensei yang tengah menyeruput segelas kopi hitam seraya menaruh barang-barang di mejanya. Sepertinya ia baru saja selesai mengajar.

 

“Ah! Matsumoto! Tunggu sebentar, ya…” Aiba-sensei yang menyadari kehadiranku segera memanggil namaku dan menyuruhku menunggu. Matsumoto. Begitu caranya memanggilku di lingkungan kampus.

 

Aku mengangguk paham. Kulangkahkan kakiku menuju sudut ruangan agar tak menghalagi para dosen yang berlalu-lalang. Dari jarak yang tak cukup jauh itu, aku dapat melihat Aiba-sensei yang sibuk dengan barang-barang ditangannya. Merapikan semua berkas yang ada di mejanya, dan menjaga kopinya supaya tak tersenggol dan mengotori berkas yang lain.

 

Dahiku sesaat berkerut ketika ia tiba-tiba saja meneguk cepat kopi yang dibawanya dan segera menggendong tas seolah ia bergegas untuk pulang.

 

“Aiba-sensei… bimbingannya……”

 

“Ah! I,-iya! Kita lakukan bimbingannya di luar saja,”jawab Aiba-sensei cepat. Untuk beberapa saat, sepertinya Aiba-sensei lupa akan bimbingan dan berniat untuk pulang cepat.

 

Aku berjalan dengan langkah kaki kecil di sisi Aiba-sensei. Langkah kecilku semakin cepat menyesuaikan langkah kakiku dengannya. Sesaat, aku mengarahkan pandanganku padanya dan mendapati dirinya terus menatap lurus ke depan.

 

“Sensei…. Kita mau bimbingan dimana?!”tanyaku. Menyadari bahwa langkah kaki kami berdua semakin mendekati gerbang utama kampus.

 

“Narumi-chan, kau lapar?!”tanya Aiba-sensei. Aku membelalakkan mata seketika nama kecilku dipanggil olehnya.

 

“Sensei…. Ini di lingkungan kampus,”aku mengarahkan pandanganku ke sekililing kami. Berharap tak ada mahasiswa yang lewat dan mendengar pembicaraan kami.

 

“Nggak apa-apa… Nggak ada yang dengar, kok,”Aiba-sensei tertawa kecil. “……aku lapar… Bagaimana kalau kita pergi ke restoran keluarga dan melakukan bimbingan disana?!”

 

“Eh?! Tapi…..”

 

“Sudahlah, aku traktir, kok!”

 

Tanpa mempedulikan sekeliling, Aiba-sensei lantas menarik tanganku keluar area kampus dan membawaku ke arah stasiun.

 

Gawat!

 

Bagaimana aku dapat menggambarkan perasaanku dalam situasi seperti ini?! Senang?! Khawatir?! Takut?!

 

Aku berusaha menahan semua reflek tubuhku untuk tidak merusak apa yang sedang terjadi. Aku menutup mulutku rapat-rapat agar tak satupun kata-kata pedas keluar dari mulutku dan memperburuk situasi yang terjadi. Aku berusaha menahan gerak reflek yang nyaris kulakukan, dimana umumnya aku akan menarik tanganku dengan kasar dan membiarkan diriku jalan seorang diri. Hingga pada akhirnya, aku membiarkan diriku ditarik oleh pria itu hingga masuk ke dalam kereta yang mulai memasuki jam padat. Tak hanya itu, kami pun mampir ke sebuah restoran keluarga yang letaknya tak jauh dari stasiun dimana kami turun.

 

“Narumi-chan?! Kau mau pesan apa?!”Aiba-sensei bolak balik membuka tiap halaman menu yang dipegangnya.

 

“Se,-sensei… Bimbingannya…..”tanyaku pelan.

 

“Setelah makan! Aku nggak bisa berpikir kalau perutku lapar,”jawab Aiba-sensei cepat. “……Hei, menurutmu mana yang lebih enak?! Ramen?! Donburi?! Hamburger?!”

 

Aku terdiam sejenak ketika melihat gambar makanan yang diucapkan Aiba-sensei. Dua diantara tiga makanan tersebut adalah makanan dengan porsi super besar. Hanya hamburger sajalah yang memiliki porsi normal menurutku.

 

“Sensei lebih suka yang mana?!”aku balas bertanya. Tak berniat memilih ketiganya.

 

“Aku kan tanya padamu…. Mana yang kau suka?!”

 

“……aku jarang makan malam,”ujarku setelah beberapa saat terdiam. Aiba-sensei pun ikut terdiam, kemudian menatapku sejenak.

 

“Begitu…. Kalau kubilang aku ingin memesan makanan dan berbagi denganmu, apa kau akan memakannya?!”nada bicara Aiba-sensei terdengar seperti anak kecil. Aku mengangguk kaku. “…. Kalau begitu, pilih makanan yang kau suka!”

 

Aku menaikkan sebelah alisku, merasa sedikit direpotkan karena harus memilih makanan yang sebenarnya bukan untukku. Namun disisi lain, aku merasa senang karena ia melakukan hal itu untukku. Setelah beberapa saat terdiam, aku pun memilih menu hamburger dengan saus keju yang berlimpah. Aiba-sensei yang mendengar hal itu mengangguk paham, kemudian memanggil sang pelayan.

 

“Aku mau pesan satu cheese hamburger, kemudian nasi ikan maguro dan udon dengan telur setengah matang,”dengan mantap Aiba-sensei tiba-tiba saja memesan tiga jenis makanan yang sebelumnya tidak ada dalam pembicaraan kami. Ia juga memesan minuman untuk kami berdua.

 

“Se-, tunggu! Aku kan sudah bilang aku jarang makan malam!”seruku setengah protes.

 

“Memangnya itu untukmu?!”aku terdiam sesaat mendengar perkataannya. Yang benar saja?! Porsi makannya sebanyak itu?! Ia bukan melakukan itu dengan sengaja, kan?!

 

“……..sensei…….sepertinya kau terlalu banyak memesan makanan,”ujarku pelan.

 

“Nggak apa-apa… Memang biasanya porsi makanku banyak, kok,”ujar Aiba-sensei cuek. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki, kemudian meregangkan tubuhnya. “…..aaaah….. tugas Sakurai-sensei melelahkan!”

 

Sepatah kata protes tiba-tiba saja terdengar dari mulutnya. Aiba-sensei mulai menguap, kemudian membuka isi tasnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan menulis sesuatu di dalamnya.

 

“……..setelah ini masih ada kerjaan, ya?!”tanyaku, memecah kesunyian.

 

“Iya…. Aku masih harus menulis laporan rapat yang kemarin kuhadiri… Seharusnya, setelah jam pelajaran selesai aku masih harus menemui Sakurai-sensei untuk mengabari perkembangannya…. Tapi kalau aku menemuinya hari ini, ia pasti akan memberiku tugas lagi! Makanya kupikir besok saja, sekalian laporannya selesai,”tak kusangka Aiba-sensei malah bercerita padaku apa yang dialaminya dengan jelas. Padahal bisa saja aku jahil dan membocorkan omongan buruknya pada Sakurai-sensei.

 

“…..apa karena itu kau bergegas membereskan barang-barangmu dan keluar dari kampus?!”tanyaku seraya tertawa kecil.

 

“Iya! Kau memperhatikanku dengan baik, ya!? Hahahaha…”tanpa penolakan sama sekali, Aiba-sensei menjawab seraya tertawa. “…..aku juga hampir lupa kalau kemarin aku sudah mengontak Jun-kun agar kau menemuiku hari ini. Untung kau datang di saat yang tepat! Kalau tidak, aku sudah pulang!”

 

“….dan aku akan berakhir kesal karena nggak jadi bertemu denganmu, sensei!”ujarku seraya tertawa sarkastik.

 

“Hei! Jangan berkata begitu, dong! Kau jadi semakin mirip kakakmu, tahu!”goda Aiba-sensei. “…….daripada itu, bisa nggak kau berhenti memanggilku sensei kalau kita sedang berdua?!”

 

“Eh?!”

 

“Maksudku……. Aku ini, kan, teman kakakmu…. Rasanya aneh kalau kau bisa memanggil kakakmu dengan namanya sendiri sedangkan kau memanggilku sensei…. Padahal kami sama-sama dosen dan sebelumnya kami sudah berteman sejak di bangku SMA…. Kupikir seharusnya panggilan lain lebih dulu masuk dalam ingatanmu daripada panggilan sensei,”

 

“Tapi aku baru tahu kalau sensei adalah teman kakakku setelah kau jadi pengajarku……..”

 

“Aku tahu! Karena itu aku ingin mengoreksinya,”jawab Aiba-sensei cepat.

 

“………memangnya sensei ingin dipanggil apa?!”tanyaku setelah beberapa saat terdiam.

 

“Masaki…”

 

“Eh?! Nama kecil?!”aku terkejut ketika Aiba-sensei tiba-tiba saja menyebut nama kecilnya sebagai pilihan nama untuk memanggilnya.

 

Aiba-sensei mengangguk beberapa kali. “….karena kalau kubilang Aiba-kun, nggak akan ada bedanya dengan Aiba-sensei….”

 

“Begitu….”aku mengangguk paham. Yang benar saja?! Jadi aku harus memanggilnya dengan nama Masaki disaat kami sedang berdua?! ……Apa Aiba-sensei punya maksud lain dengan mengatakan hal itu?! Bagaimana ini…. Aku jadi merasa istimewa. Aku terlalu percaya diri. “……kalau begitu, boleh aku juga mengajukan satu syarat?!”

 

Aiba-sensei mengangguk.

 

“…..aku akan memanggil nama kecilmu ketika kita tidak berhubungan dengan masalah kampus. Baik kita sedang berada di kampus, atau kita sedang membicarakan masalah bimbingan dan pelajaran…. Hanya pada saat itu saja, izinkan aku memanggilmu dengan sebutan sensei…”

 

Aiba-kun terdiam. “Kenapa?!”

 

“Karena kalau aku memanggilmu dengan nama kecil untuk urusan penting, konsentrasiku bisa buyar…”

 

“Konsentrasi?! Hahahahaha…. Kau terlalu berlebihan,”Aiba-sensei tertawa kecil. “….baiklah! Aku mengerti…”

 

“…..kalau begitu, sebelum perubahan nama panggil dilakukan, bagaimana kalau kita langsung memulai bimbingannya?!”aku segera mengeluarkan buku catatan dari dalam tasku. “…….sensei,”

 

Aiba-sensei membelalakkan kedua matanya. Ia kemudian kembali tertawa dan mengangguk paham.

 

 

~~~ つづく

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s